PESAN MINGGUAN 2018 SELENGKAPNYA

Klik Pesan Singkat Di Sini


PESAN MINGGU INI 30 DESEMBER 2018

HIDUP DALAM PENGGEMBALAAN TUHAN

“Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri…” (Yesaya 53:6a).
“Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurnagan aku” (Mazmur 23:1)

Alkitab tidak bermaksud merendahkan martabat manusia yang diciptakan segambar dengan Allah, karena membandingkan dan menyamakan dengan binatang yang dungu seperti domba.

Domba tidak pernah tampil dalam pertunjukkan sirkus karena menurut pelatih binatang domba mustahil dapat dilatih melakukan suatu ketrampilan. Domba tidak diperlengkapi untuk melindungi diri seperti landak dengan bulu durinya, kucing dengan cakarnya, anjing dengan taringnya.

Bulunya yang tebal hanya melindungi diri dari suhu yang dingin. Bulunya itu justru sering mempersulit dirinya. Domba yang terjatuh ke kolam yang cukup dalam biasanya akan tenggelam karena ketebalan bulunya.

Manusia memanfaatkan dan menggunting bulu domba sebagai bahan sandang yang mahal. Domba kurang memiliki kepekaan terhadap bahaya, seperti gigitan ular berbisa dan serangga beracun.

Domba yang tambun dengan bulu yang tebal, bila kenyang dia berbaring dan tertidur. Jika tidak ada orang yang membangunkannya, dia akan tetap berbaring tak berdaya untuk bangun sendiri.

Domba yang keluar dari kandang biasanya hanya berjalan saja menuju rumput tanpa mengetahui arah tujuan yang jelas, sehingga dia tidak dapat kembali ke kandangnya.

Dengan demikian jelaslah, mengapa umat Tuhan disamakan seperti seekor domba. Ketergantungan domba kepada seorang gembala secara mutlak adalah alasan mengapa domba dijadikan ilustrasi yang menggambarkan hubungan antara orang percaya dengan Tuhan. Mazmur 23 menjelaskan hubungan orang percaya dengan Tuhan secara lengkap.

Tuhan digambarkan bukan saja Gembala yang baik melainkan “Gembala yang terbaik”. Tuhan diilustrasikan bukan saja Gembala yang benar melainkan “Gembala yang sempurna”. Sebab itu pastikan bahwa tahun ini saudara hidup dalam penggembalaan Tuhan. (MT)
Minggu, 30 Desember 2018


PESAN MINGGU INI 23 DESEMBER 2018

IMANUEL

“Sesungguhnya anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel yang berarti Allah menyertai kita”. (Matius 1:23)

Matius dan Lukas memberikan ketegasan bahwa Yesus dilahirkan perawan Maria yang mengandung dari Roh Kudus. Sudah sejak lama doktrin kelahiran Yesus ini disanggah para teolog liberal. Tentu saja alasan teolog liberal ini adalah alasan logika. Karena biasanya orang liberal berusaha mengeluarkan segala sesuatu yang tidak logis dari Alkitab.

Pada suatu hari seorang teolog liberal berdiskusi dengan teolog Injili. Teolog liberal selalu memberi alasan agar semua peristiwa adikodrati dalam Alkitab menjadi sesuatu yang masuk akal. Ketika mereka mendiskusikan peristiwa orang Israel menyeberang laut Teberau dengan berjalan kaki. para teolog liberal mengatakan bahwa yang terjadi adalah peristiwa alami. Umat Israel menyeberang laut Teberau saat laut sedang surut. Sedangkan tentara Firaun tenggelam saat laut pasang. Kemudian teolog Injili memberi pendapat sekiranya pendapat teolog liberal benar tetap saja hal itu peristiwa adikodrati. Bagaimana tidak peristiwa adikodrati laut bisa surut hingga bisa diseberangi dengan berjalan kaki. Tetapi Alkitab memberi informasi yang tegas yang terjadi adalah laut Teberau terbelah dua. Akan halnya dengan kelahiran Yesus dari perawan Maria para teolog liberal berusaha menyanggah, tetapi mereka tidak pernah mampu membuktikan sanggahan mereka.

Kelahiran Yesus dari perawan Maria tanpa keinginan seorang laki-laki, tetapi dikandung dari Roh Kudus adalah suatu doktrin yang sangat penting. Dilahirkan oleh seorang perawan berarti dia sepenuhnya adalah manusia. Dikandung dari Roh Kudus berarti Yesus adalah manusia yang kudus karena tidak memiliki dosa warisan. Dalam hal ini Dia layak menyandang nama “Imanuel, Allah beserta kita”. Karena Dia manusia, maka Yesus dapat merasakan segala sesuatu yang dialami oleh manusia, karena dia hidup tanpa dosa maka dia berkuasa atas dan layak menyelamatkan manusia. Dalam Yesus, Allah menyertai manusia, bukan hanya sekedar menolong dan melindungi serta mensejahterakan manusia.

Allah menyertai manusia berarti Allah menyelamatkan manusia, Allah selalu menyertai manusia di bumi hingga masuk sorga yang abadi. Imanuel adalah Allah menyertai manusia dan menjadikan manusia yang percaya kepada-Nya menjadi alat untuk menyatakan keberadaan-Nya di bumi ini dan kini. (MT)
Minggu, 23 Desember 2018


PESAN MINGGU INI 16 DESEMBER 2018

JANGAN TAKUT

Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa”. ( Lukas 2:9-10)

Ada banyak alasan para gembala di padang Efrata penjaga domba takut pada malam hari. Seperti serangan binatang buas terhadap domba dan para perampok yang biasa beraksi pada malam hari. Hampir setiap malam mereka dibayangi ketakutan, akibatnya mereka jarang tidur. Waktu tidur mereka sering pada siang hari saat domba telah kenyang merumput. Itu pun mereka harus mencuri-curi waktu. Pada malam kelahiran Yesus para gembala dalam keadaan takut. Ketakutan pun semakin memuncak saat malaikat datang secara tiba-tiba.

Malaikat yang mengetahui ketakutan mereka langsung saja berkata “jangan takut”. Ketakutan karena ancaman binatang buas dan perampok tiba-tiba sirna diganti dengan ketakutan karena berhadapan langsung dengan malaikat dan para bala tentara sorga yang memuji Allah “kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya”. Ketakutan karena berhadapan dengan malaikat justru membuat para gembala merasakan kedekatan dengan Allah. Sesungguhnya para gembala diliputi perasaan tidak layak berhadapan dengan malaikat. Tetapi hati mereka diliputi sukacita dan damai sejahtera menerima berita sukacita dari malaikat. Setelah malaikat itu meninggalkan mereka rasa takut tidak ada lagi, buktinya mereka saling mengajak untuk pergi ke Betlehem. Segala sesuatu yang diberitakan Allah melalui malaikat itu tepat, membuat mereka semakin bersukacita dan semakin berani. “Jangan takut” adalah firman Allah yang sangat memotivasi kita setiap natal tiba. Apalagi di negara yang kita kasihi belakangan ini. Sudah belasan tahun natal selalu dibayangi teror bom. Itulah sebabnya perintah jangan takut ini terasa semakin hidup dan berbicara setiap natal tiba.

Respon positif yang utama kita lakukan adalah berani menghampiri Allah berdoa untuk gereja dan bangsa. Saya cukup kagum kepada hamba Tuhan yang menemukan ada 365 kali firman Tuhan dalam Alkitab memerintahkan agar kita “jangan takut!”. Setiap fajar menyingsing di pagi hari mari kita dengarkan suara Allah nan lembut mengajak kita agar tidak takut menghadapi segala kemungkinan yang terjadi di hari itu. (MT)
Minggu, 16 Desember 2018


PESAN MINGGU INI 09 DESEMBER 2018

KESUKAAN BESAR

“Lalu kata malaikat itu kepada mereka: jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan” (Lukas 2:10-12)

Kesukaan adalah bagian dari kebutuhan pokok manusia sama halnya seperti makanan dan minuman. Sumber kesukaan itu adalah Allah. Kisah Para Rasul 14:17 menjelaskan bahwa Allah menganugerahkan dan memuaskan hati manusia dengan kesukaan dan makanan.

Pada malam nan hening dan sepi para gembala dikejutkan oleh kehadiran malaikat yang memberitakan kesukaan besar. Kesukaan yang diberitakan malikat adalah jenis kegembiraan yang menyebabkan orang bertempik sorak terlepas dari kegelisahan dan kekuatiran.

Dalam Perjanjian Lama kesukaan seperti ini selalu dihubungkan dengan kemenangan atas musuh dalam suatu peperangan. “Suara sorak sorai dan kemenangan di kemah orang-orang benar: tangan kanan Tuhan melakukan keperkasaan, tangan kanan Tuhan berkuasa meninggikan, tangan kanan Tuhan melakukan keperkasaan” (Mazmur 18:15-16). Tetapi bukan hanya kemenangan dalam peperangan tetapi juga kemenangan karena mentaati firman Allah.

Dalam Perjanjian Baru kesukaan seperti di beritakan malaikat kepada para gembala adalah kegembiraan yang sangat mengagumi Allah atas anugerah keselamatan di dalam Kristus. Rasul Paulus menyatakan bahwa semua orang yang diselamatkan itu mempunyai kesukaan besar yang membuatnya “bersukacita senantiasa”. Kesukaan Kristen adalah kegembiraan yang tak berkesudahan karena telah hidup dalam semangat kerajaan Allah.

“Sebab kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus”. (Roma 14:17). Malaikat menyatakan tanda kesukaan besar itu adalah “Bayi yang dibungkus dalam lampin dan terbaring dalam palungan.” Suatu tanda yang sangat sederhana namun para gembala tidak terganggu atas kesederhanaan itu. Mereka langsung pergi dan menemukan Yesus tepat seperti yang diberitakan malaikat kepada mereka. Ketepatan perkataan malaikat itu adalah kesukaan besar bagi mereka. Betul hanyalah seorang bayi dalam palungan tetapi karena tepat seperti kata malaikat yang mereka yakini sebagai firman Allah, itulah dasar yang kuat bagi para gembala menyatakan sukacita yang besar.
Minggu, 09 Desember 2018


PESAN MINGGU INI 02 DESEMBER 2018

MENGASIHI TUHAN LEBIH DARI SEGALANYA

“Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” (Kejadian 22:2)

Abraham dikenal sebagai bapa orang beriman. Sebutan ini tidak serta merta disematkan pada Abraham tanpa melalui proses. Kualitas iman percaya Abraham kepada Tuhan harus melewati ujian demi ujian. Salah satu ujian terberat adalah ketika Tuhan memintanya mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran.  Ishak adalah anak yang sangat dinanti-nantikan Abraham dan Sara dalam kurun waktu yang cukup lama. Saat itulah Abraham dihadapkan pada pilihan yang tak mudah:  taat kepada Tuhan dengan mempersembahkan anak semata wayangnya, atau mempertahankan anak demi egonya sendiri.

Abraham lulus dari ujian terhadap imannya tersebut, di mana ia memilih untuk taat kepada kehendak Tuhan dengan mempersembahkan Ishak, bukti bahwa ia mengasihi Tuhan lebih dari segala-galanya, bukti bahwa ia menempatkan Tuhan sebagai yang terutama dalam hidupnya. Berkatalah malaikat Tuhan kepada Abraham, ”…sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” (Kejadian 22:12).

Hidup kekristenan adalah hidup yang tak luput dari proses ujian. Tak selamanya perahu hidup kita berlayar di lautan yang tenang, tapi adakalanya perahu itu harus melewati ganasnya ombak, gelombang, juga terpaan angin ribut yang dapat menenggelamkan perahu kita.  Juga terkadang kita harus melewati hari-hari serasa di padang gurun. Saat itulah iman kita sedang diuji. Bersungut-sungut, mengeluh, mengomelkah kita seperti yang biasa dilakukan bangsa Israel, ataukah kita tetap memantapkan iman dan memilih tetap mengasihi Tuhan lebih dari apa pun? Proses ujian yang dialami bangsa Israel di padang gurun membawanya kepada pengalaman hidup yang luar biasa, sebab di sanalah mujizat dan pekerjaan-pekerjaan Tuhan yang dahsyat dinyatakan. Tanpa ujian, iman seseorang takkan mengalami pertumbuhan. Ujian terhadap iman akan membuktikan diri kita yang sebenarnya di hadapan Tuhan.

Bila saudara sedang mengalami pencobaan/ujian yang berat saat ini, janganlah berkecil hati. Allah tahu apa yang sedang dilakukan-Nya. Dia telah berjanji untuk selalu menyertai dan menolong saudara agar menjadi alat yang berguna dalam tangan-Nya yang kuat dan penuh kasih

Tuhan memakai setiap proses demi proses untuk mengetahui kadar kasih kita kepada-Nya.
Minggu, 02 Desember 2018


PESAN MINGGU INI 25 NOVEMBER 2018

FIRMAN MEMASUKI SEJARAH

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. (Yohanes 1:1, 14)

Firman tidak terpisahkan dari yang berfirman atau pribadi yang mengucapkan Firman itu. Di mana Firman diberitakan, dipelajari, direnungkan dan dilakukan secara benar dan tepat di situ Allah hadir dan bekerja. Firman adalah sarana hidup bersekutu dengan Allah. Kehadiran dan karya Allah melalui firman-Nya bukan saja karena kemauan untuk memperelajari tetapi karena Roh Kudus yang merenangi dan mencerahkan hati dan pikiran yang mendengar, merenungkan dan melakukan Firman. Firman itu telah menjadi manusia karena Firman itu nyata dan memasuki sejarah manusia. Dengan memperkenalkan Firman sebagai pribadi. Pribadi itu adalah Yesus yang adalah Allah yang nyata dan memasuki sejarah peradaban manusia.

Kehadiran-Nya menjadi manusia tanpa dosa satu-satunya pribadi yang berkuasa menyelamatkan manusia dari hukuman dosa. Seorang filsuf ternama sempat berkomentar bahwa Yesus hanyalah sejarah masa lalu yang sudah sirna kejayaan-Nya. Tetapi dalam perjalanan pendalamanya akan kehidupan manusia dia menarik perkataannya. Dia berkata: Allah yang menjadi manusia tanpa dosa adalah nilai abadi yang membuat peradaban dunia tidak akan pernah membusuk, dan peradaban manusia selalu punya harapan semakin berjaya.

Yesus dalam karya penyelamatan-Nya atas manusia berdosa mengalami banyak hambatan yang datang dari kalangan umat beragama. Tetapi Dia membuktikan diri-Nya sebagai manusia tanpa dosa dengan meresponi setiap hambatan tanpa kesalahan. Firman yang menjadi manusia itu adalah kehadiran Firman dalam sejarah manusia yang merupakan Firman kreatif. Firman pencipta segala sesuatu yang ada tetapi juga pencipta yang memberikan diri-Nya menjadi jalan keselamatan bagi orang berdosa.

Firman yang menjadi manusia itu adalah Yesus yang sejak kekal bersama dengan Allah Bapa, termasuk dalam menciptakan segala sesuatu. Sampai sekarang Dia bersama dengan Bapa menopang dunia. Firman menjadi manusia datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia. Untuk menjadi manusia Dia datang melalui kelahiran dari seorang perawan tanpa keinginan seorang laki-laki. (MT)
Minggu, 25 November 2018


PESAN MINGGU INI 18 NOVEMBER 2018

YESUS TUHAN DAN JURUSELAMAT

“Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid- murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini,“tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.” (Yohanes 20:30-31)

Selama lima(5) dasawarsa berdirinya gereja dan penginjilan sudah beredar ke negeri-negeri kafir Kitab Injil baru mulai ditulis. Orang-orang mulai mengenal Yesus dan ajaran-Nya melalui kitab Injil khususnya tiga Injil : Matius, Markus dan Lukas.

Adanya Injil yang ditulis sungguh menguntungkan tetapi juga mendatangkan masalah baru. Karena ternyata Injil dapat diekspoitir iblis dengan memakai orang-orang yang merasa pintar dalam gereja dengan cara menafsirkan Injil berdasarkan pendapat mereka. Akibatnya muncullah suatu doktrin baru yaitu bahwa Yesus itu bukanlah Allah, Ia hanyalah rabi atau guru saja. Ajaran rabi Yesus memang sangat hebat dan sangat memadai dijadikan standar kebenaran tetapi Dia hanyalah manusia yang hebat dan luar biasa. Iblis tidak terganggu bila umat menerima ajaran Yesus, karena iblis hanya takut dan kalah bila umat menerima Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Untuk menegaskan bahwa Yesus adalah Tuhan maka Injil ke empat yaitu Injil Yohanes ditulis.

Roh Kudus memberi ilham kepada Yohanes untuk menulis Injil. Dan Roh Kudus pula yang membimbing pembacanya untuk memahaminya. Injil Yohanes ini memang sarat dengan kedalaman arti tetapi bila dibaca dengan sungguh-sungguh akan sangat meyakinkan pembacanya bahwa Yesus adalah Tuhan. Kita tidak menemukan dan tidak memerlukan uraian teologis dalam Kitab Injil Yohanes. Karena komentar dan penjelasannya tentang ke-Allah-an Yesus sangat jelas dan praktis. Tujuan penulisan Injil Yohanes adalah agar pembaca mengetahui hal-hal penting yang meneguhkan iman dan menumbuhkan iman untuk setia kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Karena serangan akan selalu datang terus menerus agar kita meragukan Yesus.

Dalam perjalanan Yesus selama di bumi terisi dengan padatnya peristiwa adikodrati dalam tindakan juga dalam perilaku yang membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan. Kebanggaan Yesus bukanlah pengakuan kita sebab tanpa diakui manusia Dia tetap Tuhan. Kebanggaan-Nya adalah keselamatan dan kebahagiaan manusia karena mengakui dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat. (MT)
Minggu, 18 November 2018


PESAN MINGGU INI 11 NOVEMBER 2018

BUKAN KEMUDAHAN TETAPI KUALITAS

“Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: Apakah kamu tidak mau pergi juga? Jawab Simon Petrus kepadanya: Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal” (Yohanes 6:67-68).

Orang banyak menikmati mujizat penggandaan spektakuler lima roti dan dua ekor ikan terus saja mengikuti Yesus. Tuhan Yesus mengetahui bahwa mereka bukan tertarik dengan tanda kemudian mulai tumbuh iman yang mengakui Yesus adalah Mesias. Alasan utama mereka adalah ikut Yesus berarti mengalami kemudahan hidup. Duduk-duduk dengar khotbah saja sudah cukup untuk menikmati makanan roti dan ikan. Roti dan ikan adalah makanan berkelas pada zaman itu. Yesus mengetahui alasan mereka, dan Yesus menegur motivasi yang salah itu. Yesus melanjutkan kritiknya dengan menganalogikan roti dengan firman Allah dan tubuh-Nya sebagai roti yang abadi dan pemberi keselamatan abadi.

Ternyata orang banyak dan murid-murid Yesus tidak mampu menerima ajaran Yesus tersebut akhirnya mereka mundur teratur. Sangat terbukti pendapat Yesus bahwa mereka mengikut Yesus hanyalah untuk menikmati kemudahan hidup memperoleh kebutuhan jasmani tanpa harus kerja keras. Orang banyak dan murid-murid Yesus tentu bukan dua belas murid hanya tertarik kepada mujizat yang memudahkan hidup dan tidak tertarik kepada mujizat yang sesungguhnya bertujuan meningkatkan kualitas hidup. Melihat kenyataan bahwa banyak murid yang meninggalkan Yesus, Yesus segera menoleh kepada dua belas murid-Nya yang tidak ikut-ikutan meninggalkan Yesus. Yesus bertanya: Apakah kamu tidak mau pergi juga? Dari Jawaban Petrus yang mewakili murid-murid-Nya membuktikan perkataan Yesus. “Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal”. Perkataan hidup yang kekal bukan saja perkataan yang menjanjikan lamanya hidup tetapi juga menjamin kualitas hidup.

Firman Tuhan diberikan kepada umat-Nya bukan untuk memudahkan bukan pula untuk mempersulit umat-Nya. Perkataan Yesus adalah untuk menyejahterakan dan membahagiakan umat yang mentaatinya. Karena umat yang mentaati Firman adalah menerima perkataan hidup yang kekal. Perkataan hidup yang kekal adalah perkataan yang meningkatkan kualitas hidup. Bila hidup sudah berkualitas sudah pasti hidup menjadi sejahtera dan bahagia. Jadi hidup berkualitas hanya bila umat-Nya mentaati firman-Nya. (MT)
Minggu, 11 November 2018


PESAN MINGGU INI 04 NOVEMBER 2018

YESUS JURUSELAMATKU

“Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini,“tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.” (Yohanes 20:30-31)

Injil Yohanes yang ditulis pada masa tuanya setelah melanglang buana dalam pekabaran Injil bertujuan meyakinkan pembacanya agar menyakini bahwa Yesuslah Tuhan dan Juruselamat manusia. Pada masa tuanya Yohanes menetap di Efesus. Pada saat itulah para penatua gereja di Asia meminta agar rasul Yohanes menulis Injil. Tujuan para penatua di Asia adalah untuk menyangkal sifat, kepribadian dan keilahian Yesus yang dipelopori seorang Yahudi yang berpengaruh bernama Cerinthus. Tentu bukan hanya Yohanes yang dimintai untuk menulis, mengingat Yohanes bukanlah seorang yang terpelajar. masih banyak tokoh terpelajar saat itu yang memenuhi syarat untuk membuat sebuah karya tulis berbobot. Dalam hal ini perlu kita pahami bahwa Roh Kudus melakukan peran-Nya untuk menentukan. Orang yang dipakai Allah untuk menulis firman-Nya.

Injil Yohanes bukan saja meyakinkan umat akan pribadi Yesus sebagai Allah yang sejati tetapi juga meletakkan dasar yang kuat agar orang percaya tidak berhenti untuk terus dan berkesinambungan menyakini Yesus dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Bukan saja hanya meyakini tetapi membangun hubungan yang semakin intim dengan Yesus. Yohanes mengetahui dan mengalami banyak hal tentang Yesus, tetapi dia menyeleksi hal-hal utama yang perlu dan penting untuk ditulis. Menutup Injilnya Yohanes, rasul yang setia dan cinta Yesus ini menulis “Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu persatu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua Kitab yang harus ditulis itu”. (Yohanes 21:25).

Yohanes menyeleksi hal-hal yang utama pembukti bahwa Yesus adalah Tuhan. Injil Yohanes adalah pengalaman yang sudah dijalani Yohanes sebagai fakta sejarah yang menjelaskan bahwa Yesus adalah Tuhan. Ketiga suratnya adalah pengalaman pelajaran yang sedang dijalani Yohanes yang semakin membuktikan Yesus adalah Tuhan. Kitab Wahyu adalah penyingkapan pelayanan yang akan datang yang dinyatakan Allah kepada Yohanes semakin membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan. (MT)
Minggu, 04 November 2018


PESAN MINGGU INI 28 OKTOBER 2018

KEBENARAN YANG TERSIRAT DAN TERSURAT

“Karena itu setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar.” (Lukas 1:3-4)

Sebelum Injil ditulis dan dibukukan pemberitaan Injil sudah berjalan cukup lama. Dalam hal ini sangat terbukti bahwa pencurahan Roh itu sangat nyata. Tetapi dalam perjalanan penginjilan dengan bertumbuh dan berkembangnya gereja, sangat terasa kebutuhan gereja akan Injil yang tersurat. Tidak cukup dan tak memadai lagi bila hanya Injil yang tersirat. Injil harus ditulis dan dibukukan untuk diwariskan ke generasi. Kebutuhan itu semakin mendesak karena mulai terjadi penyimpangan kebenaran. Bukan hanya terjadinya penyimpangan tetapi juga mulai muncul keraguan akan kebenaran Injil. Dokter Lukas cukup jeli melihat kebutuhan gereja perlunya Injil yang tertulis.

Lukas gerak cepat mengadakan penelitian dan mencari sumber yang tepat dan benar. Sebenarnya sudah banyak yang berusaha menulis Injil yang benar-benar saksi mata yang menyaksikan langsung pekerjaan, karya, pengorbanan dan kebangkitan Tuhan Yesus tetapi tidak terealisasi (Lukas 1:2-3). Mengapa? Tentunya Roh Kuduslah yang memutuskan, menuntun dan memberi kemampuan kepada penulis Injil Kristus. Allah menetapkan berdasarkan kedaulatan-Nya, Lukas menjadi salah seorang penulis Injil. Walaupun Lukas pertobat Yunani, dan satu-satunya yang dipakai Allah sebagai penulis Alkitab yang non-Yahudi. Terbukti Injil yang ditulisnya sangat terstruktur dengan baik dan memenuhi syarat sebagai tulisan yang sangat historis dan faktual. Lukas menerima pengilhaman artinya memperoleh pengaruh adikodrati Roh Kudus untuk menulis Injil. Pengilhaman yang menjadikan hasil karyanya menjadi akurat dan tulisannya adalah firman Tuhan. Roh Kudus menuntun untuk mengabadikan dalam bentuk tulisan karena bila diturunkan secara lisan saja sangat berpotensi terjadinya perubahan.

Dokter Lukas adalah seorang cendekiawan dan penulis yang terampil, seorang teolog serta sejarawan yang teliti. Lukas adalah rekan kerja dan rekan pelayanan Paulus yang setia. Injil Lukas ditulis secara sistematis yang diawali Lukas dengan mengadakan penelitian. Lukas adalah rekan kerja dan rekan pelayanan Paulus yang setia. Injil Lukas ditulis secara sistematis yang diawali Lukas dengan mengadakan penelitian. Lukas menulis Injil ini kepada orang-orang yang bukan Yahudi. Itulah salah satu alasan Lukas menulis Injil berupa catatan yang lengkap dan cermat tentang pribadi, pekerjaan dan pengajaran Tuhan. (MT)
Minggu, 28 Oktober 2018


PESAN MINGGU INI 21 OKTOBER 2018

BELAS KASIHAN DARI HATI YANG KUDUS

“Ketika Yesus mendarat Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka” (Markus 6:34)

Kitab Injil Markus ini secara terfokus ditujukan kepada orang Roma. Itulah sebabnya Markus langsung menulis pelayanan Yesus tanpa menyinggung kelahirannya. Kitab Injil dengan padat aktivitas penuh kegerakan hidup dan menggambarkan peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan pekerjaan Yesus ringkas dan tepat. Semua kegerakan tak kenal lelah karena didasari oleh belas kasihan. Belas kasihan sebagai suatu perasaan empati yang menggerakan hati sanubari-Nya untuk menolong dan menyelamatkan sebanyak-banyaknya orang.

Markus menampilkan Yesus sebagai pekerja tak kenal lelah. Semua tenaga dan pikiran-Nya menolong orang-orang yang menderita dan mengadakan reformasi melalui ajaran-ajaran-Nya. Semua kegiatan tak kenal lelah itu betul-betul didasari belas kasihan yang terus mengalir tanpa henti dari hati kudus-Nya.

Kata “seketika itu juga” ada kurang lebih 42 kali di pakai dalam Injil Markus menjelaskan bahwa semua pekerjaan segera dilakukan tanpa penundaan. Semua orang susah segera ditolong tanpa tunggu dulu dan tanpa tarsok(sebentar besok). Belas kasihan Yesus tak terhentikan tetapi terus mengalir dari hati kudus-Nya betul-betul segera terterapkan.

Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. (Markus 8:31). Yesus sadar betul resiko yang harus ditanggung adalah penderitaan, tetapi penderitaan tidak menghentikan belas kasihan-Nya. Yesus mengerti betul ajaran-Nya sebagai ajaran baru yang memang adalah ajaran yang menyelamatkan akan mendapat penolakan. Bukan hanya ajaran-Nya tetapi Yesus pun akan ditolak. Tetapi penolakan pun tak dapat menghentikannya untuk terus menolong karena belas kasihan-Nya terus mengalir dari hati kudus-Nya.

Klimaksnya adalah Yesus akan dibunuh. Rupanya pihak yang melakukan tindakan membunuh berpikir kematianlah satu-satunya yang dapat menghentikan Yesus. Tetapi ternyata kematian pun tak mampu menghentikan Yesus. Betul juga kata bijak bahwa kasih sejati tak terhentikan karena akan selalu menemukan jalannya. Belas kasihan Yesus untuk menyelamatkan manusia ternyata tak terhentikan oleh kematian-Nya. Justru kematian-Nya adalah bagian dan bukti belas kasihan-Nya. Karena kebangkitan-Nya membuktikan pula bahwa Yesus telah berhasil mengalahkan segala sesuatu yang menyengsarakan manusia berdosa termasuk mengalahkan kematian. (MT)
Minggu, 21 Oktober 2018


PESAN MINGGU INI 14 OKTOBER 2018

MENGETAHUI DAN MELAKUKAN FIRMAN ALLAH

“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya diatas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh, sebab didirikan diatas batu” (Matius 7:24-25)

Matius secara cermat menjelaskan bahwa Yesus datang ke dunia untuk menggenapi janji Allah menyelamatkan manusia berdosa. Dalam menjelaskannya kepada orang Yahudi sebagai alamat utama Injilnya, Matius juga menjelaskan bahwa Yesus adalah Mesias yang menjadi raja yang ditunggu-tunggu orang Yahudi. Matius menyakinkan pembacanya bahwa Yesus adalah Mesias yang ditolak oleh orang Yahudi karena Yesus datang sebagai Mesias yang bukan Mesias politis sesuai keinginan mereka.

Betul juga bahwa pada akhir zaman Yesus datang dalam kemuliaan-Nya sebagai Raja segala Raja untuk menghakimi dan memerintahkan semua bangsa. Tetapi itu adalah kedatangan-Nya yang kedua. Dalam kedatangan-Nya yang pertama Dia menyerahkan diri-Nya menjadi korban untuk menyelamatkan manusia. Tetapi Dia juga menggunakan kesempatan singkat itu untuk menetapkan standar-standar kebenaran hidup dalam kerajaan sorga di dunia ini dan kini. Standar-standar kebenaran kerajaan sorga itu adalah standar kebenaran yang mengatur kehidupan umat-Nya kini di bumi ini.

Injil Matius 5-7 menjelaskan secara detail standar kebenaran yang menjadi dasar umat-Nya bersikap. Pada akhir penjelasan standar hidup kerajaan Allah Yesus langsung menjelaskan akan adanya kenyataan pahit kelak menerpa para pelayan Tuhan. Mereka bertolak karena Yesus tidak mengenal walaupun mereka para pelaku mujizat dan para penubuat dan para pemimpin handal dalam gereja. Mengagetkan bukan? Masa para pendeta yang pelayanannya disertai mujizat, para pendeta dengan kotbah-kotbah teologis dan sangat menarik atau pendeta yang menggembalakan gereja-gereja besar tertolak.

Mengapa demikian? Jawabannya, karena Yesus tidak mengenal mereka. Mungkin saja mereka melayai di bawah pengaruh iblis tetapi juga melayani untuk mencari kemuliaan untuk diri sendiri. Tidak heran bila Yesus menolak mereka. Kesimpulan akhir dalam pasal 5-7 ini adalah perintah untuk melakukan firman Tuhan. Menjalani hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Hal itu berarti standar pengikut Kristus dalam bersikap bukan hanya diketahui. Sebab bila hanya mengetahui tanpa melakukan bukanlah orang bijaksana tetapi sebaliknya. Jangankan menghadap Yesus pada hari penghakiman tetapi biasanya mereka akan berguguran di tengah jalan. Tuhan Yesus sudah menjelaskan standar kebenaran secara detail. Sekarang mari kita lakukan sebagai standar dalam menjalani kehidupan. (MT)
Minggu, 14 Oktober 2018


PESAN MINGGU INI 07 OKTOBER 2018

KETEKUNAN

“Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan Mahapenyayang dan penuh belas kasihan” (Yakobus 5:11)

Ada kalimat bijak yang sangat popular di kalangan para petani di desaku yaitu “tenaga yang besar kalah oleh ketekunan”. Para petani yang muda biasanya sangat bangga dengan tenaga mudanya. Tetapi bila ditelusuri ternyata hasil akhir pertanian para muda belia dapat dikalahkan nenek-nenek tua yang tenaganya sudah semakin menurun.

Para pemuda mampu menggarap ladang jauh lebih luas dari ladang seorang nenek tua. Mereka menanam tanaman yang sama, tetapi setelah panen hasil ladang sang nenek ternyata lebih banyak. Hal itu bisa terjadi karena mereka sangat berbeda dalam hal ketekunan. Tenaga besar tanpa ketekunan menjadikan perawatan tanaman kurang memadai, jadi hasil pun menjadi tidak maskimal. Sedangkan tenaga kurang tetapi disertai ketekunan menjadikan tanaman terawat, hasil pun menjadi maksimal. Ketekunan berhubungan erat dengan kerajinannya merawat tanaman, kesabarannya membuang rumput dan hama pengganggu tanaman dan ketelitiannya memperhatikan perkembangan tanaman. Sedangkan tenaga besar hanya dibutuhkan saat mempersiapkan lahan hingga penanaman. Selanjutnya yang dibutuhkan adalah ketekunan. Jadi tidak mengherankan bila si muda belia yang bertenaga besar tetapi rendah dalam hal ketekunan tidak memperoleh hasil yang maksimal.

Yakobus menampilkan tokoh Ayub menjadi teladan dalam hal ketekunan. Ketekunan Ayub terbukti dari sikapnya menghadapi pencobaan yang maha dasyat dari si iblis atas ijin Allah. Ketekunan Ayub lahir dari iman yang sejati. Ayub menghadapi penderitaan berkepanjangan itu dengan tekun. Ayub sabar merespon berbagai tuduhan dari sahabat-sahabatnya. Ayub bahkan sabar menghadapi ocehan tak terkendali dari istri yang seharusnya mendukungnya. Hampir semua oang yang ada disekelilingnya melemahkan Ayub. Tetapi Ayub tetap tekun menaruh harapannya kepada Allah. Ayub menyadari bahwa kesulitan yang menerpanya adalah bentuk tindakan Allah untuk memurnikan imannya dan membangun kehidupannya.

Allah yang mengijinkan penderitaan menerpa umat-Nya sudah pasti akan memperhatikan dan dengan kemurahan-Nya akan menyokong umat-Nya. Hanya saja perlu ketekunan dan kesabaran dan kesabaran umat-Nya dalam menghadapi penderitaan itu. Sangat pasti bahwa Allah memberi penilaian yang baik kepada ketekunan. Kita semua pasti mengetahui apa saja yang disediakan Allah untuk Ayub atas ketekunannya. (MT)
Minggu, 07 Oktober 2018


PESAN MINGGU INI 30 SEPTEMBER 2018

KEKUATAN DAN KEBENARAN ALLAH

“Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman, dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: orang benar akan hidup oleh iman” (Roma 1:16-17).

Injil adalah kebenaran, berarti Injil adalah pusat kehendak Allah sebagai norma kebenaran yang absolut. Sebagai kebenaran maka Injil berkuasa mengubah tujuan hidup dan meluruskan hati manusia yang berdosa. Kebenaran dalam Perjanjian Baru salah satunya berasal dari bahasa Yunani “aletheia”. Tetapi dalam Perjanjian Lama pun mendapat artinya dalam kata “amin” yang artinya sesuatu yang tetap, yang sah, yang aman, yang terpercaya. Kepada Pilatus Yesus berkata “Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran, setiap oang yang berasal dari kebenaran mendengar suaraku” (Yohanes 18:37)

Kebenaran itu adalah anugerah Allah. Anugerah dan kebenaran adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. “Sebab hukum taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karnuia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus” (Yohanes 1:17). “Kebenaran” yang sejati dalam Kristus tidak perlu dibuktikan lagi oleh perkembangan pikiran dan pendapat manusia hanya perlu di percaya. Manusia tidak perlu lagi membuktikannya karena Allah sendiri sudah membuktikannya. Perlu juga kita pahami bahwa Injil yang adalah kebenaran Allah, Injil juga adalah kekuatan Allah. Hal ini berarti tidak perlu diragukan lagi, hanya perlu diimani. Karena kebenaran itu bertolak dari iman dan memimpin kepada iman. Zaman terus berubah dan semakin maju. Demikian manusia pun semakin berkembang. Pemahaman kepada firman Allah dan kebenaran pun tentu mengalami perkembangan dan perubahan. Terkadang itu dapat melumpuhkan iman kita. Tetapi orang yang hidup dalam kekuatan dan kebenaran Allah tidak akan pernah kehilangan imannya. Tetapi dia tetap hidup dalam iman dengan demikian terus menerus hidup dalam kekayaan rohani. Hidup dalam kebenaran dan kekuatan Allah bukanlah arti dan menolak perkembangan dan perubahan pikiran dan pengetahuan. Tetapi hidup melampaui atau di atas dari perkembangan dan perubahan pengetahuan.

Jadi bila kita tidak mengerti jangan dipaksakan untuk mengerti. Tetapi terimalah kebenaran sejati dengan iman yang sejati. (MT)
Minggu, 30 September 2018


PESAN MINGGU INI 23 SEPTEMBER 2018

ADUH… KAKIKU TERLUKA

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23).

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:7).

Nyonya separuh baya itu terlibat lebih muda dari usia sebenarnya. Wajah cantik rupawan dan bodynya menawan bagaikan gitar Spanyol. Penampilan elegan dengan busana serba branded mulai dari ujung kaki sampai ubun-ubun. Rambutnya dibiarkan saja terjuntai lepas tertata rapi menambah penampilannya semakin indah dan berkelas. Memasuki lobby hotel dengan langkah yang pasti membuat mata kakek-kakek genit yang sedang melangkah di belakangnya merem melek gak karuan. Di Lobby Hotel dia melangkah rapi dengan bunyi halus tes…tes…tes. Halus nian bunyi sepatu hak tingginya, menjelaskan bahwa sepatunya adalah sepatu mahal buatan Paris tentu bukan Paris Van Java alias Cibaduyut. Tetapi saking fokus dengan penampilan berkelasnya tiba-tiba saja dia jatuh. Tidak jelas penyebabnya tetapi dia menjerit aduh… kakiku terluka.

Dibantu satpam, supir segera membawanya ke rumah sakit setelah dilakukan pertolongan pertama. Di rumah sakit lukanya dibersihkan dengan pengobatan lengkap, walaupun hanya luka kecil saja. Selidik punya selidik ternyata sang nyonya adalah istri seorang pengusaha. Dia sedang luka hati karena mencurigai suaminya sedang selingkuh dengan seorang gadis belia. Dia sangat serius benar dan tepat serta cekatan menangani luka kakinya tetapi dia gagal menangani luka hati yang disebabkan oleh dugaan-dugaan tak berdasar yang belum jelas. Betul juga pada umumnya kaki yang luka lebih tertangani dengar benar dari hati yang luka.

Kesalahan besar dilakukan ibu muda nan cantik ini. Kemarahan telah membuat dia lalai menjaga hatinya. Padahal kelalaian menjaga hati biasanya akan membuat penyimpangan-penyimpangan dalam besikap. Bila kita menjaga hati melebihi segala sesuatu membuat perjalanan hidup lebih mantap. Karena kita akan fokus ketujuan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri. Kaki kita pun akan menjauh dari kejahatan. Lagipula bila kesulitan datang justru perlu kita menjaga hati kita supaya jangan semakin lemah tetapi justru semakin kuat. “Yang hatinya teguh kau jagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mu lah ia percaya” (Yesaya 26:3). Sebab itu bila datang masa sukar saatnya, mengarahkan hati kepada Tuhan. (MT)
Minggu, 23 September 2018


PESAN MINGGU INI 16 SEPTEMBER 2018

HAMBA TUHAN BUKAN HAMBA UANG

Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukuplah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan Engkau. Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata Tuhan adalah penolongku. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap Aku?” (Ibrani 13:5-6).

Sebagai orang jadul lahir dan besar disebuah desa kecil membentukku menjadi sosok yang terbiasa bepergian tanpa uang di dompet. Bepergian dari satu desa ke desa lain, ditempuh berjalan kaki beberapa jam tidak membawa uang adalah hal yang biasa. Kalau haus ditengah perjalanan bertahan saja, sampai ditempat tujuan baru minum. Masa itu betul-betul uang tidak mudah diperoleh. Bukan berarti hidup kekurangan karena kebutuhan sehari-hari tersedia. Begitulah kehidupanku di desa sebagai petani tulen. Bukan uang tidak perlu tetapi uang betul-betul tidak mengikat atau tidak harus ada. tepatnya pada tahun 1977 kurang lebih empat puluh tahun yang lalu memulai hidup di kota Jakarta.

Perubahan radikal pun tak terhindarkan karena kemanapun melangkah harus ada uang. Hampir seluruh kegiatan membutuhkan uang. Semakin lama hidup di Jakarta kondisi ini telah banyak mengubah sikapku terhadap uang. Salah satunya yang pasti tidak berani lagi bepergian tanpa ada uang di dompet. Bukan hanya sekedar ada tetapi juga harus ada dalam jumlah tertentu. Hal itu berarti uang harus ada. Tanpa bepergian pun bila dompet kosong rasanya terasa gamang. Artinya ada ketakutan bila tidak ada uang. Kalau kurang hati-hati sikap kepada uang bisa berubah secara radikal. Artinya seseorang bisa menjadi hamba uang. Padahal firman Tuhan dengan jelas melarang agar “janganlah kamu menjadi hamba uang”. Larangan ini menyusul setelah peringatan mengenai kedursilaan, menjelaskan keterkaitan keserakahan dengan kedursilaan. Menjadi hamba uang akan membuat seseorang melakukan berbagai dosa dan kesalahan yang dapat dibeli dengan uang. Menjadi hamba uang membuat seseorang menghalalkan segala cara untuk mencari uang. Padahal uang itu netral. Uang tidak buruk. Yang salah dan buruk adalah sikap pencari dan pengguna uang itu. Sikap yang benar adalah menjadikan uang menjadi hamba.

Karena kitalah yang mengatur dan menggunakan uang bukan sebaliknya. Rasul Paulus juga menandaskan bahwa cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan, karena cinta akan uang menyeret pencintanya menjadi hamba uang. Tetapi jangan salah lawan cinta akan uang bukanlah benci uang. Lawan dari cinta uang adalah tetap menjaga agar uang tetap menjadi hamba. Karena uang adalah hamba yang baik dan berguna. Tetapi bila dia menjadi tuan dia adalah tuan yang jahat dan kejam. Sebab itu berpeganglah pada kebenaran. “Tetaplah hamba Tuhan jangan berubah menjadi hamba uang”. (MT)
Minggu, 16 September 2018


PESAN MINGGU INI 09 SEPTEMBER 2018

TUHAN YANG MEMBERI PERTUMBUHAN
1 Korintus 3:1-9

Adalah suatu anugerah jika kita dipanggil Tuhan untuk melayani Dia atau bekerja di ladang-Nya. Tuhan memilih dan memakai kita untuk menjadi alat-Nya bukan karena kita lebih hebat, lebih kuat dan lebih pintar dibandingkan dengan orang lain.

Keberhasilan kita dalam pelayanan bukan karena kuat dan gagah kita, tapi karena Roh Tuhan yang bekerja di dalam kita. Jangan berkata bahwa suatu gereja menjadi besar karena kitalah donatur terbesarnya; sekelompok jemaat sangat berkembang karena hasil usaha dan jerih lelah kita; suatu pelayanan misi tidak akan berjalan tanpa kita;  kesembuhan dan mujizat terjadi karena kita yang melayani dan berdoa. Rasul Paulus berkata, ”Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.”

Tanpa pertolongan Roh kudus apa yang dapat kita capai dalam pelayanan kita? Kemampuan, talenta dan juga karunia, Tuhanlah yang memberi. Ibarat mendirikan sebuah rumah, kita adalah seorang tukang, sedangkan Tuhan adalah pemberi modal, menyediakan bahan bangunan dan alat-alat pertukangannya, peralatannya. Jika Tuhan tidak menyediakan modal, tidak menyediakan bahan dan alat-alatnya, mungkinkah kita bisa membangun sebuah rumah? Tidak seharusnya kita menjadi sombong dan memegahkan diri karena kita tak lebih dari seorang hamba atau pelayan yang bertugas untuk melayani Tuan kita.

“Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” (Lukas 17:10). Tanpa pertolongan Roh Kudus kita tidak mungkin bisa memenangkan jiwa bagi Tuhan.

Boleh saja kita mahir dalam berkhotbah dan mengajar, tapi kalau Tuhan tidak menumbuhkan benih Firman yang kita tabur, semua usaha kita akan sia-sia! (YR)
Minggu, 09 September 2018


PESAN MINGGU INI 02 SEPTEMBER 2018

SEPERTI BIJI GANDUM
Yohanes 12:20-36

“Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” (Yohanes 12:24)

Tak seorang pun akan menikmati tuaian bila ia membiarkan biji gandum yang dimilikinya tetap disimpan dan tidak ditanam. Jelas untuk dapat berbuah maka sebuah biji gandum harus terlebih dahulu jatuh ke tanah (ditanam) dan mati.

Dalam pembacaan Firman hari ini biji gandum yang dimaksudkan Tuhan Yesus dalam ayat nats menggambarkan diri-Nya sendiri. Kalau Tuhan Yesus tidak taat sampai mati di kayu salib Ia tidak akan berbuah, tidak ada korban penebusan dosa, dan tidak ada keselamatan. Dengan kata lain manusia berdosa akan tetap menanggung akibat dari dosa seperti tertulis: ”Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 6:23).  Tetapi oleh karena Tuhan Yesus mau taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib, maka ada buah yang dihasilkan, yaitu orang yang percaya kepada-Nya diselamatkan dan diperdamaikan dengan Allah. Tuhan Yesus yang telah menjadi biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati akhirnya menghasilkan tuaian yaitu jiwa-jiwa yang diselamatkan.

Cukupkah kita hanya mengucap syukur saja kepada Tuhan atas segala pengorbanan-Nya? Tidak. Sebagai umat tebusan-Nya kita juga harus mengerti kehendak Tuhan di balik pengorbanan-Nya itu, karena ”…Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap,”  (Yohanes 15:16). Kehendak Tuhan bagi orang percaya adalah menghasilkan buah!  Agar dapat berbuah maka kita pun harus mengikuti jejak Tuhan Yesus yaitu menjadi seperti gandum yang jatuh ke tanah dan mati. Seperti biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati, kita pun harus bersedia meninggalkan kehidupan lama dan sepenuhnya mengenakan kehidupan Kristus. ”Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Galatia 2:19b-20).

Karena pengorbanan Kristus, setiap kita yang percaya kepada-Nya diselamatkan dan memiliki tanggung jawab untuk hidup sama seperti Kristus hidup! (YR)
Minggu, 02 September 2018


PESAN MINGGU INI 26 AGUSTUS 2018

HIDUP YANG BERCAHAYA
Yesaya 62:1-12

“Maka bangsa-bangsa akan melihat kebenaranmu, dan semua raja akan melihat kemuliaanmu,”  Yesaya 62:2.

Sebagai anak-anak terang sudah seharusnya kehidupan kita bercahaya di tengah-tengah dunia yang diliputi kegelapan ini. Bagaimana bisa bercahaya? Yaitu apabila kita tidak lagi hidup “…menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya bertentangan, sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.” (Galatia 5:16-17).

Hanya karena jamahan Roh Kuduslah kita dimungkinkan menerima Firman Tuhan dengan hati terbuka, lemah lembut dan antusias. Saat tanah hati kita sudah bersih dari kerikil atau bebatuan, benih Firman yang ditabur itu akan bertunas, tumbuh subur dan kemudian berbuah lebat. Maka dari kehidupan kita akan ke luar buah Roh yaitu ”…kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” (Galatia 5:22-23).

Hidup yang becahaya tidak bergantung musim yang ada, tapi di segala situasi dan keadaan.  Masalah, penderitaan atau kesesakan takkan mempengaruhi sikap hati kita bahwa ”Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13), sehingga apa pun yang terjadi kita tetap bisa bersukacita dan mengucap syukur.

Yusuf adalah contoh orang yang hidupnya bercahaya. Meski berada dalam tekanan dan penderitaan ia tetap tampil sebagai pemenang dan menjadi berkat bagi orang lain. Apa kuncinya? Hidup melekat kepada Tuhan sehingga Roh Tuhan senantiasa memenuhi dan mengendalikan hidup Yusuf.

Semakin kita bercahaya semakin besar kerinduan kita melayani Tuhan dan bersaksi kepada orang lain. ”Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.” (Roma 12:11). Mengapa kita harus bersaksi?  Karena kita ini adalah utusan-utusan Kristus, sebagaimana   ”…Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya…” (2 Korintus 5:18) …maka Tuhan pun mengutus kita untuk mengerjakan pelayanan pendamaian sebagai saksi-saksi-Nya. (YR)
Minggu, 26 Agustus 2018


PESAN MINGGU INI 19 AGUSTUS 2018

BERTEKAD KUAT
2 Timotius 2:14-26

“Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” (2 Timotius 2:15)

Melayani Tuhan adalah suatu anugerah, karena itu kita harus mempergunakan kesempatan dan kepercayaan itu sebaik mungkin. Jangan pernah sia-siakan “…supaya pelayanan yang kauterima dalam Tuhan kaujalankan sepenuhnya.” (Kolose 4:17), sebab ada banyak orang yang tidak melakukannya dengan sepenuh hati. Ada yang sengaja menunda-nunda waktu untuk melayani dan cenderung mengabaikan panggilan pelayanan tersebut, padahal ladang sudah menguning. “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.” (Matius 9:37). Orang-orang yang melayani Tuhan disebut pula sebagai pekerja di ladang Tuhan.

Bukanlah suatu perkara yang mudah untuk menjadi pekerja-pekerja Tuhan karena ada harga yang harus kita bayar. Harus ada usaha agar kita memiliki kehidupan yang benar-benar layak di hadapanNya. Kita harus berjuang untuk mendapatkan perkenanan dari Tuhan. Kapan waktu perkenanan itu? “Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.” (2 Korintus 6:2b). Bila saat ini kita sedang bekerja di ladang Tuhan, marilah kita bekerja dengan sebaik mungkin. Inilah yang diupayakan oleh Paulus: “Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya.” (2 Korintus 5:9). Jangan sampai kita melayani pekerjaan Tuhan karena kita hanya ingin menyenangkan hati manusia, supaya dilihat orang dan berharap beroleh pujian dari mereka. Berhati-hatilah! Paulus berkata, “…adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” (Galatia 1:10).

Jika tujuan kita melayani adalah untuk mencari perkenanan dari manusia semata maka kita tidak layak disebut sebagai hamba Tuhan, dan upah yang kita dapatkan pun hanya sebatas pujian dari manusia itu. Adalah sangat mungkin ketika kita berusaha untuk mendapatkan perkenanan dari Tuhan justru kita semakin diperhadapkan dengan banyak tantangan, dan saat itulah banyak dari kita yang lebih memilih mundur.

Bagaimana dengan kita semua? Bertekad kuatkah kita? 
Minggu, 19 Agustus 2018


PESAN MINGGU INI 12 AGUSTUS 2018

SABAR DAN TETAP MENABUR
Yakobus 5:7-11

“Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi.”  Yakobus 5:7.

Abraham membutuhkan waktu 25 tahun sebelum mengalami penggenapan janji Tuhan untuk mendapatkan keturunan. Ketika dipanggil keluar dari negeri nenek moyangnya (Ur-Kasdim)  dan mendapatkan janji-janji Tuhan, Abraham berumur 75 tahun, dan kemudian Alkitab mencatat bahwa ia ”…berumur seratus tahun, ketika Ishak, anaknya, lahir baginya.” (Kejadian 21:5).

Contoh lain adalah Kaleb, ia harus menunggu 45 tahun untuk mengalami penggenapan janji Tuhan dalam hidupnya. Tertulis: ”Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini;” (Yosua 14:10).  Lalu, ”Yosua memberkati Kaleb bin Yefune, dan diberikannyalah Hebron kepadanya menjadi milik pusakanya.” (Yosua 14:13). Tuhan seperti menutup mata dan tidak memperhatikan ketekunan mereka sampai terjadi penundaan begitu lama sehingga semua nampak buruk, tetapi dari kisah tokoh Alkitab ini Tuhan hendak menegaskan bahwa ”…semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu;” (Mazmur 25:3a). Cepat atau lambat janji Tuhan pasti digenapi-Nya!

Yakobus memberikan nasihat agar kita bersabar dalam menanti-nantikan Tuhan. Kata sabar ini sampai diulang sebanyak 4x, bukti bahwa bersabar adalah sesuatu yang sangat penting dan merupakan kunci untuk bisa menang dalam ujian waktu Tuhan, seperti seorang petani yang dengan sabar menantikan hasil panan meski harus melewati musim gugur, suatu masa yang juga dialami Habakuk. ”Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,” (Habakuk 3:17).

Selama musim gugur tetaplah menabur dan bekerja, supaya saat musim semi tiba ada tuaian.(YR)
Minggu, 12 Agustus 2018


PESAN MINGGU INI 05 AGUSTUS 2018

PERMULIAKAN TUHAN DENGAN HASIL PERTAMA
Amsal 3:1-10

“Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu,”  Amsal 3:9

Kita sering mendengar banyak orang Kristen yang berkomitmen kepada Tuhan: ”Jika Tuhan memberkati usahaku, memberkati sewa-ladangku, memberi aku keturunan, atau memberi pekerjaan baru, aku mau memuliakan Tuhan dengan beribadah dan melayani pekerjaan Tuhan dengan sungguh.” Tetapi jika ditantang untuk memuliakan Tuhan dengan harta atau kekayaan yang dimiliki? Kita pasti akan berpikir 1000 kali untuk melakukannya, apalagi bila diminta untuk mempersembahkan hasil pertama dari segala penghasilan: gaji pertama, hasil kebun pertama, atau keuntungan pertama usahanya.

Bangsa Israel mempersembahkan hasil panen pertama kepada Tuhan. ”…haruslah engkau membawa hasil pertama dari bumi yang telah kaukumpulkan dari tanahmu yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu,” (Ulangan 26:2), sebagai wujud pengakuan bahwa Tuhanlah Sang Pemilik tanah itu dan yang memberkati tanah itu sehingga benih yang ditabur bisa tumbuh dan menghasilkan tuaian.

Karena itu Salomo mengingatkan supaya kita memuliakan Tuhan secara khusus melalui persembahan hasil pertama kita kepada Tuhan sebagai bentuk penghormatan kita kepada-Nya, sebab Tuhan adalah Pemilik segala-galanya, sedangkan kita ini hanya dipercaya sebagai pengelola.

Kalau kita mau memprioritaskan Tuhan lebih dari apa pun, maka Tuhan akan membuka jalan untuk mencurahkan berkat-berkat-Nya, ”maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.”  (Amsal 3:10).  Artinya bahwa Tuhan akan mencurahkan berkat-berkat-Nya secara berlimpah,  ”…suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”  (Lukas 6:38).  Inilah janji Tuhan kepada setiap orang yang menghormati Tuhan dan tidak hitung-hitungan dengan Tuhan.

Siapkah Saudara menerima berkat Tuhan yang melimpah?  Belajarlah taat untuk mempersembahkan hasil pertama dari setiap penghasilan kita.

“Allah akan memberikan kepadamu embun yang dari langit dan tanah-tanah gemuk di bumi dan gandum serta anggur berlimpah-limpah.”  (Kejadian 27:28). (YR)
Minggu, 05 Agustus 2018


PESAN MINGGU INI 29 JULI 2018

TUBUH TERNODA HATI JANGAN

“Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang.” (Matius 15:18-20).

Terlahir dan besar sebagai orang Yahudi pastilah akrab dengan istilah najis dan haram. sebagian besar hidup keagamaan tersita dengan mempermasalahkan yang ini najis, yang itu haram. dan bila hidup berhasil menjauh dari hal yang najis dan haram adalah merupakan prestasi yang dapat dijadikan alasan hidup berkenan kepada Allah. Sedangkan orang yang najis dan mengharamkan diri dianggap sebagai orang hukuman yang harus dijauhi. Lagi pula mereka tidak berhak menghampiri Allah atau mengikuti ritual agama. Firman Allah khususnya hukum taurat memang cukup jelas dan detail menjelaskan hal-hal dan perbuatan-perbuatan yang menajiskan dan mengharamkan seseorang. Tetapi selain hukum taurat orang Yahudi pun menambah aturan-aturan yang lambat laun menjadi tradisi yang disejajarkan dengan hukum taurat.

Dalam rangka mengkritiki inilah Yesus menjelaskan kepada murid-murid-Nya mengucapkan Firman-Nya. Yesus memberi penjelasan yang mengungkapkan kebenaran sejati mengenai kebenaran hakiki mengenai sesuatu yang najis. Bukan yang kita makan yang menajiskan, tetapi segala sesuatu yang buruk yang kita katakan. Karena segala sesuatu yang kita ucapkan bersumber dari hati. Jadi najis dan haram justru berhubungan dengan hati. Sepanjang pelayanan Yesus tidak pernah berbicara mengenai sesuatu yang najis atau yang haram. Yesus sepanjang pelayanannya sangat fokus dan lebih banyak mengajarkan tentang hati daripada hal-hal yang lain. Yesus mengetahui betul dan sangat pasti bahwa hati adalah sumber problem manusia yang sesungguhnya. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:33). Karena hati adalah sumber keinginan dan keputusan maka hati bukan saja dijaga tetapi diubah dan perlu terus dibentuk dan dibangun.

Kebutuhan terbesar kita adalah hati yang lembut, hati yang tunduk dan hati yang mau berubah. Seluruh perubahan, pilihan dan keputusan timbul dari kedalaman hati. Sekiranya hati saudara sudah dilembutkan oleh Roh Kudus tidak boleh didiamkan saja, harus terus terbuka untuk dibangun oleh firman Tuhan. Allah akan selalu mengijinkan situasi dan orang-orang datang ke dalam hidup kita. agar olehnya menunjukkan apa yang ada dalam hati, kemudian terus menjaga dan membangunnya. (MT)
Minggu, 29 Juli 2018


PESAN MINGGU INI 22 JULI 2018

FIRMAN TUHAN MENGUBAH HATI

“Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan.” (Matius 13:18-19).

Melalui penjelasan Yesus mengenai perumpamaan penabur yang dapat kita pahami melalui firman Tuhan khususnya Matius 13:18-19 menjelaskan bahwa penabur mengumpamakan pemberitaan firman Tuhan dan empat jenis tanah mengumpamakan hati manusia.

Dalam hal ini empat(4) jenis tanah berhak untuk ditabur, dan penabur tidak hanya menabur pada tanah atau hati yang baik. Kemudian penabur harus terus menabur apapun hasilnya. Ada hal yang tidak pernah dijelaskan mengenai empat(4) jenis tanah dalam perumpamaan ini. Saya dalam segala keterbatasan mencoba memberanikan diri untuk menjelaskan. Bila sale sale kate tolong dibenarkan.

Pertama, ke empat(4) jenis tanah yang merupakan wadah benih untuk tumbuh adalah tanah yang baik. Saya berani membuat kesimpulan ini berdasarkan pengalamanku yang berlatarbelakang seorang petani. Tanah di pinggir jalan dapat diolah dengan kerja keras menjadi tanah yang baik. Tanah berbatu dengan sedikit usaha bisa berubah menjadi tanah yang baik pula. Dan tanah bersemak duri dengan mudah bagi seorang petani mengubahnya menjadi tanah yang sangat baik. Jadi yang dibutuhkan adalah kerja untuk mengubah semua jenis tanah menjadi tanah yang baik.

Jangan salah pula, bahwa tanah yang baik pun bila dibiarkan begitu saja sangat berpotensi menjadi tanah yang ditumbuhi semak berduri. Jadi kalau sudah berurusan dengan kondisi hati manusia berarti ada yang harus diubah dan ada juga harus dipertahankan. Baik yang harus diubah maupun yang harus dipertahankan pasti dengan kemauan keras untuk berusaha dan belajar.

Kedua, setiap orang mempunyai salah satu hati yang diumpamakan seperti empat(4) jenis tanah dalam perumpamaan tentang penabur seperti yang diajarkan oleh Yesus. Tetapi apapun jenis hati kita, tetap punya hak ditaburi firman Tuhan. Usaha yang dapat kita lakukan agar hati kita menjadi tanah yang baik adalah meresponi dan mentaati firman Tuhan. “Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau” (Mazmur 119:11). Tempat firman Tuhan yang bisa mengubah hati adalah di hati. Bukan di pikiran atau di otak. Bukan di pendengaran, bukan pula di perasaan. Harus terus belajar agar firman Tuhan itu disimpan di hati. (MT)
Minggu, 22 Juli 2018


PESAN MINGGU INI 15 JULI 2018

IKAN KECIL KEPALA TIMAH PUN MAU BERUBAH

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”(Roma 12:2)

Untuk menjelaskan pentingnya perubahan, penulis ingin menceritakan kenyataan bahwa ikan kecil pun bisa berubah dalam mempertahankan hidupnya. Dulu pada masa anak hingga remaja di desaku ada ikan air tawar yang kecil hidup di sawah. Untuk menangkapnya biasanya kita memperkecil ruang geraknya ke suatu tempat dengan cara menggunakan air yang disebar dengan piring. Karena cara itu membuat ikan kecil lari karena takut bersembunyi ke tempat yang sudah kita siapkan. Biasanya dari sebidang sawah kita dapat mengumpulkan ikan dua hingga empat liter. Ikan kecil bernama ikan kepala timah ini memang sangat gurih, dan bisa dijual cukup laris dengan harga yang cukup menggiurkan. Cukup lama juga penulis mengerjakan pekerjaan ini. Selain untuk dikonsumsi dapat juga menjadi mata pencaharian untuk menambah pendapatan. Setelah belasan tahun penulis meninggalkan desa ada juga kesempatan mudik. Selain ingin mengkonsumi ikan untuk melepaskan rindu, ingin juga bernostalgia menangkap ikan dengan cara yang sering penulis lakukan dulu.

Tetapi saat penulis menebar air dengan piring mengusir ikan kepala timah bukannya lari malah mendekat kepada cipratan air yang ditebarkan. Jadinya penulis benar-benar gagal tanpa memperoleh tangkapan hari itu. Tetapi penulis mendapat pelajaran berharga. Rupanya ikan pun belajar dan berubah dalam rangka mempertahankan hidupnya. Dari kasus ikan kecil ini dapat ditarik kesimpulan bahwa perubahan itu adalah suatu kebutuhan penting dalam membangun hubungan hidup yang semakin baik.

Bagi pengikut Kristus berubah bukanlah pilihan tetapi adalah perintah untuk ditaati. Perubahan yang paling prinsip adalah perubahan yang melepaskan diri dari sistem dunia jahat. Menyadari sistem dunia tidak memadai untuk membangun kehidupan, maka waktunya mengubahnya beralih kepada sistem Kerajaan Allah. Ikan kecil seperti yang diceritakan di atas cukup lama berpendapat bahwa untuk menyelamatkan diri mereka harus lari menjauh dari percikan air yang dicipratkan. Ternyata justru membuat mereka terperangkap. Mereka pun berubah mendekat kepada percikan air yang dicipratkan, hasilnya mereka aman. Nilai-nilai yang ditanamkan oleh sistem dunia tidak memadai untuk membangun kehidupan. Dunia telah mengajar kita memperjuangkan keadilan dengan cara membalas kejahatan dengan kejahatan. Tetapi sistem Kerajaan Allah mengajarkan kita untuk membalas kejahatan dengan kebaikan agar keadilan dan kedamaian dapat dicapai. (MT)
Minggu, 15 Juli 2018


PESAN MINGGU INI 08 JULI 2018

TERTUJU KEPADA YESUS

“Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah” (Ibrani 12:2)

Penulis Ibrani menunjukkan suratnya kepada jemaat yang sedang mengalami penganiayaan berkepanjangan yang nyaris membuat mereka terjerat oleh keputusasaan. Penulis berusaha memperkuat iman jemaat dengan membuka kenyataan keunggulan Kristus dari semua tokoh agama, tokoh sejarah yang pernah ada. Dengan lugas penulis pun mengungkapkan fakta-fakta keunggulan Kristus dari imam besar, para nabi bahkan dari para malaikat. Itulah sebabnya surat Ibrani ini tidak menggunakan bahasa Khotbah. Dalam pasal 12 ini penulis mengibaratkan perjalanan iman Kristen itu perlombaan. Dalam perlombaan semua beban harus ditinggalkan. Beban berupa dosa dan berbagai kesalahan dan kebiasaan buruk adalah rintangan serius dalam perlombaan.

Karena beban itu bukan saja menghambat kecepatan tetapi bisa melumpuhkan gerakan kita. Lagi pula kita harus tekun dan tabah serta terus memandang kepada Yesus yang adalah tujuan atau garis akhir yang kita tuju.

Tuhan Yesus bukan saja tujuan di depan tetapi Dia juga adalah penyemangat di samping kita. Pernah kubaca sebuah kesaksian singkat dari  seorang pelari marathon. Setelah tiga perempat perjalanan dia dilanda kelelahan yang hebat. Hampir saja dia berhenti berlari. Tetapi dalam keletihan yang sangat ekstrim itu dia melihat dengan mata berkunang-kunang Yesus ada di pinggir jalan sambil bertepuk tangan. Entah itu nyata, entah itu hanya sekedar bayangan, nyatanya telah memberi semangat yang mampu memulihkan kekuatannya. Pelari marathon itu terus berlari dan berlari hingga sampai ke garis finis. Dia memang hanya meraih medali perunggu, tetapi itu sudah lebih dari cukup.

Berlomba dengan mata yang tertuju kepada Yesus, bukan saja menjadikan Yesus sebagai tujuan dan penyerta atau pendamping dalam perlombaan. Mata yang tertuju kepada Yesus berarti menjadikan Yesus menjadi teladan dalam hidup. Masih ingatkah saudara nyanyian Pentakosta lama? “Pandang t’rus pada-Nya. Jangan menoleh jalan terus. Jangan pandang salah orang lain. Pandang saja Yesus”. Nyanyian ini memberi pesan penting. Saudara akan berhenti berlomba bila melihat kesalahan orang lain, saudara akan berhenti membangun  karakter bila menjadikan manusia termasuk pendeta menjadi teladan. Tetapi saudara akan terus berlari bila memandang kepada Yesus, dan terus membangun karakter bila menjadikan Yesus menjadi teladan.(MT)
Minggu, 08 Juli 2018


PESAN MINGGU INI 01 JULI 2018

FOKUS PADA TUJUAN

“Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak” (1 Korintus 9:26-27).

Rasul Paulus memandang dan memastikan bahwa kekristenan adalah suatu perjalanan iman yang berawal dari ada dan jelasnya tujuan. Dapat dipastikan bahwa semua kegiatan dan gerakan tentu ada tujuannya. Tetapi terkadang tujuan tidak ditentukan di awal melainkan di tengah atau di akhir kegiatan. Biasanya mereka berasalan, teruslah berkarya melakukan banyak hal, tidak perlu berpikir akan kemana, apa dan bagaimana yang penting mengalir saja. Hidup diibaratkan seperti sungai yang mengalir dan mengalir. Walaupun banyak rintangan dia tidaka akan berhenti, dia terus mengalir hingga sampai ke laut sebagai tujuannya. Hanya perlu dipikirkan bahwa sungai itu beda dengan kehidupan. Kehidupan yang baik dan benar adalah kehidupan yang digerakkan dan diarahakn serta dikendalikan oleh tujuan. Sedangkan sungai itu memang sudah naturnya untuk terus bergerak menuju tempat yang paling rendah.

Jadi kehidupan kekristenan yang baik dan benar adalah menentukan dan memastikan tujuan dari awal. Karena kekristenan yang hidup dan bertumbuh adalah kehidupan dan perjalanan iman yang digerakkan oleh tujuan. Pernahkan saudara membaca artikel singkat mengenai dua orang pemanah? Pemanah pertama melepaskan beberapa anak panah dari busurnya ke sasaran, belasan meter di depannya. Kemudian dia berjalan ke depan dan melingkari anak panah yang menancap pada sasaran tembak. Dia bangga karena merasa dia berhasil menembakkan anak panah pada lingkaran yang dibuatnya walaupun lingkaran itu sangat besar. Pemanah kedua membuat lingkaran dulu pada sasaran tembak, sesudah itu ia melepaskan anak panah beberapa buah barulah dia mendekat dan bangga karena semua anak panah berada pada lingkaran sasaran yang dibuat. Tentu pemanah kedua lebih fokus, tidak asal tembak seperti pemanah pertama.

Rasul Paulus seperti pemanah kedua, pelari dan petinju jelas sasaran. Bukan asal lari dan bukan asal tinju. Dia fokus membangun hidup agar sampai pada tujuan. Dia tidak mau menjadi tertolak karena gagal dalam ujian. Ujian yang dimaksud adalah membangun hidup, karakter dan pola hidup yang punya kelayakan sampai ke tujuan. Tujuan adalah hidup di keabadian bersama Kristus. Kristus yang adalah tujuan hidup kita sudah dipastikan tidak berkenan hidup bersama dengan orang yang gagal dalam ujian.

Marilah kita seperti rasul Paulus yang fokus pada tujuan. Selalu mempertahankan hidup berkenan kepada Kristus, selalu berjuang hidup menguasai diri dan tetap setia kepada Kristus sekalipun dihadapkan kepada kesukaran-kesukaran bagi kemuliaan Kristus. (MT)


PESAN MINGGU INI 24 JUNI 2018

KEBAIKAN UNTUK KRISTUS

“Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-ku yang paling hina ini, kamu telah melakukan untuk Aku.” (Matius 25:39-40)

Kita harus berterima kasih karena Tuhan Yesus mengutus beberapa anak Tuhan yang suka memberi ke gereja Tuhan. Mereka memberi lebih dari persepuluhan. Tentu saja mereka melakukan itu dengan hati yang tulus dan didasari kasih kepada Tuhan Yesus. Tetapi kesaksian seorang anak Tuhan yang baik hati ini perlu kita simak. Dorkas adalah seorang ibu yang baik hati dan mendapat kesempatan menjadi pelayan sosial dalam gereja lokal tempat dia berjemaat. Namanya sebenarnya bukan Dorkas, nama itu diberikan orang lain yang sangat tertarik dengan kemurahan hatinya menolong banyak orang. Dia pada awalnya sangat bahagia bila setiap orang yang ditolong merespon dengan ucapan terimakasih dan selanjutnya bersikap hormat setiap bertemu. Dan dia akan lebih bahagia lagi bila dia dipuji atas kebaikan hatinya. Pada suatu hari orang yang ditolong membuat pernyataan: “Ibu adalah Tuhan Yesus bagiku, sebab kalau bukan pertolongan ibu aku sudah bunuh diri”. Pernyataan ini membuat dia semakin bersemangat berbuat baik. Tetapi sering juga dia kehilangan sukacitanya bila orang yang ditolong tidak tahu berterimakasih dan juga tidak menaruh rasa hormat kepadanya. Dia hampir saja berhenti berbuat kebaikan menolong yang membutuhkan karena tidak mendapat balasan dalam bentuk penghormatan dari banyak orang yang pernah ditolong.

Dalam pimpinan Roh Kudus dia membaca Alkitab Matius 25:31-46, secara berbeda dari biasanya. Dia mendapat pencerahan. Selama ini dia menempatkan diri seperti Kristus yang menolong orang dengan penuh belas kasihan. Jadi wajar saja orang yang beroleh belas kasihan dari Yesus berterima kasih dan hormat kepada Yesus. Ternyata selama ini dia mempunyai pemahaman yang salah. Ternyata orang yang ditolong itulah yang berada pada posisi Kristus. Sebab segala sesuatu yang dilakukan untuk orang lemah, dia telah melakukannya untuk Kristus. jadi bukan yang ditolongnya itu yang berterimakasih kepadanya. Yang betul adalah dia yang harus berterimakasih karena diberi kesempatan berbuat kebaikan kepada Kristus melalui mereka.

Jadi saudara tidak akan pernah menjadi Yesus atas kebaikan saudara tetapi yang betul melayani Yesus saat melayani sesama. (MT)


PESAN MINGGU INI 17 JUNI 2018

MENJADI FITRI

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (1 Korintus 5:17)

Menjadi fitri adalah suatu keadaan yang sangat baik dan tentu didambakan semua orang. Kata fitri itu berasal dari kata fitrah yang artinya adalah sifat asal yang suci. Jadi fitri berhubungan dengan fitrah yang dapat diartikan menjadi fitrah atau menjadi suci. Berdasarkan inilah umat muslim merayakan idul fitri. Setelah sebulan penuh mereka berpuasa maka mereka kembali menjadi suci. Ini berkaitan dengan keyakinan tentunya. Masuk akal juga bila berhasil berpuasa selama sebulan penuh menahan selera makan dan menahan berbagai nafsu dunia termasuk menahan amarah, hasilnya menjadi manusia yang suci. Jadi puasa membuat seseorang menjadi suci, dan idul fitri dirayakan menjadi hari kemenangan karena kembali menjadi suci. Kalau dihubungkan dengan iman Kristen menjadi fitri ini dapat disejajarkan menjadi ciptaan baru atau menjadi baru.

Tetapi ada perbedaan yang sangat mendasar. Bila umat muslim menjadi fitri setelah berpuasa sebulan penuh berarti mereka harus berjuang berpuasa selama sebulan penuh. Hal itu berarti untuk menjadi fitri adalah hasil usaha mereka, sedangkan menjadi baru bagi umat Kristen adalah anugerah Allah. Seorang umat Kristen tidak akan pernah menjadi baru atas usaha dan perjuangan sendiri.

Ciptaan baru atau menjadi baru sama dengan dilahirkan kembali atau lahir baru. Yesus menjawab katanya “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali ia tidak dapat melihat kerajaan Allah”. Yesus menjelaskan kepada Nikodemus mengenai dilahirkan kembali, tetapi Nikodemus tidak dapat memahami sama sekali. Sebagai seorang guru agama Yahudi sejati, Nikodemus sudah merasa dirinya warga kerajaan Allah karena dia Israel sejati. Padahal Yesus sedang menjelaskan kepada Nikodemus tentang lahir baru, bukan dilahirkan menjadi Israel yang baru atau umat Allah dalam pengertian yang baru tetapi dilahirkan menjadi anak Tuhan.

“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yohanes 1:12). Jadi menjadi baru adalah pemberian Allah bukan perjuangan untuk menjadi seorang yang berkarakter baik. Begitu kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita berarti kita menjadi baru, lahir baru, lahir menjadi anak Tuhan. Sebagai rasa syukur atas pemberian Allah “menjadi baru”, maka setiap hari kita berjuang membangun karakter kita. (MT)


PESAN MINGGU INI 10 JUNI 2018

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA

“Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” (Matius 9:14-15)

Pada masa Yesus memulai pelayanan-Nya masyarakat Israel tersekat-sekat oleh komunitas-komunitas. Sebenarnya komunitas itu baik selama komunitas itu tidak menjadi kelompok eksklusif yang terkesan mengisolasikan diri dari masyarakat umum. Biasanya komunitas ini akan semakin buruk bila terlibat dengan sikap merasa lebih baik dari komunitas yang lain. Tuhan Yesus sendiri membentuk komunitas kecil dengan memilih dua belas murid untuk menyertai Dia. Ternyata Yohanes pembaptis juga membentuk komunitas kecil bersama murid-muridnya. Jadi pada saat itu masyarakat Israel terdiri dari beberapa komunitas. Ahli Taurat, Farisi, Saduki, Herodian adalah komunitas-komunitas yang merupakan kelompok eksklusif dan merasa lebih baik dan juga lebih berkelas dari masyarakat umum. Berbeda dengan komunitas bentukan Yohanes pembaptis dan Yesus justru dipersiapkan untuk melayani masyarakat umum yang dalam Alkitab khususnya empat kitab Injil disebut “orang banyak”.

Murid-murid Yohanes ternyata sama dengan komunitas lainnya seperti komunitas Farisi berpuasa untuk mentaati tradisi berpuasa. Tidak salah bila mereka bertanya kepada Yesus, “mengapa murid-murid Yesus tidak berpuasa”. Jawaban Yesus ini menjadi petunjuk yang benar untuk memperbaiki pradigma yang salah tentang berpuasa di kalangan orang Israel. Bagi masyarakat Israel berpuasa sudah menjadi ritual agama tradisional yang kaku dan kewajiban tanpa tujuan yang jelas.

Dalam perjalanan sejarah akhirnya terbentuk menjadi rutinitas hukum Taurat yang dilakukan secara masal dalam hari, tanggal dan bulan tertentu. Melalui jawaban Yesus kepada murid Yohanes pembaptis mengungkapkan isi dan tujuan yang baru tentang berpuasa. “Bila Aku naik ke sorga mereka akan berpuasa” artinya bahwa pengikut Kristus akan berpuasa dengan tujuan yang jelas. Juga berpuasa bila dilakukan secara pribadi, secara kelompok kecil, bisa juga secara masal. Jadi berpuasa bukanlah ritual kaku tanpa tujuan tetapi menjawab kebutuhan dengan tujuan. “Jadi selamat menunaikan ibadah puasa” (MT)


PESAN MINGGU INI 03 JUNI 2018

SEMAKIN DEWASA

“Besi menajamkan besi, dan manusia menajamkan sesamanya” (Amsal 27:17)

Orang yang selalu menyendiri sudah dapat dipastikan sulit untuk menjadi dewasa. Mungkin saja alasannya menjauh dari komunitas sangat masuk akal tetapi tetap saja lemah karena menyendiri tetap merupakan penghambat untuk menjadi dewasa. Menarik diri dari komunitas untuk menenangkan diri masih dapat diterima, hanya jangan kelamaan. Sesegera mungkin kembali ke komunitas untuk menikmati bertumbuh bersama semakin dewasa. Ada juga yang sukanya berpindah-pindah komunitas dengan alasan komunitas A kurang kepedulian. Ada juga karena di komunitas tertentu ada tukang gosip, ada penjilat, ada yang sombong dan lain-lain. Dan alasan yang standar adalah komunitas stagnan, sulit untuk dewasa tetapi biasanya dia merasa sangat dewasa, padahal yang betul adalah dia cepat tua karena capek pindah-pindah melulu. Sebab itu saya sarankan agar saudara setia dalam komunitas kendatipun dalam komunitas saudara ada berbagai karakter yang diutus Allah, karena saudara juga adalah utusan Allah ke komunitas itu. Di manapun komunitas yang saudara masuki akan terdiri dari berbagai teman yang mempunyai sifaf yang berbeda-beda. Ada yang keras dan kasar, tidak apa-apa karena dari dia saudara dapat belajar menjadi orang yang sportif, tegas dan berani. Di komunitas saudara Tuhan mengutus seorang yang lemah lembut. Darinya saudara dapat belajar cinta dan kasih sayang dan membangun hubungan yang baik terhadap sesama. Saudara pun tidak perlu terganggu dengan adanya orang cuek berat dan sangat tidak peduli atau masa bodoh. Karena dialah yang mengajarkan kita betapa indahnya peduli dan perhatian kepada orang lain. Barangkali saudara terganggu karena di komunitas ada orang pembual yang kata-katanya sukar dipegang dan tak bisa dipercaya. Tetapi sesungguhnya dialah yang membuat saudara mulai berpikir betapa tidak nyamannya dibohongi dan dikhianati, sehingga saudara belajar menjadi seseorang yang dapat dipercaya. Bila saudara menemukan dalam komunitas ada yang jahat dan cenderung suka memanfaatkan kebaikan orang lain. Saudara tidak perlu marah. Karena dialah yang membuka hati dan pikiran kita untuk belajar berbuat banyak kebaikan tetapi tetap waspada.

Setiap sifat dan karakter yang ada dalam komunitas itu sangat baik untuk mendidik kita. Saudara pun terutus Allah ke dalam komunitas itu agar mereka pun belajar dari saudara. Ingatlah bahwa Allah tidak pernah keliru mempertemukan kita dengan siapapun. Karena selain membuat dan melatih kita semakin sabar juga membentuk kita semakin dewasa serta melatih kita semakin sabar juga membentuk kita semakin dewasa serta melatih makin cerdas dan bijaksana. (MT)


PESAN MINGGU INI 27 MEI 2018

MENGINSAFKAN DUNIA

“Dan kalau ia datang, Ia akan menginsafkan dunia dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini akan dihukum.” (Yohanes 16:8-11)

Gereja tidak mempunyai potensi yang cukup untuk menginsafkan dunia atau manusia berdosa dalam tiga hal. Manusia dalam dosa tidak mudah insaf akan dosa. Para penuai tidak akan pernah berhasil menginsafkan manusia berdosa akan dosa dan berbagai kesalahan dan kejahatan yang dilakukan. Agama yang diharapkan mampu menginsafkan manusia akan dosanya, justru cenderung menjadikan manusia beragama meresa benar hanya karena berhasil melakukan sebagai peraturan agama. Belum lagi adanya kenyataan tokoh agama mengindoktrinasi penganut agama bertindak dan berperilaku bertentangan dengan ajaran agama yang dianut. Akibatnya sangat fatal, karena terkadang mereka menyakini, membunuh orang tertentu merupakan pengabdian kepada sesembahan mereka. Mengapa demikian? Karena mereka tetap tidak percaya kepada Yesus. Jadi para sahabat penuai yang budiman yang dapat kita lakukan bukan menginsafkan dunia akan dosa, tetapi membuat dunia percaya kepada Yesus. Dan jangan lupa juga bahwa Roh Kuduslah yang membuat mereka percaya. Hal itu berarti, kita tidak dapat berfungsi sebagai penuai bila tidak dipenuhi, dikuasai dan dituntun Roh Kudus.

Para penuai tidak akan pernah mampu menginsafkan manusia berdosa akan kebenaran. Alasannya adalah karena Yesus pergi ke Bapa dan kita tidak melihat-Nya lagi. Dunia sempat melihat kebenaran sejati dalam diri Tuhan Yesus. Setelah Yesus naik ke sorga, dunia harus melihat kebenaran sejati itu dalam diri orang percaya. Jadi yang dapat dilakukan para penuai adalah hidup benar seperti Yesus. Standar kebenaran itu adalah Yesus. Walaupun orang percaya meneladani Yesus, tetap saja tidak mampu menyandarkan manusia berdosa akan kebenaran. Karena yang menyadarkan manusia akan kebenaran adalah Roh Kudus. Jadi para penuai yang budiman, hidup benar betul-betul indah, tetapi harus pula dipenuhi, dikuasai dan dituntun oleh Roh Kudus.

Para penuai tidak akan pernah mampu menyadarkan manusia berdosa akan penghakiman. Alasannya adalah karena penguasa dunia ini telah dihukum. Tetapi para penuai dapat membangun diri untuk hidup secara adil. Manusia dalam dosa adalah manusia yang hidup dalam hukuman dosa, atau terhukum oleh dosa. Itulah sebabnya tidak akan pernah insaf akan adanya penghakiman Allah. Itu pula penyebab mereka menghakimi dengan sangat tidak adil. Hal itu sangat masuk akal. Sebab mungkinkah terhukum menghakimi dengan adil? Tetapi Roh Kudus yang berkarya didalam dan melalui para penuailah yang akan menyandarkan manusia berdosa akan penghakiman yang adil yaitu penghakiman Allah.

Sangat jelaskan? Jadi, para penuai yang tangguh teruslah rindukan dan alami hidup dipenuhi dan dituntun oleh Roh Kudus. Tentu hal itu terjadi hanya bila para penuai terus menerus merendahkan hati dan berserah kepada Allah dalam kehidupan doa yang semakin ditingkatkan. (MT)


PESAN MINGGU INI 20 MEI 2018

SELAMAT HARI RAYA PENTAKOSTA

Pernahkah saudara menyampaikan atau memberi salam pentakosta seperti saudara memberi salam Natal dan salam Paskah? Jawaban ada pada saudara. Tetapi bila kita jujur sepertinya Jawabannya adalah tidak pernah. Hari raya Pentakosta betul tidak sepopuler hari raya lain. Selain tidak dibiasakan, mungkin juga Karena hari raya pentakosta selalu jatuh pada hari minggu. Padahal hari raya Pentakosta lebih dulu dirayakan dari hari raya Natal.

Dalam Perjanjian Lama ada dua peristiwa yang diperingati pada hari raya pentakosta. Hari pentakosta dirayakan memperingati pemberian hukum Taurat di Sinai. Arti kata Pentakosta itu adalah hari ke 50. Dihitung dari Paskah yaitu keluarnya bangsa Israel dari Mesir sampai Musa menerima hukum Taurat di Sinai adalah tepat hari ke 50. Hari raya pentakosta juga dirayakan umat Allah Perjanjian Lama sebagai hari raya menuai.

Hari raya ini dirayakan sebagai hari pertemuan kudus, dan semua laki-laki Israel harus hadir di tempat kudus. Pada hari itu umat Allah mengungkapkan rasa syukur dan sekaligus menyatakan rasa takut dan hormat kepada Allah. Dalam merayakan Pentakosta umat Allah juga menyatakan rasa syukur dan hormat kepada Allah atas kebebasan mereka dari perbudakan Mesir dan atas keselamatan dari tulah kematian anak sulung. Dapat diartikan sebagai pra penebusan penghapusan dosa dan perdamaian dengan Allah. Dalam perjanjian baru hari raya Pentakosta tetap dirayakan sebagai hari raya tahunan umat Yahudi. Ketika mereka berkumpul di Yerusalem pada saat pencurahan Roh Kudus kepada para Rasul bertepatan pada hari raya Pentakosta. Itulah sebabnya orang Yahudi dari berbagai bangsa berkumpul di Yerusalem. Tentu bukanlah kebetulan semata bahwa pada hari itu menjadi Pentakosta pertama bagi gereja sebagai umat Allah Perjanjian Baru. Pentakosta pertama bagi gereja disaksikan umat yang datang dari berbagai bangsa. Pada saat itulah Petrus memberitakan Injil dan ribuan orang bertobat. Peristiwa itu terjadi 50 hari setelah kebangkitan Yesus yang juga merupakan Paskah bagi umat Allah Perjanjian Baru. Umat Allah Perjanjian Lama menerima Firman yang tersurat 50 hari setelah keluar dari perbudakan Mesir. Umat Allah Perjanjian Baru menerima Firman yang tersirat 50 hari setelah menang dari perbudakan dosa oleh kebangkitan Yesus dari kematian.

Maksudku dengan istilah Firman yang tersirat adalah Firman yang hidup, Firman yang menghidupi dan firman Yang kita hidupi oleh pekerjaan Roh Kudus yang memenuhi hidup kita. Karena Roh Kudus akan memimpin kita kepada segala kebenaran dan mengingatkan kita akan kesalahan “Selamat Pentakosta”.  (MT)


PESAN MINGGU INI 13 MEI 2018

EL ELYON : ALLAH MAHATINGGI

“Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah Yang Mahatinggi. Lalu ia memberkati Abram, katanya: “Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi” (Kejadian 14:18-19)

El Elyon (Allah Yang Mahatinggi) pertama kali diperkenalkan oleh Melkisedek. Nama ini sering dihubungkan dengan penciptaan-Nya, Dia adalah pendiri langit dan bumi” Tetapi nama ini paling sering digunakan dalam kitab Daniel. Nama El Elyon biasanya digunakan di negeri di luar Yehuda atau bangsa-bangsa kafir seperti di Babel. Karena nama El Elyon mengandung pengertian bahwa Allah Yang Mahatinggi itu adalah Allah yang tidak berdiam di suatu tempat atau tidak dibatasi oleh ruang karena Dia adalah Allah bagi semua bangsa.

Dalam Kisah Para Rasul 7:48, Stefanus menyebut nama El Elyon dalam khotbahnya untuk menandaskan bahwa Allah Yang Mahatinggi tidak diam di dalam apa yang dibuat oleh tangan manusia. “Allah tidak membatasi diri-Nya di suatu tempat atau bangunan kreasi manusia.” El Elyon dipakai dalam pengertian gereja terhubung ke dunia dalam melaksanakan amanat Agung dengan pengakuan umat-Nya El Elyon (Allah Yang Mahatinggi) mengandung janji bahwa Allah akan selalu ada untuk umat-Nya di mana saja.

Tetapi El Elyon bukan saja mengandung janji tetapi juga mengandung konsekuensi bagi setiap umat-Nya. Kemanapun umat-Nya pergi berarti adalah umat terutus untuk semua bangsa. Nama El Elyon menghubungkan gereja Tuhan kepada dunia, seperti Allah mengutus Daniel ke Babel. Ketika Daniel mengetahui dan menafsirkan mimpi raja Nebukadnezar, dia memperkenalkan El ELyon (Allah Yang Mahatinggi) kepada raja penguasa Babel tersebut. Sama halnya saat Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang tidak mau menyembah patung raja Nebukadnezar justru diakui raja penguasa Babel itu sebagai hamba-hamba El Elyon (Allah Yang Mahatinggi). Kekaguman Nebukadnezar tidak menuntunnya menyembah El ELyon. Dia malah memposisikan dirinya sebagai El Elyon. Akibatnya sangat tragis. Nebukadnezar kehilangan pemikiran warasnya. Dia diserang penyakit manusia serigala (Lycanthoropy). Ia makan rumput layaknya seekor lembu. Mendadak rambut dan bulunya panjang seperti binatang buas (Daniel 4). Dia sadar setelah tujuh tahun. Setelah melewati pengalaman memalukan ini lalu ia menyembah El Elyon (Allah Yang Mahatinggi).

Umat Allah menggunakan nama El Elyon (Allah Yang Mahatinggi) saat berhubungan dengan bangsa-bangsa di luar Yehuda yang umumnya mereka sebut bangsa kafir pada saat itu. Tidaklah salah bila orang-orang Arab menyebut dan mengenal EL (Allah), karena mereka mengadopsi dari umat Israel. Secara jelas dua raja Babel yakni Nebukadnezar dan Belsyazar mengakui El Elyon, Allah yang disembah Daniel lewat kesaksian Daniel. Munculnya nama El Elyon melalui pertemuan Abraham dan Melkisedek dan paling banyak digunakan di negeri pembuangan memberi pesan bagi umat-Nya. Pesannya adalah kemana pun umat-Nya pergi akan selalu menjadi umat terutus untuk memuliakan nama Allah. (MT)


PESAN MINGGU INI 06 MEI 2018

EL SHADDAI : ALLAH MAHAKUASA

“Ketika Abram berumur 99 tahun, TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berkata kepadanya, Aku Allah Yang Mahakuasa; hiduplah di hadapan-Ku tanpa bercela” (Kejadian 17:1)

Nama Allah pertama dalam Alkitab bukan Yahwe (TUHAN) tetapi El (Allah). Jadi anggapan Allah sebagai sesembahan orang Arab saja adalah tuduhan yang sangat keji tanpa dasar. Kalau dunia Arab di kemudian hari memakai nama EL (Allah) dengan mengartikannya secara berbeda adalah merupakan dinamika pemahaman yang terus berkembang. Nabi Muhamad yang diyakini umat Islam sebagai utusan Allah dan mendapat wahyu dari Allah juga memakai nama Allah, tentu dengan pemahaman yang berbeda dengan pemahaman dunia Arab pra Islam. Islam sebagai agama samawi atau agama penyandang wahyu dari Allah mempercayai Allah yang Maha Esa pencipta alam semesta.

Dalam kejadian 17;1 Yahwe (TUHAN) menampakan diri kepada Abraham dan berkata “Akulah El Shaddai (Allah Yang Mahakuasa) hiduplah di hadapanku dengan tidak bercela. Pertama kali Yahwe (TUHAN) menyatakan diri sebagai El (Allah) Yang Mahakuasa. Jadi nama bisa lebih dari satu tetapi yang paling penting adalah bahwa Dia Yang Mahakuasa. Jadi Yahwe sendiri menyebut nama-Nya Allah. Hal itu berarti tidak perlu dipermasalahkan nama-Nya. Bila kita menyembah Yahwe (TUHAN) kita juga menyembah El (Allah) dan sebaliknya, karena dua nama itu adalah nama pribadi yang sama, dan sama-sama pencipta alam semesata Yang Mahakuasa. Lain halnya bila dia adalah El Manik atau Yahwe Santoso dua-duanya pasti pribadi yang berbeda walaupun dua-duanya sama-sama makhluk terbatas. Jadi Yahwe dan Allah adalah nama pribadi untuk Dia yang Maha Esa pencipta alam semesta. Ketika kita menyembah El Shaddai (Allah Yang Mahakuasa) berarti kita sedang menghadap pribadi perkasa yang berkuasa menyelamatkan juga pribadi yang lembut yang memelihara dengan penuh kasih. Dalam kata Mahakuasa jangan melulu diartikan aspek kuasa dan kekuatan Allah tetapi juga aspek kasih karena mengandung pengertian “memenuhi segala kebutuhan”.

Bila kita menyembah El Saddai bukan saja menikmati kuasa dan kasih-Nya tetapi juga mempunyai sisi tanggung jawab umat-Nya sebagai konsekuensi pengakuan. Konsekuensinya adalah “hidup dihadapan-Nya dengan tidak bercela” artinya bila Allah yang diyakini adalah Allah yang Mahakuasa hal itu berarti haruskah hidup sebagai umat Allah yang Mahakuasa. Umat yang mengarahkan hidup sebagai pribadi yang secara konsisten melepaskan berbagai cela atau noda dalam dirinya. Hidup tidak bercela bukanlah syarat untuk menjadi umat Allah tetapi merupakan konsekuensi karena sudah menjadi umat Allah. Allah bukan saja menyatakan sebuah nama yang baru kepada Abraham, tetapi juga menyatakan janji yang baru dan membangun hubungan yang baru.

Perlu juga kita pahami bahwa Allah yang Mahakuasa dan Mahakasih itu tidak selalu menyingkirkan masalah-masalah atau menghindari masalah hidup. Tetapi Dia akan memberi kekuatan untuk menghadapinya. Walaupun kita berada dalam perlindungan yang Mahakuasa dan Mahakasih tentang tiga(3) kenyataan masalah hidup tetap saja berlaku, yaitu : kita tidak bisa lari dari masalah, kita tidak bisa mencegah masalah dan kita tidak selalu bisa memecahkan semua masalah. Yang bisa kita lakukan adalah menyikapi masalah secara benar dan tepat.(MT)


PESAN MINGGU INI 29 APRIL 2018

MENGIKUTI RANCANGAN ALLAH

“Tuhan semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? Tangan-Nya telah teracung siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?” (Yesaya 14:27).

Sesungguhnya dunia ini berada dalam kendali Allah. Berbagai peristiwa terjadi merangkai sejarah bangsa-bangsa adalah bagian dari rencana Allah untuk dunia ini. Satu bangsa mengasihi bangsa lain atau satu bangsa memenangkan peperangan kepada bangsa lain semua terjadi menjadi bagian dari rancangan Allah atas dunia ini. Kalau Allah sudah merancang sesuatu tidak ada yang mampu menggagalkannya.

Gereja sebagai organisme dan organisasi juga berada dalam rancangan Allah. Gereja berdiri berkembang dan melembaga juga adalah bagian dari rancangan Allah. Gereja lokal yang satu maju pesat ditinjau dari jumlah anggota, yang lain bertahan dan yang lain lagi merosot, juga adalah bagian dari rancangan Allah. Semuanya sudah terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi lagi tidak ada yang mampu mencegahnya bila itu adalah bagian dari rancangan Allah. Tetapi ada satu hal yang perlu dibangun oleh gereja lokal yaitu kesetiaan. Bila terus setia berarti memberi kesempatan kepada Roh Kudus untuk terus berkarya agar rancangan-rancangan Allah terus terlaksana.

Semasih gereja lokal setia itu berarti memberi kesempatan kepada Allah untuk melanjutkan rancangan-Nya. Gereja dalam arti orang percaya Kepada Yesus juga adalah pribadi-pribadi yang dipanggil sesuai rencana Allah. Allah memanggil orang percaya dengan tujuan yang jelas. Allah tidak akan pernah berhenti membentuk sebelum tujuan-Nya tercapai. Tetapi orang percaya pun harus selalu membuka diri untuk dibentuk oleh Allah melalui kesediaan terus belajar. Dalam keadaan sukses dan gagal tetaplah belajar. Sama seperti Petrus yang tidak dihentikan oleh kegagalan. Kegagalan terbesar Petrus adalah penyangkalannya kepada Yesus. Tetapi bukan kesuksesan Petrus berupa pengakuannya melainkan kegagalannyalah yang lebih banyak mendatangkan kemajuan rohaninya. Kegagalan menninggalkan efek yang tidak hilang dalam kehidupan. Efek dari kegagalan Petrus adalah pikiran yang dituntun kea rah kerendahan hati.

Penyangkalannya membuat keinginannya menjadi orang besar untuk mengangkat dirinya ke ketinggian sudah lebur menjadi debu. Percaya diri dan bersandar kepada kemampuan dihancurkan oleh kegagalannya. Namun hal ini cukup jitu memproses Petrus, sehingga doa Yesus atasnya telah memeliharanya. Petrus terus melakukan banyak hal bagi kerajaan Allah tetapi juga terus belajar menjadi pribadi yang menyenangkan hati Allah. Dalam Galatia 2:9, rasul Paulus menyatakan bahwa Petrus adalah salah satu pilar gereja.

Para penuai yang budiman! Mari terus tertantang untuk menjadi pribadi yang menyenangkan hati Allah tanpa berhenti berbuat sesuatu bagi kemuliaan Allah.(MT)


PESAN MINGGU INI 22 APRIL 2018

PENUAI DALAM PENAMPIAN

“Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” (Lukas 22:31-32).

Mungkin saja Petrus seorang yang dipersiapkan dan ditugaskan Yesus sebagai penuai, tidak memahami bila dia harus masuk ke dalam penampian. Bukankah hasil tuaian yang harus ditampi? Mengapa penuai yang ditampi? Petrus lebih kurang memahami lagi karena iblislah yang akan menampi dirinya. Tahukah saudara tujuan penampian. Kalau diriku ini betul-betul sangat tahu tujuan penampian. Karena pada usia SMP sampai SMA boleh disebut menampi adalah tugas rutinku. Pada saat itu padi bukan dibawa ke mesin giling tetapi ditumbuk pada lesung secara manual. Hasil tumbukan harus ditampi berulang kali. Barulah kita memperoleh beras bersih yang siap untuk dimasak dan dikonsumsi. Tidak heran kalau aku dilihat dari belakang agak seksi karena pinggulku memang terbentuk saat menampi. Tetapi tujuanku menampi adalah untuk memperoleh beras yang bersih. Karena saat menampi semua kotoran berupa sekam dan dedak terbuang. Akan halnya Petrus ditampi di lain pihak Allah mengijinkan penampian terjadi. Tujuan iblis menampi adalah untuk membuang dari hadirat Tuhan agar binasa sedangkan tujuan Tuhan adalah untuk membersihkan dan mengokohkan.

Timbul pertanyaan “Mengapa Petrus harus ditampi?” Petrus dipanggil menjadi murid mempunyai karakter positif dan negatif campur baur. Dia seorang yang berani mengambil resiko, penuh percaya diri, agresif, nekat, suka gegabah, berkemauan keras, tidak berpikir panjang, berani mengemukakan pendapat, tidak konsisten, cepat marah, congkak dan suka berargumentasi. Tetapi dalam kekurangannya Petrus mempunyai rasa haus dan lapar yang besar kepada Allah. Dia sangat kagum dan berminat untuk mendengar firman Allah. Ketika Allah mengijinkan iblis menampinya tujuan-Nya adalah mengubah nelayan yang kasar dan banyak kelemahan ini menjadi pemberita Injil hebat. Tetapi perubahan Petrus bukanlah terjadi dalam waktu yang singkat. Pada saat Petrus menulis suratnya dia sudah menjadi hamba Tuhan yang kuat, bersih dan tangguh.

Para penuai yang budiman! Segala sesuatu yang tidak menyenangkan diijinkan Tuhan menampi saudara agar terbentuk menjadi penuai yang setia, kokoh dan kuat. Jadi apa dan bagaimana pun bentuk penampian terimalah dan hadapilah sebagai tantangan yang dijadikan saudara menjadi alat yang sesuai dengan kehendak-Nya. Penuai NOT ONLY TO DO tetapi penuai haruslah TO BE. Bukan hanya melakukan hal-hal besar tetapi haruslah menjadi pribadi yang bersih.


PESAN MINGGU INI 15 APRIL 2018

TANTANGAN KEGERAKAN PENUAIAN

“Menuailah menurut kasih setia! Bukalah bagimu tanah baru,  sebab sudah waktunya untuk mencari TUHAN, sampai Ia datang dan menghujani kamu dengan keadilan”. (Hosea 10:12)

Belakangan ini banyak gereja yang dibuka. Ada di mall-mall, ada di ruko-ruko dan ada pula di perumahan-perumahan. Hal ini cukup mengundang kecurigaan dan reaksi agama lain sehingga mereka menyuruh dan memaksa gereja-gereja ditutup. Tetapi menurut survey yang dilakukan lembaga tertentu juga pembicarakan dari mulut ke mulut bahwa pertambahan jumlah orang percaya tidak ada karena yang terjadi bukanlah pertumbuhan, bukan pula pertambahan melainkan perpindahan anggota gereja.

Kalau hal ini benar cukup disesalkan juga, tetapi kenyataan pahit ini haruslah disikapi dengan baik. Dalam hal ini ada gereja yang ditinggalkan ada gereja yang didatangi. Ada gereja yang semakin sepi dan ada gereja yang semakin ramai. Gereja sepi dituduh tidak ada Roh Kudusnya, gereja ramai disimpulkan gereja penuh urapan Roh Kudus. Kasihan juga sih gereja yang semakin sepi, sudah menjadi korban dituduh lagi tidak ada Roh Kudus. Apakah betul demikian? Menurut saya sih Roh Kudus justru cenderung berpihak kepada korban bukan kepada pihak yang mengorbankan.

Bagaimana dengan GBI Karang Anyar? Pasti saudara sepakat dengan saya bahwa gereja kita adalah bagian dari kenyataan ini. Bagaimana sikap kita? Apakah kita menyalahkan gereja kita? Atau malah menyalahkan gereja lain. Menurutku tidak perlu dan tidak ada gunanya. Mari kita jadikan ini menjadi tantangan untuk semakin setia. Menurutku GBI Karang Anyar adalah merupakan korban oleh peristiwa perpindahan ini. Tetapi tidak perlu marah atau resah, karena Allah justru selalu dekat dan memihak kepada korban. Mari kita jadikan hal ini menjadi tantangan kegerakan penuaian. Kegerakan penuaian yang dimaksud adalah menabur secara adil, menuai menurut kasih setia dan membuka tanah baru. Tanah baru adalah tanah yang terabaikan hingga mengeras dan sukar menerima benih. Dibutuhkan kesungguhan hati menabur, bila perlu bekerja keras dengan kedalaman hati hingga mencucurkan air mata. Menabur bukan biasa saja karena menabur sesuai dengan keadilan. Menuaipun bukan menuai suka-suka tetapi menuai menurut kasih setia.

Jadi tantangan kegerakan penuaian itu adalah tidak semata-mata menambah jumlah anggota gereja tetapi seperti firman Allah melalui nabi Hosea “Waktunya untuk mencari Tuhan dengan membuka tanah baru, menabur sesuai dengan keadilan dan menuai menurut kasih setia”. Waktunya untuk mencari Tuhan dengan membangun hubungan yang semakin intim dengan Tuhan lewat kehidupan doa.


PESAN MINGGU INI 08 APRIL 2018

MENUNGGU WAKTU TUHAN

Pada tahun pertama kerajaannya itu aku, Daniel, memperhatikan dalam kumpulan Kitab jumlah tahun yang menurut firman TUHAN kepada nabi Yeremia akan berlaku atas timbunan puing Yerusalem, yakni tujuh puluh tahun. Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu. (Daniel 9:2-3)

Nabi Daniel bukan saja taat kepada Allah untuk bernubuat tetapi juga taat kepada Allah mendengarkan dan mempelajari nubuat nabi-nabi lain seperti nubuat nabi Yeremia. Nabi Yeremia sudah menubuatkan lebih tujuh puluh tahun sebelumnya bahwa pemulihan bagi Yerusalem akan terjadi setelah tujuh puluh tahun Yehuda di negeri pembuangan (Yeremia 25:11-12). Setelah tujuh puluh tahun hampir berlalu, nabi Daniel belum melihat ciri-ciri akan terjadinya pemulihan. Hal itu membuat Daniel mulai cemas. Tetapi kecemasan bagi Daniel adalah hal yang wajar, karena justru membuatnya tertantang menunggu dengan sabar dan berdoa lebih sungguh-sungguh. Ketika nubuat tidak segera menjadi kenyataan Daniel tidak langsung menuduh nabi Yeremia bernubuat palsu. Karena dia sudah mengenal nabi Yeremia dengan baik.

Pada zamannya banyak juga bermunculan nabi palsu dan Daniel mengenal mereka sebagai palsu dari perbuatan-perbuatannya. Jadi cukup jelas bahwa Daniel selektip juga mempercayai nubuat, walaupun demikian Daniel tidaklah mudah menuduh seseorang nabi palsu. Ketika nubuat belum tergenapi Daniel tidak pasif duduk-duduk sambil menunggu tetapi justru dia menunggu dengan aktif berdoa. Daniel pun tidak meragukan janji Allah. Ketika janji Allah belum tergenapi justru tantangan bagi penerima janji untuk menunggu dengan sabar.

Karena waktu Tuhan pasti yang terbaik. Waktu Tuhan tidak terlalu cepat juga tidak terlambat. Karena tertantang menunggu waktu Tuhan, Daniel mengisinya dengan memanjatkan doa syafaat kepada Allah. Dalam doa syafaatnya menjelaskan betapa tidak ada sedikitpun keraguan, yang ada adalah pengakuan atas kebesaran Allah. Pengakuan yang tulus mampu membangkitkan rasa hormat akan Allah dan rasa yakin akan kasih setia Allah. Daniel jelas berbeda dalam hal kesetiaan kepada Allah dari umat Yehuda. Tetapi Daniel membuat suatu sikap menyamakan diri dengan umat Yehuda yang tidak setia sama-sama membutuhkan pengampunan dari Allah.

Pendoa syafaat bukan hanya sungguh-sungguh mendoakan orang-orang, komunitas dan gereja atau bangsa-bangsa tetapi juga sungguh-sungguh dengan dirinya sendiri. Sama seperti Yesus sepanjang pelayanan-Nya untuk menyelamatkan orang terhilang Dia juga memanjatkan doa syafaat dan sungguh-sungguh dengan diri-Nya sebagai teladan sempurna bagi pengikut-Nya.


PESAN MINGGU INI 01 APRIL 2018

TANTANGAN BUKAN KETAKUTAN

“Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi Engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kau tantang itu” (1 Samuel 17:45)

Goliat adalah kekuatan besar yang menantang umat Allah. Umat Allah betul-betul bungkam tak mampu berbuat sesuatu. Dengan sombongnya Goliat menghina umat tetapi juga menghina Allah yang disembah umat. Jangankan membela kehomatan nama Allah membela diri sendiri saja umat Israel sudah tak berdaya.

Umat Israel yang ditantang Goliat terperangkap pada sikap membandingkan diri yang biasa saja dengan Goliat pahlawan Filistin yang luar biasa. Kekuatan Goliat yang luar biasa itu nyata bukan khayalan. Sangat logis dan berasalan bila umat ketakutan. Sesungguhnya bukan Goliat, tetapi ketakutanlah yang melumpuhkan umat Israel. 40 hari Goliat menantang umat sambil memamerkan kebesaran tubuhnya dan perlengkapan perangnya. Sangat jelas tujuannya hanyalah menakut-nakuti. Goliat cukup berhasil, tetapi dibutuhkan empat puluh hari menjadikan umat Israel semakin takut. Jadi bukan Goliat yang mengalahkan umat Israel melainkan ketakutan. Memang cara kerja iblis biasanya adalah menakut-nakuti karena iblis tahu ampuhnya ketakutan melumpuhkan iman dan semangat seseorang. Beda dengan Daud. Daud tidak takut menghadapi kekuatan Goliat.

Bagi Daud, Goliat tidaklah menakutkan tetapi menantang. Daud menyadari bahwa dirinya dengan Goliat tidak sebanding dalam banyak hal. Betul dirinya terlalu lemah dibanding Goliat. Perlengkapannya terlalu sepele dibanding perlengkapan Goliat yang serba baja. Tetapi Daud meladeni tantangan Goliat tanpa gentar. Kasih dan keyakinan Daud kepada Allah adalah tenaga pendorong untuk menghalau ketakutan sekaligus membangkitkan keberanian. Daud sangat bersemangat karena tak rela mendengar kehormatan Allah diremehkan oleh Goliat. Daud tidak mengandalkan dirinya, karena sudah terbiasa mengandalkan Allah dalam menghadapi berbagai pergumulan. Imannya kepada Allah sudah teruji dan kejayaannya mengalahkan Goliat adalah bukti kuasa Allah nyata oleh kekuatan Iman. Imannya kepada Allah justru bertumbuh saat menghadapi berbagai pergumulan.

Bukan hanya iman tetapi kreatifitas juga ikut bertumbuh. Daud memungut beberapa buah batu adalah tindakan spontan yang bersumber dari berkembangnya cara perpikir kreatif saat menghadapi ancaman. Jadi iman yang benar kepada Allah membuat Daud meresponi ancaman sebagai tantangan bukan ketakutan. Hasilnya dia terkatrol naik bukan terjerambap jatuh. Apapun yang saudara anggap menggagalkan penuaian hadapilah sebagai tantangan yang mengangkat hidup pelayanan saudara. 


PESAN MINGGU INI 25 MARET 2018

DI ATAS LANGIT MASIH ADA LANGIT

“Maka kata Pilatus kepada-Nya Tidakkah engkau mau bicara dengan aku? Tidakkah engkau tahu bahwa aku berkuasa untuk membebaskan engkau dan berkuasa untuk menyelibkan engkau? Yesus menjawab: Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu dia yang menyerahkan Aku kepadamu lebih besar dosanya” (Yohanes 19:10-11)

Sangat beralasan bila Pilatus merasa berkuasa untuk membebaskan dan menyalibkan Yesus. Pertama, dia adalah Wali negeri Yudea yang dipercaya oleh kaisar Romawi sebagai penguasa. Lagi pula dia adalah seorang penguasa yang sangat mumpuni dibidangnya dan seorang politisi yang disegani pada zamannya. Kedua, hasil penyelidikannya terbukti tidak bersalah karena tidak pernah melakukan pelanggaran hukum. Tidak melanggar hukum agama juga tidak melanggar hukum negara.

Tetapi Yesus memberi pengarahan kepada Pontius Pilatus tanpa menyepelekan jabatannya sebagai wali negeri di Yudea. Yesus menjelaskan bahwa dia berkuasa karena ada yang memberikan kuasa itu kepadanya. Pilatus memang harus tahu bahwa di atas langit masih ada langit. Kuasa yang ada padanya bersumber atau diberikan penguasa di atasnya. Penguasa di atasnya pun memperoleh kuasa dari atasnya pula. Dan kuasa yang tertinggi adalah kuasa Allah. Yesus mengatakan bahwa semua kuasa yang diperoleh manusia di atas muka bumi ini ada hanya berdasarkan izin dari Allah. Dalam hal ini Pontius Pilatus justru tidak bertanggung jawab menggunakan kuasanya. Ketika dia menggunakan kemampuannya menyelidiki rekam jejak Yesus terbukti Yesus taat hukum dan taat aturan. Yesus tidak bersalah. Tetapi demi mengamankan kedudukannya secara politis dia menyerah kepada permintaan umum.

Dalam pengakuan imam gereja Kristen nama Pontius Pilatus ini selalu disebut setiap ibadah. Padahal tokoh politik satu ini telah melakukan pelbagai kesalahan dan kebodohan nyata. Sejarah mencatat dia pernah menyelewengkan keuangan Bait Suci, melakukan berbagai kekacauan dan memerintahkan membunuh sejumlah orang Samaria di atas gunung gerizim yang bagi orang Samaria adalah tempat yang suci. Pada akhir kekuasaannya dia bunuh diri di penjara sebelum diadili atas kejahatannya. Namanya menjadi penting dalam iman Kristen, karena penguasa sejahat Pontius Pilatus menyatakan bahwa Yesus tidak bersalah. Dia memang berkuasa dan berpotensi membelokkan kebenaran. Tetapi bukan Pilatus melainkan Allah sendirilah yang memberi izin kepada Pilatus berkuasa pada zamannya. Pernyataannya adalah kebenaran absolut, bukan karena dia penguasa tetapi karena dia dikuasai Allah dia pun berkata: “aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya” (Yohanes 18:13b).


PESAN MINGGU INI 18 MARET 2018

APA YANG KAU KEJAR?

“Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan”. (1 Timotius 6:11)
“Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni” (2 Timotius 2:22)

Mengejar adalah mengerahkan tenaga dan mempercepat langkah untuk menemukan sesuatu. Selama hidup didunia ini ada sesuatu yang setiap orang yang ga penting dan berharga untuk dikejar. Bagi sebagian orang berusaha mengejar kekuasaan. Bagi sebagian lagi mengejar gelar atau kedudukan terhormat. Ada juga yang berjuang gigi mengejar kekayaan. Tetapi tidak sedikit juga yang berusaha sekuat tenaga pengajar status sosial tinggi dan reputasi. Jelasnya Setiap orang pasti mempunyai sesuatu untuk dikejar. Pertanyaannya sekarang adalah apakah yang kau kejar? Barangkali saudara menjawab: saya biasa saja karena tidak ada sesuatu yang ku kejar. Barangkali juga ada di antara saudara menjawab Saya sih tidak mau ngoyolah Karena bagiku Hidup itu tidak perlu repot-repot, mengalir sajalah.

Bila saudara terlalu santai hidup karena tidak mengejar sesuatu, saya menasehati saudara, tetaplah tenang tetapi Alangkah baiknya bila saudara mempunyai sesuatu tujuan yang jelas untuk saudara kejar. Rasul Paulus pegas menandakan bahwa pengikut Kristus perlu menjaga apa apa yang sedang dikejar dunia. Orang di luar Tuhan gigih mengejar kekayaan dan mengejar ketenaran melalui kemampuan bersilat kata. Dan ternyata Rasul Paulus menemukan orang Kristen yang sedang mengejar keuntungan melalui kegiatan agama. Kegiatan seperti itu sebaiknya dijauhi. Dan setelah menjauhi Tentukan sesuatu tujuan untuk dicapai. Tidak tanggung-tanggung karena pasul Paulus menyebutnya sebagai “manusia Allah”.

Manusia Allah mempunyai sesuatu untuk dikejar. Tujuan yang harus dikejar manusia Allah adalah nilai-nilai firman Allah berupa keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Kata mengejar dan memperjuangkan ini berasal dari kata Yunani yang berarti “menderita”.

Jadi mengejar atau memperjuangkan berarti untuk memperoleh nilai nilai keadilan dan kesetiaan serta yang lainnya tidak mudah. Perlu ketekunan agar tujuan tercapai jadi para sahabat menuai yang sejati Apa yang kau kejar? Kejarlah nilai-nilai firman Allah hingga menjadi milik saudara agar menjadi pribadi penuh yang seutuhnya. 


PESAN MINGGU INI 11 MARET 2018

YESUS SEBAGAI BIJI GANDUM

“Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.”  Yohanes 12:24

Tak seorang pun akan menikmati tuaian bila ia membiarkan biji gandum yang dimilikinya tetap disimpan dan tidak ditanam. Jelas untuk dapat berbuah maka sebuah biji gandum harus terlebih dahulu jatuh ke tanah  (ditanam)  dan mati.

Dalam pembacaan firman hari ini biji gandum yang dimaksudkan Tuhan Yesus dalam ayat nas menggambarkan diri-Nya sendiri.  Kalau Tuhan Yesus tidak taat sampai mati di kayu salib Ia tidak akan berbuah, tidak ada korban penebusan dosa, dan tidak ada keselamatan.  Dengan kata lain manusia berdosa akan tetap menanggung akibat dari dosa seperti tertulis:  ”Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 6:23).  Tetapi oleh karena Tuhan Yesus mau taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib, maka ada buah yang dihasilkan, yaitu orang yang percaya kepada-Nya diselamatkan dan diperdamaikan dengan Allah.  Tuhan Yesus yang telah menjadi biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati akhirnya menghasilkan tuaian yaitu jiwa-jiwa yang diselamatkan.

Cukupkah kita hanya mengucap syukur saja kepada Tuhan atas segala pengorbanan-Nya?  Tidak. Sebagai umat tebusan-Nya kita juga harus mengerti kehendak Tuhan di balik pengorbanan-Nya itu, karena  ”…Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap,”  (Yohanes 15:16). Kehendak Tuhan bagi orang percaya adalah menghasilkan buah!

Agar dapat berbuah maka kita pun harus mengikuti jejak Tuhan Yesus yaitu menjadi seperti gandum yang jatuh ke tanah dan mati.  Seperti biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati, kita pun harus bersedia meninggalkan kehidupan lama dan sepenuhnya mengenakan kehidupan Kristus.  ”Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”  (Galatia 2:19b-20).

Karena pengorbanan Kristus, setiap kita yang percaya kepada-Nya diselamatkan dan memiliki tanggung jawab untuk hidup sama seperti Kristus hidup!


PESAN MINGGU INI 04 MARET 2018

APAKAH YANG KAU CARI?

“Carilah Tuhan hai semua orang yang rendah hati di negeri, yang melakukan hukum-Nya; carilah keadilan, carilah kerendahan hati; mungkin kamu akan terlindung pada hari kemurkaan Tuhan”. (Zefanya 2:3)

Apa yang dicari orang siang malam – pagi petang? Uang dan uang lagi. Uang sangat penting? Ya! Uang memang sangat penting. Bohong kalau ada yang mengatakan bagiku uang tidak penting. Uang betul-betul penting, hanya saja Uang bukanlah segala-galanya. Masih ada yang lebih penting kita cari daripada uang. Tentu saja yang lebih penting dari uang itu adalah hal-hal yang tidak dapat dibeli dengan uang. Emas dan berlian dapat dibeli dengan uang. Mobil dan rumah mewah yang dibeli dengan uang. Tetapi kebahagiaan keamanan dan ketentraman serta keselamatan tentu saja tidak dapat dibeli dengan uang.

Untuk memperoleh segala sesuatu yang tak terbeli oleh uang itu kita pun harus mencarinya. Itulah sebabnya hidup ini tidak cukup hanya mencari uang walaupun mencari uang itu perlu, penting bahkan harus.

Bila ingin hidup bahagia, tentram, aman dan selamat kita perlu mencari tiga(3) hal sesuai dengan anjuran nabi Zefanya :

Pertama, kita harus mencari Allah. Pengertian mencari Allah tentu bukan berarti berusaha menemukan keberadaan Allah. Masihkah saudara ingat nyanyian sekolah minggu “apa yang dicari Allah siang malam pagi petang, saya, saya, saya, orang yang berdosa”. Jadi mencari Allah adalah memberi respon yang baik kepada-Nya. Kemudian mengarahkan hati kepada-Nya dengan Kerinduan mendalam untuk semakin mengenal dan semakin mengasihi-Nya sebagai Tuhan dan penguasa tunggal atas hidup kita. “Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku…” (Yeremia 29:12-14).

Kedua, kita harus mencari kebenaran. Mencari kebenaran adalah mempelajari dan melakukan Firman Allah sebagai jalan dan standar kebenaran dalam berperilaku. Cari kebenaran berarti terjadinya keasyikan yang terus – menerus hidup dan menghidupi kebenaran dengan segala konsekuensinya.

Ketiga, kita harus mencari kerendahan hati. Mencari kerendahan hati berarti memperjuangkan karakter rendah hati dengan sikap tunduk kepada Allah. Setiap hari menyatakan kebutuhan kita akan penyertaan Allah. “Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah karena merekalah yang mempunyai kerajaan surga” (Matius 5:3).

Jadi apakah yang kita cari? Tiap hari biarlah dalam hidup kita terjadi keasyikan yang terus – menerus semakin mengenal Allah, dalam kebenaran dan belajar semakin rendah hati.


PESAN MINGGU INI 25 FEBRUARI 2018

TETAPLAH SETIA

“Berfirmanlah Tuhan kepadaku: Pergilah lagi, cintailah perempuan yang suka bersundal dan berzinah seperti Tuhan juga mencintai orang Israel, sekalipun mereka berpaling kepada allah-allah lain dan menyukai kue kismis. Lalu aku membeli dia bagiku dengan bayaran lima belas syikal perak dan satu setengah homer jelai” (Hosea 3:1-2)

Allah mengawali perintah-Nya kepada nabi Hosea mengawini seorang perempuan sundal. Perempuan sundal yang dimaksud adalah Gomer istrinya yang sudah meninggalkannya begitu saja. Gomer berulang-ulang meninggalkan Hosea, sehingga Allah berfirman lagi agar Hosea menjemput Gomer yang sudah nyaris dijual sebagai perempuan sundal penyembahan baal yang sangat amoral. Hosea tidak berhenti mengasihi Gomer sekalipun hatinya hancur. Kasihnya diperdalam karena Allah berulang-ulang juga memerintahkan agar Hosea mengampuni istrinya Gomer.

Tidak sedikit teolog yang beranggapan bahwa perintah Allah kepada Hosea mengambil lagi Gomer menjadi istrinya, walaupun berulang kali Gomer menghianati Hosea, sebagai cerita khayal yang melambangkan sikap Allah kepada manusia berdosa. Tetapi para teolog konservatif sebagian besar beranggapan sebagai benar-benar terjadi. Terlepas dari khayalan bermakna atau fakta, perintah Allah ini adalah bukti kesetiaan Allah kepada manusia berdosa yang harus diteladani umat-Nya khususnya dalam kehidupan pernikahan.

Hubungan Allah dengan manusia atau Hubungan Yesus dengan gereja-Nya sering digambarkan seperti hubungan suami istri dalam pernikahan. Akhir-akhir ini cukup hangat di angkat topik boleh tidaknya orang Kristen bercerai. Sepertinya topik ini menarik karena kasus Bapak Basuki Tjahaja Purnama tersiar menggugat istrinya bercerai di pengadilan negeri Jakarta Utara. Ada kelompok yang menyimpulkan bahwa orang kristen tidak boleh bercerai apapun alasannya, sedangkan kelompok lain menyimpulkan boleh dengan alasan-alasan tertentu, khususnya alasan karena satu pihak melakukan perzinahan.

Sesungguhnya idealnya perceraian tidak boleh terjadi, hanya saja di dunia ini sudah tidak lagi ada lagi yang ideal setelah manusia jatuh dalam dosa. Perlu juga dipahami bahwa perceraian bukanlah solusi yang baik karena selalu meninggalkan masalah yang meluas dan berkepanjangan. Kasus nabi Hosea adalah suatu pesan yang jelas bahwa apapun yang terjadi suami istri harus saling setia. Suami istri harus semakin saling mengasihi kendatipun diterpa berbagai masalah termasuk bila satu pihak menghianati kasih mereka. Suami istri harus kaya dengan pengampunan agar hubungan permanen itu terus terjaga dan semakin kuat.

Jadi mempertanyakan boleh tidaknya orang Kristen bercerai bukanlah topik yang menarik. Topik yang paling menarik adalah suami istri dalam pernikahan Kristen adalah hubungan yang harus saling setia seperti hubungan Kristus dengan gereja-Nya


PESAN MINGGU INI 18 FEBRUARI 2018

ALLAH MELIHAT HATI

Tetapi berfirmanlah tuhan kepada Samuel “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (1 Samuel 16:7)

Tidak mudah bagi Samuel mengurapi salah satu dari delapan orang anak Isai menjadi raja Israel menggantikan raja Saul. Dari segi fisik delapan orang memenuhi syarat untuk menjadi raja. Isai selaku orang tua menyodorkan Eliab, Abinadap dan Syama tetapi ketiganya ditolak Allah untuk diurapi menjadi raja. Imam Samuel langsung tertarik dengan perawakan Eliab tetapi Allah menolaknya. Isai menyodorkan tiga orang anak pertama, kedua dan ketiga tentu dilatarbelakangi budaya yang mengutamakan anak tertua.

Dalam hal ini Allah mengubah pendapat umum. Samuel yang mengedepankan syarat fisik dan Isai mengdepankan nilai budaya, ternyata ditolak Allah dengan tegas. Karena perawakan yang ada di depan mata dan budaya sebagai dasar kebiasaan semata sungguh bisa menipu. Samuel dan Isai sama dengan manusia pada umumnya hanya dapat menilai setelah melihat apa yang di depan mata dan apa yang dianggap benar sesuai nilai budaya. Dengan demikian jelaslah bahwa kita sangat membutuhkan bimbingan Allah dalam melihat dan menapaki perjalanan hidup kedepan. Kita juga sangat membutuhkan bimbingan Allah untuk mengenal dan membangun hubungan dengan sesama manusia. Allah mengenal kita bukan berdasarkan penampilan dan juga bukan berdasarkan budaya kita tetapi dia melihat hati kita. Allah sangat berkepentingan dengan hati manusia sebab itu kita harus berkepentingan dengan hati kita. Segala sesuatu yang penting bagi Allah harus penting juga bagi kita.

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah memancar kehidupan” (Amsal 4:23). Begitu pentingnya hati sebagai sumber keinginan dan keputusan sehingga harus dijaga dengan penuh kewaspadaan. Lalai dalam menjaga hati akan mengakibatkan terjerat ke jalan kebinasaan. Menjaga Hati dengan Waspada menghasilkan hidup yang tegap berdiri di jalan kebenaran.

Allah memanggil kita semua menjadi milik-Nya tanpa mempertimbangkan hati, tetapi Allah memilih para penuai untuk terlibat dalam pelayanan penuaian melihat dan berdasarkan hati. Tentu saja bukan kondisi Hati Kudus atau tidak Kudus menjadi dasar pertimbangan Allah memilih kita para penuai. Allah melihat hati yang murni yang diparalelkan dengan tangan yang bersih Mazmur 24:4.

Yang dilihat Allah adalah hati yang jujur yang menghasilkan perilaku yang bersih. Itu berarti tindakan dengan hati sejalan.


PESAN MINGGU 11 FEBRUARI 2018

FIRMAN MAKIN JARANG SAAT KOTBAH MAKIN SEMARAK

“Samuel yang muda itu menjadi pelayan Tuhan di bawah pengawasan Eli. Pada masa itu Firman Tuhan jarang penglihatan penglihatan pun tidak sering” (1 Samuel 3:1)

Pada abad keempat, gereja sedang jaya-jayanya setelah 4 abad gereja dihambat dan disiksa. 4 abad Firman terus diberitakan, bukan hanya melalui kata tetapi juga melalui perjuangan gereja menghadapi berbagai penderitaan. Tetapi mendadak pemerintah menetapkan agama Kristen menjadi agama negara. Dan terjadilah gereja di manjanegara. Gereja menjadi besar dan mewah. Gereja menjadi berkuasa dan kaya. Gereja dipenuhi umat. Hidup beragama menjadi Semarak. Pendeta-pendeta menjadi kaya tanpa hambatan mereka berkotbah di mana-mana.

Pada waktu itu ada seorang pendeta yang disapa murid-muridnya Abba Felix. Abba Felix memilih diam dan menarik diri dari semaraknya pengkotbah yang mendadak hidup mewah. Murid-muridnya yang merasa kehilangan berusaha mencarinya. Ketika bertemu di Lybia mereka meminta untuk diberi pelajaran seperti biasanya. Tapi Abba Felix justru diam saja. Dia membiarkan muridnya dalam kesunyian. Sampai akhirnya murid-muridnya meminta didoakan saja. Ketika mereka berdoa justru disitulah terjadi sesuatu yang jauh lebih berguna dari suatu ajaran atau khotbah yang selama ini biasa mereka terima dari sang guru. Ketika Abba Felix melihat gereja hanyalah kerumunan massa mendengar khotbah, dia memilih lebih baik menarik diri dari kesemarakan kehidupan beragama. Penuai yang tangguh bukanlah bagian dari kerumunan massa pendengar khotbah. Karena ada kalanya Firman menjadi jarang saat khotbah semakin semarak.

Penuai adalah pendengar Firman Tuhan saat firman Tuhan semakin jarang. Samuel adalah pelayan Tuhan yang sesungguhnya. Saat firman Tuhan jarang ditengah kehidupan beragama yang semakin mapan Samuel justru mendengar firman Tuhan. Samuel tidak sembrono tetapi dia meminta nasihat imam Eli agar tidak terperangkap kepada kesalahan yang tidak perlu. Ketika Allah memanggil namanya dia meminta petunjuk dari imam Eli untuk memastikan itu adalah firman Tuhan. Sekarang ini perlu para pengkotbah jujur agar kotbahnya betul-betul Firman Tuhan. Perlu juga mengambil inisiatif seperti Abba Felix yang menarik diri dari kesemarakan kerumunan massa untuk berdiam diri.

Para penuai tangguh pun perlu memastikan bahwa yang kita dengar adalah firman Tuhan agar tidak terperangkap kepada kerumunan massa mendengar khotbah semata. Dan para pengkotbah pun dapat juga mengukur khotbahnya supaya jangan melenceng dari Firman. Caranya kita harus lebih dulu melakukannya sebelum mengkotbahkannya.


PESAN MINGGU 04 FEBRUARI 2018

KERJA BUAT TUHAN

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu bahwa dari Tuhan lah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah Tuan dan Kamu hamba-Nya” (Kolose 3:23-24).

Para penuai sebaiknya harus menerapkan sebuah cara pandang yang berbeda dari cara pandang dunia terhadap dunia kerja. Dalam cara pandang dunia bekerja adalah merupakan kewajiban di hadapan atasan untuk memperoleh upah. Semangat kerja dibangun berdasarkan kebaikan tuan dan upah yang tersedia atas kerja keras kita tentunya. Kalau tuan atau atasan baik kita semangat, kalau upah memadai kita rajin. Atasan baik yang memberi upah yang tinggi tentu saja menjadi alasan untuk bekerja semangat, rajin dan setia. Apakah salah cara dan pola kerja seperti itu? Tentu saja tidak. Hal itu sangat wajar. Hanya saja untuk memperoleh atasan yang baik dengan upah yang tinggi tidak mudah bahkan hampir bisa disebut sukar. Ada yang atasan baik tetapi upahnya rendah. Ada pula yang upahnya tinggi tetapi atasan sangat arogan dengan segudang tuntutan sehingga kerja terasa sangat berat penuh tekanan. Ada pula yang atasannya arogan dan upah pun kecil. Tetapi karena tidak ada pilihan kita pun harus bekerja. Itulah sebabnya para penuai haruslah menerapkan cara pandang dan pola kerja yang berbeda dari yang biasa agar kerja menjadi menyenangkan. Biasanya disebut kerja cerdas, kerja ikhlas dan kerja menyenangkan.

Rasul Paulus memerintahkan agar para penuai bekerja dengan sungguh-sungguh seperti untuk Tuhan. Para penuai yang rindu menuai dalam dunia kerja harus memberi penghormatan kepada tuan dan atasan, tanpa memperhitungkan kemampuan dan karakter mereka. Semua pekerjaan hendaklah kita terima sebagai kesempatan yang diberikan Tuhan sebagai pelayanan yang diberikan untuk Tuhan pula. Kualitas kerja para penuai tangguh akan bertambah bila kerja untuk Tuhan karena Yesus menjadi atasan yang baik. Dan juga sesungguhnya memberi upah tertepat dan terbaik serta pemberi upah sejati adalah Yesus.

Sudah pasti Tuhan Yesus akan memberi penilaian yang jujur terhadap semua kerja para penuai. Tidaklah sulit bagi para penuai memberi hormat dan memelihara rasa hormat kepada atasan bila kita kerja dengan segenap hati seperti untuk Tuhan. Bahkan sudah pasti kita tetap bekerja baik dan semangat walaupun menghadapi ketidakadilan dan perlakuan yang paling buruk sekalipun dari atasan kita.


PESAN MINGGU 28 JANUARI 2018

BERHENTI BEREBUT STATUS TERTINGGI

“Jadi jikalau aku membasuh kakimu, aku yang adalah Tuhan dan gurumu, jadi kamu pun wajib saling membasuh kakimu. Sebab aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yohanes 13: 14-15).

Pada zaman Yesus, mencuci kaki tamu adalah tradisi untuk memberikan kenyamanan kepada tamu setelah perjalanan melalui padang pasir memakai kasut. Tentu saja kaki tamu itu sudah kotor. Tugas mencuci kaki itu biasanya dilakukan budak yang paling rendah kedudukannya. Jika di rumah tidak ada budak maka tuan rumahlah yang melakukannya atau siapapun yang ada di rumah itu yang secara hierarkis paling rendah statusnya. Tetapi tidak perlu dilakukan jika secara umum tuan rumah lebih tinggi status sosial atau kedudukannya dari tamu yang datang.

Peristiwa Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya didahului oleh pertengkaran murid-murid. Pertengkaran yang terjadi akibat persaingan di antara murid yang sudah lama terpendam. Sepertinya pada waktu itu terpicu pula karena ketiadaan budak di rumah, maka para murid saling menghindar untuk bertugas membasuh kaki. Pada waktu itulah Yesus langsung bertindak mengambil alih untuk membasuh kaki. Peristiwa yang sangat dramatis ini terjadi pada malam terakhir sebelum Yesus ditangkap dan disalibkan. Sudah pasti saat itu murid-murid merasa malu dan tersindir habis. Dan Yesus mengatakan “Aku memberikan suatu teladan kepadamu”.

Gereja mula-mula mengikuti teladan praktek saling membasuh kaki ini, tentu bukan sebagai ritual agama tetapi sebagai praktek budaya yang mengena karena sesuai dengan kearifan lokal. Tentu saja setelah gereja keluar dari wilayah Yahudi praktek ini bukan lagi sesuatu yang harus dipraktekkan tetapi pesan Yesus melalui tindakan-Nya itulah yang harus diteladani. Jiwa di balik perbuatan Yesus itulah yang perlu diteladani, yaitu bukanlah saling bersaing tapi saling merendahkan diri.

Gaya hidup yang diteladankan Yesuslah yang perlu dilakukan. Gaya hidup yang tidak merebut status terhebat atau tertinggi tetapi gaya hidup yang memperjuangkan karakter rendah hati. Kalau kita kemudian mempraktekkan saling membasuh kaki saja, tetapi tidak memahami dan melakukan jiwa di balik pembasuhan kaki itu, itu namanya gaya-gayaan bukan gaya hidup. Itu namanya bersandiwara yang memang menarik untuk dipertontonkan sekali-kali saja. Jadi bukan adat istiadat yang kita teladani, karena adat istiadat Yahudi sudah pasti tidak sesuai dengan tradisi kita.

Kalau kita saling mencuci kaki , aduh gak tahan apalagi kalau bertemu dengan si pemalas yang kakinya bau. Ah sudahlah lebih baik kita mencuci kaki masing-masing biar lebih aman. Tetapi yang utama adalah berhenti saling berebut status tertinggi tetapi berjuanglah saling merendahkan hati. 


PESAN MINGGU 21 JANUARI 2018

INDEPENDEN

“Jadi apabila anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka” (Yohanes 8: 36). “Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan kejahatan mereka tetapi hiduplah sebagai hamba” (1 Petrus 2: 16)“

Beberapa tahun yang lalu berulang kali penulis disuguhi pendapat yang kurang lengkap mengenai independen. Independen digolongkan sebagai karakter dan keadaan yang kurang baik. Entah kenapa, penulis sepertinya memberontak dalam hati tetapi karena pada umumnya setuju, penulis memilih diam saja karena tidak ada gunanya memperdebatkannya. Setelah kupelajari secara mendalam ternyata kutemukan juga alasan mereka yang menganggap orang yang independen sebagai tipe orang yang kurang baik atau buruk karena dianggap mempunyai kecenderungan memberontak.

Mereka biasanya menawarkan sistem dalam pelayanan yang dianggap sebagai sistem yang baik, benar dan tepat. Tetapi dalam menawarkan sistem ada kecenderungan mengindoktrinasi. Tidak heran bila mereka memberi penilaian yang negatif kepada sifat independen. Orang independen memang tidak suka penyampaian suatu nilai dengan cara indoktrinasi. Lagi pula orang independen tidak mudah menerima sesuatu yang baru, karena mereka biasanya mempunyai pertimbangan yang baik dan daya seleksi yang akurat terhadap sesuatu yang baru sebelum menerima. Jadi sebenarnya sikap menyalahkan sifat independen adalah sikap yang tidak suka dikritik. Artinya sesuatu yang mereka ajarkan harus diterima mentah-mentah. Mengkritik apalagi menolak adalah dosa. Untuk bertumbuh menjadi Penuai tangguh haruslah menjadi seorang yang independen.

Tuhan Yesus datang untuk memerdekakan artinya membebaskan dari ikatan dosa. Kalau Tuhan Yesus yang memerdekakan barulah benar-benar merdeka. Bebas dari segala ikatan artinya sungguh-sungguh merdeka atau independen. Independen bukan saja berdiri sendiri bukan pula hanya terbebas dan terlepas dari segala ikatan. Orang independen adalah orang yang sudah terlepas dari ikatan dosa karena menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Tetapi segera dia mengikatkan diri secara sadar dan bebas kepada Tuhan Yesus. Orang independen adalah mereka yang sudah dilepaskan dari perhambaan dosa, tetapi segera menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan Yesus.

Kemerdekaan bukanlah untuk disalahgunakan sebagai topeng penutup dosa. Kemerdekaan yang sejati pasti dimanfaatkan untuk memuliakan Yesus yang melayani sesama. Penuai yang tangguh adalah orang yang independen dan mempertahankan serta memanfaatkan independensinya secara sungguh dan benar.


PESAN MINGGU 14 JANUARI 2018

PRIBADI YANG DEWASA

“Dan biarkanlah ketekunkan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun” (Yakobus 1:4).

“Menjadi tua itu sudah pasti, tetapi menjadi dewasa adalah suatu pilihan”. Menjadi tua adalah perjalanan waktu. Tidak perlu berjuang untuk menjadi tua Karena untuk menjadi tua adalah proses alami yang terus melaju sesuai perjalanan waktu. Tidak ada yang mampu menghambat atau mempercepat seseorang untuk menjadi tua. Tetapi menjadi dewasa adalah pilihan. Dewasa bukan proses alami tetapi proses memperjuangkan pilihan. Menjadi dewasa terjadi melalui proses yang bisa jangka pendek tetapi juga bisa jangka panjang. Bisa juga terjadi sampai tua bahkan sampai mati tidak pernah menjadi dewasa. Kedewasaan hanya dapat dicapai bila bersedia menghadapi berbagai-bagai pencobaan sebagai ujian terhadap iman.

Pencobaan biasanya datang dari luar dan dari dalam diri kita sendiri. Bila datang dari luar diri, berarti perlu meresponnya secara bijaksana, cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Matius 10:16). Tetapi juga dengan hati yang besar atau kesediaan mengasihi dan mengampuni. Tuhan Yesus mengajarkan membalas kejahatan dengan kebaikan. Pencobaan dari dalam diri berasal dari hati yang sudah tercemar oleh dosa. “Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu itulah yang menajiskan orang” (Matius 15:19). “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya” (Yokobus 1:14). Pencobaan yang dari dalam ini harus dilawan Bila perlu dihilangkan. Dibutuhkan ketekunan untuk menghadapi pencobaan yang datang dari dalam diri sendiri. Ketekunan menghadapi cobaan yang dari dalam diri inilah yang membentuk diri menjadi pribadi yang dewasa.

Yakobus menjelaskan bahwa ketekunan menghasilkan buah yang matang. Buah matang adalah mengacu kepada kedewasaan. Yakobus menjelaskan lebih lengkap lagi, bawa kedewasaan itu adalah menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun. Tiga(3) kata menggambarkan pribadi yang dewasa adalah sempurna, utuh dan tak kekurangan. Dan kalau didefinisikan melalui 3 kata itu bahwa pribadi yang dewasa adalah seseorang yang mempunyai hubungan yang benar dengan Allah yang berdampak pada hubungan yang benar dengan sesama.

Menjadi pribadi dewasa adalah usaha tekun mengasihi Tuhan dalam pengabdian tulus dan ketaatan yang murni kepada Tuhan. Menjadi pribadi yang dewasa adalah tujuan yang harus dicapai seorang penuai bebarengan dengan melaksanakan tugas pelayanan penuaian.


PESAN MINGGU 07 JANUARI 2018

TANGGUH TAPI PANTANG MENANGGUHKAN

“Siapa mengumpulkan pada musim panas, Ia berakal budi; siapa tidur pada waktu panen membuat malu”. (Amsal 10:5)

Penuai adalah seorang yang melakukan pekerjaan menuai. Pekerjaan menuai adalah merupakan tujuan yang dicapai dalam kegiatan pertanian. Tentu saja menuai dapat dicapai setelah memasuki proses yang cukup menghabiskan waktu dan menyerahkan tenaga. Itulah sebabnya menuai adalah merupakan klimaks dari seluruh kegiatan dalam pertanian. Selama proses mempersiapkan panen, petani bekerja keras dengan ketekunan. Segala tenaga sudah dikerahkan disertai dengan harap-harap cemas. Karena ada saja hal-hal yang memungkinkan panen gagal. Bisa berupa hal-hal yang alami seperti musim kemarau berkepanjangan atau curah hujan yang berlebihan. Tetapi bisa juga serangan hama tanaman seperti hama pengerek dan hama pengisap sari bunga tanaman.

“Mengumpulkan pada musim panas” dipakai raja Salomo untuk si semut yang kecil lemah karena tidak dapat bekerja pada musim hujan. Tetapi kali ini raja menghubungkannya dengan masa panen. Jadi mengumpulkan pada musim panas adalah melakukan proses pertanian dengan tekun dan kesediaan untuk bekerja dengan maksimal. Pemazmur menggambarkannya dalam Mazmur 126:5 “orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata…”. Proses pertanian atau menabur adalah harga yang harus dibayar agar panen atau penuaian terjadi. Orang yang melakukan proses agar penuaian tercapai adalah “orang yang berakal budi”. Setelah hasil kerja keras siap dipanen maka sekarang penuai akan melakukan tugasnya secara cepat dan tidak boleh ditunda. Di sini ketangguhan seorang penuai dituntut.

Kekuatan, keuletan dan kekukuhan harus dikerahkan secara maksimal dan pantang dikendorkan “siapa tidur pada waktu panen membuat malu”. Tidur di sini berarti bermalas-malasan dan menunda-nunda pekerjaan. Memang adalah sesuatu yang memalukan bila bermalasan-malasan saat ada pekerjaan penting yang harus dikerjakan, dan menunda-nunda bila ada tugas yang harus segera dituntaskan. Orang malas memang biasa tidak menyelesaikan apa yang sudah dimulai, karena terbiasa memilih pekerjaan yang berkesulitan terendah. Sudah pasti hal itu bukanlah mental penuai. Menuai adalah pekerjaan orang tangguh karena mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi.

Karena semua daya harus dikerahkan dan pantang menunda tetapi sukacita penuaian adalah tenaga pendorongnya. Jadi penuai harus tangguh tapi pantang menangguhkan.