PESAN MINGGUAN 2020

Pesan Mingguan Tahun Lalu : Pesan Mingguan 2019 


PESAN MINGGU INI 22 NOVEMBER 2020

KELUARGA ALLAH

Efesus 2:19-20 “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.”

Semua orang yang percaya kepada Yesus tanpa terkecuali terhisab menjadi anggota keluarga besar yaitu keluarga Allah. Menjadi anggota keluarga jauh lebih penting dari status-status yang muncul kemudian sejalan dengan lajunya perjalanan sejarah gereja mengikuti perkembangan zaman. Kesadaran diri sebagai anggota keluarga Allah memacu diri untuk terus berjuang membangun diri menjadi seorang yang berkarakter baik dan benar seperti Yesus. Tetapi yang terjadi dalam gereja Tuhan berulang-ulang adalah merebut berbagai status yang bermunculan dalam gereja Tuhan. Mulai dari diaken, pendeta, Pastor, penatua. Kemudian untuk lebih keren lagi ada yang merebut status apolog, teolog yang disertai dengan gelar-gelar yang dianggap status keren dan berkelas. Sebenarnya tidak ada yang salah bila itu semua diperjuangkan secara benar melalui proses belajar. Lebih baik lagi apabila status itu dapat dipertanggungjawabkan melalui sikap dan kiprah yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat.

Ada lagi gelar yang muncul dari gereja untuk menghargai hamba Tuhan yang dianggap sukses dalam lapangan penginjilan dan pengembangan gereja. Gereja memberi mereka status nabi dan rasul. Mereka mungkin saja mempunyai karunia bernubuat dalam karunia Rasul atau pemberita Injil, tetapi tidak perlu diberi status nabi dan rasul. Hal itu bisa bisa membahayakan orang atau hamba Tuhan yang diberi status. Rasul Paulus mengatakan bahwa keluarga Allah atau gereja Tuhan dibangun di atas dasar para nabi dan rasul. Para rasul yang dimaksud adalah para rasul dalam Alkitab yang disebut dalam kisah para rasul. Bila ada yang diangkat rasul di kemudian hari tidak boleh menjadi dasar dibangunnya gereja Tuhan. Perkataan rasul yang diangkat atau mengangkat diri bisa salah dan tak memadai dijadikan standar kebenaran. Jadi gereja hanya menjadikan ajaran para nabi dan rasul yang benar sesuai Alkitab yang dapat diandalkan sebagai standar kebenaran.

Jadi sebagai seorang yang bangga menjadi anggota keluarga Allah harus mewujudkannya dengan mentaati ajaran Rasul alkitabiah, melanjutkan misi rasul dengan memberitakan amanat agung dan menjaga serta mempertahankan ajaran Rasul. Bila ada Rasul baru yang memutar balikkan kebenaran juga Nabi baru yang mengajarkan ajaran yang menyimpang segera tolak dan luruskan. Kalau ada rasul selain dua belas rasul bukanlah status tetapi sebagai karunia, bukan jabatan tapi pemberian. (MT)
Minggu 22 November 2020


 

PESAN MINGGU INI 15 NOVEMBER 2020

SETIA MENGIKUTI KEBENARAN

Galatia 5:7 “Dahulu kamu berlomba dengan baik. Siapakah yang menghalang-halangi kamu, sehingga kamu tidak menuruti kebenaran lagi?”

Rasul Paulus yang pernah bangga oleh kemajuan yang dicapai jemaat Galatia harus kecewa melihat kenyataan yang terjadi. Kenyataan yang mengecewakannya bukan karena banyaknya jemaat yang meninggalkan Kristus, melainkan karena tidak setia mengikuti kebenaran. Jemaat Galatia tetap menyatakan diri sebagai pengikut Kristus, tetapi tidak sepenuhnya hidup sesuai dengan semangat Injil. Jemaat yang masih tergolong muda ini terlalu mudah dipengaruhi para pengajar yang palsu. Padahal biasanya para petobat baru sangat peka terhadap ajaran yang menyimpang karena masih memiliki semangat Injili. Sebenarnya hanya sedikit saja penyimpangan yang mereka setujui dari para pengajar yang palsu. Mereka tidak mengurangi apa yang sudah mereka terima, malah menambahkan sesuatu agar menjadi seorang prajurit Kristus yang utuh. Mereka merasa perlu menjadi pengikut Kristus plus karena tidak puas hanya sebagai pengikut Kristus. Mereka memang tidak mengurangi, tetapi menambah-nambahkan sama saja salahnya dengan mengurangi. Karena kekristenan sejati haruslah tetap sesuai dengan ajaran Kristus yang dilanjutkan oleh para rasul. Menambah dan mengurangi dari ajaran rasul yang diterima langsung dari Kristus adalah merupakan penyimpangan yang segera harus ditolak. Menambahkan pun adalah penyimpangan. Jadi mengurangi dan menambahkan sudah pasti menyimpang dari kebenaran Alkitabiah.

Biasanya penyimpangan dalam bentuk menambahkan dan mengurangi ini terjadi karena memakai standar yang salah seperti perasaan, pengalaman, hasil dan mujizat serta kata-kata orang tertentu yang dianggap sebagai orang cerdas. Alkitab sajalah standar kebenaran yang mutlak. Paling sering dipakai standar kebenaran belakangan ini adalah pengalaman hamba Tuhan yang diangkat oleh umat sebagai pribadi yang rohani dan terurapi. Kemudian hamba Tuhan yang diangkat oleh umat sebagai seorang yang cerdas dan teologis. Kehadiran hamba Tuhan yang rohani diurapi maupun hamba Tuhan yang cerdas dan teologis sangat dibutuhkan gereja, tetapi hidup dan pendapat mereka tidak memadai dijadikan sebagai teladan dan standar kebenaran. Jadi kita harus terus berhati-hati atas kehadian para hamba Tuhan yang terindikasi memasukkan pengalamannya sebagai standar kebenaran. Harus berhati-hati juga atas ajaran hamba Tuhan yang terindikasi menjadikan hasil pemikiran teologisnya menjadi standar kebenaran. Para hamba Tuhan betul haruslah mengalami pengalaman spiritual, dan terus belajar untuk menemukan pemikiran teologis tetapi perlu diingat bahwa Alkitabiah yang harus tetap menjadi standar kebenaran yang absolut. (MT)
Minggu 15 November 2020


PESAN MINGGU INI 08 NOVEMBER 2020

KEUNGGULAN KASIH

2 Korintus 8:2-3 “Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.“Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.”

Pada masa pandemi covid-19 ini tentu saja sangat berpotensi mengakibatkan terjadinya krisis ekonomi secara global. Semua bangsa harus siap menghadapi. Sebagian besar bangsa di dunia ini menyikapinya dengan baik, tepat dan benar. Biasanya masyarakat yang berusaha menyikapinya dengan tepat dan benar akan semakin kreatif dan semakin kuat dan bijaksana. Tetapi ada hal yang membuat kita sangat prihatin dengan sikap beberapa orang di negeri tercinta ini. Mereka membuat pernyataan bahwa pandemi covid-19 ini sebaiknya lebih lama supaya menerima berbagai sumbangan dan hidup bisa lebih enak. Harapan Kita orang berpikiran seperti ini sedikit saja, jangan sampai mereka adalah perwakilan dari orang banyak. Bagi kita pengikut Kristus tentu haruslah menyikapinya dengan cerdas, bijaksana dan bersandar kepada Tuhan. Karena selain kita mempunyai teladan sempurna seperti Yesus Ternyata kita pun dapat belajar dari jemaat Tuhan di Makedonia dalam menyikapi berbagai kesulitan. Ketika mereka menghadapi cobaan yang sangat berat hati mereka bukannya cemas tetapi meluap dengan sukacita. Hal itu memberi informasi bila mereka hidup optimis. Pencobaan membuat orang percaya justru semakin kreatif. Memang orang percaya berharap kepada Tuhan. Justru karena berharap kepada Tuhan, memperoleh kreativitas untuk memperbaharui kekuatannya.

Ada lagi satu nilai luhur yang perlu kita teladani dari Jemaat Makedonia. Meskipun mereka miskin tetapi mereka kaya dalam kemurahan. Mereka mengajak kita untuk terus murah hati. Jangan sampai menjadikan kemiskinan menjadi alasan berhenti berbuat baik kepada sesama. Jemaat Makedonia lebih suka memberi daripada menerima, lebih suka membantu daripada dibantu dan lebih suka melayani daripada dilayani. Suatu nilai istimewa yang perlu juga mendapat perhatian dari orang percaya adalah bahwa ternyata jemaat Makedonia bukan saja berbuat baik sesuai dengan kemampuan mereka tetapi melampaui kemampuan mereka.

Ada prinsip Alkitabiah yang perlu kita pegang Teguh agar dapat meneladani jemaat Makedonia yaitu kita adalah milik Allah sehingga semua perolehan kita adalah sesuatu yang dipercayakan untuk dikelola dan dipertanggungjawabkan. Kemudian ambil keputusan bahwa kita hidup untuk Allah bukan untuk dunia, dan teruslah berjuang untuk melipatgandakan hal-hal yang baik. (MT)
Minggu 08 November 2020


PESAN MINGGU INI 01 NOVEMBER 2020

PENGABDIAN AKAL BUDI

2 Petrus 1:20 “Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.”

Salah satu perintah mengasihi Allah adalah mengasihi-Nya dengan totalitas yang melibatkan mengasihi Allah dengan segenap akal budi. Jadi pengabdian kepada Allah termasuk juga pengabdian akal budi. Akal budi bukan digunakan menganalisa segala sesuatu yang berhubungan dengan Allah tetapi tetap menjadikan firman Tuhan sebagai dasar untuk mengenal Allah atau mengetahui segala sesuatu tentang Allah atau yang berhubungan dengan Allah. Dengan demikian menggunakan akal budi untuk menafsirkan firman Tuhan atau kitab suci tidak mungkin dihindari. Tetapi tidak boleh menafsir menurut kehendak sendiri. Menafsir haruslah bagian dari pengabdian akal budi kepada Allah. Hal itu berarti setiap orang percaya setuju atau tidak setuju haruslah terlibat untuk berteologi tetapi sebaiknya tetap berada dalam koridor mengabdi kepada Allah. Karena dalam pengabdian kepada Allah maka kehendak Allah haruslah menjadi yang utama.

Sebagai ciptaan Allah yang berakal budi manusia haruslah menggunakan akal budinya sesuai dengan kehendak Allah. Ketika orang percaya menafsirkan firman Allah tidaklah tepat bila sepenuhnya menggunakan akal budi. Sepenuhnya tanpa bercermin kepada kehendak-Nya. Itulah sebabnya yang paling tepat menafsirkan Alkitab adalah Alkitab itu sendiri. Hanyalah Alkitab yang mutlak benar menafsirkan dirinya. Jadi dalam menafsir tentulah menggunakan akal budi. Akal budi itu benar hanyalah dalam pengabdian kepada Allah.

Para teolog di Indonesia khususnya di kalangan Kristen cukup banyak bermunculan dan dengan bebas mempublikasikan hasil pemikirannya. Sangat mengganggu karena semua menyatakan hasil tafsirannya yang benar yang lain salah. Lebih mengganggu lagi karena doktrin yang sudah ribuan tahun teruji kebenarannya dinyatakan salah karena tidak sama dengan tafsiran atau hasil pemikiran sendiri. Mengapa bisa demikian? Karena mereka menaksir dengan kehendak sendiri, tanpa pengabdian akal budi kepada Allah. Sebab bila dengan pengabdian kepada Allah maka akan tetap berpendapat bahwa tafsirannya bisa salah dan tidak dengan mudahnya mempublikasikan sebagai kebenaran.

Firman Allah pasti benar tetapi pemikiran, pemahaman dan penafsiran kita kepada Firman itulah yang tidak benar atau kemungkinan salah lebih besar dari benarnya. Jadi menafsirkan firman Allah atau berteologi boleh saja tetapi hendaklah tetap dengan pengabdian akal budi kepada Allah. Dan jangan lupa haruslah tetap oleh dorongan dan tuntunan Roh Kudus. (MT)
Minggu 01 November 2020


PESAN MINGGU INI 25 OKTOBER 2020

KEUNGGULAN KASIH

1 Korintus 13:13 “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.”

Iman, pengharapan dan kasih boleh disebut tiga nilai hidup Kristen yang tidak boleh dipertentangkan, bahkan dipisahkan. Iman dapat disimpulkan adalah melepaskan andalan kepada segala sesuatu termasuk amal kebaikan dan usaha untuk memperoleh keselamatan, karena andalan satu-satunya hanyalah Tuhan. Dalam Injil sinoptik iman sering dihubungkan dengan penyembuhan. Matius 9:20 “…Imanmu telah menyelamatkan engkau”. Markus 9:23 “…Tidak ada yang mustahil bagi orang percaya“. Lukas 17:6 “…Mempunyai iman sebiji sesawi saja sudah mampu melakukan perkara besar.” Sedangkan dalam Injil Yohanes pengertian iman dipertegas karena menggunakan pisteuo bukan pistis. Pisteuo itu adalah kata kerja sedangkan pistis adalah kata benda.

Yohanes mempertegas pengertian iman oleh tiga Injil Sinoptik. Yohanes menjelaskan bahwa iman itu sangat dinamis karena iman adalah suatu kegiatan yang praktis dan dinamis. Perlu diingat juga bahwa iman kepada Yesus adalah menjamin memperoleh hidup yang kekal. Hidup kekal bukan perkara nanti jauh ke depan di surga tetapi juga perkara kini dan di sini. Karena hidup kekal bukan hanya berbicara mengenai lamanya hidup tetapi juga berbicara tentang kualitas hidup yang harus diperjuangkan kini dan di sini yang akan berlanjut kelak di surga.

Pengharapan dalam pandangan sekuler adalah kebutuhan biologis untuk memandang dan melangkah ke depan. Artinya pengharapan itu adalah bawaan sejak lahir. Roma 4:18, tetapi karena ia percaya kepada Tuhan ia berharap juga. Melalui firman Tuhan ini jelas bahwa:

  • Pengharapan Kristen bersumber dari Allah, bukanlah bawaan sejak lahir. Pengharapan dari Allah dapat mengisi hidup orang percaya dengan kesukaan dan damai sejahtera dan memampukan orang percaya tetap memiliki pengharapan yang melimpah walaupun dalam keadaan sukar.
  • Pengharapan Kristen membuat orang percaya tidak puas hanya memiliki sukacita yang fana yang bersumber dari dunia, jadi sangat jelas pengharapan tak ada tanpa iman dan pengharapan Kristen harus juga terlepas dari pementingan diri sendiri karena tak dapat dilepaskan dari kasih. Kasih sebagai tugas gerejawi adalah suatu perintah yang harus dilakukan yaitu mengasihi Allah dan sesama manusia. Tetapi kasih sebagai buah Roh Kudus adalah suatu tindakan praktis yang nyata dan terus bertumbuh. Itulah sebabnya rasul Yohanes dalam Injil dan surat kirimannya menyatakan bahwa orang percaya tidak cukup hanya mengasihi tetapi harus semakin mengasihi.

Jelas sekali bahwa iman, pengharapan dan kasih adalah tindakan praktis yang harus ada dan berkembang dalam hidup orang percaya. Pengharapan tak ada tanpa iman dan kasih tak dapat dipraktekkan tanpa pengharapan. Ketiganya harus diam dalam hidup orang percaya. Tak perlu dianalisa firman Tuhan tetap menyimpulkan keunggulan kasih dari ketiganya.(MT)
Minggu 25 Oktober 2020


PESAN MINGGU INI 18 OKTOBER 2020

HIKMAT DAN KEBENARAN SEJATI

1 Korintus 1:20-21 “Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan? Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.”

Kepada jemaat Roma rasul Paulus menyatakan bahwa Injil adalah “Kekuatan Allah” (Roma 1:16) sedangkan kepada jemaat Korintus rasul Paulus menyatakan bahwa pemberitaan tentang salib bagi orang percaya adalah “Kekuatan Allah”. Kalau Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan orang berdosa sedangkan pemberitaan tentang salib adalah kekuatan Allah yang membentuk dan mendewasakan orang-orang yang sudah diselamatkan. Tetapi saat pemberitaan tentang salib menjadi topik yang sedang dikedepankan di Korintus ada kelompok atau juga orang-orang tertentu yang mengejek pemberitaan tentang salib. Hal itu terjadi karena di Korintus para pengikut Kristus sedang mengedepankan atau memberi tekanan yang sangat berlebihan tentang karunia-karunia rohani dalam gereja Tuhan.

Ada tiga(3) kelompok orang di Korintus yang menganggap pemberitaan tentang salib sebagai suatu kebodohan:

  1. Kelompok pertama adalah “Orang berhikmat” atau lebih jelasnya orang yang menganggap dirinya “Orang berhikmat”. Biasanya mereka sudah mendengar Injil mengenai Yesus adalah juru selamat yang mati di kayu salib untuk menyelamatkan manusia dari hukuman dosa. Rasul paulus tidak menyebut mereka tidak berhikmat melainkan mereka betul-betul berhikmat tetapi yang mereka miliki adalah hikmat dunia. Hikmat dunia adalah suatu hikmat yang mengesampingkan Allah, yang memberi penekanan yang sangat berlebihan kepada kecerdasan dan kemampuan manusia. Hal itu menjadi alasan bagi mereka untuk menolak kasih Allah yang dinyatakan melalui karya Tuhan Yesus Kristus. Rasul Paulus menyebutnya “Kebodohan”, karena hikmat mereka membuat mereka gagal menemukan dan mengenal Allah pencipta mereka.
  2. Kelompok kedua adalah “ahli taurat”. Kelompok ahli taurat sudah jelas adalah ahli untuk mengetahui taurat secara terperinci. Tetapi pengetahuan mereka hanyalah sekedar pengetahuan tanpa melakukan atau mempraktekkan taurat itu. Pengetahuan tanpa melakukan membuat mereka gagal mengenal Allah, sehingga menolak karya Yesus Kristus.
  3. Kelompok ke tiga adalah “pembantah dari dunia” mereka bukan hanya menolak tetapi membantah karena bagi mereka salib Kristus adalah kebodohan.

Tiga kelompok ini adalah bahaya bagi pertumbuhan iman Kristen, jadi harus dijauhi. Karena salib Kristus adalah hikmat dan kebenaran sejati yang menyelamatkan dan mendewasakan pengikut Kristus. Pengikut Kristus bukan saja menerima pengajaran tentang salib tetapi harus selalu siap memikul salib. (MT)
Minggu 18 Oktober 2020


PESAN MINGGU INI 11 OKTOBER 2020

JAUHI DOSA

Roma 16:19 “Kabar tentang ketaatanmu telah terdengar oleh semua orang. Sebab itu aku bersukacita tentang kamu. Tetapi aku ingin supaya kamu bijaksana terhadap apa yang baik, dan bersih terhadap apa yang jahat.”

Pada saat rasul Paulus menulis suratnya kepada jemaat Roma dia belum penah ke Roma, tetapi sangat ingin ke Roma dan telah merencanakan keberangkatannya. Ternyata terlalu sulit baginya dan hampir dia mengurungkan bahkan melupakan saja keinginannya yang tak mungkin itu. Walaupun demikian rasul Paulus menulis suratnya ke Roma dan menyatakan pula kerinduannya. Rasul Paulus mengikuti berita perkembangan gereja dan kehidupan orang percaya di Roma.

Dia menyatakan sukacitanya atas ketaatan jemaat Roma tetapi meminta dua hal penting yang perlu selalu untuk diperhatikan:

  • Hal pertama adalah supaya bijaksana terhadap apa yang baik. Kebaikan mereka tidak cukup di pertahankan saja tetapi harus dikembangkan. Rasul Paulus selalu mengingatkan orang percaya agar menjadikan Yesus sebagai standar dalam nilai-nilai moral termasuk dalam hal kebaikan. Jadi tak akan pernah merasa diri sudah cukup baik melainkan masih banyak kekurangan maka perlu dikembangkan. Bijaksana terhadap apa yang baik dapat juga diartikan bahwa tidak semua yang baik itu benar walaupun benar itu sudah pasti baik. Jadi perlu juga hati-hati kepada kebaikan-kebaikan dari pihak tertentu karena mungkin saja ada motivasi tersembunyi dibalik kebaikan mereka. Dalam hal ini rasul Paulus sedang menjaga diri terhadap ajaran yang menyimpang karena pengajarannya biasanya datang dengan kebaikan-kebaikan agar ajaran mereka dapat diterima.
  • Hal kedua adalah bersih terhadap yang jahat. Bersih di sini artinya adalah murni seperti seorang anak yang polos pikirannya tak tercemar oleh kejahatan. Dapat juga diartikan menjauhkan diri dari dosa agar hidup tidak tercampur dengan nilai-nilai dosa. Prinsip Alkitab memang sangat bertentangan dengan prinsip dunia mengenai sikap terhadap dosa. Bila prinsip dunia menganjurkan orang percaya perlu juga mengetahui praktek-praktek hidup berdosa agar tahu cara menjauhkan diri darinya. Prinsip Alkitab justru menjaga jarak bahkan menjauh dari praktek-praktek hidup berdosa agar jangan sampai terseret yang berakibat mencemarkan. Karena pengenalan kepada kejahatan sama saja membuka diri kepada cara-cara iblis yang selalu berusaha membelokkan umat Tuhan dari iman sejati dan ketaatan kepada firman Tuhan. Melalui kasus istri Lot yang melihat ke belakang hingga menjadi tiang garam sangat tegas mengingatkan agar lari sejauh-jauhnya dari kehidupan berdosa. Kehidupan berdosa kota Sodom dan Gomora rupanya begitu menarik sehingga ada peringatan dari Allah langsung “Tinggalkan! Jauhi! Jangan menoleh!”. (MT)

Minggu 11 Oktober 2020


PESAN MINGGU INI 04 OKTOBER 2020

PERJUANGAN

Roma 8:36-37 “Seperti ada tertulis: Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan. Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.”

Ada tiga hal yang merupakan kewajaran dalam perjuangan hidup:

  1. Hal pertama adalah kalah sebelum berjuang. Ini terjadi karena seseorang melihat perjuangannya terlalu besar dan berbahaya sementara dirinya terlalu kecil dan lemah. Saya anggap ini sebagai kewajaran karena sebagian besar manusia mengalaminya. Sesungguhnya bukanlah perjuangannya yang terlalu besar dan berbahaya, melainkan ketakutan yang ditimbulkan perjuangan itulah yang terlalu berbahaya. Bila kita aplikasikan kepada masa pandemi covid ini, jangan-jangan pandemi ini tidak terlalu berbahaya, bila dibandingkan dengan ketakutan yang diakibatkannya. Perlu waspada, jangan sembrono, ikuti aturan tapi tak perlu ketakutan. Perlu hati-hati, hidup bersih, ikuti protokol kesehatan tapi jangan dikuasai kekuatiran.
  2. Hal kedua adalah berjuang dulu, kalah menang urusan belakang. Hal ke-dua ini sangat wajar dan merupakan sikap universal manusia dalam berjuang. Dia berani, tak mau dikuasai ketakutan, baginya pantang kalah sebelum berperang. Berjuang dengan keberanian dan penuh perhitungan. Tidak ada salahnya dicoba, bila ternyata perjuangan dan kemampuan tidak seimbang, mundur saja supaya kerugiannya tidak terlalu besar.
  3. Hal ketiga adalah menang sebelum berperang. Biasanya orang seperti ini adalah orang yang sangat optimis dan percaya diri. Kelemahannya adalah biasanya sembrono dan kurang hati-hati. Bila kita bercermin kepada firman Tuhan, kita adalah pada hal ke-tiga yaitu menang sebelum perang. Tetapi optimisme dan percaya diri tidak cukup, harus ditambah percaya dan berharap kepada Tuhan. Sebelum ada perjuangan firman Tuhan sudah mendahuluinya dengan memberi motivasi “Kita lebih dari pemenang”. Dalam Mazmur 44:23 “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari. Kami dianggap sebagai domba-domba sembelihan”. Dalam hal ini pemazmur sedang merenungkan perjalanan hidup umat Tuhan yang setia. Khususnya Ayub yang harus menderita walaupun sudah hidup saleh dia tabah menghadapi cobaan, dia pun keluar sebagai pemenang.

Rasul Paulus mengutip ayat firman Tuhan ini, mengajar para pengikut Kristus untuk tetap tabah menghadapi pergumulan dan perjuangan hidup untuk setia mempertahankan iman. Karena bila umat-Nya berjuang ada jaminan akan beroleh kemenangan melalui Yesus Kristus. Tetapi haruslah berpegang kepada firman Tuhan, bahwa tidak ada kesulitan hidup yang mampu memisahkan umat-Nya dari kasih Kristus. Jadi kita adalah umat pemenang. (MT)
Minggu 04 Oktober 2020


PESAN MINGGU INI 27 SEPTEMBER 2020

TETAP BERSUKACITA

Roma 12:15 “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!”

Covid 19 ini menebarkan berita-berita yang kurang jelas kebenarannya dan sangat berpotensi menimbulkan ketakutan dan kepanikan. Ada juga yang mempolitisasi dengan cara-cara yang sangat tidak manusiawi. Pokoknya beritanya teramat banyak. Bukan hanya menimbulkan kepanikan tetapi juga sangat membingungkan. Yang pasti bila salah dalam menyikapinya akan sangat merugikan. Sebab itu semua umat Tuhan perlu bijak dalam menyikapinya. Sesungguhnya covid-19 ini bukanlah pertama kali menimpa manusia. Tetapi baru pertama kali terjadi menimpa hampir semua negara. Boleh disimpulkan bahwa covid-19 ini cukup berhasil menteror manusia secara menyeluruh. Artinya cukup berhasil menimbulkan kekacauan, ketakutan dan kepanikan. Tetapi rasul Paulus memberi nasehat yang sangat jelas dengan pesan bersukacitalah dengan orang bersukacita dan menangislah dengan orang yang menangis.

Bersukacita dan menangis adalah bagian dari kehidupan manusia sepanjang sejarah. Suka duka adalah keadaan yang datang silih berganti menerpa manusia. Ada saatnya bersukacita ada saatnya menangis. Ada saatnya suka ada pula saatnya duka. Tetapi sekarang keadaan telah memaksa semua manusia sama-sama menangis dan juga sama-sama berduka.

Dalam konsep yang dikembangkan rasul Paulus kepada jemaat di Efesus menangis adalah sikap berdoa memohon belas kasihan Tuhan. Sedangkan bersukacita adalah seruan kepada jemaat Filipi dengan tujuan mengajak orang percaya tidak kehilangan daya hanya oleh karena adanya aniaya. Kemudian rasul Paulus ingin mengatakan bahwa bersukacita dan menangis adalah hal yang perlu disikapi secara benar dan tepat. Secara umum bersukacita berbicara mengenai kemudahan dan keberuntungan. Walaupun mudah dan untung bisa merusak bila disikapi secara salah. Merusak karena berpotensi membuat seseorang merasa cukup dan puas. Menangis biasanya dihubungkan dengan kesulitan dan penderitaan. Tetapi bila disikapi secara benar dan tepat bisa juga membuat seseorang semakin kuat dan bijaksana. Bila rasul Paulus memerintahkan orang percaya bersukacita dengan orang bersukacita dan menangis dengan orang-orang yang menangis bukan berarti kita dapat memilih salah satu. Tetapi yang benar adalah harus selalu siap bersukacita, tapi juga menangis secara tepat dan benar. Kemudian dapat juga diartikan di kala keadaan sulit dan derita tidak harus kehilangan sukacita, dan dikala keadaan bersukacita karena beroleh kemudahan dan keberuntungan tidak menjadi kehilangan rasa simpati dan kepedulian kepada mereka yang diterpa keadaan sulit dan derita. Dan hal yang tak boleh dan sangat mengganggu adalah berpura-pura. Sebab itu pedulilah dengan tulus serta bersukacitalah secara tulus pula. (MT)
Minggu 27 September 2020


PESAN MINGGU INI 20 SEPTEMBER 2020

TABAH DAN SETIA

Roma 8:18 “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.”

Rasul Paulus menyaksikan sendiri bahwa manusia dari semua kalangan sesungguhnya hidup dalam penderitaan. Dia melihat sendiri kalangan penganiaya dan juga kalangan teraniaya. Penganiaya dan juga kalangan teraniaya. Penganiaya mengalami penderitaan psikis karena dia menganiaya sesungguhnya jiwanya menderita. Tubuhnya aman-aman saja tetapi sesungguhnya hati dan jiwanya tersiksa. Tersiksa oleh perbuatannya sendiri. Firman Allah sangat jelas bila selama hidup di dunia, dia tidak terhukum, karena dosa itu menghukum orang pelaku dosa tersebut. Jadi bila seorang penganiaya buat sementara aman-aman saja, tinggal tunggu waktu dia akan gelisah dan jiwanya tersiksa karena terhukum oleh perbuatannya sendiri. Orang teraniaya pun menderita. Fisiknya jelas-jelas sakit, tetapi jika dia teraniaya oleh karena kebenaran, jiwanya dan hatinya akan mendapat jaminan perlindungan dan kekuatan dari Tuhan. Tetapi bukan hanya penderitaan penganiaya dan teraniaya yang disaksikan oleh rasul Paulus dalam perjalanan pekabaran Injil. Dia melihat realitas berbagai macam penderitaan yang menimpa manusia. Penderitaan yang bisa menimpa semua orang tanpa membedakan beriman atau tidak beriman, kaya atau miskin, cerdas atau bodoh, bahkan baik atau jahat. Penderitaan berupa sakit, nyeri, sengsara, kecewa, miskin, sedih, susah dan lain-lainnya. Apapun bentuk penderitaan, ternyata penderitaan itu bukanlah penentu seseorang bahagia atau tidak, susah atau senang. Penentu adalah orang yang ditimpa penderitaan itu sendiri.

Bagaimana seseorang menghadapinya adalah penentunya. Bisa saja semua orang mengeluh dalam menghadapi penderitaan, tetapi orang percaya mempunyai alasan mengeluh dalam menghadapi penderitaan:

  1. Alasan pertama, adalah karena mereka masih hidup di dunia berdosa yang menyedihkan hati mereka. Bukan penderitaan yang mereka keluhkan tetapi keadaan berdosa untuk mengungkapkan kesedihan yang dalam karena keadaan ini.
  2. Alasan kedua, orang percaya mengeluh karena merindukan penebusan penuh yang akan diterima pada saat kebangkitan dari kematian sesuai janji sempurna Yesus untuk semua umat tebusan-Nya. Jadi sifat keluhan umat percaya adalah Kerinduan untuk menerima kemuliaan yang akan dinyatakan sebagai hak istimewa dan hak penuh sebagai anak (2 Korintus 5:4).

Itulah sebabnya segala bentuk penderitaan pasti akan dihadapi dengan ringan bahkan tidak berarti bila dibandingkan dengan hak istimewa dan hak sebagai anak itu. Kemuliaan abadi yang akan dianugerahkan kepada orang percaya yang setia. Penderitaan sifatnya sementara sedangkan kemuliaan bersifat abadi. (MT)
Minggu 20 September 2020


PESAN MINGGU INI 13 SEPTEMBER 2020

KEKUATAN ALLAH

Roma 1:16-17 “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”

Sangat beralasan bila rasul Paulus heran melihat kenyataan ada orang yang dengan mudahnya berpaling dari Injil. Seperti yang banyak terjadi di Jemaat Galatia. Sama seperti rasul Paulus kita dibuat bingung oleh para mualaf yang marak belakangan ini. Lebih membingungkan lagi, karena ternyata para mualaf itu tidak sedikit berlatar belakang pendeta. Setelah mereka menjadi mualaf, dengan sangat mudah pula mereka menghujat Yesus dan membuat pernyataan bahwa Injil itu bohong. Tetapi sesungguhnya tak perlu risau dan terganggu, apalagi menyalahkan serta mengutuk. Semua itu memang harus terjadi sebagai tanda-tanda akhir zaman. Mengapa kita dan rasul Paulus bisa bingung melihat fenomena yang tak logis ini? Tentu semua kita dapat menjawab seperti rasul Paulus “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil karena Injil adalah kekuatan Allah…” Adalah sangat beralasan bila rasul Paulus membuat pernyataan yang sangat indah dan benar ini. Cukup lama dia hidup sebagai seorang yang sangat agamis. Dia menjalani kewajiban agama secara ketat. Segala sesuatu yang bertentangan dengan agamanya akan dilawan.

Bukan hanya agamis, dia juga sangat teologis karena mendalami teologia dalam didikan ketat seorang guru besar Gamaliel. Dia mempunyai dasar agama dan dasar teologi yang sangat kuat. Tetapi rupanya tidak membuat hatinya terbentuk menjadi seorang yang merasakan hidup dekat dengan Allah. Pertemuannya dengan Yesus mengubah kehidupannya. Pertemuannya dengan Yesus bukanlah membuatnya menemukan agama yang baru melainkan menemukan dan memperoleh hidup baru. Agama ternyata tak mampu membuatnya bertemu dengan Allah, karena keyakinannya kepada Injil membuat hidupnya ditemukan oleh Allah. Injil adalah kekuatan Allah karena Injil lah dia hidup dekat dengan Allah, Paulus sudah mengetahui agama tidak akan pernah mampu membawa manusia kepada Allah. Jadi dia sangat heran mengetahui kenyataan bahwa ada pengikut Kristus di Galatia berpaling dari Yesus dan memilih Injil palsu yang merupakan agama baru mereka (Galatia 1:6).

Pada akhir zaman ini akan selalu ada usaha-usaha untuk membelokkan kebenaran Injil oleh kebebasan berpikir. Tetapi bagi pengikut Kristus yang sudah menyakini Injil itu adalah kekuatan Allah yang menjamin kepastian keselamatan dalam Yesus Kristus sudah pasti tak akan goyah. (MT)
Minggu 13 September 2020


PESAN MINGGU INI 06 SEPTEMBER 2020

SEMAKIN DEWASA DAN RENDAH HATI

2 Korintus 12:2 “Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga.”

Rasul Paulus menulis pengalaman spiritualnya dalam 2 Korintus 12:1-10. Pengalamannya yang sangat menakjubkan itu terjadi 14 tahun sebelum dia menulis. Dalam caranya menjelaskan pengalaman spiritualnya terkesan sangat hati-hati. Rasul Paulus tidak mau bila sampai ada anak Tuhan yang menjadikan pengalaman spiritualnya menjadi standar kebenaran. Tetapi rasul Paulus pun sedang memotivasi semua orang percaya agar punya pengalaman spiritual sendiri yang tidak perlu harus sama dengan pengalamannya. Rasul Paulus menjadikan pengalaman spiritualnya sebagai anugerah Allah yang bertujuan membentuknya untuk semakin rendah hati. Pengalaman spiritual bukanlah tanda kedewasaan rohani, bukan pula hadiah kerendahan hati. Pengalaman spiritual justru adalah anugerah Allah untuk orang percaya agar olehnya penerima anugerah itu bertumbuh semakin dewasa dan terbentuk semakin rendah hati.

Saya sangat terkejut mendengar suatu pernyataan seorang hamba Tuhan yang menyimpulkan seseorang pendeta sebagai pribadi hamba Tuhan yang paling dekat dengan Allah, paling peka terhadap kehadiran Roh Kudus dan paling diurapi. Keterkejutanku timbul karena keberanian mereka untuk menyimpulkan hal-hal yang bersifat spiritual. Hal itu adalah suatu kemustahilan. Rasul Paulus hidup sangat dekat dengan Tuhan, dan pelayanannya sangat nyata dengan pengurapan tetapi tak pernah tergoda untuk menyimpulkan diri sebagai istimewa dan paling, dalam hubungannya dengan Allah dan dalam pelayanan. Rasul Paulus menghormati dan mengagumi rasul-rasul yang lain tetapi tak tergoda menyimpyulkan standar hidup kerohanian mereka. Bagi rasul Paulus terus setia melayani Tuhan Yesus sudah suatu kehormatan. Dia tidak pernah tergoda melevel-levelkan diri. Bila kita simak pengalaman spiritualnya terangkat ke sorga yang ketiga, maka yang dia lakukan adalah berdoa untuk kesembuhan penyakitnya. Dia merindukan agar tetap mempunyai tubuh yang sehat untuk melanjutkan pemberitaan Injil untuk penjangkauan. Tetapi permohonannya tidak dikabulkan. Rasul Paulus mempelajari hal-hal berguna dan baik dari doanya tak terkabulkan tersebut. Rasul Paulus ternyata mampu menemukannya. Dia pun menyimpulkan sendiri, bahwa hal itu perlu agar dia tidak menjadi sombong. Pengalaman spiritualnya tidak membuatnya menjadi manusia super. Dia tetap seorang manusia yang mempunyai berbagai kelemahan. Kelemahan yang tidak menjadikannya lemah tetapi justru menjadikannya kuat.

Tuhan Yesus berkata kepada Paulus “Cukuplah kasih karuniaku bagimu, justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna”. Paulus pun meresponnya secara jujur dengan berkata “Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku supaya kuasa Kristus turun menaungi aku”. Selanjutnya dia menyatakan “Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” Sebaiknya kita mampu melihat nilai kekal atau kekuatan Allah yang sempurna melalui penyertaan Allah yang nyata dalam kelemahan kita bila tetap setia. (MT)
Minggu 06 September 2020


PESAN MINGGU INI 30 AGUSTUS 2020

PEMBERITAAN INJIL DAN KEHIDUPAN DOA

Kisah Para Rasul 28:30-31 “Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya.“Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus”

Dalam surat kirimannya ke Roma rasul Paulus sudah mengatakan kerinduannya untuk memberitakan Injil ke Roma. Kerinduannya ini ternyata sesuai dengan kehendak Allah seperti yang dinyatakan Allah kepadanya di Kisah Para Rasul 23:11. Namun demikian untuk tiba di Roma ternyata tidak mudah. Kerinduan yang tulus memberitakan Injil ke suatu wilayah sesuai dengan kehendak Allah ternyata bukan jaminan membuat perjalanan Paulus dan tujuan mudah tercapai. Rasul Paulus betul juga tiba di Roma tetapi dengan tangan terbelenggu.

Dalam perjalanan yang tergolong sangat sukar itu ditandai dengan berbagai hambatan. Hambatan badai yang menghantam kapal dan kapal terdampar adalah bagian dari hambatan tersebut. Belum lagi berupa cobaan dari para prajurit dan penduduk wilayah yang harus dilalui dan gigitan ular berbisa. Melalui berbagai pengalaman sulit ini Paulus tidak pernah meragukan campur tangan Tuhan dalam hidupnya. Melalui perjalanan Paulus ke Roma dapatlah kita mempelajari suatu hal yang sangat penting. Walaupun hidup sesuai dengan kehendak Allah Jalan Hidup tidak otomatis atau menjadi mudah tanpa ada kesusahan. Berada dalam kehendak Allah dan tetap setia kemungkinan terbesarnya adalah berjalanan melalui jalan yang penuh onak dan duri.

Hal penting yang harus dipegang adalah bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Roma 8:28). Jadi perjalanan hidup orang beriman bukanlah tentang ada atau tidak ada kesulitan melainkan tentang tujuan Allah dalam dan melalui hidupnya dapat dicapai. Bukan hambatan dan cara rasul Paulus menuju Roma yang utama melainkan tiba di Roma untuk memberitakan kerajaan Allah lah yang utama. Rasul Paulus terbelenggu menuju ke Roma tetapi tiba di Roma belenggunya terlepas. Dua tahun di Roma dia hanyalah tahanan rumah. Di rumah yang disewanya itulah orang banyak datang mengunjunginya. Setiap pertemuan selalu digunakan sebagai kesempatan untuk memberitakan Injil. Kemudian dua tahun penuh rasul Paulus berada di penjara Roma, tetapi diperbolehkan menerima tamu secara bebas. Artinya rasul Paulus tetap memberitakan Injil bahkan menulis surat-suratnya dari penjara untuk mengajar dan memberi motivasi kepada jemaat-jemaat. Pada masa mudanya rasul Paulus pergi berjalan dari kota ke kota untuk memberitakan Injil. Sedangkan pada masa tuanya rasul Paulus justru yang didatangi orang-orang untuk mendengar dan menerima Injil. Sepanjang hidupnya rasul Paulus mengabdikan diri memberitakan Injil. Sangat jelas bahwa rasul Paulus bukan hanya memberitakan Injil tetapi memberitakan Injil adalah hidupnya dan tujuan hidupnya. (MT)
Minggu 30 Agustus 2020


PESAN MINGGU INI 23 AGUSTUS 2020

INJIL MASUK KE PULAU TERPENCIL

Kisah Para Rasul 28:9-10 “Sesudah peristiwa itu datanglah juga orang-orang sakit lain dari pulau itu dan mereka pun disembuhkan juga. Mereka sangat menghormati kami dan ketika kami bertolak, mereka menyediakan segala sesuatu yang kami perlukan”.

Terdampar di pulau Malta adalah bagian dari tuntunan Tuhan kepada Paulus yang berdampak kepada keselamatan seluruh penumpang kapal. Ternyata penduduk pulau Malta menyambut mereka dengan ramah. Bila dicermati dengan baik bisa disimpulkan bahwa pelayanan yang penuh bahaya ini bukanlah tentang keselamatan suatu pelayanan yang sukar melainkan tentang tersampaikannya berita Injil ke sebuah pulau kecil terpencil tetapi Roh Kudus telah membuatnya cepat terjangkau oleh Injil. Sangat beralasan bila dinyatakan bila peristiwa ini adalah tentang pentingnya Injil sampai ke pulau terpencil. Tidak heran saat rombongan berada di pulau Malta rasul Paulus dapat dikatakan adalah tokoh sentralnya.

Didahului dengan Paulus digigit ular beludak saat rombongan mengelilingi api unggun. Gigitan ular itu sempat dijadikan sebagai alasan menuduh Paulus sebagai tawanan karena melakukan pembunuhan. Tetapi nyatanya janji Yesus dalam Markus 16:18 tergenapi, karena gigitan ular beludak yang sangat berbisa dan mematikan itu tak membuatnya menderita sakit. Segera pandangan kepada Paulus berubah karena menganggap rasul Paulus adalah seorang dewa. Untungnya pandangan orang mengenai Paulus tak mengubah apa-apa. Saat dianggap sebagai pembunuh Paulus tidak marah dan pada saat dianggap sebagai dewa dia tak bangga. Dia tetap pengikut Kristus yang baik. Dia tidak membiarkan pandangan orang mengubah pendirian dan keyakinannya yang sudah benar dan tepat. Gubernur Publius memberi perhatian setelah Paulus mendoakan ayah sang gubernur yang sedang sakit. Dalam hal ini tentu saja rasul Paulus memberitakan Injil sebelum mendoakannya. Sekiranya Paulus bukan tawanan tentu saja dia sudah mendirikan gereja di pulau Malta. Walaupun tak dijelaskan ada pemberitaan Injil yang dilakukan Paulus di Malta bukan berarti dia tidak menberitakan Injil.

Kesembuhan ayah gubernur Publius setelah didoakan adalah petunjuk yang jelas bila rasul Paulus memberitakan Injil di pulau Malta. Dan mereka cukup lama di pulau Malta, kurang lebih tiga bulan. Sudah pasti ruang gerak rasul Paulus sangat terbatas karena sebagai tawanan dia tetap berada dalam pengawasan para prajurit. Dalam 1 Korintus 9:16, rasul Paulus menyatakan bahwa memberitakan Injil baginya adalah keharusan. Bahkan dia mengatakan celakalah dia bila tidak memberitakan Injil. Jadi dapat disimpulkan bila badai yang menerpa pelayanan Paulus menuju ke Roma adalah hal yang diijinkan Tuhan untuk kebaikan. Kebaikan yang dicapai adalah masuknya Injil ke pulau terpencil, pulau Malta. (MT)
Minggu 23 Agustus 2020


PESAN MINGGU INI 16 AGUSTUS 2020

MENTAATI TUNTUNAN ALLAH

Kisah Para Rasul 27:34-36 “Karena itu aku menasihati kamu, supaya kamu makan dahulu. Hal itu perlu untuk keselamatanmu. Tidak seorang pun di antara kamu akan kehilangan sehelai pun dari rambut kepalanya. Sesudah berkata demikian, ia mengambil roti, mengucap syukur kepada Allah di hadapan semua mereka, memecah-mecahkannya, lalu mulai makan. Maka kuatlah hati semua orang itu, dan mereka pun makan juga.”

Status tahanan tidak menghalangi Paulus untuk mengalami penyertaan dan tuntunan Tuhan dalam perjalanan pelayaran yang diterpa badai perjalanannya menuju ke Roma. Empat belas(14) hari dalam terpaan angin badai rasul Paulus bersama 275 jiwa terombang-ambing di tengah lautan tanpa arah yang jelas. Hanya rasul Pauluslah yang tetap yakin bahwa kapal itu pastilah menuju Roma. Selama 14 hari seluruh penumpang tidak ada yang mampu makan karena hebatnya goncangan kapal. Tentu saja tidak bisa tidur juga. Tetapi semua penumpang tidak ada yang meninggal dalam kondisi yang sangat berbahaya itu. Rasul Paulus sudah menjelaskan kepada semua penumpang tentang pesan Tuhan kepadanya bahwa tidak ada seprang pun dari antara mereka binasa oleh hebatnya badai yang tak henti-hentinya menerpa kapal itu. Dalam keadaan bahaya itu para awak kapal sudah mulai kehilangan kesabaran dan tanggung jawab mereka, sehingga mulai menurunkan sekoci hendak menyelamatkan diri mereka. Pada saat itu rasul Paulus menyuruh perwira dan prajurit mencegah para awak kapal. Karena bila mereka keluar dari kapal mereka semua akan binasa. Untungnya nasehat rasul Paulus ditaati. Rasul Paulus pun memotivasi seluruh penumpang agar makan, karena Tuhan sendiri yang menjamin bahwa mereka akan selamat. Layaknya orang percaya memakan roti perjamuan, rasul Paulus memimpin jamuan makan itu, sehingga mereka semua makan. Ketenangan hati rasul Paulus menghadapi badai itu lahir dari hubungannya yang dekat dengan Tuhan.

Janji Allah melalui rasul Paulus bahwa mereka semua pasti selamat ternyata bukan tanpa syarat. Syarat utamanya mereka harus tetap berada dalam kapal apapun yang terjadi. Rasul Paulus berhasil mengimpartasikan ketenangan dan kekuatan jiwanya menghadapi badai kepada semua penumpang kapal itu. Para awak kapal mempunyai cara untuk menyelamatkan diri berdasarkan pengalaman dan keahlian mereka. Tetapi mereka sadar juga upaya mereka hanyalah kesia-siaan. Mereka pun memilih mentaati rasul Paulus. Mungkin mereka mentaati karena tak ada lagi pilihan lain selain mentaati. Betul juga bahwa pada siang hari mereka terdampar di pantai dekat pulau Malta. Kapal mereka yang kandas ternyata pecah dan hancur membuktikan bahwa Tuhan sendirilah yang melindungi pelayaran itu demi terlaksananya rencana-Nya memakai rasul Paulus memberitakan Injil di Roma. (MT)
Minggu 16 Agustus 2020


PESAN MINGGU INI 09 AGUSTUS 2020

BEBAS DARI KETAKUTAN

Kisah Para Rasul 27:23-24 “Karena tadi malam seorang malaikat dari Allah, yaitu dari Allah yang aku sembah sebagai milik-Nya, berdiri di sisiku, dan ia berkata: Jangan takut, Paulus! Engkau harus menghadap Kaisar; dan sesungguhnya oleh karunia Allah, maka semua orang yang ada bersama-sama dengan engkau di kapal ini akan selamat karena engkau.”

Dalam perjalanan menuju ke Roma untuk menghadap kaisar Paulus berstatus tahanan. Jadi dia berada dalam pengawasan para prajurit. Walaupun sebagai tahanan Paulus tidak merasa takut karena dia tahu secara pasti bahwa perjalanannya adalah bagian dari rencana Allah. Rasul Paulus meyakini dan mengetahui, bila Allah mempunyai tujuan untuk hidupnya, maka Allah akan melindunginya dalam perjalanan penuh bahaya itu hingga tujuan Allah tercapai. Keyakinannya ini membuat rasul Paulus tetap tenang kendatipun kapal yang membawanya berulangkali diterpa badai yang hebat. Rasul Paulus tidak menikmati ketenangannya itu sendirian, tetapi dia berusaha menasehati semua penumpang kapal agar tetap tenang. Dengan sangat bijaksana rasul Paulus memberi nasehat agar tetap tenang dan mengutamakan keselamatan, sehingga rela membuang harta bawaan mereka ke laut untuk meringankan beban kapal. Sebenarnya rasul Paulus sudah menasehati nahkoda kapal agar dalam waktu dan tempat tertentu mereka beristirahat dulu karena di depan ada bahaya. Mungkin statusnya sebagai tahanan membuat nakhoda tak merasa perlu menuruti nasehat Paulus. Untuk meyakinkan nahkoda dan pemimpin perjalanan itu rasul Paulus pun menceritakan pengalaman kerohaniannya memperoleh petunjuk dari Allah mengenai perjalanan mereka.

Dalam hal menyaksikan pengalamannya memperoleh petunjuk dari Allah, rasul Paulus berterus terang tanpa sedikit keraguan. Hasilnya kesaksiannya diterima dengan baik. Rencana Allah mempertemukannya dengan kaisar dijelaskkannya dengan yakin. Lebih jelasnya lagi rasul Paulus menjelaskan bahwa mereka akan selamat demi terlaksananya rencana Allah melalui rasul Paulus. Sesungguhnya dalam kapal itu terus rasul Paulus adalah seorang tahanan, tetapi dalam Kristus dia adalah orang bebas. Dia bebas menyaksikan pengalaman spiritual menerima tuntunan Tuhan. Saat orang-orang yang berada dalam satu kapal dengannya ketakutan Paulus bebas dari ketakutan. Melalui pengalaman rasul Paulus ini, cukup menjadi pembuktian bahwa dalam hidup ini orang percaya yang hidup dekat dengan Allah selalu mampu menghadapi bahaya hidup dengan ketabahan dengan keyakinan dan kesetiaan dalam Kristus. Keadaan dan kondisi tidak selalu baik, karena terkadang justru sangat buruk, tetapi bila hidup dekat dengan Allah akan menjadi kesempatan indah untuk mengalami penyertaan Allah. (MT)
Minggu 09 Agustus 2020


PESAN MINGGU INI 02 AGUSTUS 2020

CAMPUR TANGAN ALLAH

Kisah Para Rasul 26:31-32 “Sementara mereka keluar, mereka berkata seorang kepada yang lain: “Orang itu tidak melakukan sesuatu yang setimpal dengan hukuman mati atau hukuman penjara. Kata Agripa kepada Festus: “Orang itu sebenarnya sudah dapat dibebaskan sekiranya ia tidak naik banding kepada Kaisar.”

Rasul Paulus menggunakan haknya untuk naik banding kepada kaisar adalah bagian dari kerinduannya untuk memberitakan Injil ke Roma. Dalam hal ini rasul Paulus bukan saja ingin menggapai kerinduannya, melainkan telah mendapat peneguhan dari Tuhan. Dalam Kisah Rasul 23:11, rasul Paulus mengalami suatu pengalaman spiritual yang sangat meneguhkan kerinduannya pergi ke Roma untuk bersaksi. Saat dia resah dan gelisah atas ancaman para pemuka agama Yahudi satu-satunya yang dapat dia lakukan adalah berdoa dan berserah diri kepada Tuhan. Dia sudah siap mati bagi Kristus demi Injil. Sebagai orang Yahudi Paulus sudah pasrah. Menurutnya Yerusalem adalah tempat yang tepat baginya martir bagi Kristus seperti yang disaksikannya sendiri terjadi kepada Stefanus. Kerinduannya memberitakan Injil ke Roma seperti hanyalah suatu kerinduan yang tak akan terwujud. Pada saat Paulus kehilangan harapan, Tuhan Yesus menampakan diri kepada-nya. Tuhan Yesus menguatkannya agar tetap pada kerinduannya untuk memberitakan Injil ke Roma. Pada saat yang sama sesungguhnya dia tidak melihat adanya kemungkinan sampai ke Roma untuk memberitakan Injil. Mungkin saja Paulus sempat berpendapat bahwa kematiannya demi Injil akan menjadi berita yang menjadikan Injil terus berkembang di Roma. Hal itu sangat mungkin karena dia sendiri mengetahui bahwa sejak Stefanus martir saat memberitakan Injil. Justru Injil semakin tersebar luas. Tetapi kehadiran Yesus menguatkannya diterima sebagai pengutusan Yesus agar dia tetap pada kerinduannya untuk memberitakan Injil ke Roma. Saat dia divonis bersalah dan kemungkinan besar akan dihukum mati demi Injil dia pun minta naik banding kepada Kaisar. Dan permohonannya pun dikabulkan. Dengan demikian kesempatan untuk memberitakan Injil ke Roma terbuka lagi.

Dalam pemeriksaan berikutnya, Agripa menyimpulkan bahwa Paulus tidak perlu dihukum karena tidak terbukti bersalah. Proses pengadilan telah terlalui dan Paulus harus menghadapi pengadilan bandingnya ke Roma. Dalam hal ini sangat jelas karya Tuhan melalui peristiwa yang menimpa rasul Paulus. Bila rasul Paulus menulis suratnya kepada jemaat Roma yang tertulis dalam Roma 8:28 adalah suatu pernyataan bahwa semua hal buruk yang menerpa dirinya adalah peristiwa yang diijinkan untuk mendatangkan kebaikan. Ketidakadilan yang menerpa dirinya justu cara yang diijinkan Allah memuluskan perjalanannya untuk memberitakan Injil ke Roma. (MT)
Minggu 02 Agustus 2020


PESAN MINGGU INI 26 JULI 2020

PEMBERITAAN INJIL DAN KEHIDUPAN DOA

Kisah Para Rasul 26:28-29 “Jawab Agripa: “Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang Kristen!” “Kata Paulus: “Aku mau berdoa kepada Allah, supaya segera atau lama-kelamaan bukan hanya engkau saja, tetapi semua orang lain yang hadir di sini dan yang mendengarkan perkataanku menjadi sama seperti aku, kecuali belenggu-belenggu ini.”

Dua orang besar karena jabatannya sebagai wali negeri yang diangkat Kaisar menjadi pemimpin di kaisarea berturut-turut harus berhubungan dengan rasul Paulus atas tuduhan orang-orang Yahudi. Rasul Paulus dituduh melanggar hukum dan layak dihukum mati. Feliks dan Festus mengetahui Paulus tidak bersalah, tetapi untuk mengambil hati orang Yahudi Paulus tetap ditangkap walaupun tak dihukum sesuai permintaan orang Yahudi. Bagi Paulus hal ini menjadi kesempatan memberitakan Injil kepada Feliks dan Festus. Kesempatan emas yang tak sia-siakan Paulus itu tidak membuat dua orang wali negeri ini percaya, tetapi mereka sudah mendengarkan Injil. Festus justru berkesimpulan bahwa rasul Paulus adalah orang cerdas berwawasan luas. Ketika Festus menyatakan Paulus gila karena ilmunya yang banyak Paulus menjawab bahwa dia adalah seorang berpikir sehat yang memberitakan kebenaran. Bukan hanya kepada Feliks dan Festus tetapi juga kepada raja Agripa dan Bernike rasul Paulus pun memberitakan Injil. Karena memberitakan Injil yang sangat komunikatif kepada Agrifa raja ini pun berkata kepada rasul Paulus “Hampir saja kau yakinkan aku menjadi orang Kristen”. Sangat jelas bila raja Agripa keturunan raja Herodes ini sudah menerima Injil dengan baik dalam arti secara logis dia paham. Tetapi kedudukannya sebagai raja merupakan penghambat baginya percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamatnya. Rasul Paulus pun menandaskan bahwa dia akan berdoa agar Agripa dan semua orang yang sedang berada di tempat itu cepat atau lambat suatu saat akan percaya kepada Yesus.

Dalam hal ini rasul Paulus memberi penjelasan yang sangat pasti. Pemberitaan Injil itu harus diberitakan dengan cara-cara yang cerdas agar efektif. Tetapi harus juga dilanjutkan dengan doa. Setelah memberitakan Injil rasul Paulus menantang Agripa agar percaya kepada Yesus tetapi Agripa yang sudah mengerti jalan keselamatan menolak untuk percaya. Rasul Paulus pun menyatakan bahwa pemberitaannya belum berhenti karena dia melanjutkan dengan cara mendoakannya. Rasul Paulus sangat yakin bila pemberitaan Injil dilanjutkan dengan doa cepat atau lambat pendengar Injil itu akan percaya.

Jadi sangat jelas bahwa pemberitaan Injil harus disertai dengan kehidupan doa yang sungguh-sungguh, terbukti bahwa di kemudian hari orang Romawi betul-betul menerima Injil dan percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan juruselamat. Tentu hal ini tidak terlepas dari doa semua pengikut Kristus khususnya rasul Paulus. (MT)
Minggu 26 Juli 2020


PESAN MINGGU INI 19 JULI 2020

SADAR HAK DAN SADAR HUKUM

Kisah Para Rasul 25:11 “Jadi, jika aku benar-benar bersalah dan berbuat sesuatu kejahatan yang setimpal dengan hukuman mati, aku rela mati, tetapi, jika apa yang mereka tuduhkan itu terhadap aku ternyata tidak benar, tidak ada seorang pun yang berhak menyerahkan aku sebagai suatu anugerah kepada mereka. Aku naik banding kepada Kaisar!”

Bila berbicara mengenai iman dan kesetiaan kepada Yesus rasul Paulus adalah sosok pengikut Kristen yang sangat militan dan tak perlu diragukan. Berbagai tuduhan yang datang dari luar gereja direspon dengan sangat bijaksana bahkan selalu dijadikan kesempatan untuk memberitakan Injil. Berbagai tuduhan yang datang dari dalam gereja pun ditanggapi dengan cerdas dan santun. Rasul yang sangat bersemangat ini justru menjawab tuduhan miring dari dalam gereja menjadi kesempatan untuk meluruskan ajaran palsu dan menyimpang, serta memperdalam dan memperluas doktrin Kristen. Ternyata rasul Paulus bukan hanya kuat dan cerdas dalam hal-hal yang berhubungan dengan iman dan kehidupan spiritualitas. Rasul Paulus ternyata adalah seorang yang melek hukum. Cukup lama rasul Paulus tidak merespon segala tindakan orang Yahudi kepadanya. Rasul Paulus terkesan menghindar tanpa ada niat membela diri apa lagi membalas. Dia taat Firman yaitu membalas kejahatan dengan kebaikan. Kasihnya kepada manusia beragama yang terhilang jauh lebih penting dari kenyamanan dan keamanannya sendiri. Jadi sedikitpun tak terpikir olehnya untuk membela diri sehingga terkesan membiarkan dirinya diperlakukan tidak adil. Ternyata anggapan itu tidak benar. Cukup lama dia mentoleransi ketidakadilan yang menerpa dirinya karena dia memilih lebih baik menghindar daripada berkonflik dengan kaum sebangsanya. Tetapi ketika para pemuka agama Yahudi semakin gencar menyerangnya dia tidak lagi mentolerir tindakan-tindakan yang mencederai keadilan. Dia pun secara tegas mengadakan pembelaan yang kuat berdasarkan hukum yang berlaku.

Ternyata rasul Paulus adalah seorang yang sadar hak dan sadar hukum, hanya saja dia tidak menuntut haknya berdasarkan hukum selama dia bisa mengatasinya. Melihat berbagai tindakan yang sudah melanggar hukum dia pun segera menggunakan haknya secara hukum. Dalam Kisah Rasul 22:23-29 saat dia dibentangkan untuk disesah di markas dia memberitahukan bahwa dia adalah warga Roma. Status kewarganegaraannya penting sebagai perlindungan hukum baginya. Bukan hanya orang Yahudi dan pemuka agama yang takut tetapi juga kepala pasukan mundur tak berani menyesahnya. Dalam pengadilan Kaisar di hadapan Festus Paulus mengadakan pembelaan berdasarkan hukum bahwa sesungguhnya dia tidak bersalah. Dan melawan keputusan pengadilan yang menyalahi hukum Paulus meminta naik banding ke Kaisar dan permohonannya pun dikabulkan. Jelas bahwa Paulus ternyata memanfaatkan hukum agar tidak dihukum semena-mena. Kerinduannya ke Roma pun terkabul walaupun sebagai seorang tahanan. (MT)
Minggu 19 Juli 2020


PESAN MINGGU INI 12 JULI 2020

PERBEDAAN PENDAPAT

Kisah Para Rasul 15:39-41 “Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus. Tetapi Paulus memilih Silas, dan sesudah diserahkan oleh saudara-saudara itu kepada kasih karunia Tuhan berangkatlah ia mengelilingi Siria dan Kilikia sambil meneguhkan jemaat-jemaat di situ”

Perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah terjadi dalam suatu persekutuan besar dan juga dalam persekutuan kecil. Bila terjadi perselisihan sebagai dampak dari perbedaan pendapat itu bukanlah pertanda bahwa mereka yang berselisih itu belum dewasa atau kekanak-kanakan. Sikap kepada perbedaan pendapat dan cara menangani perselisihan itulah yang dapat dijadikan menjadi tolak ukur kedewasaan mereka. Dalam Kisah Para Rasul pasal 15 ini ada dua perbedaan pendapat yang berpotensi mendatangkan perselisihan. Suatu perbedaan pendapat dengan dampak berskala besar dan satu lagi dengan dampak berskala kecil. Perbedaan pendapat berskala besar adalah tentang sunat. Berskala besar karena menyangkut keselamatan dan dampaknya kepada semua gereja sepanjang sejarah. Untuk menanganinya maka diadakan sidang gereja pertama di Yerusalem. Hasil sidang itu kemudian mengikat dan ditaati semua gereja karena menetapkan keputusan untuk ditaati. Jadi gereja yang masih tergolong muda telah menunjukkan kedewasaan dan kebijaksanaannya dalam menyelesaikan perselisihan. Perbedaan pendapat menjadi memperkaya dan perselisihan pun berdampak mempersatukan. Perbedaan pendapat dan perselisihan kecil terjadi antara Paulus dan Barnabas. Mereka berbeda pendapat tentang keikutsertaan Yohanes Markus dalam perjalanan penginjilan mereka.

Paulus berpendapat Yohanes Markus tidak perlu ikut karena dianggap kurang setia dalam hal bekerja sama. Sedangkan Barnabas berpendapat bila kepada Yohanes Markus perlu diberikan kesempatan kedua. Karena tak dapat diatasi maka mereka menjadi 2 tim. Paulus dengan Silas sedangkan Barnabas dengan Yohanes Markus. Adakalanya perselisihan timbul di antara orang percaya yang mengasihi Tuhan karena perbedaan pendapat dan perbedaan sikap. Saat perbedaan pendapat tidak memperoleh titik temu boleh juga masing-masing dengan pendapatnya dan tetap membuka hati serta membiarkan Tuhan bekerja sesuai kehendak-Nya dalam diri mereka yang bertikai. Perbedaan pendapat bisa saja berdampak pemisahan tetapi tanpa rasa bermusuhan apalagi kepahitan.

Dalam Kolose 4:10 Rasul Paulus ternyata menyebut dengan jelas bahwa Barnabas dan Markus adalah temannya. Dengan kata lain walaupun sempat berselisih mereka tidak bermusuhan dan tidak ada kepahitan. Hanya buat sementara saja mereka berdiam diri tetapi tetap membuka hati kepada Karya dan kehendak Tuhan. Perbedaan pendapat bila direspon secara benar akan memperkaya hubungan. (MT)
Minggu 12 Juli 2020


PESAN MINGGU INI 05 JULI 2020

MENGALAHKAN KETAKUTAN

Kisah Para Rasul 12:11 “Dan setelah sadar akan dirinya, Petrus berkata: “Sekarang tahulah aku benar-benar bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes dan dari segala sesuatu yang diharapkan orang Yahudi.”

Herodes adalah sosok penguasa yang ketakutan kehilangan kedudukan dan melakukan apa saja untuk mempertahankan dan mengamankan kedudukannya. Itulah sebabnya dia sangat terganggu dengan pertumbuhan gereja yang sangat pesat. Dia pun berusaha menghambat pertumbuhan gereja. Sebagai seorang politisi kawakan dia mengetahui cara yang tepat untuk menghambat pertumbuhan suatu gerakan yang memberi dampak yang sangat besar kepada masyarakat. Herodes menyuruh algojonya membunuh Yakobus dengan pedang dan memenjarakan Petrus. Dua hal yang membuat para jemaat ketakutan. Herodes sangat paham bila ketakutan adalah merupakan keadaan yang mampu melumpuhkan suatu kegerakan atau gerakan massa. Herodes memperoleh dua keuntungan yaitu, dia berhasil menyenangkan hati orang Yahudi sekaligus membuat orang percaya ketakutan. Raja Herodes pun merasa nyaman dan kedudukannya akan tetap aman.

Sikap orang percaya meghadapi situasi yang menakutkan itulah yang cukup menarik untuk dipelajari. Dua orang pemimpin mereka dibunuh dan dipenjarakan. Pembunuh Yakobus bebas saja berkeliaran yang bisa membunuh orang percaya kapan saja dia mau sedangkan rasul Petrus dijebloskan ke dalam penjara tanpa melalui proses pengadilan. Ternyata orang percaya bukan lari karena ketakutan melainkan jemaat dengan tekun mendoakannya. Allah mengijinkan Yakobus saudara Yakobus saudara Yahanes mati tetapi mengutus malaikat untuk menyelamatkan Petrus. Yakobus memperoleh anugerah kehormatan menjadi rasul pertama mati syahid untuk Kristus, sedangkan Petrus dilepaskan dari penjara untuk melanjutkan pemberitaan Injil.

Jemaat mengalahkan ketakutan dengan cara tekun bersekutu dalam doa. Tentu saja jemaat mendoakan Yakobus dan Petrus. Bila Petrus diselamatkan dan Yakobus harus mati dua-duanya adalah jawaban Allah pasti benar, tetapi hal ini adalah merupakan rahasia Allah. Jemaat menerima jawaban Tuhan dengan sikap tunduk tanpa berbantah-bantah. Jemaat tidak dikuasai ketakutan melainkan berhasil berhasil mengalahkan ketakutan. Petrus yang menyadari dirinya telah dilepaskan malaikat utusan Tuhan dari penjara segera hadir ditengah umat yang terus tekun bersekutu dalam doa. Petrus mengagumi karya Yesus atas dirinya juga atas jemaat. Herodes yang tak berhasil menghentikan Petrus sangat marah kepada pengawal dan tanpa rasa kemanusiaan dia membunuh belasan pengawal-pengawal yang tak bersalah. Kuasa dunia akan selalu menebar ketakutan dan hanya bertekun dalam doalah yang mampu mengalahkannya. (MT)
Minggu 05 Juli 2020


PESAN MINGGU INI 28 JUNI 2020

PERUBAHAN HIDUP

Kisah Para Rasul 9:22 “Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan, bahwa Yesus adalah Mesias”.

Tak terbantahkan bila seorang rasul Paulus membawa pengaruh besar dalam perluasan gereja Tuhan hingga sampai ke benua Eropa dalam waktu yang singkat, walaupun transportasi antar pulau masih sangat sukar. Pengaruh rasul Paulus bukan hanya pada perluasan gereja, tetapi juga dalam kemajuan teologi dan doktrin gereja. Tidak heran bila tokoh agama lain menyatakan bahwa rasul Pauluslah pendiri agama Kristen. Ada pula yang mengatakan bila rasul Pauluslah yang mengangkat Yesus menjadi Tuhan.Tentu saja pernyataan ini adalah didasari pemahaman yang dangkal dan pengenalan yang kabur tentang rasul Paulus. Rasul Paulus seumur hidupnya membuktikan Yesus adalah Tuhan, bukan mengangkat Yesus menjadi Tuhan. Sebab sesuai keyakinan rasul Paulus Yesus adalah Tuhan pencipta sejak kekal sampai kekal.

Sama seperti Yohanes, Paulus menyakini bahwa Yesus ada sebelum dunia ada karena Dia adalah Tuhan. Rasul Paulus justru menyaksikan perubahan radikal dalam hidupnya setelah bertemu dengan Yesus. Sebenarnya rasul Paulus justru menganggap pengikut Yesus adalah penghujat Allah yang harus dimusnahkan dan tidak boleh dibiarkan hidup karena sangat berbahaya bagi agama Yahudi yang dia percaya sebagai satu-satunya agama yang benar sebagai umat pemegang kerajaan Allah. Baginya menganiaya umat Kristen bahkan membunuhnya adalah merupakan ibadah kepada Allah. Dengan kata lain baginya darah umat Kristen atau membunuh orang Kristen halal adanya. Tetapi pertemuannya dengan Yesus mengubah hidupnya secara radikal. Dari seorang penganiaya pengikut Kristus menjadi rasul Kristus yang paling bersemangat. Dengan kata lain rasul Paulus tidak hanya menyatakan, menyakini dan menyaksikan Yesus adalah Tuhan melalui perkataannya. Rasul Paulus membuktikan Yesus adalah Tuhan melalui perubahan hidupnya. Perubahan hidupnya secara menyeluruh termasuk perubahan pikiran dan konsepnya tentang Tuhan.

Dan dalam pendalaman hidup dan imannya rasul Paulus menyimpulkan secara tegas Yesus adalah Tuhan dan juruselamat satu-satunya yang berhak dan berkuasa menyelamatkan manusia dari hukuman dosa atau maut. Dalam 1 Korintus 5:17 rasul Paulus menyatakan “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu sesungguhnya yang baru sudah datang”. Siapa pun yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamatnya akan mengalami suatu perubahan karena menjadi ciptaan baru. Baru karena terbentuk semakin baik dan benar. Dan perubahan hidup yang dikerjakan Roh Kudus dan melalui perjuangan orang percaya kepada Yesus ini akan semakin membuktikan kepada dunia bahwa Yesus adalah Tuhan. (MT)
Minggu 28 Juni 2020


PESAN MINGGU INI 21 JUNI 2020

KESALAHAN DIPERBAIKI BUKAN DIHAKIMI

Kisah Para Rasul 6:3-4 “Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman.”

Sangat pasti karya Roh Kudus dalam perkembangan gereja mula-mula. Kenyataan ini bukan hanya terletak pada mujizat yang menyertai pelayanan para rasul tetapi sangat didukung oleh keindahan moral jemaat dalam hidup sehari-hari. Kesehatian orang percaya nyata dan kepedulian kepada sesama dipraktekkan melalui kehidupan sehari-hari. Perubahan karakter orang percaya jelas terlihat oleh orang yang belum percaya. Berbagai perubahan hidup orang percaya adalah merupakan bukti nyata bahwa Yesus adalah Tuhan yang terus berkarya melalui hidup orang percaya. Tetapi nyatanya orang percaya itu bukanlah manusia sempurna tanpa kesalahan. Dalam persekutuan orang percaya terjadi juga persungut-sungutan yang didasari oleh sifat iri hati yang satu dengan yang lain hanya karena terjadinya perhatian yang tidak sama. Dalam hal ini tentu saja kita tak boleh menilainya sebagai keadaan tak adanya karya Roh Kudus dalam persekutuan orang percaya. Keadaan ini justru menjelaskan orang percaya yang sudah dipenuhi Roh Kudus itu tetaplah seorang manusia yang tidak sempurna. Hanya saja tak boleh ketidaksempurnaan itu dijadikan alasan untuk melakukan dan memaklumi kesalahan.

Rasul Paulus menyatakan bahwa kita memang belum kudus dan sempurna, tetapi kita harus menyerahkan perjalanan hidup kita melangkah menuju kesempurnaan dan kekudusan itu. Itulah yang dilakukan gereja mula-mula dalam meresponi kenyataan adanya kesalahan di tengah-tengah persekutuan orang percaya. Gereja tidak menghakimi jemaat yang berbuat kesalahan itu, tetapi melakukan upaya praktis untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Para rasul segera melibatkan jemaat untuk memperbaiki kesalahan yang terjadi. Rasul melibatkan jemaat untuk memilih tujuh orang yang baik dan benar dalam melakukan pelayanan sosial ditengah terjadinya persungut-sungutan yang timbul akibat pergesekan sosial. Persungut-sungutan tidak dibungkam melalui peraturan ketat tetapi dicari solusi yang tepat melalui keterlibatan jemaat untuk terjun dalam pelayanan. Sangat tepat bila Roh Kudus menuntun dokter Lukas menulis kasus yang terjadi dalam gereja yang berkembang ini. Tujuannya bukanlah membeberkan kesalahan tetapi memberi pelajaran berharga bagi gereja sepanjang zaman. Kesalahan akan selalu ada, tetapi bukan untuk dihakimi melainkan untuk diperbaiki. (MT)
Minggu 21 Juni 2020


PESAN MINGGU INI 14 JUNI 2020

SELAMAT HARI PENTAKOSTA

Kisah Para Rasul 2:16-17 “Tetapi itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoël: Akan terjadi pada hari-hari terakhir — demikianlah firman Allah — bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi.”

Ketika seorang hamba Tuhan menyatakan bahwa Pentakosta ke tiga akan terjadi di Indonesia maka secara spontan mendapat tanggapan yang beragam dari hamba-hamba Tuhan lainnya. Menurut beliau Pentakosta pertama terjadi di Yerusalem, ke-dua di Azuza streat Amerika Serikat dan ke tiga di Jakarta, Indonesia. Sebenarnya tidak perlu ditanggapi secara negatif karena beliau hanya menjelaskan pendapatnya yang disesuaikan dengan iman dan pengalaman spiritualnya. Lagi pula kita semua mempunyai pendapat dan pengalaman spiritual yang indah dan sangat penting untuk disaksikan. Tidak ada salahnya selama hal itu tidak bertentangan dengan firman Tuhan. Sebab Pentakosta yang dimaksudkan hamba Tuhan itu adalah fakta, adanya peristiwa pencurahan Roh Kudus yang bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Firman Tuhan mengatakan “Aku mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia”. Ke atas semua manusia tanpa sekat-sekat agama, status sosial ataupun lokasi. Tetapi ada yang tidak percaya dan menolak ada pula yang percaya dan menerima.

Saya berharap semua pembaca sama seperti saya yang percaya dan menerima. Mari kita membuka hati untuk selalu mengalami pencurahan Roh Kudus, sehingga berhak membuat pernyataan adanya Pentakosta pertama, kedua, ketiga dan seterusnya sesuai pengalaman spiritual kita akan indahnya hidup dipenuhi Roh Kudus. Setiap saat kita pun dapat memberi salam selamat hari Pentakosta. Firman Tuhan memberi informasi yang sangat lengkap mengenai Pentakosta. Pentakosta yang mempunyai arti harafiah, hari ke-50 ini dirayakan umat Perjanjian Lama:

  • Untuk memperingati hari raya menuai atau buah bungaran (Keluarah 23:16).
  • Kemudian Pentakosta juga dirayakan untuk memperingati peristiwa Musa menerima hukum taurat di bukit Sinai (Imamat 23:15).

Ketika umat merayakan Pentakosta maka terjadi pula pencurahan Roh Kudus atau orang percaya di Yerusalem yang diperingati gereja sebagai hari Pentakosta yang disertai pencurahan Roh Kudus kepada orang percaya. Esensi dari hari Pentakosta itu adalah hari pertemuan kudus orang percaya. Karena yakin akan kehadiran Allah dalam persekutuan umat-Nya. Setiap merayakan Pentakosta umat bersyukur dan menyatakan rasa hormat kepada Allah melalui buah bibir dan buah pertobatan. Selamat Pentakosta. (MT)
Minggu 14 Juni 2020


PESAN MINGGU INI 07 JUNI 2020

BAPTISAN ROH KUDUS

Matius 3:11 “Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.”

Selama pelayanan-Nya Yesus pernah membaptis dengan air seperti yang tertulis dalam Yohanes 3:22. Tetapi tidak pernah melakukan upacara pembaptisan atau membaptis dengan roh kudus dan membaptis dengan api. Itu adalah alasan yang kuat sehingga gereja tidak memasukkan baptisan Roh Kudus sebagai salah satu sakramen. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah “Kalau demikian adakah baptisan Roh Kudus ?” jawaban saya untuk itu adalah “pasti ada” karena Yohanes sendiri mengatakan bahwa Yesus akan membaptis orang percaya dengan Roh Kudus dan dengan api. Tetapi baptisan Roh Kudus tentu tidak tepat bila dijadikan sebagai suatu yang terkemas menjadi suatu acara atau ritual agamawi. Mengapa tidak tepat jawabannya adalah karena yang membaptis dengan Roh Kudus adalah Yesus sendiri. Bila ada hamba Tuhan yang mengatakan dia diberi karunia untuk membaptis dengan Roh Kudus tentu saja perlu dipertanyakan “mungkinkah” atau “bisakah”.

Ada hamba Tuhan tertentu yang meniup jemaat kemudian pada berjatuhan itu adalah suatu fenomena spiritual dan dapat dipastikan bahwa fenomena spiritual itu bukanlah baptisan Roh Kudus. Dalam pelayanan rasul Paulus di Efesus seperti yang tertulis dalam Kisah Para Rasul 19:1-11, rasul Paulus menanyakan orang percaya “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus?”. Orang percaya menjawab “belum bahkan kami belum pernah mendengar bahwa ada Roh Kudus”. Orang percaya itu sudah dibaptis dengan baptisan Yohanes sebagai tanda pertobatan. Setelah mendengar penjelasan rasul Paulus mereka pun memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Sekarang tentu saja mereka bukanlah menerima baptisan ulang, karena mereka bukan dibaptis ke dalam atau memakai media air seperti baptisan Yohanes sebagai tanda pertobatan.

Ketika rasul Paulus menumpangkan tangan turunlah Roh Kudus ke atas mereka dan merekapun berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat. Dan inilah yang dipercaya sebagai baptisan Roh Kudus. Tetapi dalam hal ini bukanlah rasul Paulus yang membaptis mereka dengan Roh Kudus. Rasul Paulus pun tidak melakukan peristiwa ini dalam setiap pelayanannya. Tentu rasul Paulus sadar bahwa membaptis dengan Roh Kudus adalah hak Yesus sendiri dengan cara Yesus sendiri dan tak perlu dipolakan sebagai cara satu-satunya. Dua tahun rasul Paulus mengajar di ruang kuliah Tiranus di kota Efesus, tentu pengajarannya diikuti banyak orang. Jadi harapkanlah terus mengalami baptisan Roh Kudus yang bisa saudara alami di mana dan kapan saja. Tetapi membaptis dengan Roh Kudus hanya dapat dilakukan Tuhan Yesus. Berilah diri saudara dibaptis dalam nama Tuhan Yesus.(MT)
Minggu 07 Juni 2020


PESAN MINGGU INI 31 MEI 2020

PENUH DENGAN ROH KUDUS

Kisah Para Rasul 2:4 “Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.”

Setelah murid-murid Yesus menunggu di sebuah ruang atas rumah selama 10 hari maka Tuhan Yesus pun menggenapi janji-Nya. Para murid penuh dengan Roh Kudus. Jadi jelas bahwa orang percaya dipenuhi Roh Kudus adalah bagian penting rencana Allah untuk orang percaya. Pada saat dipenuhi Roh Kudus para murid Yesus atau para rasul berkata-kata dalam bahasa lain seperti yang diberikan roh itu kepada mereka. Berkata-kata dalam bahasa lain dapat diartikan berbicara memakai bahasa yang dia sendiri tidak mengerti tetapi pendengar yang terdiri dari belasan bangsa dan bahasa mengerti semua yang mereka bicarakan. Tetapi dapat juga dipahami bahwa para rasul itu berbahasa roh atau berglosalia. Peristiwa ini adalah pernyataan Roh Kudus melalui para rasul yang sedang dipenuhi Roh Kudus. Pertanyaannya baru timbul “Apakah orang yang dipenuhi Roh Kudus itu harus berbahasa roh atau berbahasa lidah?” Tentu akan muncul jawaban yang beragam. Ada yang mengatakan harus karena berbahasa roh adalah tanda seseorang sudah dipenuhi Roh Kudus. Ada juga yang mengatakan tidak harus karena berbahasa roh hanyalah salah satu tanda dipenuhi Roh Kudus. Dan yang terakhir ada yang mengatakan bahwa bahasa lidah itu hanyalah terjadi pada murid-murid atau rasul yang dipenuhi Roh Kudus pada hari raya Pentakosta di Yerusalem.

Pendapat yang berbeda itu adalah sangat wajar karena teks firman Tuhan itu adalah bebas tafsir. Lagipula bukanlah bahasa rohnya tetapi dipenuhi Roh Kuduslah yang utama dan terpenting. Sampai sekarang bahasa roh atau bahasa lidah adalah pergumulan teologia yang tidak tuntas. Sebab itu berbahasa lidah tak perlu diperdebatkan karena pergumulan teologia yang belum tuntas ini adalah pengalaman spiritual yang bisa dialami, bisa juga tidak dialami orang percaya. Tetapi tentu saja bagi yang mengalami mempunyai sukacita dan nilai indah tersendiri. Perlu juga mereka yang mempunyai pengalaman spiritual berbahasa roh jangan sampai menghakimi yang tidak mengalami, sebagai belum penuh dengan Roh Kudus. Rasul Paulus menyatakan bahwa bahasa Roh adalah salah satu karunia Roh Kudus. Berdasarkan firman Tuhan ini berarti tidak harus semua orang percaya berbahasa roh. Bila semua orang percaya yang dipenuhi Roh Kudus harus berbahasa roh tentu saja Yesus menjelaskannya saat Dia berbicara tentang pekerjaan Roh Kudus dalam Yohanes 14. Walaupun demikian mengalami berbahasa roh saat berdoa dengan sungguh-sungguh adalah suatu pengalaman spiritual yang sangat indah dan sangat penting. Rugi juga rasanya bila tak mengalaminya sebab itu tetaplah merindukannya. (MT)
Minggu 31 Mei 2020


PESAN MINGGU INI 24 MEI 2020

CATATAN KARYA YESUS SUDAH CUKUP

Yohanes 21:25 “Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu”

Rasul Yohanes sebagai murid Yesus yang termuda dan yang menyatakan diri sebagai murid yang dikasihi, tentu sangat teliti menulis karya-karya dan pekerjaan Yesus mulai dari lahir hingga naik ke sorga. Rasul Yohanes mengetahui secara pasti banyak hal tentang pribadi Yesus. Yohanes tahu keagungan, kemuliaan, kekudusan dan banyak hal nilai-nilai luhur yang dinyatakan Yesus dan disaksikan Yohanes dengan langsung secara kasat mata. Yohanes menyaksikan sangat banyak mujizat dilakukan Yesus dan berbagai kebijaksanaan dalam memberi solusi untuk banyak masalah. Jadi saat memulai menulis Injil ini Yohanes tentu memohon tuntunan Roh Kudus untuk memilih yang terutama yang harus ditulis. Yohanes dalam menyeleksi hal-hal yang ditulis tidak mau terjebak kepada keinginannya sehingga melibatkan suka atau tidak suka. Yohanes adalah rasul yang selalu menikmati hubungannya dengan Yesus melalui kedalaman doanya seperti yang dilakukannya di pembuangan pulau Patmos.

Yohanes menulis Injil Yohanes ini kurang lebih mulai tahun 80 saat Injil dalam pemberitaan lisan sudah menyebar dan gereja Tuhan sudah menyebar dan berkembang pula. Jadi sangatlah jelas bahwa Roh Kuduslah yang menuntun Yohanes menulis Injil dengan memilih hal-hal yang terpenting dari semua karya Yesus. Yohanes mengetahui sejarah kelahiran Yesus secara tepat tetapi Roh Kudus menuntunnya menulis langsung ke inti dan esensinya. Rasul Yohanes mengatakan tidak mungkin menulis semua yang dia ketahui dan disaksikan tentang Yesus dan perbuatannya. Tentu karena keterbatasan fasilitas dan tempat untuk menyimpannya. Tetapi semua yang ditulis itu terpilih secara tepat agar cukup dan lengkap untuk tujuan utama yaitu Yesus adalah Allah yang menjadi manusia yang diutus Allah untuk menyelamatkan manusia berdosa.

Kemudian sebelum Yesus menyelesaikan karya-Nya Dia memilih dan mengajar serta memperlengkapi murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil. Dan setelah semua dikerjakan Yesus dengan sempurna Ia pun naik ke surga. Jadi Yesus naik ke surga setelah karya keselamatan telah dikerjakan dengan sempurna. Tetapi tidak berarti Dia berhenti berkarya. Dia tetap berkarya tetapi melalui gereja-Nya, melalui hamba-hamba-Nya dan melalui semua orang percaya yang selalu bersedia memberitakan Injil melalui perkataan dan perbuatan. Dia menyempurnakan karya-Nya dengan naik ke surga. Naik ke surga untuk memastikan bahwa Dia adalah Tuhan yang menyediakan surga untuk pengikut-Nya. (MT)
Minggu 24 Mei 2020


PESAN MINGGU INI 17 MEI 2020

YESUS SELALU MEMBERKATI

Lukas 24:50-51 “Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga.”

Hal pertama yang dilakukan Allah kepada manusia adalah memberkati. Dalam Kisah Rasul 3:26 juga dinyatakan bahwa Allah mengutus Yesus datang ke dunia adalah supaya Yesus memberkati dengan memimpin manusia berbalik dari kejahatan. Kata memberkati mempunyai arti yang sangat luas. Akan halnya Yesus naik ke sorga disaksikan oleh para murid-Nya juga dengan sikap mengangkat dan menengadahkan kedua tangan-Nya untuk memberkati. Jadi Yesus datang ke dunia untuk memberkati dan Dia naik ke sorga juga memberkati. Jadi Yesus adalah Tuhan yang selalu memberkati. Mengingat luasnya pengertian memberkati maka pesan singkat ini hanya mengajak pembaca merenungkan kata memberkati yang berhubungan dengan kenaikan Yesus ke surga dengan sikap memberkati murid-murid-Nya. Yesus meninggalkan murid bukanlah menjauh atau membuat jarak tetapi justru mendekat atau menghilangkan jarak. Yesus naik ke surga adalah mempertegas bahwa Dia adalah Tuhan. Dia Tuhan Yesus yang selalu menyertai umat-Nya sesuai dengan janjinya. Karena Yesus adalah Tuhan, maka Dia akan selalu bersama semua pengikut-Nya tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Dalam hal ini Yesus memberkati dalam pengertian Yesus selalu menyertai. Yesus memberkati juga mengandung pengertian bahwa Dia akan selalu menuntun. Menuntun orang berdosa berbalik dari jalannya yang jahat. Jadi Yesus memberkati bukanlah suatu tindakan sepihak. Sebab bila Dia menuntun haruslah ada yang dituntun yang menanggapi tuntunan-Nya itu dengan ketaatan. Itulah sebabnya orang yang percaya kepada Yesus itu seharusnya adalah pengikut Yesus. Mengikut Yesus adalah meneladani Yesus. Belajar hidup seperti Yesus hidup. Jadi dalam hal ini Yesus memberkati adalah Yesus memberi keteladanan untuk diikuti. Keteladanan yang sudah Yesus nyatakan selama tiga setengah tahun lebih hidup bersama murid-murid-Nya. Bila Yesus menyertai berarti Dia memberi kemampuan dan kuasa untuk menghadapi segala kesulitan. Dia juga memberi kemampuan dan kreatifitas untuk memerangi dosa, kebodohan dan kemiskinan. Bila Yesus menuntun dan kita taat kepada tuntunan-Nya, maka hidup kita akan dibawa hidup dalam kebenaran, dibawa hidup dalam kekudusan karena hidup terus disucikan dalam kemulian-Nya. Lebih jelasnya bahwa menjadi kristen itu bukan hanya beragama dengan doktrin yang benar. Menjadi kristen adalah mengikuti Yesus yang memberikan hidupnya untuk menyelamatkan dan menjadi teladan. (MT)
Minggu 17 Mei 2020


PESAN MINGGU INI 10 MEI 2020

PERCAYA YANG BERTUMBUH

Markus 16:14 “Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya.”

Markus atau lengkapnya Yohanes Markus adalah angkatan pertama kekristenan yang dekat dengan tiga orang pemberita Injil ternama yaitu Petrus, Barnabas dan Paulus. Jadi Markus bukanlah murid Yesus yang memperoleh ajaran langsung dari Yesus. Jadi dapat dipastikan bahwa Markus menulis Injil mendapat masukan langsung dari Petrus. Markus menulis Injil memberi penjelasan tentang dirinya yang sangat yakin dan bersemangat belajar langsung dari Petrus, Barnabas dan Paulus.

Dari karya Injil yang singkat tapi sangat praktis ini jelas bahwa Markus sangat selektif menulis hal-hal yang sangat penting dan pasti. Dalam memberi informasi mengenai kebangkitan Yesus pun, Markus sangat jelas dan praktis. Salah satu yang disoroti Markus adalah kritik Yesus yang langsung kepada murid-murid-Nya dalam meresponi fakta kebangkitan-Nya. Suatu klimaks penyataan Yesus kepada murid-murid-Nya adalah saat para murid bersekutu secara lengkap dalam makan bersama. Pada kesempatan penting ini Tuhan Yesus mengkritik ketidakpercayaan yang bersumber dari kedegilan hati murid-murid. Padahal mereka sudah mendengar fakta kebangkitan dari Maria Magdalena dan perempuan lain. Belum lagi dari Petrus dan dua murid dalam perjalanan ke Emaus. Tuhan Yesus mencela ketidakpercayaan murid-murid bukan tanpa dasar. Tuhan Yesus sudah berulangkali memberitahukan kepada murid-murid-Nya bahwa Yesus harus menghadapi penyaliban, kematian dan dikuburkan. Kemudian pada hari ketiga Dia bangkit dari kematian-Nya. Jadi seharusnya para murid sudah dalam keadaan menunggu hari kebangkitan-Nya. Bila ada yang menyaksikan Yesus sudah bangkit mereka seharusnya langsung percaya. Tetapi nyatanya tidak. Walaupun Yesus mengkritik ketidakpercayaan para murid, bukan berarti Yesus mengagalkan rencana-Nya memakai mereka untuk memberitakan Injil. Buat sementara mungkin hati para murid sedih mendapati diri mereka salah atas ketidak percayaan mereka. Tetapi saat mereka merasa bersalah dan diam, Yesus memberi perintah kepada mereka untuk pergi memberitakan Injil.

Dalam hal ini jelaslah bahwa Yesus tahu bahwa mereka sudah siap mengemban amanat Yesus. Hanya saja mereka masih harus diperlengkapi dulu dengan kuasa Roh Kudus agar tanda-tanda mujizat akan menyertai pemberitaan mereka. Dalam hal ini dapatlah kita ketahui bahwa percaya kepada Yesus haruslah terus semakin ditumbuhkembangkan. (MT)
Minggu 10 Mei 2020


PESAN MINGGU INI 03 MEI 2020

TUBUH KEBANGKITAN YESUS

Lukas 24:31-32 “Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. “Kata mereka seorang kepada yang lain: “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”

Kebangkitan Yesus adalah suatu fakta dan kepastian yang terpercaya secara historis. Kepastian itu sangat beralasan untuk dipercaya karena Yesus yang bangkit dari kematian itu menyatakan diri selama empat puluh hari kepada pengikutnya sebelum dia naik ke surga. Tuhan Yesus menyatakan diri secara berulang-ulang di tempat yang berbeda pada waktu yang berbeda pula. Tujuan Yesus adalah agar para murid-murid dan para pengikut-Nya mempunyai iman yang mengakar kepada diri-Nya. Tuhan Yesus menyatakan tubuh kebangkitan-Nya kepada para pengikut-Nya bukan kepada para orang-orang yang membunuhnya. Kepada pengikut-Nya, karena merekalah yang akan dan harus memberitakan Injil-Nya. Bukan kepada orang-orang yang ambil bagian dan setuju akan penyaliban-Nya, karena tidak ada gunanya. Mereka akan melakukan segala cara agar berita kebangkitan-Nya dirahasiakan. Bahkan mereka siap membayar seberapa banyak uang tutup mulut seperti yang dilakukan kepada para penjaga kuburan Yesus yang menyaksikan langsung peristiwa kebangkitan Yesus.

Ada suatu fakta yang dapat disebut aneh ketika Yesus menyatakan diri kepada dua orang murid-Nya dalam perjalanan menuju Emaus. Aneh karena dalam perjalanan yang cukup panjang mereka berbincang-bincang dengan Yesus yang sudah bangkit, tetapi mereka tidak mengenal Yesus. Mengapa demikian? Ada kemungkinan karena dalam benak kedua orang murid-Nya ini, Yesus masih berada di kuburan dalam keadaan mati. Jadi walaupun hati mereka berkobar-kobar saat berbicara tentang firman Tuhan, termasuk janji tentang kebangkitan Yesus dari kematian mereka tetap tidak mengenal Yesus sendirilah yang sedang berbicara dengan mereka. Saat mata dan hati mereka terbuka, mereka pun mengenal Yesus, tetapi tiba-tiba Yesus lenyap dari hadapan mereka. Tuhan Yesus mulai menyatakan tubuh kebangkitan kepada murid-murid-Nya. Sama seperti Yesus datang kepada murid-murid-Nya saat mereka berada dalam ruangan tertutup dan terkunci. Tubuh kebangkitan Yesus tetap adalah tubuh yang dapat dijamah dan dapat diajak bicara dan dilihat dengan kasat mata. Tetapi tubuh yang tak lagi dapat dibatasi oleh tempat. Dalam hal ini Yesus secara perlahan tapi pasti memperkenalkan tubuh kebangkitan-Nya yang tidak lagi dibatasi ruang dan waktu. (MT)
Minggu 03 Mei 2020


PESAN MINGGU INI 26 APRIL 2020

PENGHARAPAN YANG BARU

Yohanes 21:17 “Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”

Petrus sangat kehilangan pengharapan saat menyaksikan fakta bahwa Yesus guru pujaannya betul-betul mati di kayu salib kemudian dikuburkan. Ini adalah kekecewaan Petrus yang kedua yang membuat dirinya sungguh-sungguh kehilangan pengharapan. Kekecewaan pertamanya adalah saat dia menyangkal Yesus tiga kali kemudian ayam berkokok. Penyesalan mendalam datang menyusul penyangkalannya. Petrus tak menyangka dirinya bertindak sebagai seorang pecundang hanya karena teguran seorang anak yang kebetulan mengenalnya sebagai pengikut Yesus. Petrus tentu sangat bahagia setelah hari ke-tiga dari kematian-Nya, Yesus bangkit dari kematian. Tetapi kebahagiaannya tidak seperti murid-murid yang lain. Mungkin saja murid-murid yang lain merasa heran melihat sikap Petrus yang lain dari kebiasaannya yang sangat antusias dan bersemangat. Sekarang Petrus sangat pendiam, murung dan tidak bersemangat. Petrus yang biasanya sangat dekat dengan Yesus sekarang seperti menjaga jarak. Tentu saja Petrus tertuduh oleh sikap pecundangnya hingga menyangkali gurunya pada saat gurunya justru membutuhkan dukungannya.

Dukungannya kepada gurunya cukup hanya jangan sampai menyangkal, tetapi hal sesederhana itu tak mampu untuk dilakukannya. Tuhan Yesus mengetahui secara jelas suasana hati Petrus, sehingga Yesus dengan sengaja mengajukan satu pertanyaan kepada Petrus hingga tiga kali “Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?”. Dan tiga kali juga Petrus memberi jawaban menyatakan bahwa dia sungguh-sungguh mengasihi Yesus. Dan tiga kali juga Yesus memberi perintah kepada Petrus “Gembalakanlah domba-dombaku”. Petrus menghubungkan tiga kali pertanyaan yang sama dan tiga kali penugasan yang sama dengan tiga kali penyangkalannya. Petrus pun tahu betul bahwa Yesus mengampuninya atas penyangkalannya. Sejak saat itu Petrus pun mempunyai pengharapan yang baru yang sempat sirna atas penyangkalannya. Tuhan Yesus mendekati Petrus melalui pertanyaan dan penugasan adalah usaha sengaja yang dilakukan Yesus untuk memulihkan hidup Petrus. Betul juga! Sejak saat itu Petrus dipulihkan. Sekarang Petrus bersemangat lagi, karena memperoleh pengharapan yang baru. (MT)
Minggu 26 April 2020


PESAN MINGGU INI 19 APRIL 2020

KEHIDUPAN YANG BARU

Yohanes 20:28-29 “Thomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku! Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Bila ada teman saudara yang selalu saja sulit mempercayai informasi yang saudara berikan biasanya saudara menjulukinya si Thomas. Thomas adalah seorang pemikir yang cenderung menggunakan pikirannya sebelum mempercayai suatu informasi. Untuk mempercayai kebenaran suatu berita Thomas membutuhkan bukti. Tidak sedikit orang seperti Thomas ini. Mungkin jauh lebih banyak dari orang yang mudah percaya. Bahasa yang sudah mendunia adalah “kami butuh bukti bukan janji”. Sikap kepada dunia hal mengharapkan pembuktian sangat penting dan boleh dikatakan harus, supaya kita jangan sampai tertipu oleh manisnya janji. Rasul Paulus sendiri memberi tips cara mengenal pengajar yang palsu adalah mengamati mereka dari buahnya atau kelakuannya.

Menurutku juga sangat penting bila untuk menerima seseorang hamba Tuhan tidak cukup bila hanya melalui kehebatannya berkotbah tetapi harus juga melalui buah-buah kerohaniannya. Jangan sampai kita terkesima dengan karismanya hingga menutup mata terhadap karakternya. Kita harus membedakan sikap kita kepada manusia dengan sikap kita kepada Tuhan. Bila meragukan janji manusia adalah wajar, tetapi bila terhadap janji Tuhan haruslah kita yakin. Karena janji manusia bisa salah, bisa benar tetapi janji Tuhan adalah mutlak benar.

Tuhan Yesus sudah memberitahukan kepada murid-murid-Nya bahwa dia akan bangkit dari kematian, tetapi tidak mudah bagi murid-murid-Nya untuk percaya. Khususnya Thomas sangat tidak percaya setelah Yesus mati dan dikuburkan. Thomas adalah murid yang paling kecewa dan tak mempercayai kebangkitan Tuhan Yesus. Murid-murid yang lain sudah bertemu dengan Yesus sedangkan Thomas tetap saja tidak percaya. Thomas butuh pembuktian tetapi Yesus tidak menyatakan diri kepada Thomas dalam kesendiriannya. Petrus pun berinisiatif mendekati Thomas dan mengajaknya bersekutu dengan murid-murid yang lain. Saat itulah Yesus datang. Thomas tak perlu lagi menaruh jarinya ke bekas luka Yesus, tetapi langsung sujud menyembah Yesus dan berkata “Ya Tuhanku ya Allahku”. Begitu melihat bukti Thomas mempunyai kehidupan yang baru yakni menyembah Yesus sebagai Tuhan. Sejak saat itu Thomas mentaati semua janji Yesus. Sebagai penyandang hidup baru Thomas tak lagi menuntut bukti, sebab baginya Tuhan Yesus dan janjinya semua adalah bukti. (MT)
Minggu 19 April 2020


PESAN MINGGU INI 12 APRIL 2020

NEW LIFE – NEW HOPE (2)

1 Korintus 15:13-14 “Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.”
1 Korintus 15:19 “Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.”

Kelompok Saduki adalah kelompok yang cukup berpengaruh pada saat Yesus menjalankan misinya di bumi. Kelompok Saduki adalah kelompok yang tidak percaya dan menentang kebangkitan orang mati. Orang Saduki tidak percaya akan adanya malaikat dan roh. Keyakinan inilah yang sering menjadi alasan mereka menentang ajaran Yesus. Pengaruh Saduki inilah yang membuat orang percaya pada zaman rasul-rasul banyak juga yang tidak percaya kebangkitan badani Yesus Kristus. Yang tidak percaya kebangkitan badani Tuhan Yesus ini tetap percaya kepada Yesus tetap juga berharap atau menaruh pengharapan kepada Yesus, tetapi hanya dalam hidup ini saja.

Untuk menanggapi keyakinan yang menyimpang ini maka rasul Paulus memberi tanggapan untuk meluruskannya. Rasul Paulus menyatakan jika Yesus tidak dibangkitkan maka tidak akan ada kelepasan dari dosa jadi sangat jelas bila menolak objektivitas kebangkitan Kristus sama saja menyangkal iman Kristen karena hal itu berarti menentang Allah dan firman-Nya.

Rasul Paulus pun secara tegas menyatakan justru kebangkitan Yesus itu memberikan pengharapan baru bagi orang percaya. Pengharapan baru yang dimaksud adalah:

  • Pengharapan yang lengkap yaitu pengharapan dalam hidup ini di sini
  • Dan kini juga pengharapan kelak dan abadi yaitu pengharapan setelah kematian tubuh yang fana ini.

Pengharapan dalam hidup ini di sini dan kini melalui kebangkitan Yesus adalah kepastian penyertaannya dalam menjalani hidup sehari-hari. Rasul Paulus menandaskan bahwa meyakini fakta kebangkitan Yesus memberi pengharapan baru, karena oleh penyertaannya di dunia ini dan kini orang percaya hidup lebih dari pemenang Roma 8:31-39. Hal itu akan menjadi pengalaman nyata bila orang percaya tak terpisahkan oleh kesulitan apapun dari kasih Kristus. Tetapi pengharapan baru utama dapat kita temukan melalui pernyataan terus terang oleh Rasul Paulus. Kalau kita hanya berharap untuk masa kini dalam hidup ini saja pada Yesus Kristus kita adalah orang malang. Kristus adalah yang sulung dibangkitkan atau bangkit dari kematian.

Jadi orang percaya akan memperoleh kebangkitan setelah kematian untuk hidup bersama Yesus dalam keabadian yang penuh sukacita dan kebahagiaan abadi. (MT)
Minggu 12 April 2020


PESAN MINGGU INI 05 APRIL 2020

NEW LIFE – NEW HOPE

1 Petrus 1:3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar yang telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan”

Kematian Yesus adalah fakta. Yesus tidak pura-pura mati, bukan pula mati suri seperti anggapan banyak orang yang menempatkan diri sebagai seteru Yesus Kristus. Padahal bagi seteru Kristus seharusnya kematian Yesus Kristus dapat dijadikan menjadi titik lemah untuk menyimpulkan bahwa Yesus Kristus bukanlah Tuhan. Tetapi nyatanya para seteru Yesus Kristus justru berusaha mengatakan bahwa Yesus tidak pernah mati. Ada pula kelompok seteru Yesus Kristus yang berusaha memberi keterangan palsu dengan mengatakan Yesus tidak bangkit. Dalam Injil Matius 28:11-15, menjelaskan bahwa Mahkamah Agama menyogok penjaga kuburan yang menyaksikan Yesus bangkit agar menyebarkan berita bohong. Berita bohong itu adalah, mengatakan bahwa mayat Yesus dicuri murid-murid-Nya.

Jadi jelas bahwa bagi seteru Kristus kematian dan kebangkitan Yesus adalah sangat penting untuk menyerang ke Tuhanan Yesus. Hal itu sangat masuk akal. Karena menyangkali salah satu di ntaranya sama saja menyangkali kedua-duanya. Tidak ada kebangkitan tanpa kematian dan tidak ada arti kematian tanpa kebangkitan. Bagi Pengikut Kristus kematian dan kebangkitan Yesus bukan hanya satu kesatuan, bukan pula sangat penting sebagai pembuktian keTuhanan Yesus. Kematian dan kebangkitan Yesus mempunyai makna yang memberi kehidupan dan pengharapan yang baru dan abadi. Kematian Yesus saja sudah mengandung makna yang dalam karena memberi hidup dan pengharapan yang baru bagi semua orang yang percaya kepada-Nya.

Rasul Paulus menjelaskannya kepada jemaat Roma (Roma 6:3-14):

  1. Kematian Yesus membawa orang percaya hidup dalam hidup yang baru. Karena kalau kita hidup dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga menjadi satu dengan kebangkitan-Nya. Hidup yang sama dengan kematian Yesus adalah mati bagi dosa atau kematian terhadap dosa. Yesus mati adalah untuk mengalahkan kematian. Jadi orang percaya yang manunggal dengan kematian Yesus akan bebas dari kuasa dosa untuk hidup dalam hidup yang baru. Hal itu berarti orang percaya bukan lagi hidup untuk dosa karena sudah mati terhadap dosa. Orang percaya diberi kuasa mematikan perbuatan-perbuatan buruk tubuh ini dengan tetap semangat menjalankan hidup yang baru dalam ketaatan kepada Allah.
  2. Kematian Yesus membawa orang percaya hidup dalam pengharapan yang baru. Karena kematian Yesus didasari oleh kasih-Nya untuk menyelamatkan manusia dari kematian sebagai hukum akibat dosa. (MT)

Minggu 05 April 2020


PESAN MINGGU INI 29 MARET 2020

MENGHIDUPI KEDAULATAN ALLAH

Ayub 1:12 “Maka firman TUHAN kepada Iblis: “Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya. Kemudian pergilah Iblis dari hadapan TUHAN.”

Tidak mudah menemukan seseorang yang saleh dan jujur, takut kepada Allah dan menjauhi kejahatan seperti Ayub. Walaupun sulit menemukannya faktanya ada. Jadi sepanjang sejarah manusia, selalu ada seperti Ayub. Lagipula cerita Ayub ini sebenarnya ditulis untuk mengajarkan bahwa kita semua punya potensi hidup seperti Ayub. Jadi kalau Ayub bisa saudara pun bisa. Saudara dan saya bisa hidup saleh, jujur, takut kepada Allah dan menjauhi kejahatan, asal saja terus mau belajar dan memasuki proses serta hidup dekat kepada Allah. Ayub juga sangat peduli dengan kesejahteraan dan kerohanian anak-anaknya. Dia memperhatikan kelakuan dan gaya hidup mereka dan mendoakan agar terpelihara dalam perlindungan Allah dan tidak terlibat kepada perilaku yang jahat. Ayub adalah contoh seorang ayah yang menyediakan waktu untuk memperhatikan keluarganya agar semua anggota keluarganya terhindar dari gaya hidup berdosa.

Bila kita baca seluruh kitab Ayub kita akan temukan hal-hal buruk yang menimpa Ayub, tetapi Ayub tetap setia kepada Allah. Ayub tidak mengetahui percakapan Allah dengan iblis mengenai dirinya. Ayub menjadi penderita bukan karena bersalah tetapi sebagai kelinci percobaan iblis untuk menguji kesetiaan seorang anak Tuhan atau umat beriman yang baik. Allah mengizinkan iblis mencelakai Ayub dan keluarganya adalah suatu hal yang sulit kita terima. Tetapi itulah kedaulatan Allah yang harus kita hidupi. Allah bukan saja menguji iman Ayub tetapi juga menguji iman umat Tuhan sepanjang sejarah. Sekarang kita sudah harus tahu secara jelas bahwa Allah berdaulat mengizinkan iblis mencobai umat beriman. Tetapi jangan kuatir karena Allah membatasi iblis. Jadi iblis tetap berada di bawah kendali Allah.

Ayub yang tidak tahu dialog Allah dengan iblis dan menjadikan Ayub jadi objek, ternyata sangat tunduk kepada kedaulatan Allah. Ayub menghidupi kedaulatan Allah melalui dua pernyataan yang tetap relevan sepanjang zaman.:

  1. Pernyataan pertama Ayub berkata “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku dengan telanjang pula aku kembali kepada-Nya, Tuhan yang memberi Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan” (Ayub 1:21).
  2. Pernyataan kedua Ayub berkata “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah tetapi tidak mau menerima yang buruk” (Ayub 2:10).

Ayub tidak tahu pertarungan Allah dan iblis. Maka kita seharusnya lebih menghidupi kedaulatan Allah. (MT)
Minggu 29 Maret 2020


PESAN MINGGU INI 22 MARET 2020

MENGHIDUPI KASIH KRISTUS

Galatia 2:20 “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Rasul Paulus mempunyai kasih yang sangat dalam kepada Kristus. Bila Rasul Paulus memberi gambaran hubungannya dengan Kristus selalu dari segi kasih sayang pribadi yang sangat mendalam dan ketergantungannya kepada Kristus. Tidak ada sedikitpun keraguan dari Rasul Paulus untuk menyatakan kesatuannya dengan kematian dan kebangkitan Kristus. Rasul Paulus adalah teladan sejati dalam hal menghidupi kasih Kristus.

Rasul Paulus yang dibesarkan dalam tuntunan hukum Taurat telah terbentuk menjadi agamawan sejati. Tetapi setelah dia bertemu dengan Tuhan Yesus dia betul-betul menjadi seorang yang berbeda. Dia menyimpulkan bahwa dia telah mati terhadap hukum Taurat yang membuatnya hanya sebagai orang beragama semata. Rasul Paulus menyimpulkan beragama saja tidak memadai untuk memperoleh keselamatan. Karena faktanya hukum Taurat telah melahirkan umat beragama yang menjadi seteru salib Kristus. Itulah yang ingin diungkapkan oleh Rasul Paulus lewat pernyataannya adapun hidupku ini bukannya aku lagi.

Paulus yang telah terbentuk hukum Taurat sebagai umat beragama sudah lewat dan berlalu. Dia yang menghidupi Taurat telah mati terhadap hukum Taurat. Dan sekarang dia telah menghidupi Kristus atau hidup untuk Allah melalui Kristus. Cukup lama Rasul Paulus hidup dalam kekakuan doktrin agama yang membentuknya mampu melakukan tindakan kejam kepada siapapun yang dianggapnya melakukan pelanggaran terhadap hukum agama. Di luar Kristus dia menjadi sangat fanatik tetapi melalui pertemuan dengan Kristus Dia merasakan indahnya kehidupan. Ternyata agama saja belum cukup harus dilanjutkan dengan hidup bersekutu dengan Allah di dalam dan melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Rasul Paulus mewujudkan kasihnya kepada Kristus melalui pengabdian dan kesetiaannya. Kepada Jemaat di filipi Rasul Paulus mengungkapkan kasihnya kepada Kristus dengan berkata “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21). Suatu pernyataan jujur dari Rasul Paulus dari penjara yang setiap saat bisa saja dikeluarkan dari penjara untuk dihukum mati. Tetapi kematian pun tak mampu menghentikan Rasul Paulus untuk memberitakan Injil. Bila kematiannya karena amat agung maka baginya hal itu adalah keuntungan. Itulah hidup seorang Rasul Paulus yang menghidupi kasih Kristus.(MT)
Minggu 22 Maret 2020


PESAN MINGGU INI 15 MARET 2020

MENGHIDUPI FIRMAN ALLAH

Yohanes 15:3-4 “Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku”

Pada suatu pagi yang cerah sengaja aku duduk menghangatkan tubuh di bawah paparan sinar matahari yang terbit dari Timur secara berlahan dan pasti beranjak naik semakin tinggi. Kurasakan sinar matahari itu seakan-akan memberitahukan kepadaku bahwa aku sudah semakin menua. Karena sinar matahari yang semakin cerah itu menunjukkan kepadaku keadaan kulitku yang sudah mulai berkeriput. Dalam paparan sinar matahari itu kuamati kulitku yang bukan saja berkerut tetapi ada bintik-bintik hitam, kata orang itu adalah kulit mati. Akupun berpikir bahwa sesungguhnya kematian itu dimulai dari kulit.

Tiba-tiba aku tersadar, karena sinar matahari yang memberi kehangatan pada tubuhku ternyata menjelaskan juga kepadaku akan keadaan hidupku. Matahari pagi itu bukan saja berhasil menyehatkan tubuhku tetapi berhasil juga menyadarkan akan keadaan hidupku. Pagi itu betul-betul membuatku memahami arti pentingnya sinar matahari. Hal itu terjadi karena aku betul-betul menghidupi dan mendalami hidup dalam dan di bawah paparan sinar matahari. Setelah aku masuk ke rumah segera kubuka Alkitabku dan kubaca bagian Alkitab Injil Yohanes pasal 15.

Pengalamanku hidup di bawah paparan sinar matahari menginspirasiku dalam membaca Alkitab hari ini. Bila menghidupi arti pentingnya matahari telah memberi pengertian mendalam bagiku, maka hari ini pembacaan Alkitab pun terasa lebih hidup dan sungguh menginspirasi. Yesus secara langsung mengatakan Kamu memang sudah bersih karena Firman yang telah kukatakan kepadamu. Tuhan Yesus menyatakan suatu pernyataan akan fungsi utama Firman itu kepada murid-murid-Nya karena murid-murid-Nya sudah menghidupi Firman-Nya dalam hidup sehari-hari. Matahari bukanlah tenaga mistis yang memberi arti dengan sendirinya kepada obyeknya tetapi karena objeknya itu mengambil dan menghidupi fungsi sinar matahari itu dengan baik. Demikian juga firman Tuhan Bukankah tenaga mistik yang mengubah hidup orang percaya. Orang percaya hidup bersih karena Firman, karena orang percaya itu menghidupi Firman. Menghidupi Firman dalam arti mendengar, merenungkan dan mentaati firman Allah dalam hidup sehari-hari. Hal itu berarti menjadikan firman Allah menjadi standar moral dalam bersikap. (MT)
Minggu 15 Maret 2020


PESAN MINGGU INI 08 MARET 2020

HIDUP SESUAI FIRMAN ALLAH

Yosua 1:7 “Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke mana pun engkau pergi”.

Firman Allah adalah anugerah terbesar yang diberikan Allah kepada manusia sebagai standar moral yang benar. Hal itu sudah merupakan jaminan sempurna dalam menjalani kehidupan dalam segala keadaan dan dalam segala situasi. Yosua mengetahui situasi dan keadaan yang sedang mendesak umat Israel dari segala penjuru. Kondisinya adalah bangsa penyembah berhala yang sangat berpotensi mempengaruhi orang Israel. Sedangkan orang Israel boleh disebut masih sangat labil. Mereka sama seperti manusia pada umumnya termasuk orang beriman. Manusia pada umumnya mempunyai naluri menyembah suatu objek yang lebih besar, lebih tinggi dan lebih berkuasa dari dirinya sendiri. Walaupun demikian tetap juga mempunyai keinginan untuk mengendalikan sesembahannya dengan cara menyogok melalui upacara khusus seperti lazimnya praktek para penyembahan berhala.

Berdasarkan pemahamannya inilah Yosua memberi peringatan yang jelas dan tegas kepada orang Israel. Untuk melakukan firman Allah dengan setia haruslah dengan hati yang kuat dan teguh. Artinya berkomitmen melakukan firman Allah. Bila ada masalah bukan menjadi lemah tetapi justru memperbaharui komitmen untuk tetap taat. Hidup sesuai firman Tuhan atau menjadikan firman Tuhan sebagai standar moral haruslah dengan sungguh-sungguh. Bukan coba-coba tetapi haruslah dengan sikap serius dan fokus. Bila menjadikan hidup dikontrol oleh firman Allah pasti membuat diri menjaga perilaku atau bertindak hati-hati. Tidak asal aktif tetapi selalu selektif. Tidak asal banyak aktivitas tetapi selalu menjaga dan membangun integritas. Kitab Yosua adalah kitab yang mencatat secara detail mengenai kesetiaan Allah menggenapi janji-janji-Nya kepada Israel khususnya mengenai tanah Kanaan. Dan Yosua selalu mengarahkan umat agar merespon penggenapan janji-Nya itu dengan sikap mentaati Allah atau hidup sesuai firman Allah. Bila Allah bukan hanya berjanji tetapi juga menggenappi janji-Nya, maka umat-Nya pun jangan hanya mengetahui tetapi juga hendaklah melakukan firman-Nya. Bukan, melakukannya sebagai kewajiban agamawi tetapi menghidupinya dalam perilaku sehari-hari. Bila kita melakukan Firman atau hidup sesuai firman Allah kitalah yang berbahagia, karena Allah memberi firman-Nya adalah untuk kesejahteraan umat-Nya. (MT)
Minggu 08 Maret 2020


PESAN MINGGU INI 01 MARET 2020

MENJADI BERKAT

Kejadian 12:3 “Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat”

Ayat firman Tuhan di atas merupakan nubuat kedua tentang kedatangan Yesus ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari hukum dosa. Jadi dalam Alkitab Kejadian saja nubuat tentang kedatangan Yesus sudah dicetuskan secara jelas hingga dua kali. Berkat yang akan disalurkan melalui keturunan Abraham adalah berkat rohani yaitu tentang keselamatan dan penyertaan Allah yang dianugerahkan kepada orang yang percaya. Rasul Paulus menegaskan kepada jemaat Galatia, bahwa keturunan yang dimaksud adalah Yesus, walaupun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan “kepada keturunan-keturunannya, seolah-olah dimaksud banyak orang tetapi hanya satu orang dan kepada Keturunanmu, yaitu Kristus” (Galatia 3:16).

Janji Allah kepada Abraham hidup menjadi berkat telah mengungkapkan tujuan pemberitaan Injil. Tujuan Injil sejak awal sudah dinyatakan adalah untuk memberkati segala bangsa dengan keselamatan dan kemurahan Allah. Allah tetap menjalankan tujuan-Nya itu melalui Yesus Kristus. Dan setelah Yesus naik ke surga maka berkat itu akan terus tersebar melalui gereja-Nya sebagai penyandang berkat itu melalui pelaksanaan Amanat Agung. Panggilan untuk melaksanakan Amanat Agung sama dengan panggilan Abraham untuk menjadi berkat. Menjadi berkat karena anugerah dan penyertaan Allah. Jadi panggilan ini bukan hanya terdiri dari janji tetapi juga atas berbagai kewajiban. Allah meminta agar penerima janji itu taat Firman serta melakukan penyerahan hidup yang total kepada Allah. Janji dan berkat Allah kepada Abraham bukan hanya untuk keturunannya tetapi juga menjangkau semua bangsa. Karena semua orang yang beriman seperti Abraham adalah anak-anak Abraham. Sebagai anak-anak Abraham berarti janji Allah memberkatinya berlaku juga. Tetapi tidak berhenti untuk diberkati harus pula dilanjutkan menjadi berkat.

Jadi kalimat diberkati untuk memberkati dan memperoleh berkat untuk menjadi berkat adalah pernyataan yang Alkitabiah. Diberkati dan memperoleh berkat tentu saja tidak perlu diperjuangkan karena hal itu adalah pemberian atau anugerah Allah. Tetapi memberkati dan menjadi berkat haruslah sesuatu yang dibangun dan diperjuangkan. Memberkati adalah suatu perbuatan baik dan benar yang harus dilakukan berdasarkan kasih untuk menolong orang lain salah satu adalah memberitakan Amanat Agung. Sedangkan menjadi berkat adalah membangun karakter mulia agar selalu mempunyai hubungan benar dan baik kepada orang lain dengan demikian kita sudah menghidupi Amanat Agung yang kita beritakan.(MT)
Minggu 01 Maret 2020


PESAN MINGGU INI 23 FEBRUARI 2020

ALKITAB ITU SEMPURNA

2 Timotius 3:16 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran”.

Setelah membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu, seorang remaja Kristen yang cerdas membuat pernyataan. Komunikasi umat beriman dengan Allah jauh lebih enak dan indah pada zaman Perjanjian Lama daripada zaman akhir ini. Alasannya adalah di zaman Perjanjian Lama Allah memberi firman-Nya langsung. Seperti zaman Keluaran, Allah menuntun umat-Nya melalui tiang api dan tiang awan. Jadi sangat jelas arah tujuan mereka melangkah. Mereka tahu jelas kapan mereka berhenti dan kapan mereka harus maju. Pada zaman para nabi pun Allah langsung berfirman melalui para nabi untuk disampaikan kepada umat. Jadi sangat komunikatif dan spesifik sehingga mudah ditaati dan pesannya mudah dilakukan. Kalau sekarang kita harus membaca Alkitab yang sangat tebal. Terkadang menentukan bagian mana dulu yang dibaca cukup membingungkan. Belum lagi bahasanya tidak mudah dipahami karena selain mengerti sejarah, kita pun harus mampu mengambil arti dan pesan Alkitab melalui sejarah tersebut. Belum lagi banyak bersifat perumpamaan dan lambang yang membutuhkan pemikiran yang mendalam sulit bukan? Betul juga pemikiran remaja kristen yang baik ini bila dipikir hanya sekilas saja. Tetapi bila dipikir dan dipahami secara terang benderang, maka sesungguhnya zaman modern ini justru berhubungan dengan Allah itu jauh lebih komunikatif.

Anak muda seperti Timotius tentu sangat setuju dengan gurunya Paulus. Alkitab mempunyai manfaat yang lengkap dalam membangun hubungan dengan Tuhan padahal pada zaman Timotius Alkitab belum disatukan, hanya bagian-bagian tertentu saja dan itu pun sangat sulit untuk didapatkan.

  • Zaman sekarang kita mempunyai Alkitab yang lengkap dan sangat mudah didapatkan.
  • Alkitab itu cukup untuk mengajar dan mendidik dalam kebenaran.
  • Alkitab juga cukup untuk memberitahukan kesalahan.
  • Akitab juga adalah standar moral yang memberi kesempatan kepada kita untuk terus belajar. Bila kita menemukan diri tidak sesuai dengan Alkitab diberikan pula kesempatan untuk bertobat dan berusaha lagi untuk mentaatinya.

Jadi para sobat pembaca Alkitab yang setia! Jelas bukan? Justru zaman now hubungan kita dengan Allah justru lebih komunikatif melalui tuntunan Alkitab. Jadi bersyukurlah dengan Alkitab yang saudara miliki. Bacalah sebagai pedoman hidup kita setiap hari Dan lakukanlah! Haleluya. (MT)
Minggu 23 February 2020


PESAN MINGGU INI 16 FEBRUARI 2020

STANDAR ALLAH

Matius 5:8 “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”

John Calvin berkata, saat seseorang mendekat kepada Allah, dia akan peka dan terganggu kepada dosa yang sekecil apapun. Dan saat seseorang peka terhadap dosa, dia telah mengarahkan hidupnya untuk hidup suci. Perlu pula diingat bahwa hidup yang mendekat kepada Allah bukanlah sesuatu yang otomatis melainkan melalui proses yang bisa singkat bisa juga lama, tetapi yang pasti haruslah terus menerus dan berkesinambungan. Jadi semua kita haruslah terus berusaha hidup mendekat kepada Allah sebagai syarat mutlak untuk hidup suci. Memiliki hati suci dan kesucian hidup adalah standar Allah. Jadi jelas bahwa standar Allah itu adalah tinggi.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimanakah seorang manusia bisa hidup suci? Untuk menjawab pertanyaan ini perlu dijelaskan bahwa hidup suci atau sempurna itu jangan dulu diartikan hidup tanpa kesalahan. Karena yang penting adalah usaha-usaha yang perlu dipraktikkan agar peka terhadap dosa seperti yang dikatakan oleh John Calvin:

  1. Usaha yang perlu dilakukan untuk menjadi hidup suci atau suci hatinya adalah belajar atau mendalami firman Tuhan. Firman Tuhan adalah kebenaran pernyataan kehendak-Nya. Pemazmur mengatakan dalam mazmur 119:11 “Dalam hatiku aku menyimpan janjiMu supaya aku tidak berdosa terhadap Engkau.” Belajar Firman memang harus dengan pemahaman yang benar, dan mengetahui dengan jelas firman Tuhan tetapi haruslah disimpan dalam hati. Bila firman menguasai hati maka kebenaran pula yang menguasai. Hasilnya adalah tidak berdosa kepada Tuhan.
  2. Bergaullah dengan orang yang dekat dengan Tuhan. Artinya jangan salah dalam memilih komunitas. “Jangan kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik” (1 Korintus 15:33). Bila bergaul dengan orang yang dekat dengan Tuhan akan menjadi sangat produktif membangun hidup dengan hati yang tulus dan bersih. Tetapi bila memasuki pergaulan yang buruk artinya bergaul dengan orang yang cenderung melawan Tuhan akan merasuk hidup yang sudah terarah kepada hidup suci.
  3. Berusahalah menemukan seorang anak Tuhan yang mempunyai kapasitas untuk melatih saudara hidup dekat dengan Allah. Dengan kata lain milikilah hati seorang murid, dan jadilah murid yang tekun belajar dari seseorang yang lebih dewasa dalam iman dari saudara.
  4. “Jangan pernah menyerah”. Hidup suci itu adalah perjuangan. Bila gagal berkali-kali jangan menyerah, karena hal itu sudah pasti terjadi. Bila gagal coba lagi dan coba lagi, jangan pernah menyerah untuk hidup suci. Bila terus berusaha Tuhan pasti menyertai untuk memberikan kekuatan untuk hidup suci. Karena hidup suci itu adalah standar Allah. (MT)

Minggu 16 Februari 2020


PESAN MINGGU INI 09 FEBRUARI 2020

DUKACITA DAN KEBAHAGIAAN

Matius 5:4 “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.”

Apa sih hubungan duka cita dengan kebahagiaan? Ah pertanyaan yang aneh dan sulit dijawab tetapi sepertinya dapat dirasakan. Dirasakan bagaimana? bukankah orang yang berdukacita sedang kehilangan kebahagiaan, dan orang yang berbahagia sedang jauh dari dukacita? Wah makin bingung saja ya? Tetapi kata raja Salomo lebih baik berada di rumah duka dari pada di rumah pesta. Padahal bukankah pesta merupakan kebahagiaan yang jelas? Dan duka merupakan kesedihan yang nyata? Sudahlah! Lebih baik kita tanya Yesus mengapa orang berduka cita berbahagia? Ternyata jawaban Yesus adalah “karena mereka akan dihiburkan”.

Untuk menjelaskannya berikut penulis mencoba memandang konsep berduka cita sebagai gaya hidup sehari-hari dalam menjalani kehidupan antara lain:

  1. Berduka cita adalah “hidup sederhana”. Artinya hidup bersahaja walaupun mampu hidup mewah dan bila perlu menjalani hidup glamor. Dalam hal ini dia memilih untuk menahan diri dari keinginan menunjukkan kemampuannya secara finansial dengan cara hidup sederhana. Menahan diri dalam kondisi ini dapat dikategorikan sebagai berduka cita. Hidup sederhana menjadi kebahagiaan karena berhasil memperjuangkan pilihan hidupnya.
  2. Selanjutnya berdukacita dapat diartikan hidup dengan disiplin dan tertib. Hidup disiplin dan tertib itu harus dilatih dan diperjuangkan. Ada kesenangan-kesenangan tertentu yang harus dibuang seperti hidup bermalas-malasan. Ada juga kebiasaan-kebiasaan yang membuat nyaman harus dihilangkan. Dan ada yang penting lagi yaitu ada aturan-aturan yang harus ditaati. Hal itu betul-betul tidak nyaman sebelum gaya hidup disiplin dan tertib itu belum menjadi gaya hidup kita.
  3. Kemudian berdukacita itu adalah melakukan kehendak Tuhan untuk menyenangkan hati-Nya. Suatu gaya hidup benar biarlah Tuhan senang walaupun itu berarti harus mengorbankan kesenangan pribadi. Semua kesenangan pribadi yang bertentangan dengan kebenaran dan kehendak Tuhan tidak boleh dilakukan walaupun hal itu membuat luka yang mendalam.
  4. Akhirnya berdukacita adalah melayani Tuhan dan pekerjaan-Nya. Hal itu berarti memilih hidup melayani bukan untuk dilayani, memilih menjadi seorang pelayan bukan tuan. Untuk melayani Tuhan dan pekerjaan-Nya terkadang juga harus mengorbankan kebebasan untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan diri sendiri.

Jadi berduka cita bisa dalam bentuk memilih hidup sederhana, bisa juga membangun gaya hidup disiplin dan tertib, bisa juga melakukan kehendak Tuhan dan akhirnya melayani Tuhan dan pekerjaan-Nya. Walaupun awalnya berduka cita tetapi bila sudah mencapainya tentu kita berbahagia. (MT)

Minggu 09 Februari 2020


PESAN MINGGU INI 02 FEBRUARI 2020

KRISTEN ADALAH UMAT YANG BERDOA

Lukas 5:15-16 “Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.”

Tidak terlalu lama kabar tentang Yesus itu tersebar makin meluas. Padahal itu pada zaman dulu di mana alat komunikasi hanya alami saja. Maksudnya hanya dari mulut ke mulut atau dari seorang ke seorang dengan menggunakan komunikasi cerita. Terkadang terpikir juga seandainya Yesus datang pada zaman now, tentu berita mengenai seluruh karya-Nya akan mendunia dalam hitungan menit. Tetapi untuk apa diandai-andaikan ya? Dalam kondisi jadul saja sudah cukup merepotkan Yesus. Tak henti-hentinya orang banyak datang berbondong-bondong kepada-Nya. Tentu saja yang datang kepada Yesus ada pula yang ingin disembuhkan. Biasanya Yesus selalu menyambut siapa saja yang datang kepada-Nya, tetapi kali ini Yesus memilih untuk mengundurkan diri. Bukan Yesus menolak kehadiran orang banyak tetapi karena Yesus pergi menyendiri ke tempat yang sunyi untuk berdoa. Dokter Lukas menulis peristiwa ini sebagai bagian dari Injil ingin menjelaskan pentingnya doa dalam kehidupan dan pelayanan Yesus.

Semua hal-hal penting dalam kehidupan Yesus selalu berhubungan dengan kehidupan doa:

  • Ketika Yesus dibaptis dalam keadaan berdoa terbukalah langit (Lukas 3:22).
  • Sebelum memilih murid-murid-Nya Yesus lebih dulu berdoa hingga semalam-malaman (Lukas 6:12).

Yesus betul-betul tak pernah melakukan kegiatan tanpa berdoa. Dan berbeda dengan 3 penulis Injil lainnya Lukas memberi tekanan yang jelas terhadap kehidupan doa Yesus. Tiga(3) penulis Injil lainnya pun menjelaskan bahwa Yesus berdoa juga tetapi tidak sedetail dokter Lukas. bahkan setelah bangkit dari kematian pun Lukas mencatat bahwa Yesus berdoa saat makan bersama murid-muridnya (Lukas 24:30).

Ada yang menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan, mengapa dia harus berdoa? Paling tidak kehidupan doa Yesus ini menjelaskan dua hal yang penting:

  1. Yesus berdoa karena dia betul-betul menjadi manusia yang bergantung sepenuhnya kepada Allah. Yesus tidak pura-pura menjadi manusia bukan pula manusia setengah Tuhan.
  2. Yesus berdoa untuk memberikan keteladanan kepada murid-murid-Nya. Yesus yang menjadi manusia harus terus hidup bersekutu dengan Bapa. Dengan sangat jelas Yesus memberi teladan bahwa keindahan hidup manusia adalah hidup bersekutu dengan Allah melalui doa. Karena tidak mungkin kita punya kehidupan rohani yang sehat tanpa kehidupan doa. (MT)

Minggu 02 Februari 2020


PESAN MINGGU INI 26 JANUARI 2020

MENGHIDUPI AMANAT AGUNG (BAGIAN 3)

2 Korintus 3:2-3 “Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang. Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.”

Rasul Paulus menyatakan bahwa jemaat Korintus yang taat dan setia merupakan surat pujiannya. Pada saat itu sedang marak para pemberita Injil memperoleh surat pujian dari tokoh-tokoh masyarakat tertentu. Surat pujian berfungsi juga sebagai salah satu syarat agar para pemberita Injil di Korintus tidak dihambat dalam melakukan pemberitaan mereka. Para Jemaat yang taat dan setia meminta agar rasul yang mereka cintai, rasul Paulus juga mengurus agar memperoleh surat Pujian, karena sangat berhak dan sangat memenuhi syarat untuk memperolehnya. Tetapi rasul Paulus menolak karena merasa tidak perlu. Surat pujian yang tertulis dalam selembar kertas tidak menambah apa-apa. Karena jemaat yang taat dan setia kepada Injil adalah surat pujian yang nyata. Kalau surat pujian dalam bentuk selembar kertas sangat mungkin dimanipulasi dan disalahgunakan. Tetapi jemaat yang taat dan setia kepada Injil adalah wujud yang nyata karena setiap saat terbuka untuk dibaca oleh semua orang.

Di ayat 3(tiga) sangat memperjelas lagi karena rasul Paulus menghubungkannya dengan konteks yang lebih luas dengan mengatakan “Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus yang ditulis oleh pelayanan kami…”. Ketika Injil diberitakan maka Roh Kudus menuliskan kasih Allah pada hati manusia sehingga menerima Injil dan mentaatinya. Siapa pun yang mentaati Injil Kristus, mereka adalah juga surat Kristus. Hidup mereka terbuka untuk dibaca oleh semua orang. Hidup mereka menjadi suara Injil itu. Demikian juga para pemberita amanat agung. Bila menghidupi amanat agung maka hidupnya menjadi wujud Injil itu akan menjadi pendukung efektif dari pemberitaannya.

Pada era milenial ini, media sosial adalah alat yang sangat banyak membantu tersebarnya Injil. Terkadang saat perdebatan antar agama di media sosial justru berita Injil tersebar dengan baik. Dalam kondisi seperti ini justru mnenghidupi amanat agung berarti hidup kita adalah suara yang perlu didengar dan surat Kristus yang siap dibaca. Tentu saja perlu memperindah karakter agar menjadi suara yang merdu untuk didengar dan surat yang menarik untuk dibaca. (MT)
Minggu 26 Januari 2020


PESAN MINGGU INI 19 JANUARI 2020

MENGHIDUPI AMANAT AGUNG (BAGIAN 2)

Filipi 1:27 “Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil”

Rasul Paulus adalah rasul yang mempraktekkan “Menghidupi Amanat Agung”. Rasul Paulus membela berita Injil bukan hanya melalui argumen yang kuat tetapi melalui kehidupannya sehari-hari. Seperti rasul Paulus, semua pengikut Kristus hendaklah terpanggil untuk membela berita Injil bukan hanya dengan kemampuan berapologi tetapi juga harus melalui kehidupan yang nyata karena menghidupi berita Injil tersebut.

Pengikut Kristus zaman sekarang mungkin juga kurang paham tentang anjuran rasul Paulus agar berjuang untuk iman yang timbul dari berita Injil. Dalam hal ini sesungguhnya rasul Paulus sedang menganjurkan agar semua pengikut Kristus menghidupi berita Injil itu dalam hidup kesehariannya. Rasul Paulus yang betul-betul menghidupi berita Injil itu menyatakan “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21). Pengikut Kristus yang menghidupi berita Injil tidak perlu takut akan kematian, karena tahu secara jelas dan pasti tujuan Allah atas hidupnya. Selanjutnya dalam ayat 22 rasul Paulus menyatakan “Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah…” Artinya bila Allah memberi waktu dan menikmati kehidupan mungkin masih agak jauh ke depan itu artinya haruslah mengemban dan menghidupi amanat agung. Lebih jelasnya lagi dalam ayat 27 rasul Paulus memerintahkan agar “Semua orang percaya atau pengikut Kristus hidup sesuai dengan Injil Kristus”.

Dan hidup sesuai dengan Injil Kristus yang sama dengan menghidupi amanat agung terjabarkan melalui “teguh berdiri dalam satu roh”, artinya adalah:

  • Membangun kesatuan berdasarkan kasih, dalam komunitas pengikut Kristus.
  • Selanjutnya adalah menggalang kerjasama yang kuat untuk mencapai terwujudnya tujuan. Tentu tujuan utamanya adalah agar penjangkauan dapat terwujud.
  • Kemudian berjuang bahu membahu untuk mewujudkan Injil itu dalam sikap agar dapat membela kebenaran Injil terhadap banyak orang di sekitar komunitas orang percaya yang menjadi seteru salib Kristus. Seteru salib Kristus dapat diartikan adalah orang percaya tetapi mencermarkan Injil melalui gaya hidup dan moral yang buruk.

Jadi bagi pengemban amanat agung bila ingin efektif haruslah menghidupi amanat agung. (MT)
Minggu 19 Januari 2020


PESAN MINGGU INI 12 JANUARI 2020

MENGHIDUPI AMANAT AGUNG (BAGIAN 1)

Yohanes 13:34-35 “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.“Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”

Perintah Yesus agar murid-murid-Nya saling mengasihi berlaku untuk semua pengikut Kristus sepanjang zaman. Hal ini sangat prinsip bagi pengemban amanat agung, karena esensi amanat agung adalah mewartakan keagungan kasih Allah kepada manusia berdosa. Jadi sangat mustahil mewartakan keagungan kasih Allah tanpa hati yang mengasihi.

Ketika Yesus memerintahkan pengikut-Nya saling mengasihi tujuan-Nya adalah agar semua pengikut-Nya selalu menjadikan kasih sebagai dasar dari tindakannya. Tuhan memerintahkan para pengikut-Nya mengasihi dengan nilai kasih yang lebih mulia, mulai dari komunitas yang khusus tetapi kemudian menyebar ke semua orang percaya tanpa sekat-sekat denominasi dan sekat-sekat doktrin. Kemudian meluas lagi ke semua orang tanpa memperhitungkan perbedaan suku dan agama. Bila para pengemban amanat agung sudah mendasari pemberitaannya dengan kasih maka dia telah mulai beranjak bukan lagi memberitakan amanat agung tetapi mulai memasuki menghidupi amanat agung. Bila sudah menjadikan kasih ciri khas kehidupan pengikut Kristus, hal itu berarti mulai memberi diri atau berkorban untuk kebaikan dan keselamatan orang yang dikasihi.

Dalam Injil Lukas pasal 15 Tuhan Yesus mengajar murid-murid-Nya menggunakan tiga perumpamaan yaitu:

  1. Domba yang hilang
  2. Dirham yang hilang dan
  3. Anak yang hilang

Tema ketiga perumpamaan ini adalah bahwa Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Sekaligus menjelaskan tujuan misi Yesus adalah menyelamatkan orang terhilang yang berlaku abadi. Kegiatan mencari yang terhilang adalah tindakan yang harus didasari oleh kasih. Allah mengutus pengikut-Nya yang memiliki belas kasih yang begitu besar terhadap manusia yang hidup dalam dosa dan mati secara rohani.

Dalam perumpamaan anak yang terhilang menjelaskan seorang ayah yang selalu menunggu kepulangan anaknya yang pergi jauh tanpa tujuan yang jelas. Sebagai seorang ayah yang mengasihi anaknya tentu dengan kesedihan yang dalam mengharapkan kepulangan anaknya. Seperti inilah kondisi hati seorang yang menghidupkan amanat agung. Seluruh upaya untuk memberitakan amanat agung didasari dan digerakkan oleh kasih kepada orang terhilang karena hilang persekutuan dengan Allah. (MT)
Minggu 12 Januari 2020


PESAN MINGGU INI 05 JANUARI 2020

MENGHIDUPI AMANAT AGUNG

Kisah Para Rasul 1:8 “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Dalam Injil Matius dan Markus, Tuhan Yesus memberi Amanat Agung kepada murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil keseluruh dunia. Dalam hal ini memberitakan Injil adalah amanah yang harus diperkatakan.

  • Injil sebagai kabar baik yang sangat memberkati orang yang percaya, tidak boleh dinikmati sendiri. Haruslah dibagikan ke orang lain dengan cara memberitakan atau memperkatakan.
  • Injil yang diberitakan tentu haruslah menawarkan keselamatan dalam Kristus dan berpusat pada pertobatan dan pengampunan dosa. Orang percaya itu tidak cukup mengaku tetapi harus dibuktikan dengan tindakan nyata yaitu dibaptis untuk memproklamirkan imannya sebagai anak Tuhan.

Pemberitaan Injil dalam Injil Lukas, Yesus tidak memerintahkan murid-murid-Nya secara langsung untuk pergi memberitakan Injil. Yesus hanya berkata kepada murid-murid-Nya “Dan lagi dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya itu” (Lukas 24:47-48).

Dalam hal ini Yesus menandaskan bahwa pengampunan dosa dan anugerah keselamatan haruslah disertai dengan tuntutan pertobatan. Pertobatan adalah pembuktian penyerahan total dan pernyataan rasa syukur yang tak terhingga atas anugerah keselamatan dari Allah. Rasul Yohanes dalam Injil-Nya juga, tidak mencatat tentang perintah Yesus untuk memberitakan Injil kepada murid-murid-Nya. Tetapi Yesus berkata dalam Yohanes 20:21 “Maka kata Yesus sekali lagi: Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku demikian juga sekarang Aku mengutus kamu”. Jadi Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil. Kesimpulannya keempat Injil menuliskan perintah Yesus agar murid-murid-Nya melaksanakan Amanat Agung.

Dalam Kisah Rasul Yesus memperlengkapi murid-murid-Nya dengan kuasa Roh Kudus agar pengikut Kristus hidup menjadi “Saksi Kristus”. Menjadi saksi Kristus tentu saja memberitakan Inijil atau melaksanakan Amanat Agung Kristus. Tetapi bukan saja melaksanakan, karena harus ditindaklanjuti dengan menghidupi Amanat Agung. Saksi Kristus tidak cukup hanya memeberitakan atau melaksanakan perintah Amanat Agung itu, tetapi harus terus menerus menghidupi Amanat Agung itu. Saksi Kristus harus mewujudkan Amanat Agung dalam hidup sehari-hari (MT)
Minggu 05 Januari 2020