PESAN MINGGUAN 2020

Pesan Mingguan Tahun Lalu : Pesan Mingguan 2019 


PESAN MINGGU INI 23 FEBRUARI 2020

ALKITAB ITU SEMPURNA

2 Timotius 3:16 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran”.

Setelah membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu, seorang remaja Kristen yang cerdas membuat pernyataan. Komunikasi umat beriman dengan Allah jauh lebih enak dan indah pada zaman Perjanjian Lama daripada zaman akhir ini. Alasannya adalah di zaman Perjanjian Lama Allah memberi firman-Nya langsung. Seperti zaman Keluaran, Allah menuntun umat-Nya melalui tiang api dan tiang awan. Jadi sangat jelas arah tujuan mereka melangkah. Mereka tahu jelas kapan mereka berhenti dan kapan mereka harus maju. Pada zaman para nabi pun Allah langsung berfirman melalui para nabi untuk disampaikan kepada umat. Jadi sangat komunikatif dan spesifik sehingga mudah ditaati dan pesannya mudah dilakukan. Kalau sekarang kita harus membaca Alkitab yang sangat tebal. Terkadang menentukan bagian mana dulu yang dibaca cukup membingungkan. Belum lagi bahasanya tidak mudah dipahami karena selain mengerti sejarah, kita pun harus mampu mengambil arti dan pesan Alkitab melalui sejarah tersebut. Belum lagi banyak bersifat perumpamaan dan lambang yang membutuhkan pemikiran yang mendalam sulit bukan? Betul juga pemikiran remaja kristen yang baik ini bila dipikir hanya sekilas saja. Tetapi bila dipikir dan dipahami secara terang benderang, maka sesungguhnya zaman modern ini justru berhubungan dengan Allah itu jauh lebih komunikatif.

Anak muda seperti Timotius tentu sangat setuju dengan gurunya Paulus. Alkitab mempunyai manfaat yang lengkap dalam membangun hubungan dengan Tuhan padahal pada zaman Timotius Alkitab belum disatukan, hanya bagian-bagian tertentu saja dan itu pun sangat sulit untuk didapatkan.

  • Zaman sekarang kita mempunyai Alkitab yang lengkap dan sangat mudah didapatkan.
  • Alkitab itu cukup untuk mengajar dan mendidik dalam kebenaran.
  • Alkitab juga cukup untuk memberitahukan kesalahan.
  • Akitab juga adalah standar moral yang memberi kesempatan kepada kita untuk terus belajar. Bila kita menemukan diri tidak sesuai dengan Alkitab diberikan pula kesempatan untuk bertobat dan berusaha lagi untuk mentaatinya.

Jadi para sobat pembaca Alkitab yang setia! Jelas bukan? Justru zaman now hubungan kita dengan Allah justru lebih komunikatif melalui tuntunan Alkitab. Jadi bersyukurlah dengan Alkitab yang saudara miliki. Bacalah sebagai pedoman hidup kita setiap hari Dan lakukanlah! Haleluya. (MT)
Minggu 23 February 2020


PESAN MINGGU INI 16 FEBRUARI 2020

STANDAR ALLAH

Matius 5:8 “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”

John Calvin berkata, saat seseorang mendekat kepada Allah, dia akan peka dan terganggu kepada dosa yang sekecil apapun. Dan saat seseorang peka terhadap dosa, dia telah mengarahkan hidupnya untuk hidup suci. Perlu pula diingat bahwa hidup yang mendekat kepada Allah bukanlah sesuatu yang otomatis melainkan melalui proses yang bisa singkat bisa juga lama, tetapi yang pasti haruslah terus menerus dan berkesinambungan. Jadi semua kita haruslah terus berusaha hidup mendekat kepada Allah sebagai syarat mutlak untuk hidup suci. Memiliki hati suci dan kesucian hidup adalah standar Allah. Jadi jelas bahwa standar Allah itu adalah tinggi.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimanakah seorang manusia bisa hidup suci? Untuk menjawab pertanyaan ini perlu dijelaskan bahwa hidup suci atau sempurna itu jangan dulu diartikan hidup tanpa kesalahan. Karena yang penting adalah usaha-usaha yang perlu dipraktikkan agar peka terhadap dosa seperti yang dikatakan oleh John Calvin:

  1. Usaha yang perlu dilakukan untuk menjadi hidup suci atau suci hatinya adalah belajar atau mendalami firman Tuhan. Firman Tuhan adalah kebenaran pernyataan kehendak-Nya. Pemazmur mengatakan dalam mazmur 119:11 “Dalam hatiku aku menyimpan janjiMu supaya aku tidak berdosa terhadap Engkau.” Belajar Firman memang harus dengan pemahaman yang benar, dan mengetahui dengan jelas firman Tuhan tetapi haruslah disimpan dalam hati. Bila firman menguasai hati maka kebenaran pula yang menguasai. Hasilnya adalah tidak berdosa kepada Tuhan.
  2. Bergaullah dengan orang yang dekat dengan Tuhan. Artinya jangan salah dalam memilih komunitas. “Jangan kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik” (1 Korintus 15:33). Bila bergaul dengan orang yang dekat dengan Tuhan akan menjadi sangat produktif membangun hidup dengan hati yang tulus dan bersih. Tetapi bila memasuki pergaulan yang buruk artinya bergaul dengan orang yang cenderung melawan Tuhan akan merasuk hidup yang sudah terarah kepada hidup suci.
  3. Berusahalah menemukan seorang anak Tuhan yang mempunyai kapasitas untuk melatih saudara hidup dekat dengan Allah. Dengan kata lain milikilah hati seorang murid, dan jadilah murid yang tekun belajar dari seseorang yang lebih dewasa dalam iman dari saudara.
  4. “Jangan pernah menyerah”. Hidup suci itu adalah perjuangan. Bila gagal berkali-kali jangan menyerah, karena hal itu sudah pasti terjadi. Bila gagal coba lagi dan coba lagi, jangan pernah menyerah untuk hidup suci. Bila terus berusaha Tuhan pasti menyertai untuk memberikan kekuatan untuk hidup suci. Karena hidup suci itu adalah standar Allah. (MT)

Minggu 16 Februari 2020


PESAN MINGGU INI 09 FEBRUARI 2020

DUKACITA DAN KEBAHAGIAAN

Matius 5:4 “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.”

Apa sih hubungan duka cita dengan kebahagiaan? Ah pertanyaan yang aneh dan sulit dijawab tetapi sepertinya dapat dirasakan. Dirasakan bagaimana? bukankah orang yang berdukacita sedang kehilangan kebahagiaan, dan orang yang berbahagia sedang jauh dari dukacita? Wah makin bingung saja ya? Tetapi kata raja Salomo lebih baik berada di rumah duka dari pada di rumah pesta. Padahal bukankah pesta merupakan kebahagiaan yang jelas? Dan duka merupakan kesedihan yang nyata? Sudahlah! Lebih baik kita tanya Yesus mengapa orang berduka cita berbahagia? Ternyata jawaban Yesus adalah “karena mereka akan dihiburkan”.

Untuk menjelaskannya berikut penulis mencoba memandang konsep berduka cita sebagai gaya hidup sehari-hari dalam menjalani kehidupan antara lain:

  1. Berduka cita adalah “hidup sederhana”. Artinya hidup bersahaja walaupun mampu hidup mewah dan bila perlu menjalani hidup glamor. Dalam hal ini dia memilih untuk menahan diri dari keinginan menunjukkan kemampuannya secara finansial dengan cara hidup sederhana. Menahan diri dalam kondisi ini dapat dikategorikan sebagai berduka cita. Hidup sederhana menjadi kebahagiaan karena berhasil memperjuangkan pilihan hidupnya.
  2. Selanjutnya berdukacita dapat diartikan hidup dengan disiplin dan tertib. Hidup disiplin dan tertib itu harus dilatih dan diperjuangkan. Ada kesenangan-kesenangan tertentu yang harus dibuang seperti hidup bermalas-malasan. Ada juga kebiasaan-kebiasaan yang membuat nyaman harus dihilangkan. Dan ada yang penting lagi yaitu ada aturan-aturan yang harus ditaati. Hal itu betul-betul tidak nyaman sebelum gaya hidup disiplin dan tertib itu belum menjadi gaya hidup kita.
  3. Kemudian berdukacita itu adalah melakukan kehendak Tuhan untuk menyenangkan hati-Nya. Suatu gaya hidup benar biarlah Tuhan senang walaupun itu berarti harus mengorbankan kesenangan pribadi. Semua kesenangan pribadi yang bertentangan dengan kebenaran dan kehendak Tuhan tidak boleh dilakukan walaupun hal itu membuat luka yang mendalam.
  4. Akhirnya berdukacita adalah melayani Tuhan dan pekerjaan-Nya. Hal itu berarti memilih hidup melayani bukan untuk dilayani, memilih menjadi seorang pelayan bukan tuan. Untuk melayani Tuhan dan pekerjaan-Nya terkadang juga harus mengorbankan kebebasan untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan diri sendiri.

Jadi berduka cita bisa dalam bentuk memilih hidup sederhana, bisa juga membangun gaya hidup disiplin dan tertib, bisa juga melakukan kehendak Tuhan dan akhirnya melayani Tuhan dan pekerjaan-Nya. Walaupun awalnya berduka cita tetapi bila sudah mencapainya tentu kita berbahagia. (MT)

Minggu 09 Februari 2020


 

PESAN MINGGU INI 02 FEBRUARI 2020

KRISTEN ADALAH UMAT YANG BERDOA

Lukas 5:15-16 “Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.”

Tidak terlalu lama kabar tentang Yesus itu tersebar makin meluas. Padahal itu pada zaman dulu di mana alat komunikasi hanya alami saja. Maksudnya hanya dari mulut ke mulut atau dari seorang ke seorang dengan menggunakan komunikasi cerita. Terkadang terpikir juga seandainya Yesus datang pada zaman now, tentu berita mengenai seluruh karya-Nya akan mendunia dalam hitungan menit. Tetapi untuk apa diandai-andaikan ya? Dalam kondisi jadul saja sudah cukup merepotkan Yesus. Tak henti-hentinya orang banyak datang berbondong-bondong kepada-Nya. Tentu saja yang datang kepada Yesus ada pula yang ingin disembuhkan. Biasanya Yesus selalu menyambut siapa saja yang datang kepada-Nya, tetapi kali ini Yesus memilih untuk mengundurkan diri. Bukan Yesus menolak kehadiran orang banyak tetapi karena Yesus pergi menyendiri ke tempat yang sunyi untuk berdoa. Dokter Lukas menulis peristiwa ini sebagai bagian dari Injil ingin menjelaskan pentingnya doa dalam kehidupan dan pelayanan Yesus.

Semua hal-hal penting dalam kehidupan Yesus selalu berhubungan dengan kehidupan doa:

  • Ketika Yesus dibaptis dalam keadaan berdoa terbukalah langit (Lukas 3:22).
  • Sebelum memilih murid-murid-Nya Yesus lebih dulu berdoa hingga semalam-malaman (Lukas 6:12).

Yesus betul-betul tak pernah melakukan kegiatan tanpa berdoa. Dan berbeda dengan 3 penulis Injil lainnya Lukas memberi tekanan yang jelas terhadap kehidupan doa Yesus. Tiga(3) penulis Injil lainnya pun menjelaskan bahwa Yesus berdoa juga tetapi tidak sedetail dokter Lukas. bahkan setelah bangkit dari kematian pun Lukas mencatat bahwa Yesus berdoa saat makan bersama murid-muridnya (Lukas 24:30).

Ada yang menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan, mengapa dia harus berdoa? Paling tidak kehidupan doa Yesus ini menjelaskan dua hal yang penting:

  1. Yesus berdoa karena dia betul-betul menjadi manusia yang bergantung sepenuhnya kepada Allah. Yesus tidak pura-pura menjadi manusia bukan pula manusia setengah Tuhan.
  2. Yesus berdoa untuk memberikan keteladanan kepada murid-murid-Nya. Yesus yang menjadi manusia harus terus hidup bersekutu dengan Bapa. Dengan sangat jelas Yesus memberi teladan bahwa keindahan hidup manusia adalah hidup bersekutu dengan Allah melalui doa. Karena tidak mungkin kita punya kehidupan rohani yang sehat tanpa kehidupan doa. (MT)

Minggu 02 Februari 2020


PESAN MINGGU INI 26 JANUARI 2020

MENGHIDUPI AMANAT AGUNG (BAGIAN 3)

2 Korintus 3:2-3 “Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang. Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.”

Rasul Paulus menyatakan bahwa jemaat Korintus yang taat dan setia merupakan surat pujiannya. Pada saat itu sedang marak para pemberita Injil memperoleh surat pujian dari tokoh-tokoh masyarakat tertentu. Surat pujian berfungsi juga sebagai salah satu syarat agar para pemberita Injil di Korintus tidak dihambat dalam melakukan pemberitaan mereka. Para Jemaat yang taat dan setia meminta agar rasul yang mereka cintai, rasul Paulus juga mengurus agar memperoleh surat Pujian, karena sangat berhak dan sangat memenuhi syarat untuk memperolehnya. Tetapi rasul Paulus menolak karena merasa tidak perlu. Surat pujian yang tertulis dalam selembar kertas tidak menambah apa-apa. Karena jemaat yang taat dan setia kepada Injil adalah surat pujian yang nyata. Kalau surat pujian dalam bentuk selembar kertas sangat mungkin dimanipulasi dan disalahgunakan. Tetapi jemaat yang taat dan setia kepada Injil adalah wujud yang nyata karena setiap saat terbuka untuk dibaca oleh semua orang.

Di ayat 3(tiga) sangat memperjelas lagi karena rasul Paulus menghubungkannya dengan konteks yang lebih luas dengan mengatakan “Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus yang ditulis oleh pelayanan kami…”. Ketika Injil diberitakan maka Roh Kudus menuliskan kasih Allah pada hati manusia sehingga menerima Injil dan mentaatinya. Siapa pun yang mentaati Injil Kristus, mereka adalah juga surat Kristus. Hidup mereka terbuka untuk dibaca oleh semua orang. Hidup mereka menjadi suara Injil itu. Demikian juga para pemberita amanat agung. Bila menghidupi amanat agung maka hidupnya menjadi wujud Injil itu akan menjadi pendukung efektif dari pemberitaannya.

Pada era milenial ini, media sosial adalah alat yang sangat banyak membantu tersebarnya Injil. Terkadang saat perdebatan antar agama di media sosial justru berita Injil tersebar dengan baik. Dalam kondisi seperti ini justru mnenghidupi amanat agung berarti hidup kita adalah suara yang perlu didengar dan surat Kristus yang siap dibaca. Tentu saja perlu memperindah karakter agar menjadi suara yang merdu untuk didengar dan surat yang menarik untuk dibaca. (MT)
Minggu 26 Januari 2020


PESAN MINGGU INI 19 JANUARI 2020

MENGHIDUPI AMANAT AGUNG (BAGIAN 2)

Filipi 1:27 “Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil”

Rasul Paulus adalah rasul yang mempraktekkan “Menghidupi Amanat Agung”. Rasul Paulus membela berita Injil bukan hanya melalui argumen yang kuat tetapi melalui kehidupannya sehari-hari. Seperti rasul Paulus, semua pengikut Kristus hendaklah terpanggil untuk membela berita Injil bukan hanya dengan kemampuan berapologi tetapi juga harus melalui kehidupan yang nyata karena menghidupi berita Injil tersebut.

Pengikut Kristus zaman sekarang mungkin juga kurang paham tentang anjuran rasul Paulus agar berjuang untuk iman yang timbul dari berita Injil. Dalam hal ini sesungguhnya rasul Paulus sedang menganjurkan agar semua pengikut Kristus menghidupi berita Injil itu dalam hidup kesehariannya. Rasul Paulus yang betul-betul menghidupi berita Injil itu menyatakan “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21). Pengikut Kristus yang menghidupi berita Injil tidak perlu takut akan kematian, karena tahu secara jelas dan pasti tujuan Allah atas hidupnya. Selanjutnya dalam ayat 22 rasul Paulus menyatakan “Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah…” Artinya bila Allah memberi waktu dan menikmati kehidupan mungkin masih agak jauh ke depan itu artinya haruslah mengemban dan menghidupi amanat agung. Lebih jelasnya lagi dalam ayat 27 rasul Paulus memerintahkan agar “Semua orang percaya atau pengikut Kristus hidup sesuai dengan Injil Kristus”.

Dan hidup sesuai dengan Injil Kristus yang sama dengan menghidupi amanat agung terjabarkan melalui “teguh berdiri dalam satu roh”, artinya adalah:

  • Membangun kesatuan berdasarkan kasih, dalam komunitas pengikut Kristus.
  • Selanjutnya adalah menggalang kerjasama yang kuat untuk mencapai terwujudnya tujuan. Tentu tujuan utamanya adalah agar penjangkauan dapat terwujud.
  • Kemudian berjuang bahu membahu untuk mewujudkan Injil itu dalam sikap agar dapat membela kebenaran Injil terhadap banyak orang di sekitar komunitas orang percaya yang menjadi seteru salib Kristus. Seteru salib Kristus dapat diartikan adalah orang percaya tetapi mencermarkan Injil melalui gaya hidup dan moral yang buruk.

Jadi bagi pengemban amanat agung bila ingin efektif haruslah menghidupi amanat agung. (MT)
Minggu 19 Januari 2020


PESAN MINGGU INI 12 JANUARI 2020

MENGHIDUPI AMANAT AGUNG (BAGIAN 1)

Yohanes 13:34-35 “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.“Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”

Perintah Yesus agar murid-murid-Nya saling mengasihi berlaku untuk semua pengikut Kristus sepanjang zaman. Hal ini sangat prinsip bagi pengemban amanat agung, karena esensi amanat agung adalah mewartakan keagungan kasih Allah kepada manusia berdosa. Jadi sangat mustahil mewartakan keagungan kasih Allah tanpa hati yang mengasihi.

Ketika Yesus memerintahkan pengikut-Nya saling mengasihi tujuan-Nya adalah agar semua pengikut-Nya selalu menjadikan kasih sebagai dasar dari tindakannya. Tuhan memerintahkan para pengikut-Nya mengasihi dengan nilai kasih yang lebih mulia, mulai dari komunitas yang khusus tetapi kemudian menyebar ke semua orang percaya tanpa sekat-sekat denominasi dan sekat-sekat doktrin. Kemudian meluas lagi ke semua orang tanpa memperhitungkan perbedaan suku dan agama. Bila para pengemban amanat agung sudah mendasari pemberitaannya dengan kasih maka dia telah mulai beranjak bukan lagi memberitakan amanat agung tetapi mulai memasuki menghidupi amanat agung. Bila sudah menjadikan kasih ciri khas kehidupan pengikut Kristus, hal itu berarti mulai memberi diri atau berkorban untuk kebaikan dan keselamatan orang yang dikasihi.

Dalam Injil Lukas pasal 15 Tuhan Yesus mengajar murid-murid-Nya menggunakan tiga perumpamaan yaitu:

  1. Domba yang hilang
  2. Dirham yang hilang dan
  3. Anak yang hilang

Tema ketiga perumpamaan ini adalah bahwa Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Sekaligus menjelaskan tujuan misi Yesus adalah menyelamatkan orang terhilang yang berlaku abadi. Kegiatan mencari yang terhilang adalah tindakan yang harus didasari oleh kasih. Allah mengutus pengikut-Nya yang memiliki belas kasih yang begitu besar terhadap manusia yang hidup dalam dosa dan mati secara rohani.

Dalam perumpamaan anak yang terhilang menjelaskan seorang ayah yang selalu menunggu kepulangan anaknya yang pergi jauh tanpa tujuan yang jelas. Sebagai seorang ayah yang mengasihi anaknya tentu dengan kesedihan yang dalam mengharapkan kepulangan anaknya. Seperti inilah kondisi hati seorang yang menghidupkan amanat agung. Seluruh upaya untuk memberitakan amanat agung didasari dan digerakkan oleh kasih kepada orang terhilang karena hilang persekutuan dengan Allah. (MT)
Minggu 12 Januari 2020


PESAN MINGGU INI 05 JANUARI 2020

MENGHIDUPI AMANAT AGUNG

Kisah Para Rasul 1:8 “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Dalam Injil Matius dan Markus, Tuhan Yesus memberi Amanat Agung kepada murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil keseluruh dunia. Dalam hal ini memberitakan Injil adalah amanah yang harus diperkatakan.

  • Injil sebagai kabar baik yang sangat memberkati orang yang percaya, tidak boleh dinikmati sendiri. Haruslah dibagikan ke orang lain dengan cara memberitakan atau memperkatakan.
  • Injil yang diberitakan tentu haruslah menawarkan keselamatan dalam Kristus dan berpusat pada pertobatan dan pengampunan dosa. Orang percaya itu tidak cukup mengaku tetapi harus dibuktikan dengan tindakan nyata yaitu dibaptis untuk memproklamirkan imannya sebagai anak Tuhan.

Pemberitaan Injil dalam Injil Lukas, Yesus tidak memerintahkan murid-murid-Nya secara langsung untuk pergi memberitakan Injil. Yesus hanya berkata kepada murid-murid-Nya “Dan lagi dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya itu” (Lukas 24:47-48).

Dalam hal ini Yesus menandaskan bahwa pengampunan dosa dan anugerah keselamatan haruslah disertai dengan tuntutan pertobatan. Pertobatan adalah pembuktian penyerahan total dan pernyataan rasa syukur yang tak terhingga atas anugerah keselamatan dari Allah. Rasul Yohanes dalam Injil-Nya juga, tidak mencatat tentang perintah Yesus untuk memberitakan Injil kepada murid-murid-Nya. Tetapi Yesus berkata dalam Yohanes 20:21 “Maka kata Yesus sekali lagi: Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku demikian juga sekarang Aku mengutus kamu”. Jadi Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil. Kesimpulannya keempat Injil menuliskan perintah Yesus agar murid-murid-Nya melaksanakan Amanat Agung.

Dalam Kisah Rasul Yesus memperlengkapi murid-murid-Nya dengan kuasa Roh Kudus agar pengikut Kristus hidup menjadi “Saksi Kristus”. Menjadi saksi Kristus tentu saja memberitakan Inijil atau melaksanakan Amanat Agung Kristus. Tetapi bukan saja melaksanakan, karena harus ditindaklanjuti dengan menghidupi Amanat Agung. Saksi Kristus tidak cukup hanya memeberitakan atau melaksanakan perintah Amanat Agung itu, tetapi harus terus menerus menghidupi Amanat Agung itu. Saksi Kristus harus mewujudkan Amanat Agung dalam hidup sehari-hari (MT)
Minggu 05 Januari 2020