PESAN MINGGUAN 2020

Pesan Mingguan Tahun Lalu : Pesan Mingguan 2019 


PESAN MINGGU INI 12 APRIL 2020

NEW LIFE – NEW HOPE (2)

1 Korintus 15:13-14 “Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.”
1 Korintus 15:19 “Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.”

Kelompok Saduki adalah kelompok yang cukup berpengaruh pada saat Yesus menjalankan misinya di bumi. Kelompok Saduki adalah kelompok yang tidak percaya dan menentang kebangkitan orang mati. Orang Saduki tidak percaya akan adanya malaikat dan roh. Keyakinan inilah yang sering menjadi alasan mereka menentang ajaran Yesus. Pengaruh Saduki inilah yang membuat orang percaya pada zaman rasul-rasul banyak juga yang tidak percaya kebangkitan badani Yesus Kristus. Yang tidak percaya kebangkitan badani Tuhan Yesus ini tetap percaya kepada Yesus tetap juga berharap atau menaruh pengharapan kepada Yesus, tetapi hanya dalam hidup ini saja.

Untuk menanggapi keyakinan yang menyimpang ini maka rasul Paulus memberi tanggapan untuk meluruskannya. Rasul Paulus menyatakan jika Yesus tidak dibangkitkan maka tidak akan ada kelepasan dari dosa jadi sangat jelas bila menolak objektivitas kebangkitan Kristus sama saja menyangkal iman Kristen karena hal itu berarti menentang Allah dan firman-Nya.

Rasul Paulus pun secara tegas menyatakan justru kebangkitan Yesus itu memberikan pengharapan baru bagi orang percaya. Pengharapan baru yang dimaksud adalah:

  • Pengharapan yang lengkap yaitu pengharapan dalam hidup ini di sini
  • Dan kini juga pengharapan kelak dan abadi yaitu pengharapan setelah kematian tubuh yang fana ini.

Pengharapan dalam hidup ini di sini dan kini melalui kebangkitan Yesus adalah kepastian penyertaannya dalam menjalani hidup sehari-hari. Rasul Paulus menandaskan bahwa meyakini fakta kebangkitan Yesus memberi pengharapan baru, karena oleh penyertaannya di dunia ini dan kini orang percaya hidup lebih dari pemenang Roma 8:31-39. Hal itu akan menjadi pengalaman nyata bila orang percaya tak terpisahkan oleh kesulitan apapun dari kasih Kristus. Tetapi pengharapan baru utama dapat kita temukan melalui pernyataan terus terang oleh Rasul Paulus. Kalau kita hanya berharap untuk masa kini dalam hidup ini saja pada Yesus Kristus kita adalah orang malang. Kristus adalah yang sulung dibangkitkan atau bangkit dari kematian.

Jadi orang percaya akan memperoleh kebangkitan setelah kematian untuk hidup bersama Yesus dalam keabadian yang penuh sukacita dan kebahagiaan abadi. (MT)
Minggu 12 April 2020


PESAN MINGGU INI 05 APRIL 2020

NEW LIFE – NEW HOPE

1 Petrus 1:3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar yang telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan”

Kematian Yesus adalah fakta. Yesus tidak pura-pura mati, bukan pula mati suri seperti anggapan banyak orang yang menempatkan diri sebagai seteru Yesus Kristus. Padahal bagi seteru Kristus seharusnya kematian Yesus Kristus dapat dijadikan menjadi titik lemah untuk menyimpulkan bahwa Yesus Kristus bukanlah Tuhan. Tetapi nyatanya para seteru Yesus Kristus justru berusaha mengatakan bahwa Yesus tidak pernah mati. Ada pula kelompok seteru Yesus Kristus yang berusaha memberi keterangan palsu dengan mengatakan Yesus tidak bangkit. Dalam Injil Matius 28:11-15, menjelaskan bahwa Mahkamah Agama menyogok penjaga kuburan yang menyaksikan Yesus bangkit agar menyebarkan berita bohong. Berita bohong itu adalah, mengatakan bahwa mayat Yesus dicuri murid-murid-Nya.

Jadi jelas bahwa bagi seteru Kristus kematian dan kebangkitan Yesus adalah sangat penting untuk menyerang ke Tuhanan Yesus. Hal itu sangat masuk akal. Karena menyangkali salah satu di ntaranya sama saja menyangkali kedua-duanya. Tidak ada kebangkitan tanpa kematian dan tidak ada arti kematian tanpa kebangkitan. Bagi Pengikut Kristus kematian dan kebangkitan Yesus bukan hanya satu kesatuan, bukan pula sangat penting sebagai pembuktian keTuhanan Yesus. Kematian dan kebangkitan Yesus mempunyai makna yang memberi kehidupan dan pengharapan yang baru dan abadi. Kematian Yesus saja sudah mengandung makna yang dalam karena memberi hidup dan pengharapan yang baru bagi semua orang yang percaya kepada-Nya.

Rasul Paulus menjelaskannya kepada jemaat Roma (Roma 6:3-14):

  1. Kematian Yesus membawa orang percaya hidup dalam hidup yang baru. Karena kalau kita hidup dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga menjadi satu dengan kebangkitan-Nya. Hidup yang sama dengan kematian Yesus adalah mati bagi dosa atau kematian terhadap dosa. Yesus mati adalah untuk mengalahkan kematian. Jadi orang percaya yang manunggal dengan kematian Yesus akan bebas dari kuasa dosa untuk hidup dalam hidup yang baru. Hal itu berarti orang percaya bukan lagi hidup untuk dosa karena sudah mati terhadap dosa. Orang percaya diberi kuasa mematikan perbuatan-perbuatan buruk tubuh ini dengan tetap semangat menjalankan hidup yang baru dalam ketaatan kepada Allah.
  2. Kematian Yesus membawa orang percaya hidup dalam pengharapan yang baru. Karena kematian Yesus didasari oleh kasih-Nya untuk menyelamatkan manusia dari kematian sebagai hukum akibat dosa. (MT)

Minggu 05 April 2020


PESAN MINGGU INI 29 MARET 2020

MENGHIDUPI KEDAULATAN ALLAH

Ayub 1:12 “Maka firman TUHAN kepada Iblis: “Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya. Kemudian pergilah Iblis dari hadapan TUHAN.”

Tidak mudah menemukan seseorang yang saleh dan jujur, takut kepada Allah dan menjauhi kejahatan seperti Ayub. Walaupun sulit menemukannya faktanya ada. Jadi sepanjang sejarah manusia, selalu ada seperti Ayub. Lagipula cerita Ayub ini sebenarnya ditulis untuk mengajarkan bahwa kita semua punya potensi hidup seperti Ayub. Jadi kalau Ayub bisa saudara pun bisa. Saudara dan saya bisa hidup saleh, jujur, takut kepada Allah dan menjauhi kejahatan, asal saja terus mau belajar dan memasuki proses serta hidup dekat kepada Allah. Ayub juga sangat peduli dengan kesejahteraan dan kerohanian anak-anaknya. Dia memperhatikan kelakuan dan gaya hidup mereka dan mendoakan agar terpelihara dalam perlindungan Allah dan tidak terlibat kepada perilaku yang jahat. Ayub adalah contoh seorang ayah yang menyediakan waktu untuk memperhatikan keluarganya agar semua anggota keluarganya terhindar dari gaya hidup berdosa.

Bila kita baca seluruh kitab Ayub kita akan temukan hal-hal buruk yang menimpa Ayub, tetapi Ayub tetap setia kepada Allah. Ayub tidak mengetahui percakapan Allah dengan iblis mengenai dirinya. Ayub menjadi penderita bukan karena bersalah tetapi sebagai kelinci percobaan iblis untuk menguji kesetiaan seorang anak Tuhan atau umat beriman yang baik. Allah mengizinkan iblis mencelakai Ayub dan keluarganya adalah suatu hal yang sulit kita terima. Tetapi itulah kedaulatan Allah yang harus kita hidupi. Allah bukan saja menguji iman Ayub tetapi juga menguji iman umat Tuhan sepanjang sejarah. Sekarang kita sudah harus tahu secara jelas bahwa Allah berdaulat mengizinkan iblis mencobai umat beriman. Tetapi jangan kuatir karena Allah membatasi iblis. Jadi iblis tetap berada di bawah kendali Allah.

Ayub yang tidak tahu dialog Allah dengan iblis dan menjadikan Ayub jadi objek, ternyata sangat tunduk kepada kedaulatan Allah. Ayub menghidupi kedaulatan Allah melalui dua pernyataan yang tetap relevan sepanjang zaman.:

  1. Pernyataan pertama Ayub berkata “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku dengan telanjang pula aku kembali kepada-Nya, Tuhan yang memberi Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan” (Ayub 1:21).
  2. Pernyataan kedua Ayub berkata “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah tetapi tidak mau menerima yang buruk” (Ayub 2:10).

Ayub tidak tahu pertarungan Allah dan iblis. Maka kita seharusnya lebih menghidupi kedaulatan Allah. (MT)
Minggu 29 Maret 2020


PESAN MINGGU INI 22 MARET 2020

MENGHIDUPI KASIH KRISTUS

Galatia 2:20 “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Rasul Paulus mempunyai kasih yang sangat dalam kepada Kristus. Bila Rasul Paulus memberi gambaran hubungannya dengan Kristus selalu dari segi kasih sayang pribadi yang sangat mendalam dan ketergantungannya kepada Kristus. Tidak ada sedikitpun keraguan dari Rasul Paulus untuk menyatakan kesatuannya dengan kematian dan kebangkitan Kristus. Rasul Paulus adalah teladan sejati dalam hal menghidupi kasih Kristus.

Rasul Paulus yang dibesarkan dalam tuntunan hukum Taurat telah terbentuk menjadi agamawan sejati. Tetapi setelah dia bertemu dengan Tuhan Yesus dia betul-betul menjadi seorang yang berbeda. Dia menyimpulkan bahwa dia telah mati terhadap hukum Taurat yang membuatnya hanya sebagai orang beragama semata. Rasul Paulus menyimpulkan beragama saja tidak memadai untuk memperoleh keselamatan. Karena faktanya hukum Taurat telah melahirkan umat beragama yang menjadi seteru salib Kristus. Itulah yang ingin diungkapkan oleh Rasul Paulus lewat pernyataannya adapun hidupku ini bukannya aku lagi.

Paulus yang telah terbentuk hukum Taurat sebagai umat beragama sudah lewat dan berlalu. Dia yang menghidupi Taurat telah mati terhadap hukum Taurat. Dan sekarang dia telah menghidupi Kristus atau hidup untuk Allah melalui Kristus. Cukup lama Rasul Paulus hidup dalam kekakuan doktrin agama yang membentuknya mampu melakukan tindakan kejam kepada siapapun yang dianggapnya melakukan pelanggaran terhadap hukum agama. Di luar Kristus dia menjadi sangat fanatik tetapi melalui pertemuan dengan Kristus Dia merasakan indahnya kehidupan. Ternyata agama saja belum cukup harus dilanjutkan dengan hidup bersekutu dengan Allah di dalam dan melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Rasul Paulus mewujudkan kasihnya kepada Kristus melalui pengabdian dan kesetiaannya. Kepada Jemaat di filipi Rasul Paulus mengungkapkan kasihnya kepada Kristus dengan berkata “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21). Suatu pernyataan jujur dari Rasul Paulus dari penjara yang setiap saat bisa saja dikeluarkan dari penjara untuk dihukum mati. Tetapi kematian pun tak mampu menghentikan Rasul Paulus untuk memberitakan Injil. Bila kematiannya karena amat agung maka baginya hal itu adalah keuntungan. Itulah hidup seorang Rasul Paulus yang menghidupi kasih Kristus.(MT)
Minggu 22 Maret 2020


PESAN MINGGU INI 15 MARET 2020

MENGHIDUPI FIRMAN ALLAH

Yohanes 15:3-4 “Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku”

Pada suatu pagi yang cerah sengaja aku duduk menghangatkan tubuh di bawah paparan sinar matahari yang terbit dari Timur secara berlahan dan pasti beranjak naik semakin tinggi. Kurasakan sinar matahari itu seakan-akan memberitahukan kepadaku bahwa aku sudah semakin menua. Karena sinar matahari yang semakin cerah itu menunjukkan kepadaku keadaan kulitku yang sudah mulai berkeriput. Dalam paparan sinar matahari itu kuamati kulitku yang bukan saja berkerut tetapi ada bintik-bintik hitam, kata orang itu adalah kulit mati. Akupun berpikir bahwa sesungguhnya kematian itu dimulai dari kulit.

Tiba-tiba aku tersadar, karena sinar matahari yang memberi kehangatan pada tubuhku ternyata menjelaskan juga kepadaku akan keadaan hidupku. Matahari pagi itu bukan saja berhasil menyehatkan tubuhku tetapi berhasil juga menyadarkan akan keadaan hidupku. Pagi itu betul-betul membuatku memahami arti pentingnya sinar matahari. Hal itu terjadi karena aku betul-betul menghidupi dan mendalami hidup dalam dan di bawah paparan sinar matahari. Setelah aku masuk ke rumah segera kubuka Alkitabku dan kubaca bagian Alkitab Injil Yohanes pasal 15.

Pengalamanku hidup di bawah paparan sinar matahari menginspirasiku dalam membaca Alkitab hari ini. Bila menghidupi arti pentingnya matahari telah memberi pengertian mendalam bagiku, maka hari ini pembacaan Alkitab pun terasa lebih hidup dan sungguh menginspirasi. Yesus secara langsung mengatakan Kamu memang sudah bersih karena Firman yang telah kukatakan kepadamu. Tuhan Yesus menyatakan suatu pernyataan akan fungsi utama Firman itu kepada murid-murid-Nya karena murid-murid-Nya sudah menghidupi Firman-Nya dalam hidup sehari-hari. Matahari bukanlah tenaga mistis yang memberi arti dengan sendirinya kepada obyeknya tetapi karena objeknya itu mengambil dan menghidupi fungsi sinar matahari itu dengan baik. Demikian juga firman Tuhan Bukankah tenaga mistik yang mengubah hidup orang percaya. Orang percaya hidup bersih karena Firman, karena orang percaya itu menghidupi Firman. Menghidupi Firman dalam arti mendengar, merenungkan dan mentaati firman Allah dalam hidup sehari-hari. Hal itu berarti menjadikan firman Allah menjadi standar moral dalam bersikap. (MT)
Minggu 15 Maret 2020


PESAN MINGGU INI 08 MARET 2020

HIDUP SESUAI FIRMAN ALLAH

Yosua 1:7 “Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke mana pun engkau pergi”.

Firman Allah adalah anugerah terbesar yang diberikan Allah kepada manusia sebagai standar moral yang benar. Hal itu sudah merupakan jaminan sempurna dalam menjalani kehidupan dalam segala keadaan dan dalam segala situasi. Yosua mengetahui situasi dan keadaan yang sedang mendesak umat Israel dari segala penjuru. Kondisinya adalah bangsa penyembah berhala yang sangat berpotensi mempengaruhi orang Israel. Sedangkan orang Israel boleh disebut masih sangat labil. Mereka sama seperti manusia pada umumnya termasuk orang beriman. Manusia pada umumnya mempunyai naluri menyembah suatu objek yang lebih besar, lebih tinggi dan lebih berkuasa dari dirinya sendiri. Walaupun demikian tetap juga mempunyai keinginan untuk mengendalikan sesembahannya dengan cara menyogok melalui upacara khusus seperti lazimnya praktek para penyembahan berhala.

Berdasarkan pemahamannya inilah Yosua memberi peringatan yang jelas dan tegas kepada orang Israel. Untuk melakukan firman Allah dengan setia haruslah dengan hati yang kuat dan teguh. Artinya berkomitmen melakukan firman Allah. Bila ada masalah bukan menjadi lemah tetapi justru memperbaharui komitmen untuk tetap taat. Hidup sesuai firman Tuhan atau menjadikan firman Tuhan sebagai standar moral haruslah dengan sungguh-sungguh. Bukan coba-coba tetapi haruslah dengan sikap serius dan fokus. Bila menjadikan hidup dikontrol oleh firman Allah pasti membuat diri menjaga perilaku atau bertindak hati-hati. Tidak asal aktif tetapi selalu selektif. Tidak asal banyak aktivitas tetapi selalu menjaga dan membangun integritas. Kitab Yosua adalah kitab yang mencatat secara detail mengenai kesetiaan Allah menggenapi janji-janji-Nya kepada Israel khususnya mengenai tanah Kanaan. Dan Yosua selalu mengarahkan umat agar merespon penggenapan janji-Nya itu dengan sikap mentaati Allah atau hidup sesuai firman Allah. Bila Allah bukan hanya berjanji tetapi juga menggenappi janji-Nya, maka umat-Nya pun jangan hanya mengetahui tetapi juga hendaklah melakukan firman-Nya. Bukan, melakukannya sebagai kewajiban agamawi tetapi menghidupinya dalam perilaku sehari-hari. Bila kita melakukan Firman atau hidup sesuai firman Allah kitalah yang berbahagia, karena Allah memberi firman-Nya adalah untuk kesejahteraan umat-Nya. (MT)
Minggu 08 Maret 2020


PESAN MINGGU INI 01 MARET 2020

MENJADI BERKAT

Kejadian 12:3 “Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat”

Ayat firman Tuhan di atas merupakan nubuat kedua tentang kedatangan Yesus ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari hukum dosa. Jadi dalam Alkitab Kejadian saja nubuat tentang kedatangan Yesus sudah dicetuskan secara jelas hingga dua kali. Berkat yang akan disalurkan melalui keturunan Abraham adalah berkat rohani yaitu tentang keselamatan dan penyertaan Allah yang dianugerahkan kepada orang yang percaya. Rasul Paulus menegaskan kepada jemaat Galatia, bahwa keturunan yang dimaksud adalah Yesus, walaupun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan “kepada keturunan-keturunannya, seolah-olah dimaksud banyak orang tetapi hanya satu orang dan kepada Keturunanmu, yaitu Kristus” (Galatia 3:16).

Janji Allah kepada Abraham hidup menjadi berkat telah mengungkapkan tujuan pemberitaan Injil. Tujuan Injil sejak awal sudah dinyatakan adalah untuk memberkati segala bangsa dengan keselamatan dan kemurahan Allah. Allah tetap menjalankan tujuan-Nya itu melalui Yesus Kristus. Dan setelah Yesus naik ke surga maka berkat itu akan terus tersebar melalui gereja-Nya sebagai penyandang berkat itu melalui pelaksanaan Amanat Agung. Panggilan untuk melaksanakan Amanat Agung sama dengan panggilan Abraham untuk menjadi berkat. Menjadi berkat karena anugerah dan penyertaan Allah. Jadi panggilan ini bukan hanya terdiri dari janji tetapi juga atas berbagai kewajiban. Allah meminta agar penerima janji itu taat Firman serta melakukan penyerahan hidup yang total kepada Allah. Janji dan berkat Allah kepada Abraham bukan hanya untuk keturunannya tetapi juga menjangkau semua bangsa. Karena semua orang yang beriman seperti Abraham adalah anak-anak Abraham. Sebagai anak-anak Abraham berarti janji Allah memberkatinya berlaku juga. Tetapi tidak berhenti untuk diberkati harus pula dilanjutkan menjadi berkat.

Jadi kalimat diberkati untuk memberkati dan memperoleh berkat untuk menjadi berkat adalah pernyataan yang Alkitabiah. Diberkati dan memperoleh berkat tentu saja tidak perlu diperjuangkan karena hal itu adalah pemberian atau anugerah Allah. Tetapi memberkati dan menjadi berkat haruslah sesuatu yang dibangun dan diperjuangkan. Memberkati adalah suatu perbuatan baik dan benar yang harus dilakukan berdasarkan kasih untuk menolong orang lain salah satu adalah memberitakan Amanat Agung. Sedangkan menjadi berkat adalah membangun karakter mulia agar selalu mempunyai hubungan benar dan baik kepada orang lain dengan demikian kita sudah menghidupi Amanat Agung yang kita beritakan.(MT)
Minggu 01 Maret 2020


PESAN MINGGU INI 23 FEBRUARI 2020

ALKITAB ITU SEMPURNA

2 Timotius 3:16 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran”.

Setelah membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu, seorang remaja Kristen yang cerdas membuat pernyataan. Komunikasi umat beriman dengan Allah jauh lebih enak dan indah pada zaman Perjanjian Lama daripada zaman akhir ini. Alasannya adalah di zaman Perjanjian Lama Allah memberi firman-Nya langsung. Seperti zaman Keluaran, Allah menuntun umat-Nya melalui tiang api dan tiang awan. Jadi sangat jelas arah tujuan mereka melangkah. Mereka tahu jelas kapan mereka berhenti dan kapan mereka harus maju. Pada zaman para nabi pun Allah langsung berfirman melalui para nabi untuk disampaikan kepada umat. Jadi sangat komunikatif dan spesifik sehingga mudah ditaati dan pesannya mudah dilakukan. Kalau sekarang kita harus membaca Alkitab yang sangat tebal. Terkadang menentukan bagian mana dulu yang dibaca cukup membingungkan. Belum lagi bahasanya tidak mudah dipahami karena selain mengerti sejarah, kita pun harus mampu mengambil arti dan pesan Alkitab melalui sejarah tersebut. Belum lagi banyak bersifat perumpamaan dan lambang yang membutuhkan pemikiran yang mendalam sulit bukan? Betul juga pemikiran remaja kristen yang baik ini bila dipikir hanya sekilas saja. Tetapi bila dipikir dan dipahami secara terang benderang, maka sesungguhnya zaman modern ini justru berhubungan dengan Allah itu jauh lebih komunikatif.

Anak muda seperti Timotius tentu sangat setuju dengan gurunya Paulus. Alkitab mempunyai manfaat yang lengkap dalam membangun hubungan dengan Tuhan padahal pada zaman Timotius Alkitab belum disatukan, hanya bagian-bagian tertentu saja dan itu pun sangat sulit untuk didapatkan.

  • Zaman sekarang kita mempunyai Alkitab yang lengkap dan sangat mudah didapatkan.
  • Alkitab itu cukup untuk mengajar dan mendidik dalam kebenaran.
  • Alkitab juga cukup untuk memberitahukan kesalahan.
  • Akitab juga adalah standar moral yang memberi kesempatan kepada kita untuk terus belajar. Bila kita menemukan diri tidak sesuai dengan Alkitab diberikan pula kesempatan untuk bertobat dan berusaha lagi untuk mentaatinya.

Jadi para sobat pembaca Alkitab yang setia! Jelas bukan? Justru zaman now hubungan kita dengan Allah justru lebih komunikatif melalui tuntunan Alkitab. Jadi bersyukurlah dengan Alkitab yang saudara miliki. Bacalah sebagai pedoman hidup kita setiap hari Dan lakukanlah! Haleluya. (MT)
Minggu 23 February 2020


PESAN MINGGU INI 16 FEBRUARI 2020

STANDAR ALLAH

Matius 5:8 “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”

John Calvin berkata, saat seseorang mendekat kepada Allah, dia akan peka dan terganggu kepada dosa yang sekecil apapun. Dan saat seseorang peka terhadap dosa, dia telah mengarahkan hidupnya untuk hidup suci. Perlu pula diingat bahwa hidup yang mendekat kepada Allah bukanlah sesuatu yang otomatis melainkan melalui proses yang bisa singkat bisa juga lama, tetapi yang pasti haruslah terus menerus dan berkesinambungan. Jadi semua kita haruslah terus berusaha hidup mendekat kepada Allah sebagai syarat mutlak untuk hidup suci. Memiliki hati suci dan kesucian hidup adalah standar Allah. Jadi jelas bahwa standar Allah itu adalah tinggi.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimanakah seorang manusia bisa hidup suci? Untuk menjawab pertanyaan ini perlu dijelaskan bahwa hidup suci atau sempurna itu jangan dulu diartikan hidup tanpa kesalahan. Karena yang penting adalah usaha-usaha yang perlu dipraktikkan agar peka terhadap dosa seperti yang dikatakan oleh John Calvin:

  1. Usaha yang perlu dilakukan untuk menjadi hidup suci atau suci hatinya adalah belajar atau mendalami firman Tuhan. Firman Tuhan adalah kebenaran pernyataan kehendak-Nya. Pemazmur mengatakan dalam mazmur 119:11 “Dalam hatiku aku menyimpan janjiMu supaya aku tidak berdosa terhadap Engkau.” Belajar Firman memang harus dengan pemahaman yang benar, dan mengetahui dengan jelas firman Tuhan tetapi haruslah disimpan dalam hati. Bila firman menguasai hati maka kebenaran pula yang menguasai. Hasilnya adalah tidak berdosa kepada Tuhan.
  2. Bergaullah dengan orang yang dekat dengan Tuhan. Artinya jangan salah dalam memilih komunitas. “Jangan kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik” (1 Korintus 15:33). Bila bergaul dengan orang yang dekat dengan Tuhan akan menjadi sangat produktif membangun hidup dengan hati yang tulus dan bersih. Tetapi bila memasuki pergaulan yang buruk artinya bergaul dengan orang yang cenderung melawan Tuhan akan merasuk hidup yang sudah terarah kepada hidup suci.
  3. Berusahalah menemukan seorang anak Tuhan yang mempunyai kapasitas untuk melatih saudara hidup dekat dengan Allah. Dengan kata lain milikilah hati seorang murid, dan jadilah murid yang tekun belajar dari seseorang yang lebih dewasa dalam iman dari saudara.
  4. “Jangan pernah menyerah”. Hidup suci itu adalah perjuangan. Bila gagal berkali-kali jangan menyerah, karena hal itu sudah pasti terjadi. Bila gagal coba lagi dan coba lagi, jangan pernah menyerah untuk hidup suci. Bila terus berusaha Tuhan pasti menyertai untuk memberikan kekuatan untuk hidup suci. Karena hidup suci itu adalah standar Allah. (MT)

Minggu 16 Februari 2020


PESAN MINGGU INI 09 FEBRUARI 2020

DUKACITA DAN KEBAHAGIAAN

Matius 5:4 “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.”

Apa sih hubungan duka cita dengan kebahagiaan? Ah pertanyaan yang aneh dan sulit dijawab tetapi sepertinya dapat dirasakan. Dirasakan bagaimana? bukankah orang yang berdukacita sedang kehilangan kebahagiaan, dan orang yang berbahagia sedang jauh dari dukacita? Wah makin bingung saja ya? Tetapi kata raja Salomo lebih baik berada di rumah duka dari pada di rumah pesta. Padahal bukankah pesta merupakan kebahagiaan yang jelas? Dan duka merupakan kesedihan yang nyata? Sudahlah! Lebih baik kita tanya Yesus mengapa orang berduka cita berbahagia? Ternyata jawaban Yesus adalah “karena mereka akan dihiburkan”.

Untuk menjelaskannya berikut penulis mencoba memandang konsep berduka cita sebagai gaya hidup sehari-hari dalam menjalani kehidupan antara lain:

  1. Berduka cita adalah “hidup sederhana”. Artinya hidup bersahaja walaupun mampu hidup mewah dan bila perlu menjalani hidup glamor. Dalam hal ini dia memilih untuk menahan diri dari keinginan menunjukkan kemampuannya secara finansial dengan cara hidup sederhana. Menahan diri dalam kondisi ini dapat dikategorikan sebagai berduka cita. Hidup sederhana menjadi kebahagiaan karena berhasil memperjuangkan pilihan hidupnya.
  2. Selanjutnya berdukacita dapat diartikan hidup dengan disiplin dan tertib. Hidup disiplin dan tertib itu harus dilatih dan diperjuangkan. Ada kesenangan-kesenangan tertentu yang harus dibuang seperti hidup bermalas-malasan. Ada juga kebiasaan-kebiasaan yang membuat nyaman harus dihilangkan. Dan ada yang penting lagi yaitu ada aturan-aturan yang harus ditaati. Hal itu betul-betul tidak nyaman sebelum gaya hidup disiplin dan tertib itu belum menjadi gaya hidup kita.
  3. Kemudian berdukacita itu adalah melakukan kehendak Tuhan untuk menyenangkan hati-Nya. Suatu gaya hidup benar biarlah Tuhan senang walaupun itu berarti harus mengorbankan kesenangan pribadi. Semua kesenangan pribadi yang bertentangan dengan kebenaran dan kehendak Tuhan tidak boleh dilakukan walaupun hal itu membuat luka yang mendalam.
  4. Akhirnya berdukacita adalah melayani Tuhan dan pekerjaan-Nya. Hal itu berarti memilih hidup melayani bukan untuk dilayani, memilih menjadi seorang pelayan bukan tuan. Untuk melayani Tuhan dan pekerjaan-Nya terkadang juga harus mengorbankan kebebasan untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan diri sendiri.

Jadi berduka cita bisa dalam bentuk memilih hidup sederhana, bisa juga membangun gaya hidup disiplin dan tertib, bisa juga melakukan kehendak Tuhan dan akhirnya melayani Tuhan dan pekerjaan-Nya. Walaupun awalnya berduka cita tetapi bila sudah mencapainya tentu kita berbahagia. (MT)

Minggu 09 Februari 2020


PESAN MINGGU INI 02 FEBRUARI 2020

KRISTEN ADALAH UMAT YANG BERDOA

Lukas 5:15-16 “Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.”

Tidak terlalu lama kabar tentang Yesus itu tersebar makin meluas. Padahal itu pada zaman dulu di mana alat komunikasi hanya alami saja. Maksudnya hanya dari mulut ke mulut atau dari seorang ke seorang dengan menggunakan komunikasi cerita. Terkadang terpikir juga seandainya Yesus datang pada zaman now, tentu berita mengenai seluruh karya-Nya akan mendunia dalam hitungan menit. Tetapi untuk apa diandai-andaikan ya? Dalam kondisi jadul saja sudah cukup merepotkan Yesus. Tak henti-hentinya orang banyak datang berbondong-bondong kepada-Nya. Tentu saja yang datang kepada Yesus ada pula yang ingin disembuhkan. Biasanya Yesus selalu menyambut siapa saja yang datang kepada-Nya, tetapi kali ini Yesus memilih untuk mengundurkan diri. Bukan Yesus menolak kehadiran orang banyak tetapi karena Yesus pergi menyendiri ke tempat yang sunyi untuk berdoa. Dokter Lukas menulis peristiwa ini sebagai bagian dari Injil ingin menjelaskan pentingnya doa dalam kehidupan dan pelayanan Yesus.

Semua hal-hal penting dalam kehidupan Yesus selalu berhubungan dengan kehidupan doa:

  • Ketika Yesus dibaptis dalam keadaan berdoa terbukalah langit (Lukas 3:22).
  • Sebelum memilih murid-murid-Nya Yesus lebih dulu berdoa hingga semalam-malaman (Lukas 6:12).

Yesus betul-betul tak pernah melakukan kegiatan tanpa berdoa. Dan berbeda dengan 3 penulis Injil lainnya Lukas memberi tekanan yang jelas terhadap kehidupan doa Yesus. Tiga(3) penulis Injil lainnya pun menjelaskan bahwa Yesus berdoa juga tetapi tidak sedetail dokter Lukas. bahkan setelah bangkit dari kematian pun Lukas mencatat bahwa Yesus berdoa saat makan bersama murid-muridnya (Lukas 24:30).

Ada yang menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan, mengapa dia harus berdoa? Paling tidak kehidupan doa Yesus ini menjelaskan dua hal yang penting:

  1. Yesus berdoa karena dia betul-betul menjadi manusia yang bergantung sepenuhnya kepada Allah. Yesus tidak pura-pura menjadi manusia bukan pula manusia setengah Tuhan.
  2. Yesus berdoa untuk memberikan keteladanan kepada murid-murid-Nya. Yesus yang menjadi manusia harus terus hidup bersekutu dengan Bapa. Dengan sangat jelas Yesus memberi teladan bahwa keindahan hidup manusia adalah hidup bersekutu dengan Allah melalui doa. Karena tidak mungkin kita punya kehidupan rohani yang sehat tanpa kehidupan doa. (MT)

Minggu 02 Februari 2020


PESAN MINGGU INI 26 JANUARI 2020

MENGHIDUPI AMANAT AGUNG (BAGIAN 3)

2 Korintus 3:2-3 “Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang. Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.”

Rasul Paulus menyatakan bahwa jemaat Korintus yang taat dan setia merupakan surat pujiannya. Pada saat itu sedang marak para pemberita Injil memperoleh surat pujian dari tokoh-tokoh masyarakat tertentu. Surat pujian berfungsi juga sebagai salah satu syarat agar para pemberita Injil di Korintus tidak dihambat dalam melakukan pemberitaan mereka. Para Jemaat yang taat dan setia meminta agar rasul yang mereka cintai, rasul Paulus juga mengurus agar memperoleh surat Pujian, karena sangat berhak dan sangat memenuhi syarat untuk memperolehnya. Tetapi rasul Paulus menolak karena merasa tidak perlu. Surat pujian yang tertulis dalam selembar kertas tidak menambah apa-apa. Karena jemaat yang taat dan setia kepada Injil adalah surat pujian yang nyata. Kalau surat pujian dalam bentuk selembar kertas sangat mungkin dimanipulasi dan disalahgunakan. Tetapi jemaat yang taat dan setia kepada Injil adalah wujud yang nyata karena setiap saat terbuka untuk dibaca oleh semua orang.

Di ayat 3(tiga) sangat memperjelas lagi karena rasul Paulus menghubungkannya dengan konteks yang lebih luas dengan mengatakan “Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus yang ditulis oleh pelayanan kami…”. Ketika Injil diberitakan maka Roh Kudus menuliskan kasih Allah pada hati manusia sehingga menerima Injil dan mentaatinya. Siapa pun yang mentaati Injil Kristus, mereka adalah juga surat Kristus. Hidup mereka terbuka untuk dibaca oleh semua orang. Hidup mereka menjadi suara Injil itu. Demikian juga para pemberita amanat agung. Bila menghidupi amanat agung maka hidupnya menjadi wujud Injil itu akan menjadi pendukung efektif dari pemberitaannya.

Pada era milenial ini, media sosial adalah alat yang sangat banyak membantu tersebarnya Injil. Terkadang saat perdebatan antar agama di media sosial justru berita Injil tersebar dengan baik. Dalam kondisi seperti ini justru mnenghidupi amanat agung berarti hidup kita adalah suara yang perlu didengar dan surat Kristus yang siap dibaca. Tentu saja perlu memperindah karakter agar menjadi suara yang merdu untuk didengar dan surat yang menarik untuk dibaca. (MT)
Minggu 26 Januari 2020


PESAN MINGGU INI 19 JANUARI 2020

MENGHIDUPI AMANAT AGUNG (BAGIAN 2)

Filipi 1:27 “Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil”

Rasul Paulus adalah rasul yang mempraktekkan “Menghidupi Amanat Agung”. Rasul Paulus membela berita Injil bukan hanya melalui argumen yang kuat tetapi melalui kehidupannya sehari-hari. Seperti rasul Paulus, semua pengikut Kristus hendaklah terpanggil untuk membela berita Injil bukan hanya dengan kemampuan berapologi tetapi juga harus melalui kehidupan yang nyata karena menghidupi berita Injil tersebut.

Pengikut Kristus zaman sekarang mungkin juga kurang paham tentang anjuran rasul Paulus agar berjuang untuk iman yang timbul dari berita Injil. Dalam hal ini sesungguhnya rasul Paulus sedang menganjurkan agar semua pengikut Kristus menghidupi berita Injil itu dalam hidup kesehariannya. Rasul Paulus yang betul-betul menghidupi berita Injil itu menyatakan “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21). Pengikut Kristus yang menghidupi berita Injil tidak perlu takut akan kematian, karena tahu secara jelas dan pasti tujuan Allah atas hidupnya. Selanjutnya dalam ayat 22 rasul Paulus menyatakan “Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah…” Artinya bila Allah memberi waktu dan menikmati kehidupan mungkin masih agak jauh ke depan itu artinya haruslah mengemban dan menghidupi amanat agung. Lebih jelasnya lagi dalam ayat 27 rasul Paulus memerintahkan agar “Semua orang percaya atau pengikut Kristus hidup sesuai dengan Injil Kristus”.

Dan hidup sesuai dengan Injil Kristus yang sama dengan menghidupi amanat agung terjabarkan melalui “teguh berdiri dalam satu roh”, artinya adalah:

  • Membangun kesatuan berdasarkan kasih, dalam komunitas pengikut Kristus.
  • Selanjutnya adalah menggalang kerjasama yang kuat untuk mencapai terwujudnya tujuan. Tentu tujuan utamanya adalah agar penjangkauan dapat terwujud.
  • Kemudian berjuang bahu membahu untuk mewujudkan Injil itu dalam sikap agar dapat membela kebenaran Injil terhadap banyak orang di sekitar komunitas orang percaya yang menjadi seteru salib Kristus. Seteru salib Kristus dapat diartikan adalah orang percaya tetapi mencermarkan Injil melalui gaya hidup dan moral yang buruk.

Jadi bagi pengemban amanat agung bila ingin efektif haruslah menghidupi amanat agung. (MT)
Minggu 19 Januari 2020


PESAN MINGGU INI 12 JANUARI 2020

MENGHIDUPI AMANAT AGUNG (BAGIAN 1)

Yohanes 13:34-35 “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.“Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”

Perintah Yesus agar murid-murid-Nya saling mengasihi berlaku untuk semua pengikut Kristus sepanjang zaman. Hal ini sangat prinsip bagi pengemban amanat agung, karena esensi amanat agung adalah mewartakan keagungan kasih Allah kepada manusia berdosa. Jadi sangat mustahil mewartakan keagungan kasih Allah tanpa hati yang mengasihi.

Ketika Yesus memerintahkan pengikut-Nya saling mengasihi tujuan-Nya adalah agar semua pengikut-Nya selalu menjadikan kasih sebagai dasar dari tindakannya. Tuhan memerintahkan para pengikut-Nya mengasihi dengan nilai kasih yang lebih mulia, mulai dari komunitas yang khusus tetapi kemudian menyebar ke semua orang percaya tanpa sekat-sekat denominasi dan sekat-sekat doktrin. Kemudian meluas lagi ke semua orang tanpa memperhitungkan perbedaan suku dan agama. Bila para pengemban amanat agung sudah mendasari pemberitaannya dengan kasih maka dia telah mulai beranjak bukan lagi memberitakan amanat agung tetapi mulai memasuki menghidupi amanat agung. Bila sudah menjadikan kasih ciri khas kehidupan pengikut Kristus, hal itu berarti mulai memberi diri atau berkorban untuk kebaikan dan keselamatan orang yang dikasihi.

Dalam Injil Lukas pasal 15 Tuhan Yesus mengajar murid-murid-Nya menggunakan tiga perumpamaan yaitu:

  1. Domba yang hilang
  2. Dirham yang hilang dan
  3. Anak yang hilang

Tema ketiga perumpamaan ini adalah bahwa Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Sekaligus menjelaskan tujuan misi Yesus adalah menyelamatkan orang terhilang yang berlaku abadi. Kegiatan mencari yang terhilang adalah tindakan yang harus didasari oleh kasih. Allah mengutus pengikut-Nya yang memiliki belas kasih yang begitu besar terhadap manusia yang hidup dalam dosa dan mati secara rohani.

Dalam perumpamaan anak yang terhilang menjelaskan seorang ayah yang selalu menunggu kepulangan anaknya yang pergi jauh tanpa tujuan yang jelas. Sebagai seorang ayah yang mengasihi anaknya tentu dengan kesedihan yang dalam mengharapkan kepulangan anaknya. Seperti inilah kondisi hati seorang yang menghidupkan amanat agung. Seluruh upaya untuk memberitakan amanat agung didasari dan digerakkan oleh kasih kepada orang terhilang karena hilang persekutuan dengan Allah. (MT)
Minggu 12 Januari 2020


PESAN MINGGU INI 05 JANUARI 2020

MENGHIDUPI AMANAT AGUNG

Kisah Para Rasul 1:8 “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Dalam Injil Matius dan Markus, Tuhan Yesus memberi Amanat Agung kepada murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil keseluruh dunia. Dalam hal ini memberitakan Injil adalah amanah yang harus diperkatakan.

  • Injil sebagai kabar baik yang sangat memberkati orang yang percaya, tidak boleh dinikmati sendiri. Haruslah dibagikan ke orang lain dengan cara memberitakan atau memperkatakan.
  • Injil yang diberitakan tentu haruslah menawarkan keselamatan dalam Kristus dan berpusat pada pertobatan dan pengampunan dosa. Orang percaya itu tidak cukup mengaku tetapi harus dibuktikan dengan tindakan nyata yaitu dibaptis untuk memproklamirkan imannya sebagai anak Tuhan.

Pemberitaan Injil dalam Injil Lukas, Yesus tidak memerintahkan murid-murid-Nya secara langsung untuk pergi memberitakan Injil. Yesus hanya berkata kepada murid-murid-Nya “Dan lagi dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya itu” (Lukas 24:47-48).

Dalam hal ini Yesus menandaskan bahwa pengampunan dosa dan anugerah keselamatan haruslah disertai dengan tuntutan pertobatan. Pertobatan adalah pembuktian penyerahan total dan pernyataan rasa syukur yang tak terhingga atas anugerah keselamatan dari Allah. Rasul Yohanes dalam Injil-Nya juga, tidak mencatat tentang perintah Yesus untuk memberitakan Injil kepada murid-murid-Nya. Tetapi Yesus berkata dalam Yohanes 20:21 “Maka kata Yesus sekali lagi: Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku demikian juga sekarang Aku mengutus kamu”. Jadi Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil. Kesimpulannya keempat Injil menuliskan perintah Yesus agar murid-murid-Nya melaksanakan Amanat Agung.

Dalam Kisah Rasul Yesus memperlengkapi murid-murid-Nya dengan kuasa Roh Kudus agar pengikut Kristus hidup menjadi “Saksi Kristus”. Menjadi saksi Kristus tentu saja memberitakan Inijil atau melaksanakan Amanat Agung Kristus. Tetapi bukan saja melaksanakan, karena harus ditindaklanjuti dengan menghidupi Amanat Agung. Saksi Kristus tidak cukup hanya memeberitakan atau melaksanakan perintah Amanat Agung itu, tetapi harus terus menerus menghidupi Amanat Agung itu. Saksi Kristus harus mewujudkan Amanat Agung dalam hidup sehari-hari (MT)
Minggu 05 Januari 2020