PESAN MINGGUAN 2019

Pesan Mingguan Tahun Lalu : Pesan Mingguan 2018 , Pesan Mingguan 2017


PESAN MINGGU INI 29 DESEMBER 2019

PALUNGAN DAN KEKUDUSAN

Lukas 2:7 “Dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.”

Pada umumnya manusia yang baru lahir akan dibaringkan di tempat yang bersih. Jangankan bayi yang lahir di rumah sakit bersalin, yang lahir dengan penanganan dukun beranak di rumah pun sudah pasti membaringkannya di tempat yang bersih. Sungguh memprihatinkan bahwa Yesus yang lahir untuk menyelamatkan orang berdosa justru dibaringkan pada tempat yang sangat kotor. Apakah ini sudah merupakan suatu simbol bahwa Dia yang kudus justru datang untuk manusia yang hidupnya telah ternoda oleh dosa. Tuhan Yesus yang menjadi manusia tanpa dosa harus dibaringkan di tempat yang begitu kotor. Semua terjadi bukanlah tanpa arti, karena semua kejadian yang berhubungan dengan Yesus selalu saja mempunyai pesan abadi yang sarat arti. Tuhan Yesus telah datang ke dunia dibaringkan di tempat yang hina karena kasih-Nya kepada kita. Dia rela sebagai sikap solider kepada semua manusia termasuk manusia yang berdasarkan strata sosial paling rendah dan paling hina. Bila kita telusuri dengan cermat, sesungguhnya Yesus lahir di tempat yang tidak layak dan mati juga di tempat yang tidak layak buat seorang manusia yang tak pernah berbuat dosa.

Kenyataannya palungan yang kotor tak mengurangi kekudusan-Nya dan salib kasar tak mengurangi kelembutan kasih-Nya. Justru palungan dan salib itulah pembuktian pasti kasih-Nya kepada manusia berdosa. Tentu kelahiran Yesus di kandang domba dan dibaringkan dalam palungan bukanlah settingan. Semua terjadi karena keadaan. Tidak adanya penginapan yang kosong akhirnya harus di kandang domba sebagai satu-satunya tempat yang masih ada. Tidak adanya fasilitas lain akhirnya hanya palungan dan lampinlah satu-satunya tempat untuk membaringkan Yesus.

Melalui fakta yang terjadi sesuai dengan keadaan ini justru memberi pesan tentang tujuan kehadiran Yesus ke dunia ini. Sangat logis bila Yesus mengerti keadaan manusia berdosa yang paling miskin dan memahami kondisi manusia yang paling berdosa. Dia menjadi miskin supaya di dalam Yesus orang termiskin pun menjadi punya kesempatan untuk melepaskan diri dari kemiskinannya. Dia ditaruh dan dibaringkan dalam palungan yang sangat kotor tetapi dia tetap Kudus. Dia menjadi manusia tetapi tidak berdosa karena kekudusan-Nya adalah syarat utama bagi-Nya untuk menyelamatkan manusia dari hukuman dosa. Sangatlah tepat kita selalu bersyukur karena palungan adalah suatu pesan bahwa Dia rela hadir dan menyapa manusia lemah dan berdosa bahkan rela merasakan penderitaan kita. (MT)
Minggu, 29 Desember 2019


PESAN MINGGU INI 22 DESEMBER 2019

BORN FOR THE LOST

Lukas 19:10 “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

Yesus lahir di dunia adalah fakta sejarah yang tak terbantahkan. Rasul Yohanes mengkalimatkanya dengan “Firman menjadi daging” dan “Allah menjadi manusia”. Dan Lukas memberi keterangan yang jelas tentang tujuan Yesus lahir ke dunia. Yesus datang ke dunia untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.

Lukas mengangkat dua perumpamaan untuk memperjelas betapa Yesus sangat fokus untuk menemukan yang terhilang:

  1. Lukas menggambarkan Yesus sebagai gembala yang baik mencari domba tersesat dan hilang.
  2. Yesus juga diumpamakan sebagai seorang bapak yang sangat baik yang setia menunggu kedatangan anaknya yang terhilang.

Hanya tinggal beberapa hari sebelum Yesus ditangkap, diadili, disiksa dan disalibkan dan dikuburkan Yesus masih terus menerus mencari dan menyelamatkan orang yang terhilang. Adalah Zakheus si pemungut cukai berpostur tubuh pendek yang terkategorikan sebagai yang hilang yang didapatkan dan diselamatkan Yesus. Zakheus adalah seorang pemungut cukai. Menurut pandangan umum, pemungut cukai mencari nafkah dengan cara yang salah, karena mengumpulkan pajak melebihi ketentuan pemerintah. Itulah alasan masyarakat memandang rendah pemungut cukai. Zakheus sebagai seorang pemungut cukai dipandang rendah karena dicap sebagai orang berdosa. Jadi orang berdosa adalah orang yang hilang yang dicari dan diselamatkan oleh Tuhan Yesus.

Status orang berdosa yang ditempelkan publik kepada Zakheus menjadikannya sebagai orang yang terpinggirkan dan tersingkirkan dari masyarakat. Suatu pengakuan Zakheus kepada Yesus bahwa bila dia menipu dan memeras penduduk dia akan rela mengembalikannya 4 kali lipat. Rupanya tidak semua pemungut cukai memeras masyarakat. Jadi dapat juga Zakheus menjadi orang terfitnah. Tersimpulkanlah sudah bahwa yang terhilang adalah mereka yang terwakili oleh Zakheus yaitu orang berdosa, orang terpinggirkan dan orang yang menjadi korban fitnah. Zakheus yang tertolak merasa terhilang di tengah keramaian. Harapan satu-satunya yang menerimanya hanyalah Yesus. Usaha maksimal yang dilakukan bertemu dengan Yesus tidak sia-sia. Bukan hanya bertemu tetapi dia ditemukan oleh Yesus. Dia yang terhilang ditemukan oleh Yesus. Perhatian khusus kepada Zakheus adalah bukti perhatian-Nya kepada orang yang terhilang.

Sikap Yesus Ini memotivasi kita untuk membawa Injil kepada orang tertolak, terpinggirkan dan terhilang. Semua orang terhilang memerlukan keselamatan. Yesus lahir untuk yang terhilang. Dan kita adalah tangan Allah untuk membawa orang terhilang itu kepada-Nya. (MT)
Minggu, 22 Desember 2019


PESAN MINGGU INI 15 DESEMBER 2019

ALLAH MENGERTI

Matius 1:21-23 “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” — yang berarti: Allah menyertai kita.”

Allah menyertai kita, tetapi kita yang mana ya? Soalnya ada banyak orang dan gerakan bermunculan menyatakan merekalah yang disertai Allah dengan kata lain Allah pasti ada di pihak mereka.

  • Pasukan Hitler yang terang-terangan membantai ratusan ribu orang Yahudi menyatakan mereka disertai Allah.
  • Teroris yang meledakkan bom bunuh diri hingga ratusan orang jadi korban merasa dirinya disertai Allah.
  • Dan sangat banyak orang yang mengatasnamakan agama membunuh orang yang mereka anggap kafir menyakini bahwa mereka disertai Allah.

Jadi bila kita yakin disertai Allah tentu muncul pertanyaan: “kita yang mana ya yang disertai Allah?” Salah satu nama yang diberikan kepada Yesus adalah “Imanuel” yang artinya Allah menyertai kita. Matius memastikan kita yang manakah yang sesungguhnya hidup disertai oleh Allah. Kelahiran Yesus adalah peristiwa nyata Allah menjadi manusia, yang oleh rasul Yohanes menyebutnya peristiwa Firman menjadi daging. Mengapa Allah menjadi manusia? Tentu saja karena Allah mengasihi manusia. Karena Allah mengasihi manusia maka Dia memutuskan untuk menjadi manusia membuktikan kasih-Nya kepada manusia. Dan yang dikasihi itu adalah manusia berdosa. Karena untuk menyelamatkan manusia berdosa, Dia haruslah menjadi manusia, tetapi manusia yang hidup tanpa dosa. Dia akan menggantikan manusia terhukum karena dosa. Itulah sebabnya dengan kedatangan Yesus berakhirlah murka Allah atas manusia yang berdosa. Itulah yang terkandung dalam nama Yesus yaitu Imanuel.

Kedatangan Yesus telah mengakhiri zaman Allah melawan kita atau kita hidup tanpa Allah. Dengan demikian telah mulai zaman baru yaitu Allah menyertai kita atau Allah bersama kita. Dalam nama Imanuel itu juga terkandung mutu penyertaan Yesus atas kita. Penyertaan Allah atas kita tidak dibatasi ruang dan waktu. Sebab di mana saja, kapan saja Allah menyertai kita.

Jadi sudah jelas pula bahwa Allah menyertai kita melalui kasih Yesus. Dengan demikian kita tidak dapat menyatakan disertai Allah bila hidup di luar kasih Yesus. Dalam hubungan manusia kita mengenal kebersamaan. Kebersamaan tercipta karena saling menyertai dan saling peduli satu sama lain. Tetapi biasanya kebersamaan itu hanyalah sejauh saling membutuhkan satu dengan yang lain. Karena biasanya orang menyertai kita sejauh kita masih berguna bagi kepentingannya. Tetapi penyertaan Allah kepada kita di dalam Yesus Kristus adalah untuk selama-lamanya. Jadi Allah menyertai kita yang mana? Allah menyertai kita yang hidup dalam Yesus. (MT)
Minggu, 15 Desember 2019


PESAN MINGGU INI 08 DESEMBER 2019

MENGUMPULKAN HARTA DI SORGA

Matius 6:20-21 “Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”

Harta dan uang adalah hal yang sangat menarik dan berpotensi menguras perhatian atau menyihir manusia agar mencari dan menyimpan sebanyak-banyaknya. Begitu menariknya membuat sebagian besar manusia mengabdikan diri padanya. Penilaian yang tinggi kepada kekayaan atau uang dapat membuat seseorang memandangnya sebagai sumber jaminan dan sumber kebahagiaan. Tidak sedikit juga menjadikannya sumber harapan hidup masa depan. Orang Kristen pun banyak yang menginginkannya lebih dari pada kebenaran dan keselamatan kekal. Tetapi banyak juga yang mampu melepaskan diri dari kekayaan dan uang supaya tidak terganggu untuk mengabdikan diri kepada Allah dan melayani sesama.

  • Bill Gates mendonasikan setengah kekayaannya untuk badan amal yang dia buat.
  • Warren Buffett mempersembahkan dan menggunakan sebagian besar kekayaannya untuk membantu sangat banyak orang yang membutuhkan pertolongannya.
  • Chou Yun Fat bahkan mendonasikan 99% kekayaannya untuk badan amal hanya 1% saja untuk kebutuhannya.
  • Sedangkan Andrew Carnagie yang merupakan orang terkaya di dunia pada zamannya hampir menyumbangkan seluruh kekayaannya pada badan amal.

Para pemilik uang yang melimpah ini tentu sudah memahami keterbatasan nilai uang untuk kehidupan pribadi bila disimpan atau ditumpuk saja. Tetapi justru menikmati sukacita dan kebahagiaan bila uang ditebar kepada yang membutuhkan dan untuk hal hal yang berguna seperti kepentingan publik. Bila uang kita masih cukup untuk kebutuhan pokok saja masih rajin ke gereja dan memberi persembahan. Tetapi bila usaha mulai maju uang semakin banyak, masihkah kita melakukannya? Apakah kita menjadi terlalu sibuk dan ingin terus membangun usaha, sehingga tidak sempat ibadah dan makin hati-hati mengeluarkan uang? hati-hati! Karena uang yang semakin bertambah berpotensi membuat seseorang tamak dan semakin merasa kurang.

Perlu kita tahu bahwa uang itu tidak buruk dan mencari uang pun bukan dosa karena sesungguhnya uang itu netral. Perlu juga orang percaya memahami cara tepat menggunakan uang agar terkategorikan sebagai sikap mengumpulkan harta di sorga. Bagaimana? Beri persembahan termasuk persepuluhan meningkat sesuai kemajuan pendapatan tentu didasari kasih kepada Allah dan pekerjaan-Nya. Biasanya membantu orang yang susah dengan kasih yang tulus. Jangan pernah menutup mata, tetapi pedulilah kepada orang yang berduka. Jangan hanya memberi uang saja tapi beri perhatian, tenaga dan pikiran. Selamat berbuat. (MT)
Minggu, 08 Desember 2019


PESAN MINGGU INI 01 DESEMBER 2019

HIDUP DI TANGAN ALLAH

Kejadian 39:2-3 “Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu. Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya”

Ada sebuah gambaran tentang sebuah pensil yang cukup dipahami oleh masyarakat pada abad ke-19, saat pensil menjadi alat tulis yang banyak dipakai. sebuah cerita rekaan pensil akan diluncurkan dari surga maka ada 4 nasehat malaikat kepada pensil:

  1. Pensil akan menjadi alat yang luar biasa bila berada di tangan orang yang hebat. karena akan menjadi musik yang indah bila berada di tangan Beethoven dan lukisan yang indah bila berada di tangan Da Vinci.
  2. Bahwa bagian yang utama dalam diri sebuah pensil bukanlah batang yang indah karena terdiri dari warna-warni yang menarik tetapi adalah bagian kecil yang di dalam yaitu grafit.
  3. Sebuah pensil haruslah siap menderita karena diraut secara berulang-ulang tanpa perlawanan walaupun diraut dengan cara yang kasar.
  4. Haruslah selalu siap menulis pada semua permukaan. Terkadang permukaan yang halus, putih dan bersih, tetapi kadang-kadang pada permukaan yang kasar, buram sehingga membutuhkan penekanan yang menyakitkan.

Gambaran ini sangat tepat menggambarkan perjalanan hidup Yusuf. Yusuf berada pada tangan yang tepat yaitu di tangan Allah. Karena Yusuf ada di tangan Allah maka dia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam hidupnya. Jadi bukanlah Yusuf yang hebat, tetapi dia berada di tangan yang hebat yaitu tangan Allah. Bagian terpenting dari seorang Yusuf bukanlah jubah indah pemberian ayahnya, bukan kepercayaan potifar bukan pula kedudukan yang diberikan Firaun tetapi adalah hatinya yang diserahkan kepada Allah. Soal integritas Yusuf adalah kesiapannya diraut atau ditajamkan melalui pengalaman pahitnya. Dia dibuang ke sumur kering diperjualbelikan hingga menjadi budak di rumah Potifar. Belum lagi dimasukkan ke dalam penjara karena fitnah istri Potifar. Semua pengalaman pahit itu telah memberi kontribusi untuk mempertajam dan membentuk Yusuf menjadi seorang yang berintegritas. suatu yang sangat mengagumkan dari Yusuf adalah kesiapannya menulis dalam semua permukaan. Dia menuliskan tulisan penuh arti yang indah di permukaan kertas buram rumah potifar dan penjara. Yusuf pun menulis di permukaan putih bersih di depan raja Firaun juga di istananya sendiri.

Sama seperti Yusuf kita semua tetaplah berada di tangan Allah dan menjaga hati dengan baik serta siap ditajamkan dan dibentuk dan teruslah menorehkan tulisan yang indah di setiap permukaan yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. (MT)
Minggu, 01 Desember 2019


PESAN MINGGU INI 24 NOVEMBER 2019

IMAN DAN KETAATAN

Kejadian 6:22 “Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.”

Nuh adalah sosok yang berbeda pada zamannya. Perbedaan yang dimaksud adalah dalam hal gaya hidupnya yang benar dan tidak bercela. Sementara semua orang yang hidup pada zamannya betul-betul hidup dalam kefasikan dan kejahatan yang merajalela. Kebenaran dalam diri Nuh adalah karunia Allah karena Nuh hidup bergaul dengan Allah. Tentu saja karunia iman yang diterima Nuh itu adalah sesuatu yang sangat berharga baginya. Iman itulah yang mendasari Nuh mentaati perintah Allah kepadanya untuk membangun bahtera. Padahal ada hal yang sangat sulit diterima akal perintah Allah untuk membangun bahtera pada saat itu. Sulit karena pada saat perintah datang kepada Nuh dia belum pernah melihat hujan turun membanjiri bumi. Ketika Penduduk bertanya kepada Nuh akan tujuannya membangun bahtera, Nuh harus menjelaskan akan datangnya hujan yang mengakibatkan terjadinya air bah. Konsekuensinya adalah Nuh harus siap diejek. Tetapi Nuh tetap taat kepada perintah Allah. Kesulitan berikutnya adalah jarak antara tempat Nuh membangun bahtera ke perairan sangat jauh. Sementara bahtera yang dibangun sangat besar. Penduduk akan mempertanyakan bagaimana caranya mengangkat atau memindahkan bahtera yang sangat besar itu ke perairan. Lagi-lagi Nuh harus siap dituduh sudah gila. Dan Nuh juga harus mengerjakan pekerjaan itu dengan waktu yang sangat lama kurang lebih 120 tahun.

Nuh mentaati perintah Tuhan dengan sangat tekun di bawah ejekan dan tuduhan gila dari penduduk. Ketaatan Nuh di sempurnakan pula dengan semangat mengkhotbahkan kebenaran kepada penduduk yang mengejek pekerjaan membuat bahtera sebagai pekerjaan sia-sia. Sebagai pengkhotbah kebenaran, Nuh juga harus memberi hidup sebagai teladan dalam hidup benar dengan hidup tidak bercela. Peristiwa bahtera Nuh dan Allah menghukum manusia dengan air bah adalah fakta sejarah. Tetapi rasul Petrus telah menjadikan bahtera lambang Kristus sebagai sarana untuk menyelamatkan orang percaya dari hukuman dan kematian (1 Petrus 3:20-21). Jadi ketaatan Nuh dan keluarganya kepada firman Allah dengan membangun bahtera telah menjadikan bahtera itu menyelamatkan mereka. Sikap Nabi Nuh ini akan terus menjadi pelajaran berharga bagi umat Allah sepanjang zaman.

Iman dan ketaatan akan selalu berdampingan. Iman tanpa ketaatan atau iman tanpa perbuatan adalah mati kata Yakobus dan ketaatan tanpa iman adalah kosong kata Tampubolon. Jadi waktunya kita sekarang bersyukur atas iman yang dikaruniakan Tuhan kepada kita. Dan rasa syukur itu hendaklah dinyatakan melalui sikap taat kepada firman Tuhan. (MT)
Minggu, 24 November 2019


PESAN MINGGU INI 17 NOVEMBER 2019

MENGELOLA BERKAT TUHAN

Yesaya 55:2 “Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerihpayahmu untuk sesuatu yang tidak menyenangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat”

Mengelola uang dengan baik bukanlah bakat bawaan dan bukan pula kemampuan yang langsung kita miliki setelah mempunyai uang atau pendapatan tetap. Mengelola uang dengan baik adalah kemampuan yang diperoleh melalui belajar dan latihan yang dipraktekkan sesegara mungkin. Dalam kenyataannya ada banyak orang yang sudah mempunyai uang banyak, tetapi masih tetap merasa kurang dan tak pernah mampu dan punya niat memberi. Tetapi ada juga orang yang mempunyai uang tidak banyak, tetapi merasa cukup dan selalu saja berusaha untuk memberi. Melalui kenyataan ini maka dapatlah kita simpulkan bahwa yang utama bukanlah seberapa banyak uang kita melainkan bagaimana cara kita mengelola uang dan bagaimana sikap kita kepada uang itu.

John Wesley memberi arahan ada 3(tiga) prinsip yang dapat kita lakukan dalam mengelolah uang dengan baik:

  1. “Carilah uang semampu kita dengan cara yang benar dan tidak merugikan sesama”. Ada orang yang dengan ringannya berkata, saya tidak pernah cari uang tetapi uanglah yang mencari saya. Suatu pernyataan yang sangat percaya diri ini memuat pemahaman yang salah, walaupun sebagian menganggapnya sebagai pernyataan iman. Karena hal ini berarti tanpa kerja seseorang memperoleh uang. Sekiranya ada hal itu tidak bersifat universal. Lagi pula hakekat manusia adalah bekerja. Jadi bekerja bukan hanya sekedar mencari uang tapi orang yang membutuhkan uang haruslah bekerja.
  2. “Simpan sebanyak yang dapat disimpan atau menabung.” Dalam hal menabung yang kita kembangkan adalah konsep menghemat dan sikap antisipatif akan kemungkinan yang terjadi di depan. Bila memungkinkan atau masih dapat dibagi ikuti berbagai asuransi seperti asuransi pendidikan anak, asuransi jiwa dan kesehatan hingga asuransi investasi dan pensiun. Dalam hal ini hindari pemborosan atau membelanjakan uang pada hal-hal tak berguna dan tidak produktif.
  3. “Berilah sebanyak kita bisa memberi atau memberi sesuai kemampuan”. Memberi itu sepertinya sederhana tetapi sangat Alkitabiah. Perintah Tuhan untuk memberi atau memulangkan persepuluhan dari pendapatan adalah merupakan cara Allah melatih umat-Nya untuk menjadi seorang yang terlatih memberi. Allah sangat memahami keadaan manusia ciptaan-Nya itu secara detail. Dia tahu dengan pasti bahwa umat-Nya tidak akan menjadi miskin bila suka memberi tetapi jiwanya akan menjadi bersih dan hatinya pun menjadi kaya. Semangat kerja akan meningkat dan sukacitanya akan semakin bertambah bila melihat orang lain bahagia. Ya! jadinya jadi kaya juga. (MT)

Minggu, 17 November 2019


PESAN MINGGU INI 10 NOVEMBER 2019

MENJAUH DARI KEMUNAFIKAN

Matius 23:27 “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.”

Ternyata Yesus sangat terganggu dengan sikap munafik, sehingga menyamakan mereka dengan kuburan yang dirawat dengan indah dan bersih. Di Jakarta ada kuburan yang sangat mahal seperti Sandiago Hill. Taman pemakaman ini dibangun oleh pakar bidang pertamanan yang profesional, sehingga hasilnya sangat bagus. Tidak ada kesan kuburan karena yang nampak adalah sebuah taman yang asri dengan tanaman aneka pohon yang memperindah taman. Di dalam taman ada restoran, gedung, pertemuan dan ada pula kolam renang. Dilengkapi pula dengan tempat penginapan, taman bermain dan danau yang bersih. Taman pemakaman didesain menjadi tempat wisata agar kesan kuburan dapat dihilangkan. Tetapi seindah apapun tetaplah kuburan yang menyimpan tulang-belulang dan berbagai kotoran. Siapapun yang pergi ke Sandiago hill, taman asri di Karawang ini sudah pasti selalu ada hubungannya dengan kematian. Entah upacara pemakaman atau kegiatan berziarah. Tentu tidak ada kelompok masyarakat atau komunitas yang menjadikannya tujuan wisata, mengapa? Karena taman pemakaman yang asri ini adalah kuburan yang sarat dengan nuansa kematian. Kuburan sebagus apapun tetaplah kuburan yang berisi jenazah, tulang belulang.

Tuhan Yesus memarahi Farisi yang mempunyai kemampuan berteologi yang mumpuni dan mendalam tetapi tidak melakukan dan tidak hidup sesuai pesan teologi yang mereka ketahui dan ajarkan. Mereka ditegur sebagai orang-orang munafik. Bagaikan kuburan yang indah dari luar tetapi busuk dan kotor di dalam. Lain di bibir lain di hati, kata dan laku tidak senada. Tampak luar sih indah tetapi di dalam siapa tahu. Tuhan Yesus betul-betul benci perilaku munafik. Hidup munafik sama saja menjauh dari Yesus. Sebab itu kita perlu memeriksa diri agar jangan sampai menjadi seorang anak Tuhan yang munafik.

Bagaimanakah caranya agar kita jangan sampai terjerumus kepada kemunafikan:

  • Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kita hendaklah berkata ya bila ya dan tidak bila tidak. Artinya hidup tulus dan jujur. Hidup apa adanya jangan hidup ada apa-apanya.
  • Kemudian rasul Paulus menasehati agar segala sesuatu yang kita lakukan hendaknya kita lakukan seperti kepada Tuhan. Artinya kita berperilaku baik di tempat keramaian dan juga di tempat tersembunyi. Menghormati seseorang di depannya juga di belakangnya.
  • Salah satu yang paling penting adalah hiduplah rendah hati dan jangan sombong. Sebab tidak ada ruang untuk kemunafikan di hidup orang yang rendah hati tetapi sangat luas ruang untuk kemunafikan di hidup orang yang sombong. (MT)

Minggu, 10 November 2019


 

PESAN MINGGU INI 03 NOVEMBER 2019

BEKERJA KERAS

2 Korintus 11:27-28 “Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat.”

Chris Gardner hidup dalam keluarga berantakan. Karena ayahnya kecanduan alkohol dan ibunya masuk penjara membuatnya hidup sebagai seorang gelandangan. Tetapi dengan susah payah dia tetap berusaha untuk bersekolah. Terkadang dia hampir putus asa karena kesulitan yang tak berkeputusan. Dalam keadaan sangat lemah dia mengikuti Ibadah dalam sebuah gereja. Tentu saja keadaannya membuatnya disepelekan jemaat lainnya. Tetapi dia tidak terganggu. Dia hanya ingin berdoa dan memuji Tuhan dan melibatkan diri dengan jalannya ibadah dari awal hingga ibadah berakhir. Dia sangat tertarik dengan lirik lagu pujian yang dinyanyikan paduan suara “Tuhan jangan pindahkan gunung itu tetapi berilah kuasa dan kemampuan kepadaku untuk mendakinya”. Lirik lagu yang dikumandangkan paduan suara itu sangat menginspirasi Chris Gardner. Pujian itu menyentuh hatinya. Sehingga semangat yang hampir pudar itu berkobar lagi. Dia terus berusaha dan belajar mengikuti pendidikan formal walaupun harus bekerja keras yang disertai berpikir cerdas. Dia masuk angkatan laut dan bekerja sebagai asisten medis.

Kisah hidup yang difilmkan dengan judul “The Pursuit Of Happyness” ini diakhiri dengan munculnya seorang miliarder bernama Chris Gardner. Seorang gelandangan yang menjadi miliarder ini memberi pesan bahwa bekerja keras itu adalah sesuatu yang dapat dijadikan solusi dalam melewati kesulitan hidup. Rasul Paulus adalah pekerja keras. Dia melewati berbagai kesulitan tetapi tetap melakukan berbagai usaha agar pelayanannya memberitakan Injil dan memelihara jemaat-jemaat tetap terlaksana dengan baik. Mungkin saudara bertanya, tetapi Rasul Paulus tidak jadi kaya raya walaupun dia telah berjuang dan bekerja keras. Betul juga bahwa rasul Paulus bekerja keras tak membuatnya menjadi kaya raya tetapi yang pasti rasul Paulus mempunyai hidup yang layak dan tidak berkekurangan. Lagi pula, bila saja rasul Paulus hidup pada zaman now pasti dia sudah kaya raya seperti pendeta-pendeta hebat dan berkelas masa kini. Tetapi saya yakin kalau rasul Paulus hidup menjadi pendeta sukses dengan anggota jemaat yang kaya raya sekarang di Jakarta, dia pasti akan tetap menjadi pekerja keras. Kaya? Belum tentu karena dia tahu bagaimana cara hidup rohaniawan yang benar pada saat kelimpahan juga pada saat dalam kekurangan. Jadilah pekerja keras dan nikmati kehidupan yang layak. Kaya raya? Tidak harus, tetapi kerja keras. Harus itu! (MT)
Minggu, 03 November 2019


PESAN MINGGU INI 27 OKTOBER 2019

TANGGUNG JAWAB

Markus 5:19 “Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: “Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!”

Orang menderita kerasukan roh jahat adalah suatu fakta seperti yang terjadi pada seseorang di Gerasa. Dirasuk artinya didiami untuk dikendalikan. Jadi bila seseorang dirasuk roh jahat maka seseorang itu dikendalikan oleh roh jahat yang mendiami kepribadian orang tersebut. Roh jahat ini bisa juga disebut setan yang adalah makhluk roh berkepribadian dan berakal. Bila setan atau roh jahat merasuk seseorang maka otomatis akan memperalat dan memperbudak orang tersebut. Biasanya orang yang dirasuk akan dipengaruhi untuk melakukan kejahatan, kebejatan dan kerusakan yang membuat orang disekitarnya takut dan terancam seperti halnya orang kerasukan di Gerasa. Dia begitu menderita dan terasing dari habitat manusia yang hidup. Roh jahat membawanya hidup di pekuburan serta tak henti-henti memukuli diri sendiri dengan pukulan-pukulan keras yang berpotensi mematikan diri sendiri. Setan telah menguasainya untuk melakukan bunuh diri secara pelan-pelan. Tetapi kehadiran Yesus telah mengubah segalanya. Tuhan Yesus mengusir roh jahat dari orang kerasukan tersebut.

Pada saat orang kerasukan itu ditinggalkan roh jahat, dia sadar diri dan dia pun menjalani hidup sebagai diri sendiri. Dengan segera dia merasakan hidup sebagai orang yang dibebaskan dari kuasa roh jahat. Dia menyadari bahwa yang membebaskannya dari kuasa dan ikatan roh jahat adalah Yesus. Jadi sangat tepat bila ia berkeputusan untuk mengikut Yesus atau menyertai Yesus. Tetapi Yesus tidak memperkenankannya dan Yesus memberi tanggungjawab untuk menceritakan pengalaman hidupnya dengan Yesus kepada orang lain. Tuhan Yesus memberitahukan kepadanya suatu tanggung jawab untuk membagikan kasih Yesus yang dialami kepada orang lain.

Tuhan Yesus memanggil murid-murid untuk menyertai-Nya selama 3 tahun lebih. Tuhan Yesus mengajar mereka untuk terutus sebagai pemberita Injil. Tetapi kepada orang yang terbebas dari kerasukan roh jahat ini langsung diutus. Tuhan Yesus mengajar pengikut-Nya bahwa untuk memberitakan Injil itu tidak perlu sekolah Teologia atau seminar penginjilan dulu walaupun itu perlu dan penting. Terutama adalah pengalaman hidup ditolong dan dikasihi Yesus yang harus dibagikan kepada orang lain.

Jadi setiap pengikut Kristus sebaiknya punya pengalaman minimal satu cerita kesaksian bagaimana Tuhan Yesus mengubah hidup dan menyelamatkan dari hukuman dosa. Dan tanggung jawab kita adalah menceritakan pengalaman kita kepada orang lain agar mereka juga diubahkan dan diselamatkan oleh Tuhan Yesus. (MT)
Minggu, 27 Oktober 2019


PESAN MINGGU INI 20 OKTOBER 2019

SELALU BERSYUKUR

Efesus 5:20 “Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita”

Sungguh sangat menyebalkan hidup bersama seorang yang hidup dalam keluhan setiap saat. Dia mengeluh atas banyak hal dan atas segala keadaan. Bila panas dia mengeluh aduh keringet, bila dingin dia mengeluh aduh menggigil. Bila ditimpa terik matahari Dia mengeluh aduh kulitku hitam, bila ditimpa hujan dia pun mengeluh aduh kepalaku pusing. Si pengeluh memang menjadikan segala sesuatu sebagai alasan untuk mengeluh.

Tetapi pada umumnya kita mengeluh atas segala sesuatu yang kita tidak punyai.

  • Kita mengeluh susah kemana-mana karena tidak punya mobil.
  • Ada yang mengeluh hidupnya kurang aman karena rumahnya belum permanen.
  • Ada yang mengeluh karena tidak mempunyai pakaian model terbaru.
  • Ada juga yang mengeluh karena tidak punya uang yang cukup untuk makan di restoran mahal.

Seharusnya untuk apa sih kita mengeluh apa yang tidak kita punyai. Bukankah lebih baik kita mensyukuri apa yang kita punya? Kita bersyukur atas sepeda motor kita, karena kenyataannya masih banyak kita temui orang terpaksa jalan kaki karena tidak punya kendaraan apapun. Kita bersyukur masih diberi kaki yang sehat, karena kenyataannya banyak orang yang tidak bisa berjalan karena kakinya sakit.

Jadi berhentilah mengeluh atas segala sesuatu yang kita tidak punyai, tetapi bersyukurlah atas segala sesuatu yang kita punyai.

Saya masih ingat dulu saat saya memasuki sekolah pendidikan guru agama Kristen yang mengharuskan hidup di asrama. Pada hari pertama salah seorang guru membagikan kami dua lembar kertas folio. Kemudian kami disuruh menulis alasan-alasan kami untuk bersyukur kepada Allah. Sambil menulis kami mendapat arahan agar pikiran kami terbuka dan mengingat-ingat apa saja alasan kami untuk tetap bersyukur kepada Tuhan. Ternyata semua kelas menulis dengan tekun. Kami pun menulis berbagai alasan untuk bersyukur. Kami sibuk mencatat segala sesuatu yang melekat pada tubuh, segala sesuatu milik yang diingat, nama teman-teman, nama semua anggota keluarga dan banyak hal lagi. Selama satu jam kami habiskan hanya mencatat alasan-alasan untuk bersyukur kepada Allah. Kemudian pak guru menyuruh kami menulis alasan-alasan untuk mengeluh atau tidak bersyukur kepada Tuhan. Secara serentak kami meminta kertas tambahan. Guru tidak memberikan karena haruslah dituliskan di kertas folio 2 lembar tersebut. Ternyata semua murid hanya menyisakan dua baris terakhir pada dua lembar kertas tersebut. Saya ingat waktu itu baris yang tersisa saya tulis dengan kalimat “tidak ada alasan untuk tidak bersyukur”. (MT)
Minggu, 20 Oktober 2019


PESAN MINGGU INI 13 OKTOBER 2019

MEMILIH UNTUK RENDAH HATI

1 Petrus 5:6 “Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.”
Markus 10:43 “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu”.

Salah satu karakter mulia yang menyatakan integritas seseorang adalah rendah hati. Sifat rendah hati bukanlah sifat bawaan sejak lahir. Perlu juga kita pahami bahwa tidak ada seorangpun manusia yang dilahirkan dengan sifat rendah hati sejak lahir. Perlu juga kita pahami bahwa karakter rendah hati bukanlah milik beberapa orang yang beruntung. Sebab bila demikian maka sifat egois adalah milik sebagian orang yang kurang beruntung. Tuhan Yesus mengharapkan bahwa kerendahan hati haruslah merupakan salah satu ciri-ciri semua pengikut Kristus, sebab itu kita harus memilih untuk orang yang rendah hati. Betul bahwa rendah hati adalah perintah bukan pilihan, tetapi dengan memilih menjadi seorang yang rendah hati, kita telah memulai langkah awal untuk mentaati perintah firman Allah. Sebab memilih untuk rendah hati berarti serius membuang segala kesombongan dan sadar atas ketidakberdayaan diri sendiri. Itulah sebabnya orang yang rendah hati membutuhkan dan mengakui peranan Allah dalam hidupnya. Diapun mengakui dan membutuhkan orang lain dalam mencapai keberhasilan dan kemajuan yang dicapai.

Ada tiga alasan bagi semua orang percaya untuk memilih menjadi orang yang rendah hati. Memilih dalam pengertian mengambil keputusan untuk terus memperjuangkannya :

  1. Kerendahan hati adalah sifat Kristus (Matius 11:29) Tuhan Yesus sendiri menyatakan diri-Nya rendah hati, walaupun sifat rendah hati itu tidak mudah dimengerti, lagi pula bukan suatu karakter yang populer. Rasul Paulus memperjelas bahwa “Yesus adalah manusia yang merendahkan diri-Nya mati di kayu salib”. Jadi Yesus dan rasul Paulus menjelaskan bahwa sifat rendah hati itu adalah usaha sengaja menempatkan diri hidup tak perlu ditinggikan karena tidak membutuhkan penghormatan dan pengagungan dari manusia. Walaupun dia dikagumi bukanlah keinginan apalagi permintaan, tetapi sifat tulus spontan orang yang mengagumi dan menghormatinya.
  2. Walaupun kita mengagumi orang yang rendah hati tetapi pada dasarnya kita sendiri tidak ingin menjadi orang yang rendah hati. Mengapa demikian? Karena rendah hati itu berat, tidak menyenangkan dan tidak terkenal. Rendah hati biasanya menempatkan posisi di bawah yang tidak tidak diingini banyak orang.
  3. Rendah hati bukanlah pandangan rendah mengenai diri sendiri. Bisa saja melakukan hal-hal yang besar tetapi tidak pernah merasa besar. Bisa juga bercita-cita tinggi tanpa menginginkan hidup di tinggikan. Rendah hati tahu betul siapakah dirinya di hadapan Tuhan. (MT)

Minggu, 13 Oktober 2019


PESAN MINGGU INI 06 OKTOBER 2019

BELAJAR DARI SEMUT

Amsal 6:6 “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak”

Salomo tidak sedang bercanda saat dia menyuruh si pemalas belajar dari pola hidup seekor semut. Lebih tepat bila dia sesungguhnya menyatakan kebencian dan kemarahannya kepada si pemalas. Tetapi Salomo yang dikenal sebagai raja yang bijaksana itu menyatakan kebencian dan kemarahannya dengan rasa humornya memerintahkan agar si pemalas belajar kepada si semut. Semut tergolong binatang kecil yang sangat kuat dan rajin. Menurut penelitian semut dapat mengangkat beban dua puluh kali berat tubuhnya. Jadi bila semut berberat 1 gram maka dia mampu mengangkat beban 20 gram. Bayangkan bila saudara mempunyai berat 50 kilo maka saudara mampu menangkat beban 1 ton. Hebat bukan?

Semut juga adalah binatang yang rajin. Kuat dan rajin adalah pasangan yang tepat. Tetapi semut juga memiliki sifat-sifat baik lainnya, sehingga Salomo menyuruh si pemalas belajar dari seekor semut :

  1. Semut adalah binatang yang selalu menggunakan kesempatan yang ada untuk giat dan rajin bekerja. Kesempatan yang dapat digunakan untuk bekerja adalah saat cuaca baik. Sedikit hujan dan angin kencang membuatnya tak dapat bekerja. Jadi saat cuaca baik dia akan gunakan sebaik-baiknya sebagai kesempatan untuk mengumpulkan bahan makanan. Semut selalu mengisi setiap ada kesempatan untuk bekerja.
  2. Semut adalah binatang yang sangat sosial. Semut sangat jauh dari sifat egois. Semut selalu siap membantu semut lainnya sehingga tercipta kerjasama dan gotong royong yang rapi.
  3. Semut adalah binatang kecil yang sangat ramah satu dengan semut yang lain. Bila bertemu dengan ada jarak maka semut akan selalu mengangkat antenanya biar terjalin komunikasi. Bila sudah dekat maka sesama semut akan bersalaman.
  4. Semut adalah binatang yang rapi dan teratur. Biasanya semut hidup dalam komunitas besar. Tetapi telah terjalin kerjasama karena pembagian tugas yang baik. Ada yang menjadi ratu, ada yang menjadi prajurit dan ada pula pekerja.

Empat sifat ini sudah menjadi gaya hidup yang dibangun dan diperjuangkan seumur hidup seekor semut yang tergolong sangat singkat. Amsal 16:16 ini adalah bagian firman Allah yang kebenarannya adalah mutlak. Bukanlah sekedar nasehat Salomo kepada si pemalas. Sebagai pengikut Kristus yang standar hidup dan moral adalah Alkitab, kita haruslah menjadi orang yang rajin. Rasa malas yang terkadang muncul harus terus dilawan dan dibuang. Kita juga harus mempunyai kepedulian sosial yang tinggi.

Jadi setiap hari harus melawan sifat egois. Bila kita telah berhasil membangun pola hidup yang diperintahkan Allah dalam hidup kita, maka kita bukan hanya sekedar anak Tuhan yang diberkati tetapi menjadi anak Tuhan yang memberkati. Dengan demikian kita akan beroleh dan memberi manfaat besar bagi peradaban manusia. (MT)
Minggu, 06 Oktober 2019


PESAN MINGGU INI 29 SEPTEMBER 2019

BUKAN GELAR TAPI KUALITAS

2 Korintus 11:23 “Apakah mereka pelayan Kristus? – aku berkata seperti orang gila – aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut.”

Ada seorang memberi pendapat yang sedikit aneh tetapi perlu juga dipelajari dengan baik. Dia mengatakan “bila saudara membuka usaha dengan baik disertai kerja keras ternyata saudara rugi puluhan juta rupiah berarti saudara sudah lulus S2 tanpa diwisuda. Dan bila saudara buka usaha dan kerja keras tetapi rugi ratusan juta berarti saudara Sudah menyandang gelar doktor”. Tentu dua-duanya perlu direspon dengan bijak dan dipelajari secara mendalam kemudian buka usaha lagi. Saudara bisa jadi master dan doktor beneran dalam kualitas walaupun bukan dalam gelar. Saudara betul tidak belajar di kampus tetapi langsung di lapangan kehidupan. Ingat! Ilmu yang didapat dalam lapangan kehidupan biasanya lebih bermanfaat daripada ilmu yang diperoleh di kampus.

Kalau kita berpikir tentang kehidupan rasul Paulus yang kita temukan adalah Paulus yang hebat, Paulus yang sukses dan seorang hamba Tuhan karismatik yang penuh urapan. Dia adalah penginjil hebat dan penulis produktif. Paulus adalah pembuka dan membangun gereja yang handal dan ada banyak prestasi yang tak mungkin dapat ditulis dalam pesan singkat ini.

Tetapi ada baiknya pula kita melihat sisi lain dari pergumulan seorang rasul Paulus. Untuk semua prestasi yang dicapai rasul Paulus bukanlah tanpa perjuangan, bukan tanpa kesediaan membayar harga. Dan jelas bahwa rasul Paulus bukanlah tipe seorang yang cari aman. Dia menghadapi banyak masalah dalam hidupnya. Seperti bagian ayat Firman yang terkutip di atas Paulus berjuang dan tidak jarang menghadapi kerugian dalam pergumulan hidupnya. Sangat jelas dia tak terhentikan dan jelas berjuang untuk memperoleh semuanya. dia terus berjuang dan siap rugi secara materi agar terus naik level.

Dia berjuang dan melakukan banyak hal dengan kesulitan tinggi, tentu dengan kekuatan penuh yang diterima dari Tuhan. Bila kita baca kelanjutan dari 2 Korintus 11:23 maka kita akan menemukan deretan panjang lapangan pendidikan langsung yang mengangkat rasul Paulus terus naik. Dia menghadapi sengsara dan tidak jarang teraniaya. Sering juga dia mengalami kesedihan yang mendalam karena harus meninggalkan jemaat yang dikasihinya. Tak terhitung cobaan yang menerpa hidupnya. Dia harus pula berhadapan dengan penginjil-penginjil palsu. Tidak jarang Jemaat pula menolaknya karena dipengaruhi pengajar-pengajar sesat. Paulus tidak pernah mundur, dia berjuang tanpa henti, walaupun sebenarnya banyak alasan tepat yang membuatnya mundur. Paulus berjuang terus belajar di lapangan kehidupan. Dari karyanya jelas dia layak menjadi doktor yang berkualitas. (MT)
Minggu, 29 September 2019


PESAN MINGGU INI 22 SEPTEMBER 2019

MENGETAHUI UNTUK MELAKUKAN

Filipi 4:9 “Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.”

Selama seminggu mengikuti seminar telah menjadikan Nathan hidup lebih bersemangat. Dia memahami secara tepat pesan seminar itu pada dirinya. Bukan hanya itu dia pun ingin melakukan semua hal-hal yang memang harus diterapkan dalam hidup. Sebelum seminggu tidak ada satupun yang dilakukan, semangatnya keburu padam. Bila kita gemar belajar tetapi tidak melakukan apa yang kita pelajari, maka belajar menjadi sesuatu yang tidak berarti. Rasul Paulus menulis suratnya ke Filipi mempunyai nuansa yang sangat berbeda dengan surat-suratnya kepada jemaat-jemaat lain. Bila ke jemaat-jemaat lain umumnya bertujuan menegur berbagai kesalahan dan permasalahan pelanggaran moral serta memperingatkan agar hati-hati dan tegas terhadap ajaran ajaran yang menyesatkan. Tetapi ke Jemaat Filipi adalah merupakan ucapan terima kasih atas berbagai nilai yang baik dan benar dari Jemaat filipi. Bukan berarti tidak ada nasehat. Dalam rasa terima kasih yang mendalam Rasul Paulus juga menyelipkan nasehat yang perlu dilakukan Jemaat agar terus bertumbuh secara rohani kendatipun hidup dalam berbagai tekanan.

Rasul Paulus sangat tegas menyatakan sikap hidup kerohaniannya kepada Yesus. Rasul Paulus memulai segala sesuatu dari dirinya. Dalam suratnya kepada Filipi ini Rasul Paulus mengungkapkan bagaimana dia menerapkan firman Allah dalam menjalani hidup sehari-hari. Rasul Paulus menyaksikan berbagai penderitaan yang dialami karena membela Injil. Dia menyatakan baginya hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan. Dia juga menyaksikan bahwa segala sesuatu dapat ditanggung dalam Kristus. Rasul Paulus menasehati Jemaat di Filipi untuk melakukan apa yang sudah lebih dulu dilakukannya. Rasul Paulus menasehati agar segala sesuatu yang telah diajarkannya tidak cukup hanya diketahui tetapi harus dilakukan. Rasul Paulus tidak sembarangan menasehati tetapi karena sudah melakukan dan menikmati indahnya setelah melakukan kebenaran Firman yang sudah diketahui. Tentu kita tidak mau dijuluki hanya jago seminar tetapi hidupnya tidak bersinar, jago belajar tetapi hidup tak terpelajar. Kita juga tentunya tidak mau disebut jago baca tetapi hidup sendiri tak dibaca, banyak tahu tetapi tetap minus perilaku.

Jadi sebaiknya habis seminar hidup bersinar, tekun belajar hidup makin sabar, rajin membaca dan memberi hidup dibaca, semakin banyak tahu agar semakin benar berperilaku. Semua dapat dicapai agar segala sesuatu nilai yang kita peroleh melalui belajar berlanjut dengan penerapan. (MT)
Minggu, 22 September 2019


PESAN MINGGU INI 15 SEPTEMBER 2019

TETAP TENANG

Zefanya 1:7 “Berdiam dirilah di hadapan Tuhan ALLAH! Sebab hari TUHAN sudah dekat. Sungguh TUHAN telah menyediakan perjamuan korban dan telah menguduskan para undangan-Nya.”

Zefanya bernubuat dalam bentuk pratelling, artinya memberitahukan kepada umat Allah akan hal-hal yang terjadi ke depan. saat Zefanya menubuatkan tentang hari Tuhan, dia sedang berbicara tantang hal jangka pendek dan tentang hal jangka panjang.

  • Hari Tuhan jangka pendek adalah memperingkatkan Yehuda mengenai datangnya hukuman Allah. Hari Tuhan adalah waktu datangnya hukuman kepada Yehuda yang murtad karena terlibat kepada penyembahan berhala meniru kebiasaan bangsa kafir di sekitar mereka.
  • Hari Tuhan jangka panjang adalah merupakan hari kiamat atau berakhirnya sejarah dunia yang fana ini.

Hari Tuhan jangka pendek dan jangka panjang sama-sama datangnya hukuman berat kepada siapapun yang hidup dalam dosa dan kejahatan karena menolak Tuhan dan firman-Nya. Tetapi Zefanya juga menjelaskan bahwa hari Tuhan akan menjadi penghiburan yang membesarkan hati semua orang saleh yang hidup di dalam Tuhan dan taat kepada firman Tuhan. Zefanya memberi pengarahan bahwa sikap yang benar dalam menyambut hari Tuhan adalah berdiam diri atau tetap tenang dalam arti tenang melakukan firman Tuhan tak perlu ragu hidup makin taat dan setia karena hari Tuhan adalah hari kebahagiaan bagi umat yang taat dan setia. Pada hari Tuhan jangka pendek Allah menghukum Yehuda dengan cara memakai bangsa Babel menawan Yehuda sebagai bangsa terbuang. Tetapi perlindungan Allah kepada yang taat dan setia tetap nyata, baik bagi yang terbuang baik bagi yang tertinggal di Yerusalem.

Pada hari Tuhan jangka panjang, Allah menghukum dunia dengan hukuman penderitaan abadi. Tetapi orang percaya dan setia akan memasuki kebahagiaan abadi.

  • Tenang menanti-nantikan hari Tuhan, atau berdiam diri di hadapan Tuhan berarti mempersiapkan diri dengan baik. Dimulai dengan kerelaan untuk terus bertobat. Artinya memperbaiki kelakuan hidup sehari-hari dalam pengertian meninggalkan kebiasaan buruk yang bertentangan dengan firman Allah.
  • Berdiam diri dan tetap tenang juga berarti selalu dalam keadaan datang kepada Tuhan. Karena Tuhan selalu dalam keadaan menyediakan penjamuan dan menguduskan para undangannya.

Jadi pada saat penantian kedatangan hari Tuhan sikap yang tepat adalah tetap tenang. Karena pada saat penantian itu kondisi selalu kurang nyaman karena kejahatan semakin meningkat, kondisi alam pun tidak menentu. Sekali lagi sikap tepat adalah tetap tenang. (MT)
Minggu, 15 September 2019


 

PESAN MINGGU INI 08 SEPTEMBER 2019

BERPENDIRIAN TEGUH

1 Korintus 15:58 “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”

Mengidolakan seseorang atau meniru atau meneladaninya tidak ada salahnya. Tetapi menjadi salah bila untuk menirunya kita menjadi kehilangan pendirian atau ciri khas diri sendiri. Bruce Lee mengatakan “jangan ingin menjadi sosok seorang idola yang kamu tiru. Boleh belajar kelebihannya tetapi tetaplah menjadi diri sendiri dan teruslah berjuang makin baik sesuai dengan potensi diri yang ada padamu”.

Bila disederhanakan maka isinya adalah “jadilah pribadi yang berpendirian teguh”. Semua orang memang sebaiknya mempunyai pendirian atau prinsip tertentu, yang harus dipertahankan dan diperjuangkan. Tentu saja pendirian kita haruslah nilai yang benar dan sudah cukup meyakinkan diri sendiri bahwa pendirian pantas dan patut dipertahankan dan diperjuangkan. Kita boleh belajar dari mana saja yang tidak bertentangan dengan firman Allah. Tidak jadi masalah bila kita berwawasan luas atau tahu banyak tetapi jangan menjadi seorang yang gampang terbawa arus. Semua kita punya potensi diri dan punya talenta yang harus dikembangkan. Dan masing-masing punya potensi mengembangkannya dengan cara sendiri. Bukan dengan cara ikut-ikutan dengan orang lain.

Bila menggunakan potensi diri dengan cara sendiri yang diyakini tepat dan benar, berarti sedang menghargai pemberian Tuhan dalam hidup. Mungkin saja saudara punya idola sebagai sosok yang dikagumi dan membayangi diri saudara. Tidak ada salahnya belajar hal yang baik dan benar dari dia tanpa harus meniru hal yang salah darinya. Tetaplah memiliki pendirian yang menjadi ciri khasmu dan majulah di dalam Tuhan. Semua umat Kristen boleh mengidolakan Pak Joko Widodo dan belajar banyak hal baik dari beliau tetapi tidak perlu mengorbankan iman saudara agar seiman dengannya. Karena iman adalah puncak dari semua pendirian. Saya sangat mengidolakan bapak Basuki Tjahya purnama. Saya dapat mempelajari banyak hal dari beliau. Tapi saya tidak akan pernah setuju dengan beliau dalam hal tidak setia dalam pernikahan. Saya tidak akan pernah terbawa arus akan pendiriannya walaupun saya tetap menghargainya dan tak perlu berhenti mengidolakannya. Karena berpendirian teguh berarti mengerti dan menghargai pendirian orang lain juga.

Orang yang berpendirian teguh, imannya pun tak akan goyah dan akan selalu giat melayani Tuhan dan sesama. Orang yang beriman tentu akan terlibat juga dalam pekerjaan Tuhan karena tahu semua jerih payahnya dalam Tuhan tidak akan sia-sia. (MT)
Minggu, 08 September 2019


PESAN MINGGU INI 01 SEPTEMBER 2019

HERO BUKAN NERO

Yohanes 21:18-19 “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki. Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: “Ikutlah Aku.”

Seseorang memberi wejangan janganlah menjadi manusia “is”. Artinya hedonis, sekularis, materialis, egois, sinis dan bengis. Sebaliknya jadilah manusia “an”. Artinya manusia yang penuh kebaikan, kemurahan, kelemahlembutan, kesabaran, ketekunan. Dalam hal ini adalah merupakan pilihan kita, kita mau si “is” atau menjadi si “an”. Contoh Si “is” adalah kaisar Nero pengganti Klaudius ayah tirinya. Nero adalah seorang si bengis dan sadis dan egois dan sinis. Untuk memuaskan rasa egoisnya dia melakukan suatu tindakan yang sadis. Pada tahun 64 dia membakar kota Roma untuk kepentingannya sendiri. Keinginannya tak terbendung untuk membangun istana dengan danau yang berpantai pasir indah. Tetapi dengan ringannya Nero menuduh Kristen yang melakukan pembakaran itu. Akibatnya ratusan orang Kristen menjadi korban akibat kemarahan massa.

Pada saat itulah diperkirakan Rasul Petrus dan Rasul Paulus menjadi martir bagi Kristus. Pada saat itu kekristenan mendapat serangan kejam karena kaisar Nero menghasut publik agar fokus mempersalahkan umat Kristen tanpa ada sedikitpun memberi kesempatan untuk membela diri. Nero betul-betul aman karena tuduhannya justru dijadikan menjadi pembuktian kepahlawanannya melindungi keamanan di kota Roma. Dia dielu-elukan sebagai hero padahal hanyalah seorang Nero yang bengis dan kejam. Contoh si “an” adalah rasul Petrus dan rasul Paulus yang menjadi korban atas sebuah kebengisan. Petrus yang sudah dibentuk oleh Yesus dan dituntun Roh Kudus yang mengulurkan tangannya untuk dibawa ke keadaan dan hal-hal yang tidak dia kehendaki. Tunduk kepada Tuhan telah menjadikannya menjadi pribadi yang menebar kebaikan, kemurahan dan penuh belas kasihan.

Hidup dipenuhi Roh Kudus telah menuntun rasul Paulus mengalami perubahan yang signifikan. Dari seorang yang emosional menjadi pribadi yang mempunyai penguasaan diri, dari seorang yang ambisius menjadi seorang pribadi yang penuh kesabaran dan ketekunan. Kekejaman Nero membuatnya hampir saja kehilangan heroiknya meninggalkan Roma, tetapi pertemuannya dengan Yesus dia menjadi seorang hero yang kembali lagi ke Roma. Dia bahkan siap disalibkan dengan kepala ke bawah. Dia adalah hero yang siap menghadapi Nero. (MT)
Minggu, 01 September 2019


PESAN MINGGU INI 25 AGUSTUS 2019

SESUATU UNTUK DIPERJUANGKAN

1 Korintus 9:26-27 “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”

Seorang pejuang hak-hak sipil di Amerika, DR Martin Luther King mengatakan: jika seseorang belum menemukan sesuatu untuk diperjuangkan hingga akhir hayatnya, dia tidak pantas untuk hidup. Pernyataan ini sangat keras dan tegas tetapi mengandung makna yang sangat dalam. Jadi tidak cukup hanya jargon “hidup adalah perjuangan”, bila tidak ada sesuatu untuk diperjuangkan. Jadi haruslah setiap umat Tuhan berusaha menemukan sesuatu yang baik dan benar untuk diperjuangkan. Untuk mencari sesuatu untuk diperjuangkan tidak perlu jauh-jauh. Karena sangat mudah menemukannya dalam diri sendiri. Seorang petobat baru sangat cinta Yesus, berusaha melakukan sesuatu untuk menunjukkan kepada teman-temannya bahwa ikut Tuhan Yesus itu indah dan sangat dibutuhkan oleh semua manusia.

Pada awalnya dia berusaha menceriterakan kasih Yesus yang menyelamatkannya. Kemudian mengajak teman-temannya untuk percaya dan menyerahkan diri kepada Yesus. Ternyata tidak seperti yang diharapkan. Teman-temannya justru memintanya membuktikan melalui perilakunya. Pada saat itulah dia menemukan sesuatu yang harus diperjuangkan. Diawali dengan intropeksi ternyata dia menemukan dirinya adalah pemarah, perokok dan kurang fokus dalam bekerja sehingga hasil kerja tidak maksimal. Pada saat itu pula dia berjuang untuk sabar, melepaskan diri dari kecanduan rokok dan bekerja lebih disiplin dan memaksimalkan diri. Hal itu tidak mudah itulah sebabnya perlu diperjuangkan.

Berjuang apalagi memperjuangkan nilai hidup yang baik dan benar membutuhkan waktu yang lama bahkan mungkin saja seumur hidup. Tetapi bila sudah dibuat keputusan yang tegas dampaknya biasanya mulai nyata. Dia fokus berjuang untuk hidup lebih baik, tanpa disadari teman-temannya satu persatu percaya kepada Yesus. Pada saat ada sesuatu yang diperjuangkan dia pun menemukan hidupnya semakin indah dan bermakna. Rasul Paulus pun menyatakan hal yang sama dengan ungkapan yang berbeda. Rasul Paulus meminjam sikap seorang atlet bela diri tinju dalam berlatih dan bertanding. Dia harus berlatih agar siap tanding dan bertanding dengan arah tinju atau sasaran tinju yang jelas. Artinya dia berjuang untuk suatu tujuan yang jelas. Lebih jelasnya seorang petinju yang baik adalah seorang yang mengetahui secara jelas sesuatu yang diperjuangkan. Sesuatu itu adalah menang tanding. Rasul Paulus menjelaskan bahwa dia telah menemukan sesuatu harus diperjuangkan. Sesuatu itu adalah penguasaan diri, suatu syarat membangun hubungan baik dengan sesama agar tidak ditolak Allah. (MT)
Minggu, 25 Agustus 2019


PESAN MINGGU INI 18 AGUSTUS 2019

HIDUP BERSINAR

Matius 5:16 “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Walaupun kita hidup dalam gelap janganlah ikut-ikutan menjadi orang gelap. Tetapi justru kesempatan untuk hidup bersinar, Karena orang yang hidup dalam gelap sangat membutuhkannya. Masalah yang perlu dijawab adalah bagaimanakah hidup bersinar itu? Untuk mempermudahnya, hidup bersinar itu adalah hidup berintegritas. Ada-ada saja. Bukanlah malah semakin sulit? Nah agar bukan sekedar keren saya mau meminjam pendapat Spencer Johnson. Menurutnya integritas adalah menceritakan kebenaran kepada diri sendiri dan jujur melakukan kebenaran itu kepada orang lain. Menceritakan kebenaran kepada diri sendiri adalah membentuk diri menjadi seorang yang benar dapat juga diartikan belajar dan berjuang untuk hidup benar. Sedangkan jujur melakukan kebenaran itu kepada orang lain berarti kebenaran itu harus dinyatakan melalui sikap dan perilaku untuk membangun hubungan dengan orang lain. Dan pada saat kita melakukan kebenaran itulah kita sedang bersinar. Bila dipakai bahasa yang lebih tegas adalah kita sedang memancarkan cahaya atau terang Kristus. Mengajarkan kebenaran itu memang tidak mudah tetapi melakukan kebenaran itu adalah sangat sulit. Butuh keseriusan, fokus dan perjuangan.

Tetapi perlu kita ingat sulit itu bukan berarti mustahil. Melakukan kebenaran adalah perjuangan seumur hidup, karena hanya dengan melakukan kebenaranlah kekristenan menjadi berdampak. Berdampak baik bagi diri sendiri dan juga bagi orang lain. Nah, berdampak baik kepada orang lain itu pula adalah pengertian hidup bersinar. Berbicara mengenai kebenaran tentu banyak sumbernya ada kebenaran budaya, ada pula kebenaran diri sendiri. tetapi ingat ya bahwa kebenaran yang bersinar itu adalah kebenaran yang Alkitabiah.

Sebab itu haruslah kita terus belajar firman Allah dengan membaca Alkitab kemudian melakukan perintahnya atau menerapkan dalam hidup kita. Belajar Firman itu bukan temporer tetapi seumur hidup. Ada juga pengertian integritas yang dipahami secara umum yaitu berlaku benar dan baik dilihat atau tidak dilihat oleh orang lain. Bila dibuat satu kata saja ialah jujur. Bila kita bekerja dengan baik tanpa ada yang melihat itu adalah bagian dari integritas. Yesus mengatakan integritas adalah katakan ya bila ya dan katakan tidak bila tidak. Artinya satunya hati, kata dan laku. Rasul Paulus mengatakan lakukanlah segala sesuatu seperti kepada Tuhan. Jadi hidup bersinar adalah hidup berintegritas, hidup memancarkan kemuliaan Allah, hidup menjadi terang dunia. Kesimpulannya hidup menjadi saksi Kristus untuk menuai jiwa bagi Kristus. (MT)
Minggu, 18 Agustus 2019


PESAN MINGGU INI 11 AGUSTUS 2019

MENGGUNAKAN WAKTU

Mazmur 90:12 “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana”.

Kesadaran pemazmur akan singkatnya waktu bagi setiap orang, membuatnya ingin memaksimalkan waktu yag dianugerahkan Tuhan kepadanya. Memaksimalkan waktu itu sangat penting dan berharga sehingga dia berdoa agar dia beroleh hati yang bijaksana dalam memaksimalkan waktunya. Waktu adalah harta yang berharga yang paling terbatas. Dan waktu adalah harta yang mahal tapi tak seorangpun termasuk orang terkaya di dunia yang mampu membelinya. Waktu akan terus melaju dan tak akan bisa dihentikan. Lagipula kalau dia sudah lewat tak akan dapat lagi ditarik kembali. Waktu tak dapat pula ditahan hanya dapat diisi dan digunakan secara maksimal. Menggunakan waktu secara maksimal adalah mengisinya dengan kegiatan yang berguna seperti belajar, bekerja dan melayani Tuhan sebaik-baiknya.

Ada 4 kata yang perlu kita hubungkan dalam menggunakan waktu secara bijaksana, yaitu :

  1. Pertama adalah “tambah”. Kenapa tambah? Karena dengan melajunya waktu maka umur akan semakin bertambah maka ada banyak nilai hidup yang perlu semakin bertambah dalam hidup kita. Artinya dengan semakin bertambahnya umur kita haruslah disertai dengan tambah bijaksana, tambah cerdas, tambah dewasa dan tambah mengerti kehendak Tuhan. Dan ada banyak nilai yang benar yang betul-betul semakin bertambah dalam hidup berhubungan dengan semakin bertambahnya usia, seperti bertambah tekun, sabar, mengasihi Tuhan dan sesama.
  2. Kedua adalah “kali” atau “lipat gandakan”. Dalam semakin berlipat gandanya usia perlu pula melipat gandakan potensi diri agar menghasilkan perolehan yang berlipat ganda. Dalam hal ini perlu mengalikan waktu yang ada agar mengerjakan satu pekerjaan hasilnya dapat berlipat ganda.
  3. Ke-tiga adalah “bagi”. Waktu kita betul tidak banyak padahal ada banyak kewajiban dan tanggung jawab yang harus kita kerjakan. Dengan demikian haruslah cermat membagi waktu agar semua kewajiban dan tangung jawab dapat diselesaikan dengan baik.
  4. Ke-empat adalah “kurang”. Umur kita semakin bertambah tetapi kesempatan semakin berkurang. Itulah sebabnya ada banyak yang harus dikurangi agar kesempatan itu tertuju untuk hal-hal yang tepat dan benar. Sebab itu perlu dikurangi waktu untuk bermain dan bersantai. Perlu juga mengurangi waktu untuk mengerjakan berbagai pekerjaan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.

Kesimpulannya waktu kita sangat terbatas di dunia ini sebab itu gunakan dan maksimalkan waktu sebaik-baiknya, karena waktu tak bisa diulang tak bisa dibeli tetapi bisa digunakan dan diisi dengan kegiatan yang baik, tepat dan benar. (MT)
Minggu, 11 Agustus 2019


PESAN MINGGU INI 04 AGUSTUS 2019

KEBAHAGIAAN SEJATI

Amsal 28:14 “Berbahagialah orang yang senantiasa takut akan Tuhan, tetapi orang yang mengeraskan hatinya akan jatuh ke dalam malapetaka.”

Ada sebuah pepatah dari negeri Tiongkok yang sangat sederhana, jelas dan jujur, walaupun tidak dapat dijadikan sebagai sumber kebahagiaan yang sejati. Pepatah yang cukup panjang ini adalah bila saudara ingin bahagia satu jam pergilah tidur siang. Bila saudara ingin bahagia satu hari pergilah piknik. Bila saudara ingin bahagia satu minggu pergilah berlibur. Bila saudara ingin bahagia satu bulan, menikahlah. Bila saudara ingin bahagia satu tahun dapatkanlah harta warisan. Dan bila saudara ingin bahagia selamanya, lakukanlah kebajikan.

Kebahagiaan yang datang dari sumber-sumber di atas tentu bukanlah kebahagiaan yang sejati melainkan hanyalah kesenangan sesaat yang bersifat temporer. Contohnya kesenangan tidur siang cukup satu jam saja, sebab bila lebih bukan lagi memberi kesegaran tetapi justru membuat tubuh lemah. Berlibur menyenangkan hanya seminggu saja sebab bila lebih pulangnya kecewa karena banyak pekerjaan yang terbengkalai, lagipula uang yang direkening habis paling tidak menipis. Orang menikah hanya mempunyai bulan madu yang belum tentu satu bulan. Jangan-jangan hanya minggu madu saja, yang jelas sampai sekarang belum ada yang namanya tahun madu.

Dan semua kebahagiaan yang didaftarkan dalam pepatah negeri Tiongkok itu adalah kebahagiaan yang berbeda dengan kebahagiaan dalam Tuhan. Karena kebahagiaan yang pepatah negeri Tiongkok maksudkan adalah kebahagiaan yang ditentukan dari luar diri kita. Sedangkan kebahagiaan yang dimaksudkan raja Salomo adalah kebahagiaan yang bersumber dari dalam diri kita. Raja Salomo cukup lama terperangkap kepada kesalahan fatal mencari kebahagiaan dari luar dirinya. Dia menikmati kekayaan yang berlimpah, dia memperoleh kedudukan tertinggi yang pernah dicapai manusia, secara manusiawi dia adalah orang ternama dan tenar serta terhormat. Ternyata Salomo menyimpulkan semuanya itu sia-sia belaka, tak memberi kebahagiaan yang sejati.

Raja menyimpulkan pada masa tuanya “berbahagialah orang yang senantiasa takut akan Tuhan” Raja ingin menyatakan seluruh pencapaiannya itu tak membawa kebahagiaan tanpa Tuhan. Karena kebahagiaan sejati adalah hidup dalam Tuhan. Sebab bila kita takut akan Tuhan dan hidup dalam Tuhan kita punya 1001 alasan untuk hidup bahagia. Karena Tuhan adalah sumber kebahagiaan kita. Kata para psikolog lingkungan hanyalah menyumbangkan 20% dari kebahagiaan kita, sedangkan yang 80% merupakan pilihan hidup kita. Bila salah memilih bukan menambah tetapi malah mengurangi kebahagiaan kita. Raja Salomo menasehati agar kita memilih hidup senantiasa takut akan Tuhan dan hidup di dalam Tuhan. (MT)
Minggu, 04 Agustus 2019


PESAN MINGGU INI 28 JULI 2019

FOKUS KEPADA FIRMAN TUHAN

Mazmur 19:8-10 “Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya”

Fakta akan indahnya firman Tuhan sudah terbukti dalam dan melalui umat Tuhan yang sungguh-sungguh melakukannya. Firman Tuhan di atas dengan yakin menjelaskan secara detail tentang sifat, keuntungan dan nilai firman Tuhan.

Istilah-istilah yang dipakai untuk firman Tuhan mengandung pengertian yang mendalam :

  • “Taurat” itu adalah menyatakan kehendak Allah yang mengarahkan umat membangun hubungan yang benar dengan Allah.
  • “Peraturan” adalah sifat kehendak Allah yang memastikan semua umat yang melakukannya terus belajar untuk lebih tepat lagi bersikap sesuai aturan-Nya agar hidup semakin bijaksana.
  • “Titah” adalah peraturan-peraturan khusus mengenai hidup dalam kebenaran yang memberi dampak sukacita abadi bagi yang mentaatinya.
  • “Perintah” kehendak Allah yang harus dilakukan dan ditanggapi dengan sikap takut akan Tuhan. Ketaatan penuh akan mendatangkan kebebasan dari kehidupan yang berdosa.
  • Dan satu lagi yang tak kalah pentingnya adalah “hukum”. Mendengar kata hukum biasanya orang akan terganggu karena Tuhan ternyata memberi “hukum”.

Terbukti melalui istilah ini Tuhan menghendaki keteraturan dalam hidup sosial harus tercipta keadilan dan keberanian. Jadi sangat jelas betapa umat Tuhan harus fokus terus kepada firman Allah.

Ada sebuah cerita tentang warga gereja bernama Musa. Musa sangat tertib dan setia beribadah. Tetapi pada suatu minggu pagi dia agak terlambat bangun, tidak sempat sarapan langsung berangkat ke gereja. Di depan gereja ada penjual bakpao isi daging babi. Berhubung masih ada waktu sedikit dia membeli satu. Tetapi baru makan sepertiga ibadah sudah dimulai. Karena Musa tertib dia masuk ke gereja dan bakpao Medan isi daging babi yang cukup besar dipegang terus ditangan kanannya. Selama ibadah perhatiannya tertuju terus ke bakpao itu. Kebetulan waktu itu pendeta membaca firman Tuhan mengenai dialog Musa dengan Allah saat pengutusan Musa memimpin Israel keluar dari Mesir yang tertulis dalam keluaran 4. Saat membaca ayat 2 pendeta membaca dengan tegas, “Hai Musa apa yang ada di tanganmu”. Tiba-tiba Musa yang sejak tadi memegang bakpao menjawab “cuma bakpao Medan isi daging babi pak pendeta”. Cerita Musa pemilik bakpao ini memang hanyalah guyonan belaka. Tetapi cukup jelas menggambarkan akibat bila tidak fokus kepada firman Tuhan. Bila tidak fokus atau memusatkan perhatian dengan sungguh-sungguh kepada Firman yang kita baca dan kita dengar kita bisa saja salah atau gagal paham sehingga salah tanggap dan keliru dari tujuan. (MT)
Minggu, 28 Juli 2019


PESAN MINGGU INI 21 JULI 2019

TEKUN MENCARI KEBENARAN

Matius 5:6 “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan”

Kurang lebih dua puluh sekian tahun yang lalu film Judge Bao dari Cina sangat disukai para pemirsa yang mendamba kebenaran dan keadilan. Film ini mengisahkan Judge Bao sebagai seorang hakim yang adil dan tegas. Dalam membela kebenaran dia tidak terintimidasi oleh kepentingan dan tidak dapat ditekan oleh pendapaat dan kuasa mayoritas. Itulah sebabnya tak seorangpun penjahat dan koruptor yang lolos dari pengadilannya. Dia akan selalu menghukum dengan tegas sesuai dengan kejahatan para tergugat. Dia tidak pernah menghukum orang yang tidak terbukti melakukan kejahatan. Bila salah pasti mendapat vonis sesuai dengan kesalahannya dan bila benar akan segera dibebaskan sekaligus memperoleh pemulian nama baik. Judge Bao menjadi seorang hakim favorit dan dikasihi oleh penduduk. Tidaklah mengherankan bila semua rakyat memuji kebesaran dan kejujuran hakim Bao. Dapat dipastikan bahwa sosok seperti tokoh hakim Bao akan selalu dibutuhkan oleh masyarakat sepanjang masa. Pertanyaannya adalah “apakah di zaman sekarang masih ada seperti hakim Bao yang mencari dan melakukan serta menegakkan kebenaran dengan serius?

Tentu kita tidak boleh pesimis mengatakan tidak mungkin ada. Haruslah terus optimis mengatakan pasti ada. Lebih bersyukur lagi bila kita menjawab di dalam Tuhan kita pasti bisa. Untuk mencari, melakukan dan menegakkan kebenaran tidak perlu kita menjadi seorang hakim. Semua orang dari semua status dan strata sosial haruslah terpanggil melakukan dan memperjuangkannya. Firman Tuhan yang langsung diberitakan Yesus. “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran”. Dalam Alkitab terjemahan bahasa sehari-hari dikatakan “Berbahagialah orang yang rindu melakukan kehendak Bapa”.

Jadi kebenaran yang sejati adalah perilaku yang sesuai dengan kehendak Allah. Jadi kehendak Allah adalah kebenaran Firman Allah yang bila dilakukan akan menghasilkan kebahagiaan. Dan kebahagiaan dirasakan dan dialami para pencinta dan pelaku kebenaran karena membuat kita merasakan kehadiran Allah nyata dalam hidup kita di bumi kini. Bila kita hidup sesuai dengan kehendak Allah, Allahlah yang bertahta dalam hidup berarti pula Allah mengendalikan hidup kita. Sebab itu tekunlah mencari kebenaran, tekunlah membaca firmman Allah, karena Firman itulah kebenaran. Firman adalah penyataan kehendak Allah. Ingat! bahwa mempelajari Firman tidak boleh terlepas dari kehidupan doa, agar Tuhan memampukan kita mencari dan melakukan kebenaran kendatipun di masa sulit dan sukar. (MT)
Minggu, 21 Juli 2019


PESAN MINGGU INI 14 JULI 2019

TERUSLAH TEKUN BERDOA

Yakobus 5:16 “Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.”

Alexander Graham Bell mengatakan bahwa bila sebuah pintu tertutup, pintu yang lain akan terbuka. Tetapi faktanya yang terjadi adalah bila seseorang menemukan pintu tertutup di depannya dia menjadi fokus pada pintu yang tertutup itu. Dia berusaha menunggu agar pintu tertutup itu terbuka atau ada yang membukakan. Dia terus saja memandang pintu tertutup itu dengan hati yang sedih sehingga tidak mampu melihat pintu yang lain yang sesungguhnya terbuka lebar. Untuk melihat pintu lain yang terbuka saat pintu di depan tertutup adalah doa yang sungguh-sungguh. Karena bila kita berdoa dengan sungguh-sungguh maka kita akan melihat jalan Tuhan yang terbuka untuk kita lalui.

Kata “energo” yang artinya permohonan yang sungguh-sungguh akan menghasilkan energi atau daya yang besar. Pintu lain yang terbuka itu adalah mujizat yang terjadi saat Tuhan bekerja dalam hidup kita. Sebab itu janganlah pernah menyerah saat pintu di depan kita tertutup. Tetaplah maju dan lakukan usaha praktis untuk memperoleh kekuatan dari Tuhan. Usaha praktis pertama dan utama yang selalu dapat kita lakukan adalah berdoa dengan sungguh-sungguh. Karena doa orang benar bila dengan yakin didoakan sangat besar kuasanya. Adalah sangat tepat bila doa orang benar besar kuasanya dengan berbagai alasan. Doa orang benar mendekatkan mereka kepada Allah. Kedekatan kepada Allah adalah syarat kuasa Allah tersalur ke dalam dan melalui hidup umat-Nya.

Masalah yang sedang menerpa penerima surat Yakobus ini adalah penganiayaan. Hampir di semua tempat umat Tuhan teraniaya. Tidak ada pintu yang terbuka untuk umat Tuhan.

  • Doa yang sungguh-sungguh mendekatkan umat-Nya kepada Allah.
  • Doa yang sungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Allah tetapi juga membuka jalan bagi kehidupan yang penuh dengan Roh.
  • Doa yang sungguh-sungguh mendatangkan kuasa Allah dalam berkarya dan melayani dan juga memaksimalkan pengabdian hidup seorang pengikut Kristus.
  • Selanjutnya doa yang sungguh-sungguh memberi dan memperluas wawasan mengenai pemeliharaan Allah yang nyata kepada umat-Nya.
  • Berdoa dengan sungguh-sungguh adalah membuka hati untuk menerima hikmat dan pengenalan yang semakin mendalam kepada Allah.

Lagi pula adalah kesempatan memperoleh kesembuhan dan menerima keluputan dari kesukaran karena menghadirkan Kristus nyata dalam kehidupan. Jadi doa yang sungguh-sungguh mengarahkan kita ke pintu terbuka yang lain, saat pintu di depan tertutup. Jadi teruslah tekun berdoa dengan sungguh-sungguh. (MT)
Minggu, 14 Juli 2019


PESAN MINGGU INI 07 JULI 2019

TERBENTUK MELALUI PROSES

1 Samuel 16:12-13 “Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman: Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia. Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama.”

Allah memutuskan untuk menghentikan Saul menjadi raja. Tidak perlu ada demonstrasi umat untuk menghentikan pemeritahan monarki yang dikuasai oleh Saul. Tidak jelas alasan Allah mengapa tidak menyerahkan kekuasaan kepada Yonatan anak Saul. Padahal jejak rekam Yonatan cukup baik dan lebih baik dari ayahnya. Dalam pergerakan waktu selanjutnya ternyata terjadi persahabatan yang baik antara Daud dan Yonatan. Padahal Daud sudah diurapi Samuel menjadi raja menggantikan Saul.

Daud diurapi di hadapan kakak-kakaknya dan Daud menjadi calon pengganti Saul sudah tentu mendatangkan masalah bagi Daud. Mendatangkan masalah karena sungguh tidak wajar. Kakak-kakaknya bisa menjadi iri hati dan Yonatan sebagai putra mahkota pun seharusnya memberontak, tetapi karena Roh berkuasa atas Daud, dia bijaksana menghadapi kakak-kakaknya dan Yonatan. Kakak-kakaknya mengakui wibawa adiknya dan Yonatan pun menghormati Daud yang diyakini lebih pantas menjadi raja dari dirinya sendiri. Bila Saul diurapi langsung naik tahta kerajaan tetapi Daud harus berhadapan dulu dengan banyak masalah.

Jadi sangat jelas perbedaan antara Saul dan Daud untuk duduk di tahta kerajaan. Saul langsung naik tahta tanpa melalui proses sedangkan Daud menjadi raja diproses berbagai peristiwa yang sangat menyulitkan dirinya. Saul diurapi langsung menjadi raja seluruh umat Israel sedangkan Daud dimulai menjadi raja hanya untuk sebagian umat Israel. Saul tidak perlu berbuat apa-apa untuk memimpin sedangkan Daud harus membentuk dirinya untuk memimpin rakyat dan dia harus merebut hati rakyatnya agar mau dipimpin. Dimulai dengan penetapan Tuhan untuk diurapi Samuel berlanjut dengan panggilan raja Saul ke istana sebagai penghibur raja. Daud melayani raja Saul sebagai pembawa senjata dan bermain harpa untuk menghibur raja Saul. Tampil sebagai pahlawan yang mengalahkan Goliat dan tentara Filistin membuat rakyat mengelu-elukan kepahlawanannya. Dielu-elukan sebagai pahlawan tidak membuat Daud menjadi besar kepala dan membusungkan dada. Seperti biasanya dia meresponinya dengan cara bermazmur, memuji dan menyembah Allah. Merespon penderitaan dan fitnahan tidak juga mengerdilkan jiwanya, tetapi justru membesarkan hatinya. Karena Daud gemar bermazmur. (MT)
Minggu, 07 Juli 2019


PESAN MINGGU INI 30 JUNI 2019

GEREJA YANG BERINTEGRITAS

2 Korintus 2:17 “Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah dan di hadapan-Nya.”

Tidak terhindarkan akan adanya masalah-masalah dalam gereja lokal. Dalam hal ini jemaat betul-betul ingin tahu sikap gereja terhadap masalah-masalah yang timbul. Sudah cukup lama gereja disegani masyarakat umum karena integritas orang percaya sangat terjaga dengan baik. Seiring dengan melajunya waktu terjadilah perubahan-perubahan yang tidak baik. Hal itu terjadi karena gereja memang harus terbuka. Tentu saja gereja tidak menyeleksi anggota sebuah jemaat lokal. Gereja bukanlah tempat berhimpunnya orang-orang baik dan benar melainkan tempat belajar dan membentuk diri menjadi orang yang baik dan benar. Semakin lama, ternyata gereja membutuhkan pola disiplin bagi anggota jemaat yang melakukan kesalahan serius seperti pelanggaran moral dalam keluarga dalam bentuk kebejatan dan perzinahan.

Salah satu pola disiplin itu adalah teguran tegas dan keras. Jadi kesalahan tidak boleh didiamkan. Harapan bila disiplin dijalankan adalah terjadinya pembaharuan rohani. Dengan demikian displin dalam jemaat lokal adalah bagian untuk membentuk jemaat lokal tetap berintegritas. Membiarkan jemaat hidup dengan standar moral yang buruk tanpa ada upaya memperbaikinya adalah memberi keuntungan kepada iblis. Rasul Paulus menjelaskan bahwa gereja yang berintegritas akan dipamerkan oleh Allah sebagai bentuk kemenangan umat Allah atas dunia ini. Umat tebusan Allah adalah bau harum sebagai aroma yang menyenangkan hati Allah. Rasul Paulus menyatakan bermunculannya para penghkotbah bermotivasi menyimpang. Mereka mencari keuntungan lewat khotbah-khotbah mereka. Cara mereka adalah melunakkan tuntutan untuk hidup kudus agar khotbah mereka diterima. Mereka pun dikasihi dan mendapat balasan materi dari sikap mereka yang dianggap cukup menyenangkan. Biasanya para pengkhotbah pencari untung ini sangat berbakat dan sangat pandai meyakinkan pendengarnya. Tidak segan-segan memelintir pengalaman spiritual mereka untuk menyenangkan pendengarnya. Padahal sesungguhnya mereka tidak jujur. Mereka telah menjadi pemberita Injil yang palsu. Mudah saja bagi mereka memakai cerita yang menarik atau pengalaman pribadi menarik sebagai firman Allah. Semua demi keuntungan materi. Bagi mereka Alkitab menjadi kurang penting karena dianggap tidak nyata senyata pengalaman pribadi mereka. Lama kelamaan mereka menyatakan memiliki perkembangan teologia yang baru yang tersingkap. (MT)
Minggu, 30 Juni 2019


PESAN MINGGU INI 23 JUNI 2019

HIDUP MENJADI TELADAN

1 Samuel 3:19-20 “Dan Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satu pun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur. Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi TUHAN.”

Samuel adalah tokoh penting bagi sejarah Israel. Tokoh Samuel adalah pemimpin Israel yang dipakai Allah membawa Israel melewati masa-masa krisis bersamaan dengan peralihan dari Teokrasi menjadi Negara kerajaan. Peralihan yang kritis ini yang menjadi pemimpinnya adalah Samuel. Samuel adalah merupakan hakim terakhir dan orang pertama yang menduduki jabatan nabi walaupun bukan orang pertama yang mempunyai karunia bernubuat. Samuel mengantar Israel dengan selamat melalui masa hakim-hakim ke masa Israel dipimpin seorang raja, Samuel menyaksikan kemerosotam moral imam, khususnya anak-anak imam Eli. Tetapi walaupun Samuel besar dalam asuhan imam Eli dia tidak sama dengan anak-anak imam Eli yang tidak menjaga hidupnya sebagai seorang imam.

Untuk menjadi teladan di tengah kemerosotan moral, Allah memanggil Samuel. Karena penduduk Israel tidak percaya lagi kepada kepemimpinan imam-imam termasuk anak-anak imam Eli. Ada apa dengan imam-imam pada zaman itu?. Sesungguhnya para imam pada saat itu cukup terdidik dengan baik. Mereka mempunyai pengetahuan dan kecerdasan melebihi penduduk Israel pada umumnya. Karena mereka betul-betul dipersiapkan menjadi imam. Dalam hal bicara mereka lebih fasih, dalam banyak hal lebih unggul. Waktu terus berjalan tanpa disadari terjadilah kemerosotan moral oleh keteledoran para imam. Para imam puas dengan status keimaman tanpa menjaga kehidupan sebagai seorang imam. Penduduk Israel kehilangan figur untuk diteladani, karena para imam betul-betul terjerumus untuk tampil lebih berkelas dari penduduk Israel. Para imamat kehilangan kesederhanaan hidup yang selama ini merupakan kekhasan mereka sebagai rohaniawan. Anak-anak imam Eli berusaha hidup lebih utama dari penduduk Israel lainnya. Allah pun menghukum mereka dan mengangkat Samuel. Samuel menjadi figur yang muncul sebagai teladan bagi Israel.

Keteladanan hidupnyalah membuatnya memimpin Israel dengan cukup baik melewati krisis yang melanda Isreal selama kepemimpinannya. Samuel tidak terlalu memikirkan status imamnya. Dia bersyukur karena Allah memanggilnya menjadi imam. Imam baginya adalah pemberian Allah yang harus dihargai melalui tanggung jawab. Bukan hanya tanggung jawab untuk melakukan tugas imamat. Bagi Samuel lebih penting lagi hidup bertanggung jawab sebagai seorang imam. Tanggung jawab hidup benar agar menjadi teladan bagi umat. (MT)
Minggu, 23 Juni 2019


PESAN MINGGU INI 16 JUNI 2019

BELAJAR DARI SEJARAH

Mazmur 77:12-14 “Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu. Ya Allah, jalan-Mu adalah kudus! Allah manakah yang begitu besar seperti Allah kami? ”

Bagian terakhir dalam Kitab Hakim-hakim memberi informasi betapa rusaknya moral umat bila hidup jauh dari Allah. Hal yang paling berpotensi menjauhkan umat dari Allah adalah penyembahan berhala. Penyembahan berhala adalah merupakan kemurtadan rohani yang paling dalam. Kesalahan demi kesalahan terjadi secara berulang. Umat-Nya tidak pernah belajar dari kesalahan. Bagian-bagian akhir dari kitab Hakim-hakim mencatat penderitaan akibat kesalahan yang sama. Seharusnya tidak perlu lagi terjadi bila umat belajar dari kesalahan masa lalu yang sudah sering terjadi. Jadi Hakim-hakim ini mengingatkan umat Allah bahwa satu-satunya yang tidak boleh terulang adalah kesalahan yang tidak mau belajar dari sejarah.

Mazmur 77 ini memberi gambaran seseorang yang menghadapi kesulitan langsung berseru memohon pertolongan Allah. Tetapi dia tidak mendapat tanggapan yang baik dari Allah, Allah seakan-akan memalingkan muka dan tidak mau tahu akan kesulitan dan doanya. Dalam Mazmur 77:8-10 jelas dia mulai mengungkapkan perasaannya menyatakan “Tuhan seakan menolak dan berubah setia serta lupa menaruh belas kasihan kepada umat-Nya”. Ternyata pemazmur tidak melihat dan menilai hal yang sedang terjadi atau sedang dialami saja. Pemazmur tidak melupakan hal yang terjadi pada masa yang lampau hanya karena kesulitan hidup yang terjadi pada masa sekarang. Pemazmur tidak melupakan sejarah. Dia tidak melupakan perbuatan dan kenyataan kasih Allah pada masa yang lalu. Orang percaya terkadang mendapati dirinya dalam situasi yang sangat menyulitkan hidupnya. Sebagai orang percaya tentu dia mengambil langkah yang tepat dan benar yaitu berseru dan berdoa kepada Allah. Bila ternyata tidak segera mendapat tanggapan dari Allah jangan segera mundur. Tetaplah berseru kepada Allah siang dan malam sambil mengingat perbuatan-perbuatan-Nya yang telah dinyatakan pada masa yang lalu.

Salah satu usaha untuk mengingat perbuatan Allah di masa yang lalu adalah membaca firman Allah untuk mengetahui sejarah kerajaan Allah. Hal inilah yang tidak dilakukan oleh umat Allah pada zaman Hakim-hakim. Mereka sangat mudah melupakan karya-karya Allah yang nyata menuntun umat-Nya pada masa yang lalu. Dengan pengertian umat yang melupakan sejarah karya Allah dalam hidupnya sangat mudah jatuh. (MT)
Minggu, 16 Juni 2019


PESAN MINGGU INI 09 JUNI 2019

TETAPLAH BERDOA

Ayub 38:1-3 “Maka dari dalam badai TUHAN menjawab Ayub: Siapakah dia yang menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan? “Bersiaplah engkau sebagai laki-laki! Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku.“

Ada satu hal yang penting diketahui semua orang percaya mengenai sikap Ayub menghadapi penderitaan berat berkepanjangan yang menerpanya. Sikap Ayub yang sangat penting itu adalah tidak berhenti berdoa. Padahal bila dipelajari dengan seksama doa Ayub bersumber dari hati yang bingung, sikap ragu-ragu dan kecewa. Di samping itu semua, sering pula Ayub memanjatkan doa dengan nada seruan kemarahan. Ayub mengungkapkan isi hati dan perasaannya apa adanya. Dia tidak berusaha menutupi kebingungan, keragu-raguan, kekecewaan dan kemarahannya. Kelihatannya Ayub kehilangan ketenangan hati menghadapi kenyataan pahit yang menimpanya. Hal itu membuatnya kecewa dan marah kepada keadaan dan persoalan yang menyengsarakan hidupnya. Ayub hanya berdoa saja mengungkapkan perasaannya kepada Allah. Ayub mengesampingkan semua pemahaman intelektualnya mengenai Allah. Dia betul-betul bingung sehingga pemahamannya tentang jalan-jalan Allah seakan-akan menjadi sangat tersembunyi. Tetapi Ayub terus berdoa karena yang dia butuhkan adalah realitas kehadiran Allah dalam hidupnya. Ada keyakinan yang kuat dalam diri Ayub yaitu bahwa segala sesuatu antara dia dengan Allah semua beres saja.

Sahabat-sahabat Ayub berusaha melemahkan keyakinan Ayub dengan menuduh Ayub melakukan kesalahan yang membuat ada sesuatu yang tidak beres antara dirinya dengan Allah. Ternyata Ayub tetap membuktikan bahwa hubungannya dengan Allah-lah yang memampukannya menanggung pencobaan berat yang sedang dihadapi. Atas doa-doa Ayub yang terus dipanjatkan tanpa henti sepanjang penderitaannya ternyata Allah memberi jawaban yang mencengangkan. Mencengangkan karena jawaban Allah tidak sesuai dengan harapan Ayub. Allah tidak memberitahukan kepada Ayub mengapa dirinya terus menderita. Karena bagi Allah dan juga bagi Ayub alasan itu bukanlah hal yang penting. Hal utama adalah respon Ayub terhadap penderitaan itu. Walaupun doa dan pernyataan Ayub terkadang salah dan sembrono Allah tidak menegur Ayub dengan keras apalagi menghukum. Allah memahami dan bersimpati kepada Ayub. Allah mempertimbangkan kata-kata dan perasaan Ayub dengan belas kasihan. Allah justru mengungkapkan kerumitan semesta alam yang tidak dapat dipahami dengan lengkap karena jauh dari pemahaman manusia. Allah menyatakan bahwa kekurangan Ayub memahami cara kerja Allah bukanlah kegagalan iman dan bukan pula bersumber dari sikap mengasihi Allah. Respon Ayub sudah tepat yaitu tetap berdoa. (MT)
Minggu, 09 Juni 2019


PESAN MINGGU INI 02 JUNI 2019

PEPERANGAN ROHANI

Keluaran 17:13, 15-16 “Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan rakyatnya dengan mata pedang. Lalu Musa mendirikan sebuah mezbah dan menamainya: “TUHANlah panji-panjiku! Ia berkata: Tangan di atas panji-panji TUHAN! TUHAN berperang melawan Amalek turun-temurun.”

Yosua bukanlah panglima perang yang muncul secara tiba-tiba. Dia telah cukup lama berproses di bawah tuntunan Musa. Musa mempersiapkannya menjadi penglima perang orang Israel. Pendidikannya untuk menjadi panglima perang bukan hanya berkat tuntunan Musa, tetapi dia terbentuk dalam kreatifitas tangan Allah langsung atas dirinya. Sebab Tuhan yang mengetahui masa depan karir kepatriotannya dalam memimpin umat-Nya, menunjukkan cara kerja-Nya langsung kepada Yosua. Allah tahu secara tepat peperangan-peperangan yang akan dihadapi dan dimenangkan oleh Yosua. Peperangan pertama menghadapi Amalek seperti yang tertulis dalam Keluaran 17 sangat penting dan berpengaruh dalam karir Yosua sebagai seorang panglima perang. kasus peperangan pertama ini tidak pernah dipandangnya sebagai keberhasilannya. Tetapi dia mengetahui secara pasti bahwa dia menang karena dipakai oleh Allah. Yosua tahu betul bahwa kemenangan umat Israel sangat tergantung dengan topangan doa Musa, Harun dan Hur. Peristiwa ini melahirkan suatu prinsip perang dalam diri jenderal dan panglima perang yang mumpuni ini. Prinsipnya adalah bahwa dalam semua peperangan menang atau kalah sudah ditentukan dalam medan yang tidak kelihatan sebelum hasilnya nyata dalam kasat mata. Prinsip ini mendasari semangat Yosua dalam menaklukkan bangsa-bangsa Kanaan. Bagi semua umat Tuhan pelajaran ini sangat penting untuk menjadi kunci dalam peperangan rohani.

Penaklukan Kanaan itu dilakukan oleh Yosua selama kurang lebih lima tahun. Semua bangsa yang ada di Kanaan dimusnahkan sama sekali tetapi karena kelalaian dia telah membuat orang Gibeon tetap menjadi bahaya laten bagi umat Allah. Karena walaupun mereka sedikit tetapi dampak mereka mempengaruhi umat Allah menyembah berhala sangatlah potensial. Itulah sebabnya Yosua dan umat Allah masih terus berjuang berperang melawan pengaruh buruk dari sisa-sisa orang Kanaan. Peperangan fisik cukup lima tahun saja Yosua dan umat Allah memporakporandakan kubu pertahanan bangsa-bangsa Kanaan. Tetapi dalam peperangan rohani Yosua dan semua umat Allah tidak dibatasi oleh waktu. Seumur hidup akan terus berjuang dalam peperangan rohani yang tidak mudah. Tidak mudah dalam pengertian tidak boleh lengah. Peperangan tidak mudah karena peperangan bukan melawan musuh yang dapat dilihat dengan kasat mata. Peperangan yang dimaksud adalah peperangan melawan pengaruh-pengaruh buruk dunia dan ilah-ilah zaman ini. (MT)
Minggu, 02 Juni 2019


PESAN MINGGU INI 26 MEI 2019

HIDUP SESUAI FIRMAN ALLAH

Mazmur 119:9-11 “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. “Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu. “Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.”

Anak muda sedang diperhadapkan ke persimpangan jalan. Dia pun harus menentukan jalan mana yang harus ditempuh. Kemampuan untuk memilih jalan dengan tepat sangat berhubungan dengan segala sesuatu yang mengisi hati dan pikiran seseorang. Jadi adalah sangat tepat bila anak disiapkan dengan hati dan pikiran yang terisi dengan firman Allah. Karena seorang yang sudah mengetahui dan mengerti firman Allah mempunyai kesanggupan untuk menjaga hati dan pikirannya tetap tulus dan bersih karena mampu menolak pengaruh buruk dari lingkungannya. Bila hati dan pikiran sudah dikuasai firman Tuhan maka ada hal-hal yang sangat memberkati dan menguntungkan terjadi. Memberkati dan menguntungkan karena mampu membuat keputusan yang benar dan tepat. Keputusan-keputusan berkualitas dan bernilai abadi yang dibuat bila hati dan pikiran dikuasai firman Tuhan antara lain, keputusan kuat untuk setia kepada Tuhan dan firman-Nya seumur hidup. Mungkin saja ada banyak godaan dan tawaran dari dunia berupa standar moral yang bertentangan dengan firman Allah, sudah pasti tetap dengan keputusan hidup setia kepada Allah. Setia mencari Allah dan kebenarannya, setia mencari Allah dalam kehidupan doa dan setia pula hidup berharap kepada Allah.

Dunia tidak akan pernah berhenti melawan Allah dengan menawarkan sistem dunia yang menggiurkan bagi manusia. Tidak heran bila banyak orang percaya mengikutinya dan bergeser dari imannya. Tetapi umat yang selalu setia mengisi hati dan pikirannya dengan firman Tuhan akan selalu setia dengan keputusaannya. Keputusan untuk mempertahankan kelakuan bersih, menjaga hati agar tidak berdosa kepada Allah. Baginya melakukan Firman bukan sesuatu yang memberatkan tetapi menjadi sukacita. Karena dengan firman Allah dia akan mampu mengamati dan menyaksikan hasil jalan-jalan Allah. Jalan Allah itu memang sangat berlawanan dengan jalan-jalan dunia tetapi sangat memadai dijadikan pembimbing perjalanan untuk memperoleh kebahagiaan di dunia. Karena Allah sudah berjanji “Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut taurat Tuhan” (Mazmur 119:1). Karena sesungguhnya firman Allah tersaji bagi yang mencintainya sebagai penghiburan, perlindungan. Bila setia menjadikan firman Allah sebagai patokan bersikap dunia akan membuat hidup ini indah, bahagia dan menyenangkan. (MT)
Minggu, 26 Mei 2019


PESAN MINGGU INI 19 MEI 2019

ABDI ALLAH YANG BERJIWA BESAR

Ulangan 34:9-10 “Dan Yosua bin Nun penuh dengan roh kebijaksanaan, sebab Musa telah meletakkan tangannya ke atasnya. Sebab itu orang Israel mendengarkan dia dan melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa. “Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel.”

Kebesaran hati dan juga kebesaran kepemimpinan Musa sungguh tak tertandingi para nabi. Allah sendiri menghormati Musa dan menyatakan tak akan ada lagi nabi sebesar dia. Besar karena kelembutan hatinya besar karena kepemimpinannya. Kebesarannya nyata pula melalui sikap keterbukaan dan kerelaan mendelegasikan tugas kepemimpinannya bahkan memberi tongkat estafet kepemimpinannya kepada Yosua. Tetapi ketika dia melangkah ke atas gunung Nebo ada sedikit kekecewaan terselip di relung hatinya. Dia memandang ke Kanaan negeri yang dijanjikan Allah kepada bangsanya. kekecewaannya tiba-tiba sirna diganti dengan kemenangan besar sepanjang hidupnya. Memandang baginya sudah cukup tak perlu memasukinya. Mengantar rakyat yang dipimpinnya menjadi penting daripada memasukinya. Dan ada lagi kemenangan yang hanya dia yang menikmatinya. Kemenangan unik dan kehormatan istimewa mati secara khusus dan dikuburkan oleh Tuhan sendiri.

Di kemudian hari Musa berdiri dengan Kristus di bukit pemuliaan. Sungguh suatu kehormatan yang layak diterima upah kerendahan hatinya menerima hukuman yang dijatuhkan Allah kepadanya. Sikap menerima hukuman dengan rendah hati ikut berkontribusi membuktikan kebesarannya. Dia tidak berupaya membela diri atas kegagalannya dengan melemparkan kesalahan kepada rakyat yang dipimpinnya, walaupun kesalahannya sangat berhubungan dengan ulah brutal dan buruk rakyatnya. Tak ada perlawanan, tak ada pula reaksi negatif berlebihan. Dia menurut saja dan menerima vonis yang sempat menghancurluluhkan hatinya. Daripada menangisi hukuman akibat kesalahan lebih baik memusatkan perhatian kepada kelanjutan perjuangannya yaitu menumpangkan tangan kepada Yosua yang memimpin rakyatnya memasuki negeri Perjanjian. Musa adalah umat Perjanjian Lama yang paling menyerupai Kristus. Pada awalnya Musa merasa hukuman itu terlalu besar dibanding suatu kesalahan kecil. Tetapi setelah dijalaninya dia pun menyadari bahwa hukuman Allah tidak pernah dijatuhkan tanpa suatu tujuan yang mulia.

Betul juga bahwa menerima hukuman Allah jauh lebih baik daripada menerima hadiah dari iblis. Akhirnya di atas gunung Nebo hukuman itu ternyata adalah bagian dari kehormatan yang dianugerahkan Allah kepada abdi Allah yang berjiwa besar. (MT)
Minggu, 19 Mei 2019


PESAN MINGGU INI 12 MEI 2019

DOA YANG TERKABUL

Ayub 19:23 “Ah, kiranya perkataanku ditulis, dicatat dalam kitab”
Ayub 23:3 “Ah, semoga aku tahu mendapatkan Dia, dan boleh datang ke tempat Ia bersemayam.”
Ayub 29:2 “Ah, kiranya aku seperti dalam bulan-bulan yang silam, seperti pada hari-hari, ketika Allah melindungi aku”

Dalam Kitab Ayub kata-kata begitu deras mengalir dari mulut Ayub, yang berisi jeritan-jeritan hati yang dicatat dan dijawab Allah dengan setia. Dalam jeritan hatinya itu terselip banyak permohonan yang didengar, dipedulikan dan dijawab oleh Allah.

Melalui pesan minggu ini penulis mencatat tiga dari banyak permohonan Ayub yang dikabulkan oleh Allah :

  1. Pertama, Ayub adalah “kiranya perkataanku ditulis dalam Kitab”. Tentu saja dalam kondisi sakit dan menderita, Ayub tidak ingin terkenal sehingga kata-katanya akan terdokumentasi dengan baik. Ayub hanya berharap bahwa kata-kata dalam bentuk jeritan hati dan ungkapan iman seorang yang menderita, dibutuhkan orang-orang beriman pada generasi berikutnya. Penulis Kitab Ayub bukanlah Ayub, karena penulis Kitab Ayub tidak dikenal. Dimasukkannya Kitab Ayub ini sebagai satu Kitab dari 66 Kitab dalam Alkitab tentulah melalui seleksi yang ketat dengan syarat-syarat yang jelas. Jadi bila Kitab Ayub dimasukkan dalam Alkitab pada saat pengkanonan Alkitab adalah mujizat oleh tuntutan Roh Kudus. Tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah sebagai pengabulan Allah atas doa Ayub.
  2. Kedua, Ayub memohon semoga aku mendapatkan Dia dan datang ke tempat Dia bersemayam. Bila disederhanakan maka Ayub memohon semoga aku menikmati indahnya melihat Dia dan bersekutu dengan Dia. Dalam Ayub 42:5, Ayub menyatakan bahwa sebelumnya hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau. Penampakan Allah kepada Ayub merupakan jaminan kepada semua orang percaya yang setia, pada suatu saat yang ditentukan oleh Allah akan melihat-Nya. Dia bersimpati terhadap kelemahan dan pergumulan umat-Nya. Bila kita tahan menderita serta tetap setia Allah akan menyatakan kehadiran-Nya dan membuktikan perhatiannya kepada kita.
  3. Ketiga, Ayub memohon kedekatan dan keakraban yang pernah dialami dengan Allah terulang lagi. Doanya ini pun dikabulkan Allah. Doanya yang pertama sangat menarik untuk direnungkan. Menarik karena doanya ini pengabulannya dalam fakta ribuan tahun kemudian. Ini penting untuk kita semua agar terus termotivasi mendoakan hal-hal bermutu dan hal-hal yang besar. Mungkin doa kita tidak terkabul langsung. Mungkin juga terkabul lama setelah kita mati.

Teruslah berdoa karena ternyata kematian tidak menghentikan doa kita. Artinya kita boleh mati tetapi doa kita tetap hidup.(MT)
Minggu, 12 Mei 2019


PESAN MINGGU INI 05 MEI 2019

MENGASIHI FIRMAN ALLAH

Yesaya 55:8, 11 “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.”

Semua manusia mempunyai harapan dan cita-cita yang ingin diraih. Langkah awal untuk meraih harapannya itu tentu diawali dengan membuat rencana. Berdasarkan rencana yang sudah ditetapkan itu maka dilakukan upaya praktis agar harapan dapat diraih sesuai dengan rencana. Tetapi tidak jarang terjadi bahwa yang dicapai justru tidak sesuai dengan rencana yang dibuat dari awal. Tetapi merencanakan sesuatu, tetaplah sangat penting, ada kalimat bijak “gagal merencanakan adalah merencanakan kegagalan“ artinya lebih baik merencanakan walaupun tak tercapai daripada hidup tanpa rencana sama sekali. Sebab rencana yang tak tercapai bukanlah kegagalan melainkan pencapaian yang tertunda. Mengapa rencana manusia sering tak tercapai? Tentu jawabannya adalah karena secerdas apapun seseorang, dia tetaplah manusia yang serba terbatas. Tetapi bila dikaitkan kepada status seseorang sebagai anak Tuhan, maka dapat disimpulkan bahwa kegagalan bisa terjadi karena rencana yang dibuat barangkali bertentangan dengan rencana Tuhan.

Sering terjadi seorang beriman membuat rencana tanpa mempertimbangkan firman Tuhan. Padahal keinginan dan harapan seorang anak Tuhan sebaiknya diupayakan selaras dengan firman Tuhan. Hal itu sangat penting agar segala sesuatu rencana dan upaya untuk mewujudkan rencana tersebut menyenangkan hati Allah. Hal ini hanya dapat kita lakukan bila cinta Firman dan hidup sesuai dengan Firman. Lagi pula perlu kita pahami bahwa bila kita terus memaksakan keinginan kita yang jelas-jelas bertentangan dengan rencana indah Tuhan atas hidup kita, sudah pasti merugikan hingga mnyulitkan hidup. Jadi lebih baiklah hidup ini diarahkan terus melaju sesuatu rencana Tuhan. Karena rencana Tuhan pasti bertujuan untuk mensejahterakan hingga menyelamatkan kita. Bila kita terus setia membaca dan mencintai serta mentaati firman Tuhan, maka kita akan mengalami hal yang sangat memberkati.

Kuasa dan dampak firman Tuhan itu tidak pernah batal dan tak berlaku. Kuasa dan dampak Firman itu akan memberi berkat dan membawa kehidupan rohani yang indah kepada yang menerima dan mentaatinya. Sejarah kehidupan manusia telah membuktikan bahwa menolak dan melawan Firman biasanya akan dihukum oleh penolakan dan perlawanannya. Jadi teruslah setia mengasihi Firman dan jadikan membaca dan mentaati Firman sebagai sukacita dan kegemaran. (MT)
Minggu, 05 Mei 2019


PESAN MINGGU INI 28 APRIL 2019

HAI BANGKIT BAGI YESUS

Yohanes 11:25-26 “Jawab Yesus: Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?”

Yohanes 11 merupakan pasal yang panjang berisi fakta tentang kematian dengan segala respon kepada kematian itu. Pernyataan Yesus dalam Yohanes 11:25-26 merupakan ayat kunci dari seluruh pasal. Dimulai dengan Lazarus menderita sakit yang mematikan tak terobati hingga permohonan agar Yesus segera datang menyembuhkannya. Jawaban Yesus yang membingungkan pemohon bahwa penyakit yang diderita Lazarus akan menyatakan kemuliaan Allah. Kebingungan berikutnya adalah bahwa Yesus tidak segera datang menyembuhkan Lazarus, padahal keluarga ini adalah keluarga yang sangat akrab dengan Yesus.

Keluarga Lazarus, Marta dan maria sangat tulus mengasihi dan mengabdi kepada Yesus. Tuhan Yesus seakan-akan tidak mau menolong dan Yesus sengaja menunda untuk segera menolong. Tuhan Yesus bukanlah bermain-main dengan keadaan tetapi menunda dengan tujuan yang baik. Tujuan Yesus adalah untuk meningkatkan dan memperkuat iman keluarga Lazarus dan murid-murid yang menyaksikannya.

Tujuan Yesus terkadang sangat bertentangan dengan keinginan umat yang dikasihi-Nya. Itulah sebabnya umat-Nya sering salah sangka menganggap Yesus kurang memperhatikan penderitaan mereka. Umat-Nya sering menuduh Yesus salah hanya karena menunda padahal Yesus menunda sesuai dengan kebijaksanaan-Nya yang sempurna dan kasih-Nya yang dibuktikan pada waktu-Nya yang tepat.

Sebelum Yesus membangkitkan Lazarus, Yesus menyatakan dua hal yang perlu kita simak dan dalami agar semakin mengenal Yesus dengan baik :

  1. Hal pertama adalah Dia menyatakan diri sebagai kebangkitan dan hidup. Hal ini berarti kematian orang percaya bukanlah akhir kehidupan. Tetapi kematian adalah awal dari hidup yang sesungguhnya atau hidup kekal. Karena kehidupan yang sesungguhnya itu adalah kehidupan yang tidak akan mengalami kematian lagi sampai selama-lamanya.
  2. Hal kedua adalah mengenai masygullah hati Yesus dan Yesus menangis. Yesus menyatakan perasaan-Nya atas penderitaan manusia yang diakibatkan oleh dosa. “Masygullah Hati Yesus” menggambarkan kedalaman emosi dan kemarahan artinya Yesus menjadi sedih dan geram melihat penderitaan manusia akibat dosa “menangislah Yesus” menyatakan kasih-Nya yang dalam penuh emosi dan simpati kepada umat-Nya. padahal fakta Yesus menangis justru ditulis dalam Injil yang menekankan ke-Allah-an Yesus.

Jadi sangat jelas bahwa Yesus sangat memperhatikan umat-Nya secara lengkap dan sempurna. Jadi sangat betul lirik lagu rohani “Hai bangkit bagi Yesus.” (MT)
Minggu, 28 April 2019


PESAN MINGGU INI 21 APRIL 2019

SELAMAT PASKAH

1 Korintus 15:8-9 “Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.”

Rasul Paulus dengan tegas mengatakan sesuatu “yang sangat penting”. Sesuatu yang dimaksudkan rasul Paulus adalah kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian. Menjadi sesuatu yang sangat penting karena kebangkitan Tuhan Yesus itu bukanlah suatu peristiwa fantastik yang berdiri sendiri.

Kebangkitan Tuhan Yesus itu berhubungan dengan kehidupan semua orang percaya. Kebangkitan Yesus adalah jaminan pasti keselamatan dan kemenangan umat-Nya dari maut dan perbuatan dosa. Kebangkitan Tuhan Yesus adalah merupakan bagian utama dari rencana Allah sesuai dengan kitab suci. Kebangkitan Yesus adalah fakta yang berhubungan langsung dengan kehidupan orang percaya pribadi lepas pribadi. Penampakan kebangkitan Yesus secara langsung sebaiknya merupakan pengalaman pribadi semua orang percaya, seperti pengalaman pribadi rasul Paulus. Kita mengetahui bahwa pertemuan Yesus menyatakan kebangkitan-Nya kepada rasul Paulus terjadi setelah Yesus naik ke sorga. Jadi sangat jelas bukan? Bahwa walaupun Yesus naik ke sorga Dia tetap dekat denan umat-Nya. Karena Yesus naik ke sorga bukanlah membuat jarak melainkan membuang jarak. Jadi setiap kita merayakan Paskah dengan mengucapkan selamat paskah. Itu merupakan pernyataan iman “selamat mengalami kebangkitan Yesus” atau “selamat bertemu dengan Yesus yang bangkit”.

Rasul Paulus menyaksikan bahwa Tuhan Yesus yang bangkit menyatakan diri terakhir kepadanya. Dia mengatakan “Dan yang paling akhir dari semuanya” Ia menampakan diri juga kepadaku”.

Ada dua pengertian dari “yang paling akhir” :

  1. Pengertian pertama adalah klimaks dari semua penampakan Yesus. Menurut rasul Paulus adalah klimaks dan yang paling utama dan berkesan buat dirinya adalah pengalaman pribadinya dengan Yesus. Pengalaman pribadi rasul Paulus ini adalah pengalaman terbuka yang bisa dialami semua orang percaya. Semua orang percaya dapat mengalami pertemuan dengan Yesus yang bangkit itu berbeda-beda untuk semua orang.
  2. Pengertian ke dua adalah peristiwa yang perlu diterima dengan mutlak. Dalam fakta sejarah gereja Paulus adalah rasul terakhir bila pemahaman rasul adalah para pemberita Injil yang bertemu dengan kasat mata dengan Yesus dan yang menerima pesan langsung memberitakan Injil dari Yesus. Karena jabatan rasuli Perjanjian Baru adalah hal yang unik dan tak terulang lagi. Karena rasul adalah saksi dan utusan langsung Tuhan Yesus untuk meletakkan dasar jemaat Yesus Kristus. Bila akhir zaman ini ada yang mengaku dan mengangkat diri jadi rasul biar sajalah itu urusannya. (MT)

Minggu, 21 April 2019


PESAN MINGGU INI 14 APRIL 2019

BELAJAR APA YANG BENAR

Yesaya 26:9 “Dengan segenap jiwa aku merindukan Engkau pada waktu malam, juga dengan sepenuh hati aku mencari Engkau pada waktu pagi; sebab apabila Engkau datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar.”

Sangat tepat mengkategorikan Yesaya sebagai “nabi Injili”, karena nubuatnya tentang Yesus sangat lengkap dan sangat akurat. Padahal dia bernubuat kurang lebih 700 tahun sebelum Yesus datang ke dunia menjadi manusia. Sebelum Yesus datang menjadi manusia nabi Yesaya sudah menubuatkan kedatangan Yesus kedua kali untuk menghakimi bumi. Ada suatu fakta yang menandai kedatangan-Nya menghakimi dunia yaitu “Penduduk dunia akan belajar apa yang benar”. Sungguh merupakan situasi yang sangat menyenangkan. Betapa tidak! Karena bila penduduk dunia sudah mulai belajar apa yang benar, Roh Kudus akan menuntun penduduk bumi belajar firman Allah.

Zaman now belumlah saat atau zaman yang dimaksud. Karena zaman now sedang marak berdebat tentang pendapatkulah yang benar. Para pendeta sibuk berdebat untuk memperdebatkan akulah yang benar. Ada yang memperjuangkan doktrin lama yang benar sementara itu ada pula teolog yang sangat maju dan modern sehingga teologinya sangat pesat berkembang bersamaan dengan sistem kebenaran yang diperjuangkan ikut-ikutan pula berkembang. Itulah yang terjadi. Jadi bagaimana dong sikap kita. Menurutku tetaplah setia kepada kebenaran sejati yaitu firman Allah. Mari kita memposisikan diri kepada penduduk dunia yang terus menerus belajar apa yang benar. Tidak perlu terganggu oleh perdebatan para teolog ternama dengan segala konsep teologia yang dianut. Boleh belajar dari mereka, sebab semua teolog mempunyai sisi yang benar. karena kita yang setia kepada firman Allah sedang belajar apa yang benar. Tetapi sejarah Kerajaan Allah berulangkali menjelaskan bahwa kaum yang benar dan belajar apa yang benar akan menanti dan merindukan kedatangan Tuhan. Kerinduan dalam pengertian lahirnya hasrat yang sungguh-sungguh menemukan dan mendalami kebenaran yang sejati yaitu firman Allah.

Sementara kita belajar apa yang benar pasti juga disertai kehidupan doa yang sungguh-sungguh menyambut fakta kedatangan Yesus untuk menghakimi bumi. Tentu doa yang sungguh-sungguh yang lahir dari keinginan dimulainya tuntunan Tuhan atas umat atau seluruh umat supaya belajar apa itu keadilan sejati dan apapula kebenaran sejati. Penting bagi semua umat manusia secara khusus gereja-Nya agar siap memasuki kehidupan sesungguhnya yang mana Yesus Tuhan memerintah dengan penuh keadilan dan kebenaran sampai selama-lamanya. (MT)
Minggu, 14 April 2019


PESAN MINGGU INI 07 APRIL 2019

MENGABDIKAN DIRI UNTUK FIRMAN ALLAH

Ezra 7:10 Ezra “Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel.”

Ezra mengetahui dengan sangat jelas bahwa Allah menjaga firman-Nya secara teliti agar semua tergenapi dengan sempurna. Kembalinya Yehuda dari pembuangan bukanlah hasil perjuangan umat tetapi campur tangan Allah dalam rangka menggenapi janji-Nya. Ezra sendiri mengaku bahwa Allah sendirilah yang melindunginya. Tiga kali dalam pasal 7 ini Ezra menyatakan bahwa tangan Tuhan sendirilah yang melindunginya. Ezra pun memutuskan untuk mengabdikan diri untuk firman Allah.

Ada 3(tiga) hal yang dapat kita lakukan untuk mengabdikan diri kepada firman Tuhan : 

  1. Mengabdikan diri meneliti firman Allah justru menyerahkan hidupnya diteliti oleh firman Tuhan. Tujuan meneliti firman Allah adalah menemukan standar moral dari firman Allah dalam menjalani hidup sehari-hari. Jadi saat umat-Nya memperlajari firman Allah justru menyerahkan hidupnya diteliti oleh firman Allah. Dalam hal ini Ezra menjadi teladan bagi semua umat Allah untuk setia mempelajari untuk mentaati firman Allah. Seperti Ezra, saat kita membaca dan mempelajari firman Allah, berarti kita sedang membenamkan diri dalam menelusuri jalan pikiran Allah. Semua jalan pikiran Allah selalu berhubungan dengan tujuan Agung Allah untuk menyejahterakan umat-Nya. Lagi pula Ezra sangat paham bahwa firman Allah adalah kekuasaan tertinggi bagi umat-Nya. Membaca dan mempelajari firman Allah menjadikan umat-Nya mengetahui kehendak Allah, tetapi mengetahui tidak cukup sebab itu harus lanjut dengan hal kedua, melakukan firman Allah.
  2. Melakukan firman Allah adalah menjadikan firman Allah menjadi standar dalam bersikap. Bila mempelajari firman Allah adalah memberi pikiran dipenuhi dan dikendalikan firman Allah. Mengetahui dan melakukan firman sudah cukup bagus, tetapi akan lebih lengkap bila dilanjutkan dengan hal ketiga.
  3. Mengajarkan firman Allah. Ezra mengajarkan firman Allah kepada umat, agar komunitas Yahudi yang pulang dari pembuangan tetap mengetahui jati diri mereka sebagai umat pilihan Allah. Hal itu penting agar umat tetap terpanggil menjaga kemurnian hidup mereka sebagai umat Allah yang hidup di tengah-tengah bangsa-bangsa asing yang cenderung menyembah berhala.

Bila mempelajari firman adalah memberi pikiran dipenuhi firman, melakukan firman adalah memberi hati dikuasai firman, mengajarkan Firman adalah memberi tangan dan kaki dikendalikan Firman. Itulah yang dilakukan Ezra dalam rangka mengabdikan diri untuk fiman Tuhan. Ezra adalah model bagi semua umat yang berniat mengabdikan diri untuk firman Tuhan. (MT)
Minggu, 07 April 2019


PESAN MINGGU INI 31 MARET 2019

KEBENARAN YANG SEMPURNA

Mazmur 19:8-9 “Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya.”

Selama manusia hidup di belahan bumi ini tak akan bisa hidup tentram tanpa aturan yang mengikat dalam menjalani hidup bersama. Pada umumnya aturan dibuat berdasarkan kesepakatan bersama untuk ditaati. Pelanggaran kepada aturan tentu ada sanksinya. Ada juga aturan yang lahir dari kebiasaan hidup yang terbentuk dengan proses yang cukup lama di satu daerah tertentu. Biasanya disebut adat istiadat daerah atau budaya suku bangsa tertentu. Aturan dibuat agar tercipta hubungan harmonis antar manusia.

Mari kita menyimak pengakuan pemazmur yang menjadikan firman Tuhan menjadi standar hidupnya. “Taurat Tuhan itu sempurna” Taurat Tuhan adalah pernyataan kehendak Allah agar umat-Nya tetap membangun hubungan yang harmonis dengan Tuhan. Bila umat-Nya mempunyai hubungan yang harmonis dengan Tuhan dengan sendirinya mempunyai hubungna yang harmonis juga dengan sesama. Kehendak Tuhan adalah memberikan kesejahteraan dan kesegaran jiwa umat-Nya. Taurat Tuhan adalah aturan yang sempurna. Bila hidup menurut Taurat aturan yang benar dan sempurna dapat dipastikan akan tercipta hubungan yang harmonis dengan sesama. Peraturan Tuhan teguh itu artinya peraturan Tuhan adalah standar hidup benar dan baik yang teguh dan kuat. Artinya sudah sempurna kebenarannya, dan tidak akan pernah berubah. Itulah sebabnya siapapun yang hidup dengan standar moral dan kebenaran sesuai dengan peraturan Tuhan akan hidup semakin bijaksana. Titah Tuhan itu tepat, titah adalah perintah seorang raja yang harus ditaati, dan siapapun mentaatinya akan memperoleh keamanan, dan bila melanggar akan mengalami kesulitan oleh pelanggarannya. Perintah raja di dunia tidak selalu tepat karena biasanya sarat dengan kepentingan raja. Tetapi perintah Allah yang adalah Raja segala Raja pasti tepat.

Dan perlu kita ingat perintah Tuhan itu di berikan adalah untuk kesejahteraan dan kepentingan umat-Nya. Perintah Tuhan itu murni membuat mata bercahaya: murni dalam pengertian tidak tercampur dengan kepentingan-kepentingan tidak perlu. Karena tujuan Allah memberi perintah kepada umat-Nya murni untuk kesejahteraan dan kebahagiaan umat-Nya. (MT)
Minggu, 31 Maret 2019


PESAN MINGGU INI 24 MARET 2019

TEMPAT BERPIJAK YANG KOKOH

Keluaran 20:1 “Lalu Allah mengucapkan segala firman ini: “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.”

Tempat berpijak yang kokoh dalam langkah-langkah iman adalah mengetahui secara pasti apa yang telah Allah lakukan untuk kita, bukan apa yang kita lakukan untuk Allah. Perlu mengenal seberapa besar kasih Allah kepada kita, bukan sebesar apa kasih kita kepada Allah. Allah yang menciptakan manusia betul-betul mengenal manusia ciptaan-Nya itu dengan sempurna. Jadi Allah tahu betul cara pendekatan terbaik untuk membangun hidup manusia.

Itulah sebabnya Allah sendirilah yang berinisiatif melakukan tindakan penyelamatan, karena dia tahu betul manusia tidak akan pernah bisa menyelamatkan diri. Allah sendirilah yang berusaha mencari untuk menemukan manusia berdosa, karena Dia tahu bila manusia berdosa mencari Allah, tidak akan pernah menemukan. Sebelum Allah memberi peraturan yang harus menjadi standar hidup umat pilihan-Nya, Dia lebih dulu menyebut dan menjelaskan bahwa Allah sendirilah yang menyelamatkan umat pilihan-Nya dari perbudakan di Mesir. Dengan demikian umat Israel sudah harus mengerti bahwa Allah memberi standar hidup pastilah bukan menyulitkan hidup umat-Nya. Sudah pasti adalah untuk keselamatan dan kesejahteraan umat-Nya.

Hanya saja tempat berpijaknya harus kuat. Tempat berbijak yang kuat itu adalah memahami dan menerima nilai abadi yaitu Allah mengasihi manusia berdosa dengan kasih yang sempurna. Bukti kasih-Nya adalah bahwa Allah membuat tindakan praktis untuk menolong orang berdosa dari perbudakan dosa.

Allah menolong orang Israel dari perbudakan Mesir dengan menggunakan kuasa-Nya menghancurkan usaha Firaun yang menggunakan kuasanya memperbudak umat Israel. Allah juga menyatakan kasih-Nya dengan mengutus anak-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan manusia berdosa dari maut dan perbudakan dosa. Jadi bila umat Israel sebagai umat Allah Perjanjian Lama harus mengawali langkah perjalanan imannya dengan mengetahui bahwa Allah sendirilah yang menyelamatkan umat pilihan-Nya dari perbudakan Mesir. Demikian juga gereja-Nya sebagai umat Allah Perjanjian Baru harus mengawali langkah imannya dengan pemahaman bahwa Allah mengasihi dengan mengutus Yesus anak-Nya yang tunggal untuk menyelamatkannya dari perbudakan dosa. Betul juga kata pascal “Beri aku pijakan yang kuat dan sebuah tuast, maka aku akan mampu mengangkat dan memindahkan benda-benda yang berat. Mengetahui dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat sebagai bukti kasih Allah adalah pijakan yang kuat. Tuast adalah potensi umat yang dikasihi Allah yang harus dikerahkan dalam melawan pengaruh dosa yang selalu berusaha menyeret umat-Nya “Jadi selamat mengangkat beban berat bersama Tuhan Yesus. (MT)
Minggu, 24 Maret 2019


PESAN MINGGU INI 17 MARET 2019

BELAJAR SEUMUR HIDUP

Kisah Para Rasul 7:22-23 “Dan Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya. Pada waktu ia berumur empat puluh tahun, timbullah keinginan dalam hatinya untuk mengunjungi saudara-saudaranya, yaitu orang-orang Israel.”

Keluarga adalah tempat utama dalam membentuk seseorang untuk siap mengarungi perairan luas dalam beranjak menuju tujuan. Sama seperti keluarga Musa menganyam keranjang tempat Musa dalam mengarungi sungai Nil. Tetapi saat keranjang itu melaju, tidak banyak lagi yang dapat dilakukan keluarga. Ada satu hal penting yang dapat dilakukan adalah berdoa dengan tekun. Saat mereka berdoa Allah telah mengatur segalanya, sehingga Musa selamat dan dibesarkan sebagai umat Allah. Setelah cukup umur dia pun diserahkan kepada putri Firaun. Dia menjadi pangeran. Dalam kapasitasnya sebagai pangeran tentu dia mendapat pendidikan kelas satu dan teristimewa. Rupanya Musa tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dia memanfaatkan secara maksimal. Pengaruh kekafiran tidak terlalu berdampak pada dirinya. Dalam hal ini dia mampu mempertahankan nilai-nilai iman yang dia peroleh sebagai umat Allah dalam keluarganya. Dia berhasil menolak yang buruk dan menerima yang baik dalam pendidikan istana Firaun. Dia terbentuk menjadi pemimpin karismatik yang berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya. Dalam hal ini tidak mudah bagi Musa meninggalkan status dan karir terhormat ini untuk bersatu dengan umat Allah.

Tentu dia berpikir seribu kali untuk mengorbankan kehormatannya sebagai pangeran dan bersatu dengan para budak. Itulah sebabnya pada awalnya dia melakukannya secara diam-diam. Dia mencoba agar status terhormat tidak perlu dikorbankan tetapi menyatu dengan umat Allah secara rahasia. Ternyata tidak bisa. Keputusan sudah bulat meninggalkan kedudukan dan karir terhormat untuk bersatu dengan umat Allah. Ternyata dua-duanya hilang dari genggaman, dia harus hidup sebagai gembala pengembara di padang belantara Midian. Mungkin saja tidak sedikit diantara pengikut Kristus, rela melepaskan baju kehormatan untuk terjun kepada pelayanan. Padahal keputusan ini baik dilakukan untuk membawa pertolongan Tuhan kepada sesama.

Ternyata pengorbanannya tidak disambut baik oleh saudaranya. Adakalanya dicurigai dengan berkata ada udang di balik bakwan dan ada kepiting di balik nampan. Akhirnya kita mulai mundur dan menghakimi keputusan kita dengan berkata “aku telah terlalu bodoh membuat keputusan emosional dan ekstim”. Tidak perlu disesali. Justru keadaan yang tak mengenakkan itu diijinkan Tuhan untuk menempa, agar kita memasuki kedalaman hidup dan indahnya hidup dekat dengan Allah. Sama seperti Musa yang justru mengalami keindahan hidup dekat dengan Allah di padang belantara. Betul bahwa hidup adalah pengembaraan atau istilah modernnya hidup adalah pembelajaran.
Minggu, 17 Maret 2019


PESAN MINGGU INI 10 MARET 2019

WAKTU TUHAN

Lukas 1:20 “Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada waktunya.”

Tentu saja Zakaria dan Elizabet sudah lama mempunyai impian akan segera memperoleh anak dari hasil cinta murni dan pernikahan kudus mereka. Tetapi seiring melajunya waktu, impian mungkin semakin besar tetapi harapan makin kecil. Setelah puluhan tahun, impian makin kecil juga tetapi harapan betul-betul sirna. Selanjutnya baik impian maupun harapan betul-betul habis dan tak tersisa lagi. Buktinya ketika malaikat Gabriel membawa kabar baik bahwa mereka mendapat karunia dari Allah akan memperoleh anak, Zakaria tidak percaya. Hal itu menjelaskan bahwa Zakaria sudah sejak lama tidak lagi berdoa memohon anak dari Tuhan. Dia telah belajar menerima kenyataan. Menikah tidak harus mempunyai anak, yang penting suami istri semakin saling mencintai dan saling setia. Zakaria dan Elizabet tidak terpengaruh oleh ocehan lingkungan yang menganggap kemandulan adalah kutukan. Sangat logis bila Zakaria tidak percaya tetapi dia segera terhukum akibat ketidakpercayaannya. Zakaria mendadak bisu. Dalam kebisuannya Zakaria tetap setia dan tidak menyalahkan Tuhan. Dalam bisu Zakaria menunggu waktu Tuhan.

Waktu Tuhan cukup ditunggu tidak perlu disongsong. Berbeda dengan Yusuf yang sudah punya impian sejak masa kanak-kanak tetapi sama sekali tidak pernah mengharapkan impiannya menjadi kenyataan. Ketika penderitaan silih berganti menerpa kehidupannya, dia betul-betul lupa akan impiannya tetapi semakin bersandar kepada Allah membuat pengharapannya akan ada pertolongan dari Allah semakin besar. Dia menghadapi berbagai kenyataan dengan tekun beriman kepada Allah karena yakin bila sudah waktunya akan ada pertolongan. Dia sangat menyadari waktunya yang sarat dengan kesulitan hidup, dengan terus berharap ada waktunya, Allah akan menyatakan bahwa janji-Nya digenapi sesuai dengan waktu Tuhan.

Kedatangan kakak-kakaknya merupakan titik terang bagi Yusuf bahwa impiannya akan menjadi kenyataan sesuai waktu Tuhan. Dia tidak segera memperkenalkan diri, karena menyadari waktu Tuhan yang tepat. Tuhan-lah yang menetapkan waktu yang terbaik. Yusuf tidak mau bila kakak-kakaknya menghormatinya karena terpaksa, tetapi hendaklah mengalir dari hati yang tulus. Bukan karena takut tetapi dari kesadaran kesalahan masa lalu, tetapi juga Karena mengakui campur tangan Allah yang menjadikan semua indah pada waktunya, ya! Waktu Tuhan. (MT)
Minggu, 10 Maret 2019


PESAN MINGGU INI 03 MARET 2019

PROSES MAKIN BAIK DAN BENAR

Wahyu 1:3 “Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.”

Rasul Yohanes bukanlah orang yang hebat apalagi sempurna pada awal keterlibatannya masuk dalam komunitas murid-murid Yesus. Yohanes sama dengan murid-murid Yesus lainnya yang ingin menjadi terbesar (Markus 10:35-45). Dia adalah orang yang ambisius. Yohanes juga adalah seorang pemarah yang memohon kepada Yesus menurunkan api dari langit membakar orang Samaria yang menghalangi perjalanan mereka. Lebih jelas lagi bahwa Yohanes adalah sosok seorang yang dipanggil Yesus dari kalangan orang yang tidak terpelajar. Tetapi seiring dengan perjalanan waktu, rasul Yohanes terbentuk menjadi seorang rasul yang semakin berkarakter mulia. Menjadi rasul adalah merupakan karunia Allah baginya, tetapi terbentuk menjadi sosok yang berkarakter mulia adalah hasil dari pembelajaran hidup yang dijalaninya. Pembelajaran hidup dalam pengertian menjadikan firman Tuhan menjadi standar moral membentuk karakternya.

Dari seseorang yang ambisius menjadi seorang yang sabar mengikuti proses Allah membentuk hidupnya. Dari seorang pemarah yang mengalami proses menjadi seorang yang lemah lembut dan rendah hati. Dari seorang yang tidak terpelajar menjadi seorang yang punya karya yang monumental.

Allah memakai rasul Yohanes menulis Injil dan surat serta Kitab Wahyu yang merupakan bagian dari Alkitab. Betul Allah memakai siapa saja yang Allah mau berdasarkan kedaulatan-Nya. Tetapi sudah pasti Allah tidak mengesampingkan faktor-faktor yang ada dalam diri hamba-Nya yang dipakai untuk menulis Kitab Suci. Rasul Yohanes sungguh terbentuk melalui kegemarannya membaca Kitab Suci. Itulah sebabnya dia juga menganjurkan agar semua pengikut Kristus membaca, membacakan dan mendengarkan firman Tuhan. Kitab Wahyu mencatat ada tujuh kegiatan atau perbuatan yang baik dan benar yang menjadikan pelakunya berbahagia. Salah satu dan menjadi pertama adalah membacakan dan mendengarkan nubuat. Mengapa membacakan? Membacakan artinya selain membaca untuk dirinya sendiri juga membacakan untuk orang lain. Hal itu diperlukan karena keterbatasnya kitab juga kemungkinan masih banyak yang belum bisa membaca. Tetapi sekarang kita semua sudah mempunyai Kitab Suci dan masing-masing sudah bisa membaca.

Bagi kita tersedia kesempatan untuk membaca Kitab Suci setiap saat dan di setiap tempat. Bila kita membaca Kitab Suci, bagi kita makin jelas memahami kehendak Allah untuk dapat diterapkan dalam hidup. Prinsip-prinsip rohani yang diperoleh melalui pembacaan Kitab Suci mendekatkan pembaca kepada Tuhan Yesus dalam kehidupan iman, pengharapan dan kasih. (MT)
Minggu, 03 Maret 2019


PESAN MINGGU INI 24 FEBRUARI 2019

MEMBACA SEUMUR HIDUP

Ulangan 17:19-20, Itulah yang harus ada disampingnya dan haruslah ia membacanya seumur hidupnya untuk belajar takut akan Tuhan, Allahnya, dengan berpegang akan segala isi hukum dan ketetapan ini untuk dilakukannya, supaya jangan tinggi hatinya terhadap saudara-saudaranya, supaya ia jangan menyimpang dari perintah itu ke kanan atau ke kiri, agar lama ia memeritah, ia dan anak-anaknya di tengah-tengah orang Israel.

Allah yang Mahatahu sudah mengetahui bahwa orang Israel yang bangga akan sistem pemerintahan theokrasinya pada suatu saat akan menjadi Negara Kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja. Jadi ratusan tahun sebelum Saul diangkat menjadi raja pertama orang Israel Allah sudah menetapkan hukum dan peraturan yang harus ditaati seorang raja. Salah satu yang harus ditaati adalah membaca hukum atau Firman yang tertulis seumur hidupnya. Seorang raja yang tentu sangat sibuk, tidak boleh menjadikan kesibukan menjadi alasan untuk tidak membaca. Alkitab menjelaskan bahwa Kitab Suci itu harus selalu ada di sampingnya. Bila seorang raja melakukannya, Allah akan memberi kesempatan yang lama kepadanya mampu melakukan tugasnya sebagai seorang raja.

Allah yang memerintahkan adalah Allah yang mengetahui secara pasti akan adanya dampak yang sangat baik dari ketekunan membaca. Bila para pendidik sekuler mengatakan bahwa membaca adalah jendela dunia, karena dengan membaca kita membuka jendela dan melihat segala sesuatu yang ada dan terjadi di luar. Ijinkan pula bila saya berani mengatakan bahwa membaca Kitab Suci adalah jendela surga. Karena bila kita membaca Kitab Suci berarti sedang membuka wawasan untuk melihat karya Allah, mengetahui janji dan rencana Allah. Bila seorang raja Israel membaca hukum Tuhan atau perintah Allah seumur hidupnya, ada kemungkinan dia membaca kitab itu ribuan kali seumur hidupnya. Dalam pengalaman saya, bila sudah membaca Kitab Suci sekali bukan berarti kita jadi berpuas diri dan merasa cukup. Tetapi justru semakin tumbuh keinginan untuk membacanya lagi. Allah yang menanamkan keinginan indah itu dalam hati dan pikiran para pembaca Kitab Suci.

Jadi tidak perlu saudara merasa “membaca seumur hidup itu” menjadi beban. Bila saudara memulainya saudara akan terus menikmatinya menjadi kesukaan yang menyenangkan dan membahagiakan. Kitab Suci yang kita baca itu akan membuat hidup kita semakin baik dan semakin berkualitas. Ada lagi nilai yang sangat berharga bila kita tekun membaca Alkitab seumur hidup kita. Karena saat kita membaca Alkitab sesungguhnya Alkitab juga sedang membaca hidup kita. Saat kita dengan sungguh-sungguh menyelidiki Alkitab yang terjadi adalah Alkitab itu sedang menyelidiki hidup kita. Saat Alkitab membaca dan menyelidiki hidup kita, maka hidup kita pun semakin indah dan menyenangkan. (MT)
Minggu, 24 Februari 2019


PESAN MINGGU INI 17 FEBRUARI 2019

TEKUN MEMBACA KITAB SUCI

1 Timotius 4:13 “Sementara itu sampai aku datang bertekunlah dalam membaca kitab-kitab suci dalam membangun dan dalam mengajar.”

Pada saat Timotius masih menikmati indahnya menjadi seorang murid, dia harus belajar mandiri karena keadaan memaksa dia harus ditinggalkan rasul Paulus menggembalakan jemaat Efesus. Dalam bimbingan rasul Paulus, Timotius sudah terbentuk menjadi seorang yang berhati murid. Sebelumnya anak muda Timotius sudah dinasehati rasul Paulus sang Bapa rohaninya agar teladan bagi semua orang percaya dari segala usia. Kata teladan yang dalam bahasa Yunani “tupos” artinya adalah gambar, model dan pola yang ideal. Bagi anak muda hal itu cukup berat karena harus menjadi model yang ideal dalam ketekunan, kesetiaan, ketaatan dan kekudusan. Tetapi bagi anak muda Timotius menjadi tidak berat karena dia menerima dengan bangga sebagai kehormatan.

Dalam banyak seminar kepemimpinan, nasehat rasul Paulus kepada anak rohaninya yang masih muda belia ini, sering dijadikan menjadi standar dan syarat-syarat kepemimpinan. Nara sumber juga biasanya menandaskan bahwa tidak ada alasan bagi peserta seminar merasa berat, karena dari awal syarat ini diberikan rasul Paulus kepada pemimpin pemula yang masih muda belia. Ada satu hal yang tidak boleh dilupakan oleh Timotius yaitu: Dia harus tekun membaca kitab-kitab suci. Kata kitab-kitab suci menunjukkan bahwa Timotius harus tekun membaca banyak kitab suci. Pada masa itu, kitab suci belum dibukukan menjadi Alkitab seperti yang kita miliki sekarang. Dan juga tidak mudah menemukannya. Tetapi Timotius berusaha untuk memilikinya dan membacanya.

Seperti Timotius kita semua umat Tuhan haruslah tekun membaca Kitab Suci. Kitab suci yang adalah firman Allah yang kita baca akan membangun hidup kita menjadi seorang yang berhati murid. Bukan hanya itu saja tetapi memampukan kita menjadi seorang murid yang belajar dan seorang murid yang mengajar dan memuridkan. Ada kecenderungan anak Tuhan yang baik, tidak mau lagi membaca kitab suci dengan alasan. yang pentingkan melakukan bukan mengetahui. Tetapi bagaimana kita melakukan bila kita tidak mengetahui. Dengan banyak mengetahui kita pun semakin mampu mengawasi diri. Lagi pula rasul Paulus melanjutkan bila tekun membaca kitab suci, maka kita pun mengenal karunia yang berlanjut tekun mempergunakannya. Hanya dengan semakin banyak mengetahui dan melakukan, terlihat jelas bahwa kita betul-betul peduli keselamatan diri juga keselamatan orang lain.

Perlu juga kita tahu bahwa semua umat Tuhan yang tekun membaca kitab suci pasti selektif kepada semua ajaran tidak asal terima. Dan bagi siapapun yang tekun membaca Kitab Suci pasti terbangun untuk peka terhadap pimpinan Roh Kudus membaca Kitab Suci itu sangat penting bagi semua umat Tuhan. (MT)
Minggu, 17 Februari 2019


PESAN MINGGU INI 10 FEBRUARI 2019

GEMAR MEMBACA ALKITAB

Kisah Rasul 17:11 “Orang-orang Yahudi dikota itu lebih baik hatinya daripada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki kitab suci untuk mengetahui apakah semuanya itu benar demikian”.

Paulus dan Silas melihat suatu perbedaan orang-orang Yahudi di Berea dari orang-orang Yahudi di kota-kota lain khususnya orang Yahudi di Tesalonika. Orang-orang Yahudi di Berea mempunyai hati yang lebih baik. Orang Yahudi di Berea tidak mudah dihasut untuk membenci. Mereka menerima Firman dengan hati yang terbuka dan tulus. Dan ada satu hal yang khusus yang tidak dibiasakan oleh orang Yahudi di daerah lain. Orang Yahudi di Berea setiap hari menyelidiki kitab suci. Menyelidiki yang dalam bahasa Yunani anakrino artinya adalah membaca dengan sangat teliti dan cermat. Ketelitian dan kecermatan itu adalah hasil dari ketekunan membaca setaip hari.

Mereka tidak cukup mendengar khotbah-khotbah di sinagoge tetapi melengkapi diri dengan tekun membaca setiap hari. Sikap jemaat Berea ini dapat dijadikan menjadi teladan bagi gereja-gereja sepanjang zaman. Tentu saja mendengarkan firman Tuhan melalui khotbah-khotbah adalah hal yang baik dan perlu. Bahkan menurutku harus karena sangat dibutuhkan dalam usaha mengetahui kehendak Allah untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Lagipula bila kita mendengarkan dan menyimak dengan baik khotbah minggu di gereja pasti kita dapat menangkap pesan khusus buat kita, menyemangati hidup dalam berkarya dan melayani. Tetapi yang perlu kita pahami adalah sangat berbahaya bila kita mendengar khotbah atau firman Tuhan yang sudah ditambah dengan tafsiran pengkhotbah dan menerimanya secara pasif.

Jadi jangan pernah menerima penafsiran dan ajaran secara pasif. Tetapi harus dikoreksi dengan cermat. Kemampuan mengoreksi itu hanya dimiliki oleh umat Tuhan yang tekun membaca kitab suci.pernahkan saudara menguji diri sendiri tentang pengaruh apa yang saudara baca kepada hidup saudara?

Terbukti bahwa sesungguhnya pengaruh bacaan kepada hidup dan pola pikir sangat besar. Bila Yahudi di Berea mempunyai hati yang lebih baik dari Yahudi di daerah lain tentu penyebabnya adalah karena mereka menerima Firman dengan kerelaan dan setiap hari mereka membaca kitab suci. Ketika rasul Paulus dan Silas memberitakan Injil kepada mereka, mereka menerima dan percaya, karena mereka sudah dipersiapkan dengan pemahaman yang benar kepada Injil sesuai dengan kitab suci yang mereka baca dan selidiki. Jadi sudah jelas bukan? Salah satu indikator penting dalam membentuk diri menjadi seorang murid adalah membaca kitab suci. Lagi pula siapapun yang ingin terbentuk menjadi pribadi yang berhati murid pastilah gemar membaca kitab suci. (MT)
Minggu, 10 Februari 2019


PESAN MINGGU INI 03 FEBRUARI 2019

GERAKAN MEMBACA ALKITAB 2019

Matius 4:4,7,10. Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah” “…ada pula tertulis: janganlah engkau mencobai Tuhan Allahmu…” Enyahlah engkau iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu”

Meresponi tema Gereja kita tahun ini “PENUAI TANGGUH YANG BERHATI MURID DAN MEMURIDKAN”, ada satu hal yang harus kita lakukan yaitu membangkitkan gairah untuk mengasihi Firman yang ditandai dengan gemar membaca Alkitab. Sebab itu tahun ini mari kita mengikut Gerakan Membaca Alkitab 2019 (GEMA 2019). Bila kita mengikuti membaca Alkitab sesuai dengan arahan dalam warta Jemaat mulai tanggal 04 Februari 2019, maka tanggal 03 Februari 2020 kita telah membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu. Sudah tentu seorang yang berhati murid tidak terlepas dari sikap belajar, dan belajar tidak akan efektif bila tidak gemar membaca firman Tuhan.

Perlu juga kita belajar dari Tuhan Yesus Guru Agung kita. Bila kita menyimak peristiwa Yesus dicobai oleh iblis, sangat jelas bahwa Yesus betul-betul mengarahkan pengikut-Nya untuk mencintai Firman yang tertulis atau Alkitab. Padahal Yesus adalah Firman yang menjadi manusia. Tuhan Yesus menyatakan diri gemar membaca Firman yang tertulis dan menjadikan Firman itu menjadi norma kehidupan-Nya. Firman yang tertulis itu menjadi standar untuk menentukan benar atau tidak benar. Bila sudah membaca Kejadian sampai Wahyu sebagai firman Allah yang tertulis adalah bentuk pengakuan bahwa firman Tuhan Kejadian sampai Wahyu adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Kita juga akan semakin memahami bahwa firman ayat demi ayat bukan saling bertentangan melainkan saling melengkapi.

Dalam peristiwa iblis mencobai Yesus, iblis memakai sistem comot ayat Alkitab dengan melepaskan satu ayat dari keeseluruhan sehingga terjadi penyimpangan. Tuhan Yesus yang mencintai Firman yang tertulis segera menentang sistem comotnya iblis. Tuhan Yesus menjawab: “Ada tertulis…”. Tuhan Yesus mempermalukan dan mengalahkan iblis dengan cara mengungkapkan bahwa Firman yang tertulis itu luas, dalam dan lengkap. Jelas sekarang bukan? Firman itu adalah Kejadian sampai Wahyu, satu keseluruhan tak terpisahkan satu dengan yang lain. Sebab itu tentulah kebanggaan tersendiri bagi pengikut Kristus apabila sudah membaca keseluruhan Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu. Ayo kita mulai, sebab pekerjaan yang tidak akan pernah selesai adalah pekerjaan yang tidak dimulai. (MT)
Minggu, 03 Februari 2019


PESAN MINGGU INI 27 JANUARI 2019

MENANTI DAN TERUS MENANTI

“Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang- orang yang hidup!” (Mazmur 27:13)

Menanti adalah sebuah pekerjaan yang mungkin tidak membutuhkan tenaga besar, tapi bagi kebanyakan orang merupakan hal yang sulit dilakukan, suatu pekerjaan yang sangat membosankan, menjemukan dan bahkan sangat menguras emosi. Orang akan gampang sekali marah, kesal, jengkel dan kecewa ketika harus menanti sekian lama, namun yang dinantikan ternyata tidak kunjung datang. Dalam perjalanan hidup ini menanti selalu mewarnai keseharian kita. Saat berobat ke dokter kita harus menanti giliran di ruang tunggu, di supermarket pun kita harus menanti giliran membayar di kasir, saat di gedung bioskop mau tidak mau kita harus rela mengantri tiket, seorang gadis menanti dengan galau akan kepastian hubungan dari pacar, saat bekerja kita juga menanti waktu tibanya jam pulang kantor, isteri-isteri dengan hati gelisah harus menanti pulangnya suami dari luar kota, orangtua menanti anak-anak pulang dari sekolah dan sebagainya.

Tak terkecuali di dalam kehidupan kekristenan ini banyak orang Kristen yang tidak tahan ketika harus melewati proses menanti yaitu menanti jawaban doa dari Tuhan, menanti Tuhan bertindak, menanti Tuhan menggenapi janji-Nya.  Ketidaksabaran dalam menanti waktu Tuhan inilah yang seringkali menjadi penghalang untuk kita melihat mujizat. Harus kita akui bahwa menanti itu ternyata bukanlah perkara yang mudah. Karena itu firman Tuhan mengingatkan, ”Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!” (Mazmur 27:14). Kata kuatkanlah dan teguhkanlah berarti kita diperintahkan bukan hanya menanti, tetapi menanti dengan sabar, setia dan tetap tidak berubah apapun keadaannya.

Ada berkat disediakan Tuhan bagi orang-orang yang mau mempraktekkan kesabaran dan kesetiannya di dalam penantian terhadap-Nya: ”… orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri.”  (Mazmur 37:9).  ‘Mewarisi negeri’  berarti berkat yang diberikan Tuhan bukanlah berkat yang biasa-biasa saja, tapi berkat yang berkelimpahan.  Karena itu janganlah menyerah di tengah jalan!

“Ya, semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu” (Mazmur 25:3a)
Minggu, 27 Januari 2019


PESAN MINGGU INI 20 JANUARI 2019

WAKTU PERKENANAN TUHAN

Sebab Allah berfirman: “Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau.” Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu. (2 Korintus 6:2)

Waktu perkenanan Tuhan itu adalah suatu momentum yang mempunyai kurun waktu yang singkat. Hanya saja kita tidak mengetahui secara pasti kronologi kapan awal dan kapan akhirnya. Kita juga tidak tahu lokasinya di mana. Tetapi waktu perkenanan Tuhan itu selalu hari ini dan di sini. Artinya harus segera mengambil keputusan, karena walau pun hari ini selalu ada, hari ini juga segera akan lewat.

Seorang senat Amerika dikunjungi oleh ayahnya yang berasal dari desa, sang ayah memang kurang dari segi pendidikan tetapi dia adalah seorang Kristen yang saleh dan bersemangat.

Pada saat senat Amerika terhormat ini sedang bepergian bersama sang ayah, mereka bertemu dengan seorang duta besar dari negara sahabat. Anggota senat dengan basa-basi memperkenalkan ayahnya. Saat duta besar menyalami sang ayah,dengan semangat sang Ayah langsung bertanya kepada duta besar “Apakah saudara sudah percaya dan menerima Yesus kristus sebagai Juruselamat? Sang duta besar terdiam tanpa menjawab tetapi pertanyaan itu sangat menyentuh hatinya dan membuatnya berpikir dan menyimak.

Sang anak terhormat yang adalah seorang senator, merasa terganggu atas kelancangan ayah dan segera mengalihkan percakapan ke topik lain. Beberapa bulan kemudian sang ayah meninggal karena menderita sakit. Duta besar negara sahabat mengirim bunga menyatakan turut berdukacita. Anggota senat menerima dan mengambil kartu yang diselipkan pada karangan bunga tersebut, dengan kalimat “Di antara orang-orang Amerika, hanya bapak ini yang memperhatikan hidup saya.” Pertanyaan almarhum telah membuat saya kembali kepada Kristus. Dengan sedih dan terharu anggota senat merasa malu atas sikapnya dulu. Sekarang dia bangga karena ternyata ayahnya bukan lancang tetapi sedang mengisi secara tepat “waktu perkenanan Tuhan.” Ini adalah merupakan berkat yang selalu dialami para penuai pada saat penuaian,”hari ini dan di sini” kesempatan yang selalu ada tetapi segera akan berakhir. (MT)
Minggu, 20 Januari 2019


PESAN MINGGU INI 13 JANUARI 2019

HARGA SEBUAH PENUAIAN

“Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka” (Yohanes 4:38)

Penuaian adalah istilah pertanian yang mengandung pengertian waktu untuk menuai hasil kerja keras seorang petani.Tidak heran jika petani sangat bersuka cita setiap penuaian atau waktu untuk menuai sudah tiba. Ada banyak kegiatan yang harus dilaksanakan seseorang petani sebelum penuaian tiba. Biasanya seorang petani merencanakan waktu untuk menabur dan jenis tanaman yang akan ditanam. Setelah mebuat perencanaan dia segara memulai, dia menyediakan dan mempersiapkan lahan, selanjutnya dia menabur. Setelah cukup besarnya untuk ditanam dia segera menanam. Tanaman pun mulai tumbuh. Petani terus mengikuti pertumbuhan tanaman dengan perawatan yang baik. Tanaman harus dibebaskan dari gangguan tanaman liar dan berbagai hama pengganggu.

Untuk memperbaiki pertumbuhan tanamannya biasanya para petani menambah pupuk sesuai kebutuhan tanaman, untuk melakukan semuanya itu petani harus kerja keras, disiplin dengan ketekunan yang maksimal. Tidak boleh malas sepanjang waktu yang dibutuhkan hingga tiba waktu penuaian. Waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan penuaian itu cukup lama, padahal penuaian itu sendiri hanya membutuhkan waktu yang sangat singkat dan harus segera dilaksanakan. Lambat berarti mengurangi hasil dan menunda-nunda berarti membuang hasil.

Penuaian adalah masa singkat yang dipersiapkan dengan waktu yang panjang. Penuaian adalah klimaks dari kerja keras dan ketekunan. Penuaian adalah hasil kerja keras dalam kurun waktu yang panjang tetapi harus segera dilaksanakan dalam tempo yang secepat mungkin. Tidak boleh ditunda dan pantang berlambat-lambat.

Mengingat bahwa “penuaian” itu adalah masa singkat yang dipersiapkan dengan kemauan dan kerja keras dalam kesediaan dan keberanian membayar harga dapatkan kita ambil kesimpulan “harga sebuah penuaian”. Bersyukur kita hidup pada masa penuaian, segeralah menuai sebagai ketaatan kepada Firman, tetapi juga sebagai rasa syukur kepada pendahulu kita yang mempersiapkan tuaian itu. (MT)
Minggu, 13 Januari 2019


PESAN MINGGU INI 06 JANUARI 2019

MAHA HADIR

“Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, kemana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, engkau disana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku”. (Mazmur 139:7-10).

Salah satu atribut Allah adalah Maha ada atau Mahahadir artinya tidak ada tempat dan juga tidak ada waktu di mana Allah tidak hadir. Jadi kita tidak mungkin bersembunyi atau melarikan diri dari Allah. Kalau demikian mana yang betul “kita menyembah supaya Allah hadir” atau “karena Allah hadir marilah kita menyembah”.

Tentu pertanyaan ini tidak bermaksud menyalahkan yang satu untuk membenarkan yang lainnya. Karena sesungguhnya kita lebih biasa dan lebih nyaman dengan kalimat “Marilah kita menyembah supaya Allah hadir di tengah-tengah kita”. Dan kalimat ini sesuai dengan tema “Penyembahan yang mendatangkan hadirat-Nya”. Seperti yang sudah penulis katakan, bahwa tidak ada maksud sedikitpun untuk menentukan benar atau salah. Kalimat ini bukanlah kalimat doktrin atau ajaran kristiani. Kalau ini kalimat doktrin akan bersifat baku dan kaku. Tetapi kalimat ini adalah kalimat ungkapan iman tentang hubungan yang hidup antara umat beriman dengan Allah. Karena ini adalah ungkapan iman maka sifatnya hidup dan mengalir.

Lagi pula ini adalah merupakan kalimat manusiawi yang terbatas menyatakan hubungannya kepada Allah yang tidak terbatas. Bukankah kadang-kadang kita merasa Allah sangat jauh dan tidak peduli dengan hidup kita? Kalau keadaan atau perasaan ini menerpa kita ada baiknya kita mengondisikan diri memasuki penyembahan yang benar kepada Allah. Dan setelah kita menyembah Dia, maka kitapun akan mempunyai perasaan yang kuat dan dalam akan kehadiran Allah. Mazmur 139:7-9 bukanlah kalimat seseorang yang berusaha menjauh dan melarikan diri dari hadirat Allah. Karena pemazmur tidak sedang menceritakan pengalaman atau kisah perjalanan hidupnya. Firman ini adalah ungkapan puitis dari seorang yang melakukan penyembahan yang benar kepada Allahnya. Dia sedang menyembah Allah agar hadir dalam hidupnya. Dan saat dia menyembah terjadilah suatu hubungan yang hidup dengan Allah. Kemudian dari mulutnya mengalir kalimat nan indah dan benar tentang Allah “Allah yang Mahahadir”. (MT)
Minggu, 06 Januari 2019