Home

PESAN MINGGU INI

TABAH DAN SETIA

Roma 8:18 “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.”

Rasul Paulus menyaksikan sendiri bahwa manusia dari semua kalangan sesungguhnya hidup dalam penderitaan. Dia melihat sendiri kalangan penganiaya dan juga kalangan teraniaya. Penganiaya dan juga kalangan teraniaya. Penganiaya mengalami penderitaan psikis karena dia menganiaya sesungguhnya jiwanya menderita. Tubuhnya aman-aman saja tetapi sesungguhnya hati dan jiwanya tersiksa. Tersiksa oleh perbuatannya sendiri. Firman Allah sangat jelas bila selama hidup di dunia, dia tidak terhukum, karena dosa itu menghukum orang pelaku dosa tersebut. Jadi bila seorang penganiaya buat sementara aman-aman saja, tinggal tunggu waktu dia akan gelisah dan jiwanya tersiksa karena terhukum oleh perbuatannya sendiri. Orang teraniaya pun menderita. Fisiknya jelas-jelas sakit, tetapi jika dia teraniaya oleh karena kebenaran, jiwanya dan hatinya akan mendapat jaminan perlindungan dan kekuatan dari Tuhan. Tetapi bukan hanya penderitaan penganiaya dan teraniaya yang disaksikan oleh rasul Paulus dalam perjalanan pekabaran Injil. Dia melihat realitas berbagai macam penderitaan yang menimpa manusia. Penderitaan yang bisa menimpa semua orang tanpa membedakan beriman atau tidak beriman, kaya atau miskin, cerdas atau bodoh, bahkan baik atau jahat. Penderitaan berupa sakit, nyeri, sengsara, kecewa, miskin, sedih, susah dan lain-lainnya. Apapun bentuk penderitaan, ternyata penderitaan itu bukanlah penentu seseorang bahagia atau tidak, susah atau senang. Penentu adalah orang yang ditimpa penderitaan itu sendiri.

Bagaimana seseorang menghadapinya adalah penentunya. Bisa saja semua orang mengeluh dalam menghadapi penderitaan, tetapi orang percaya mempunyai alasan mengeluh dalam menghadapi penderitaan:

  1. Alasan pertama, adalah karena mereka masih hidup di dunia berdosa yang menyedihkan hati mereka. Bukan penderitaan yang mereka keluhkan tetapi keadaan berdosa untuk mengungkapkan kesedihan yang dalam karena keadaan ini.
  2. Alasan kedua, orang percaya mengeluh karena merindukan penebusan penuh yang akan diterima pada saat kebangkitan dari kematian sesuai janji sempurna Yesus untuk semua umat tebusan-Nya. Jadi sifat keluhan umat percaya adalah Kerinduan untuk menerima kemuliaan yang akan dinyatakan sebagai hak istimewa dan hak penuh sebagai anak (2 Korintus 5:4).

Itulah sebabnya segala bentuk penderitaan pasti akan dihadapi dengan ringan bahkan tidak berarti bila dibandingkan dengan hak istimewa dan hak sebagai anak itu. Kemuliaan abadi yang akan dianugerahkan kepada orang percaya yang setia. Penderitaan sifatnya sementara sedangkan kemuliaan bersifat abadi. (MT)
Minggu 20 September 2020


[Pesan Mingguan 2020 Selengkapnya]

[Pesan Mingguan 2019]